Pengunjung

Rabu, 11 Mei 2011

Berharap Tangan Pemerintah di Desa Miskin

Bekasi - Seorang bocah laki-laki berkaos kumal bermain layang-layang bersama teman-temannya di satu tanah kosong di Desa Babelan Kota, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Mereka tak menghiraukan debu kotor dan sengatan matahari. Seharusnya anak-anak itu, Muhammad Adrian (8) salah satunya, duduk di bangku sekolah. Sayang, orang tuanya tak bisa membuatnya bersekolah.
Kata Murniyati (23), ibunya, tahun ini seharusnya Adrian sudah kelas dua SD.
"Nanti saja sekolahnya," kata Murni.
Tapi ternyata Adrian ingin memakai baju putih dan celana pendek merah seperti dikenakan umumnya anak-anak seusianya.
"Saya ingin sekolah om, biar jadi ABRI, enak bisa naik pesawat tempur," katanya kepada ANTARA News.
Adrian belum tahu betapa beratnya beban hidup yang mesti ditanggung orangtuanya yang hanya petani kecil.
"Paling besar penghasilan kami sebulan sekitar 300 ribu," kata Murni.
Dia menyambung, "Maklum mas, petani tak bisa ditebak untungnya. kadang laris dan tidak. Jika musim kemarau bisa kering banget dan jika musim hujan, airnya bisa beleber ke dalam rumah."
Rumah Murni berupa bilik bambu dan papan triplek, ubinnya ya tanah. Ukurannya hanya 4 kali 5 meter. Di situ tinggal lima orang.
Yang juga menyayat hati, mereka tak memiliki sumber air, hanya sumur kecil berdiameter 65 cm. Warna airnya sungguh menurunkan selera, karena keruh kecoklatan.
"Satu sumur ini untuk tiga rumah," kata Ramin, Kepada RT 18, RW 03, Desa Babelan Kota.
Untuk buang hajat, penghuni rumah hanya memiliki jamban bertutupkan sarung dan kain. "Kalau mau buang air harus bawa ember dari sumur ini ke jamban," kata Ramin.
Ya, air bersih adalah juga persoalan krusial mereka. "PAM ada tapi untuk bayarnya ini yang bikin pusing," kata Mamad, tetangga Ramin.

Modal Usaha
Jangan anggap mereka miskin karena tak berupaya. Menurut Muhammad Mamad, Kepada RW 03 Desa Babelan Kota, keluarga-keluarga ini tidak malas, mereka bahkan kerap menyampaikan ide-ide cemerlang untu menyiasati kesulitan hidup.
"Masalah kami nggak punya dana," kata Mamad.
Samah (35), tetangga Murni, membenarkan ni. Samah akan segera menjadi nenek karena anak perempuannya yang tamatan SD akan segera melahirkan.
"Saya butuh sekali tambahan modal sekitar Rp500 ribu untuk jualan kue keliling," kata Samah yang terpaksa bekerja karena penghasilan suaminya sebagai penebang pohon per hari hanya Rp40 ribu.
Impian serupa disampaikan Ahmadi (30), tetangga Samah, peternak ayam bekerja untuk orang lain dan diupahi Rp32 ribu per hari.
"Kalau punya peternakan ayam sendiri menjadi lebih mandiri," katanya.
Lain lagi dengan Rojana (26). Dia ingin sekali usaha jual bensin botolan di pasar.
"Sebenarnya saya sudah punya lapak di pasar, tapi berhubung nggak punya dana, nggak kesampaian," kata perempuan bersuamikan buruh di sebuah perusahaan itu.
Herni Hardiani (40) lebih beruntung. Rumahnya pun terbilang bagus. Dia bekerja sebagai penjaga toko kelontong sembako, sedangkan suaminya berprofesi penjahit.
Mereka bahu membahu mencari modal agar bisa tetap menyekolahkan anak-anak.
Yang juga butuh modal usaha adalah Mamad, "Saya sedang mencari modal untuk toko gas sekitar Rp5 juta," katanya.
Mamad berharap pemerintah turun tangan meringankan beban mereka, setidaknya membantu memperlancar mendapatkan modal usaha.

Ironi
Mamad dan kawan-kawan itu seharusnya tidak semenderita seperti itu, apalagi Babelan menyimpan kandungan minyak bumi tinggi.
Neneng Djuari, pegawai Kecamatan Babelan bagian Ekonomi Pembangunan, menyebutkan tak semua desa di Babelan hidup di bawah garis kemiskinan.
Ada dua desa di pinggir laut yang terbilang sangat miskin, yaitu Desa Hurip Jaya dan Pantai Hurip, kata Nenang.
Ironisnya, sambung Neneng, kedua desa itu tak jauh dari letak kilang-kilang minyak PT. Pertamina. "Sampai saat ini kami belum menerima bentuk materi nyata (bantuan) dari PT. Pertamina," katanya.
Neneng mengakui sebagian warga Babelan hidup terlalu miskin sehingga untuk menyekolahkan anaknya pun sulit.
"Banyak anggapan sekolah itu tidak penting dan lebih baik bertani," katanya.
Abdul Choir, Kepala Urusan Kesejahteraan Desa Babelan Kota, menyebutkan total warga miskin di Babelan Kota 2.165 jiwa.
Muhammad Malik, Sekretaris Desa Babelan Kota, menambahkan, "Umumnya petani di sini menyewa lahan dan keuntungannya dibagi kepada pemilik."
Kecamatan Babelan dibagi ke dalam 7 desa dan 2 kelurahan, termasuk Babelan Kota.

PR Pemerintah
Pemerintah bukannya diam menghadapi kesulitan yang dihadapi warga miskin. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahkan menyebut kemiskinan adalah persoalan regional dan global sehingga harus ditangani ekstra.
"Saya percaya upaya kita bersama harus berkontribusi pada kemampuan kita untuk mengatasi kemiskinan," ujarnya di Nusa Dua, Bali, beberapa waktu lalu.
Semua lini bekerja, termasuk Kementeria Sosial.
Menurut Direktur Direktorat Penanggulangan Kemiskinan Perdesaan Kementerian Sosial Teguh Haryono kementeriannya sedang menggalakan beberapa program unggulan untuk mengentaskan masyarakat miskin di desa.
Salah satunya lewat Program Pemberdayaan Fakir Miskin (P2FM) dengan pendekatan Kelompok Usaha Bersama (KUBE). Di bawah skema ini warga miskin bisa mendapatkan modal usaha dari bank.
Menurut Teguh, pada 2010, program ini terbilang mendulang sukses di seluruh 33 provinsi.
"Saat ini sudah ada 390 ribu jiwa yang mendapatkan KUBE dan keberhasilan KUBE itu sendiri mencapai 60 persen," katanya.
Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri jauh-jauh hari mengungkapkan keyakinannya bahwa jika program KUBE terus dikelola secara profesional maka akan banyak keluarga miskin yuang keluar dari jerat kemiskinan.
"KUBE dapat meningkatkan pendapatan keluarga" kata Salim, dua tahun lalu.
Masih ada program lain. Dan ini juga bisa menjawab rintihan warga Babelan Kota dan warga miskin lain di Indonesia.
Nama program itu Program Keluarga Harapan (PKH) yang berupa bantuan sosial tunai bersyarat bagi rumah tangga sangat miskin dengan kategori-kategori khusus.
"Program PKH ini langsung kami bayar tunai seperti kepada ibu hamil," kata Teguh.
Sejak 2007, PKH telah diberikan kepada 70 kabupaten/kota dan 779 kecamatan di 13 provinsi.
Secara umum, sampai bulan ini, sudah Rp430 miliar dana telah dikucurkan Kementerian Sosial untuk mengentaskan kemiskinan dan sebagian besar dialokasikan untuk penduduk miskin di Jawa yang pusat penduduk miskin Indonesia.
Desa Babelan Kota dan desa-desa lainnya pasti mengharapkan juga suntikan dana pemerintah itu mencapai mereka.
Dengan bantuan itu, Ahmadi bakal memiliki peternakan ayam sendiri, Herni bisa membuka toko gasnya, sementara Samah akan anteng berjualan kue keliling. Bahkan Adrian kelak dapat mewujudkan cita-citanya, menerbangkan pesawat tempur Sukhoi SU-30. [R/Ant]

Hasyim: Terorisme Belum Akan Hilang

Jakarta - Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars (ICIS) KH Hasyim Muzadi mengatakan, terorisme di dunia belum akan hilang, meskipun Osama bin Laden dikabarkan telah ditembak mati tentara Amerika Serikat di Pakistan, beberapa waktu lalu.
"Setelah Osama yang katanya tertembak oleh pasukan Amerika, terorisme belum akan mati, meskipun bisa memberikan `shock theraphy` bagi pengikut setianya," kata Hasyim dalam dialog tokoh-tokoh Islam bersama puluhan jurnalis dari Amerika Serikat bertema Islam Indonesia, di kantor ICIS, Jakarta, Rabu.
Hadir dalam dialog ini antara lain Habib Rizieq Shihab dari Front Pembela Islam, Ismail Yusanto dari Hizbut Tahrir Indonesia, dan Abdul Mu`ti dari Muhammadiyah.
Sedangkan jurnalis Amerika antara lain berasal dari ABC News, The New York Times, Virginia Public Radio, PBS Newshour, CNN, National Geographic Weekend, dan National Public Radio. Mereka tergabung dalam International Reporting Project (IRP).
Menurut Hasyim, setidaknya ada tiga jenis terorisme jika dilihat berdasarkan tujuan aksi itu dilakukan.
Pertama, terorisme atau aksi teror yang digunakan sebagai strategi perang untuk mencapai kemerdekaan, misalnya yang terjadi di Palestina.
Kedua, aksi teror yang ditujukan untuk meneror pihak yang dianggap sebagai musuh. Misalnya aksi teror yang dilakukan kelompok tertentu sebagai bentuk perlawanan terhadap Ameriksa Serikat.
Berikutnya adalah terorisme lokal yakni aksi teror yang ditujukan sebagai bentuk protes terhadap persoalan lokal, baik di tingkat negara maupun daerah.
Sementara itu, Habib Rizieq dalam paparannya menegaskan bahwa Islam bukan terorisme dan terorisme bukan Islam.
Oleh karenanya, FPI menolak tegas segala bentuk teror dari agama apapun.
Terkait kunjungan jurnalis AS ke ICIS, Hasyim berharap setelah pertemuan dan dialog tersebut media Amerika menulis dengan benar kondisi Islam di Indonesia yang sebenarnya.
"Selama ini mereka menerima informasi sepotong-sepotong soal kondisi Islam di Indonesia. Dengan bertemu dan berdialog begini, mereka menjadi tahu, bagaimana yang sebenarnya," kata mantan Ketua Umum PBNU itu.
Dalam pertemuan tersebut, para jurnalis Amerika bertanya langsung mengenai sikap para tokoh yang hadir tentang Islam dan terorisme yang terjadi di dunia, termasuk soal kematian Osama.
Sebelum dialog dimulai, para jurnalis dipertontonkan video profil Islam Indonesia dan gerakan ICIS dalam mengembangkan Islam yang "rahmatan lil alamin". [R/Ant]

25 Tahun Bertapa dengan Berselimut Sarung

Sudah 20 tahun silam mbah Fanani bertapa di Desa Dieng Kulon. Itu ia lakukan setelah 5 tahun mendiamkan diri duduk di Desa Tieng Kecamatan Kejajar. Ditepi jalan setelah pertigaan arah tempat wisata Dieng itu ia duduk didalam bangunan kecil dengan panjang 1,5 meter dan lebar setengah meter. Tiap pagi, siang dan sore ada yang memberi jatah makan.


Rambut lelaki dengan wajah putih bersih itu gimbal. Bagian depan rambut menutupi wajahnya yang tampan. Sorot matanya bening memandang penuh tenang. Hidung lelaki berkumis tebal itu memang mancung. Ia hanya berselimut sarung dan duduk diantara dua drum. Itu sebagai penyangga kayu penahan layar rangkap dua dengan pintu dari plastik tempat ia bertapa.
Dibagian belakang gubug kecil itu dipasang triplek. Setiap kali layar atap itu mulai menua dan lusuh maka akan diganti oleh pak Sugiyono yang kebetulan rumahnya persis di depan tempat mbah Fanani bertapa. Ketika wartawan koran ini mencoba membuka pintu plastik tempanya bertapa dan menyapanya dengan salam ia diam seribu bahasa.
“Assalamualaikum, mbah,” kata wartawan koran ini kepadanya Minggu (9/5). Ia hanya diam saja. Mata memandang kebawah lalu ia hanya melumatkan bibirnya.
Dalam suasana penuh tanda tanya itu angin dingin yang berhembus bersahut kencang dengan raungan bunyi mesin-mesin dipinggir jalan tak ku hiraukan. Tampak dibawah pintu itu dua gelas bekas minuman air putih dan teh serta dua mangkok bekas bakso dan mie. Didalam ruangan tersebut terlihat pengab. Namun kondisi tersebut tak dihiraukan oleh mbah Fanani. Meski tampak lusuh ada aura positif yang terpancar dari badannya. Ia hanya melumatkan kedua bibirnya yang tampak merah.
Setelah beberapakali berhasil mengambil gambar beliau dengan ijin beberapakali dengan berbahasa Indonesia akhirnya saya putuskan untuk menutup kembali pintu tempatnya bertapa.
Menurut pak Ono bahwa mbah Fanani bertapa di tepi jalan kawasan RT 1 RW 1 depan musala Al-Amin itu sudah 20 tahun. Setiap pagi ia mengaku memberinya makan mie goreng dan malam harinya kadang ada juga diberi nasi goreng lengkap dengan minum teh hangat dan air putih.
“Barusan saya ganti layar atap tempatnya bertapa. Ia tidak mau diberi pakaian bagus dan sandal jepit. Tiap bulan sekali keluarganya dari Kuningan Jawa Barat selalu menengok perkembangan dia,” katanya.
Lain halnya dengan penturan Susliono. Lelaki berusia 35 tahun yang berjualan bakso dekat tempat mbah Fanani bertapa tersebut mengaku tiap siang selalu memberikan bakso. Ia menyadari tak tahu kapan mbah Fanani keluar dari tempat tersebut untuk sekedar buang air besar dan air kencing. Itu terjadi bagi semua warga Wonosobo yang dulu pernah memenangi saat dia bertapa di Desa Tieng Kecamatan Kejajar.
“Ia tapa bisu.Saya hanya ingin berbagi dengan sesama dan Alhamdulillah rejeki lancar,” kata warga Garung Wonosobo yang bolak-balik tiap hari untuk berjualan bakso tersebut.
Meski terjadi hujan deras dan panas, lanjut dia, mbah Fanani tak pernah beranjak dari duduknya. Ia tetap diam di dalam bangunan kecil di pinggir jalan tersebut. Keadaaan lelaki yang tak pernah diketahui pernah mandi di Desa tersebut tak pernah membuat masyarakat merasa terganggu. Sebaliknya masyarakat sepertinya sudah terbiasa dengan sikap aneh yang muncul dari dalam diri mbah Fanani.
“Jika sewaktu-waktu keluar diberi bakso tangannya juga mau menerima meski dia bergerak dari tempat satu dengan yang lain dengan merangkak. Alhamdulillah bakso saya selalu habis,” ujarnya.
Susliono mengaku pernah diajak berbicara dengan mbah Fanani dalam bahasa Indonesia. Suatu malam mbah Fanani mengaku pernah diusir oleh seorang putri agar pergi dari tempat tersebut.”Akibatnya ia merangkak cepat sekitar 500 meter sampai pos polisi di Desa Dieng Kulon ini,” paparnya.
Kejadian lain, lanjut dia, banyak orang dari Kudus, Banjarnegara yang berbondong-bondong ke tempat pertapaan mbah Fanani. Mereka membawa beberapa botol air mineral.”Botol air itu diletakkan ditempat mbah Fanani bertapa, setelah seperempat jam dengan doa penuh keyakinan mereka lalu meninggalkan tempat mbah Fanani,” paparnya.
Ketika keluarga warga Kuningan ini bertandang ke tempat ia bertapa menggunakan mobil mbah Fanani juga tak mau diajak berbicara. Kendati ditawari untuk berganti pakaian ia tetap menolak mengenekannya.”Mbah Fanani sepertinya lebih nyaman hidup tanpa mengenakan pakaian bagus. Ia bilang bahwa laku yang ia perbuat itu karena dulu kakekknya pernah bertapa selama tiga tahun di kawah Sikidang dan Sumur Jolotundo objek wisata Dieng wilayah Kabupaten Wonosobo,” tandasnya.
Dari informasi yang dihimpun dan berhembus luas di tengah masyarakat Wonosobo lelaki misterius yang diduga memiliki nilai mistis ini memiliki pandangan tersendiri dengan dataran tinggi Wonosobo. Sebagaimana tertera dalam ramalam Jayabaya wilayah Kedulangmas (Kedu, Magelang dan Banyumas) nantinya akan ditutupi dengan banjir bandang. Karena itu mbah Fanani memiliki pandangan bahwa dia tidak akan kembali ke tanah kelahirannya sebelum kejadian tersebut terjadi di wilayah Wonosobo.
“Mbah Fanani berkata dia akan kembali ke rumahnya di Kunginan Jawa Barat dengan naik perahu,” kata Budiyanto warga Wonosobo.
Atas dasar pemahaman itulah lelaki yang disebut-sebut sebagai manusia aneh dan langka di zaman modern saat ini terus duduk diam di dataran tinggi Dieng.
Meski sebagian besar masyarakat dilokasi tersebut mengenakan kaos kaki dan kaos tangan serta baju serta celana panjang namun mbah Fanani memilih telanjang dada. Hanya kain sarung saja yang menempel dibagian tubuhnya. Ia merasa damai dengan kondisi tersebut lantaran memiliki pandangan lain pada umumnya yang terjadi atas berbagai konstruksi agama, budaya dan keyakinan yang terjadi ditengah masyarakat umum. [R/Yudi]

Pemerintah Belum Berniat Naikkan Harga BBM

Jakarta - Pemerintah belum berniat menaikan harga BBM meskipun harga minyak Indonesia (Indonesian Crude Price) sudah naik 10% dari asumsi APBN yang ditetapkan sebesar 80 dolar AS per barel. Padahal, dalam APBN 2011 pemerintah diperkenankan menaikan harga BBM jika perubahan ICP mencapai 10% dari asumsi awal atau mencapai 88 dolar AS per barel.
"Kalau harga naik 10 % rata-rata, kami diperkenankan menaikkan harga BBM. Tapi kami juga tahu sedang memerangi inflasi, menjaga daya beli masyarakat. Jadi kami mesti cari satu keputusan yang paling baik," papar Menteri Keuangan Agus Martowardojo di Jakarta, Rabu (11/5).
Agus juga menegaskan pemerintah akan tetap mengelola APBN dengan cara sebaik-baiknya di tengah kenaikan harga minyak. Sebelumnya, pemerintah dan DPR dijadwalkan membicarakan opsi kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi jenis premium dan solar pada akhir Mei 2011.
Dirjen Migas Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan rata-rata ICP selama satu tahun terakhir atau periode Mei 2010-April 2011 sudah mencapai 90 dolar AS per barrel. Berdasarkan catatan Tim Harga BBM Kementerian ESDM, harga rata-rata ICP selama setahun yakni periode Mei 2010 hingga April 2011 telah mencapai 89,52 dolar AS per barel.
Dengan rincian pada Mei 2010 ICP tercatat 77,02 dolar AS per barrel, Juni 75,27 dolar AS, Juli 73,75 dolar AS, Agustus 75,97 dolar AS, September 76,76 dolar AS dan Oktober 82,26 dolar AS.
Selanjutnya November 2010 sebesar 85,07 dolar AS per barrel, Desember 91,37 dolar AS, Januari 2011 97,09 dolar AS, Februari 103,31 dolar AS, Maret 113,07 dolar AS dan April 123,36 dolar AS per barrel. [R/CN]

Selasa, 10 Mei 2011

SPM dan PPT, Upaya Maksimal Tangani Kekerasan

Blora - Keberadaan Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) bagi korban kekerasan perempuan - anak, sangatlah penting. Ini untuk memberikan kemudahan pelayanan secepat mungkin.
Hal tersebut mengemuka dalam diskusi jaringan penanganan kekerasan dan traficking di Kabupaten Blora yang digelar Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Keluarga Berencana (BPMD dan KB) di Gedung Korpri Jalan Gor Mustika, Selasa (10/5).
Diskusi tersebut difasilitasi Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Provinsi Jawa Tengah dan dihadiri berbagai unsur kelembagaan, yakni Polri, Kejaksaan, aktivis gender, serta organisasi sosial keagamaan lain.
Narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Sulistyarno (BP3AKB Jateng), Herlina (Dinas Sosial Jateng), Rofiqhoh (Dinas Kesehatan Jateng), Tri Putranti Novitasari.
(Yayasan Setara Semarang), dan Ninik Joemita (LBH APIK Semarang). Sulistyarno mengemukakan, SPM bertujuan agar perempuan dan anak korban kekerasan bisa mendapatkan layanan minimal yang dibutuhkan.
"Maksud adanya SPM adalah sebagai panduan bagi pemerintah dan pemerintah daerah dalam menyelenggarakan layanan terpadu bagi perempuan dan anak korban kekerasan," jelasnya.
Mengenai jenis-jenis pengaduan yang dilayani, yaitu penanganan pengaduan, pelayanan kesehatan, rehabilitasi sosial, penegakan dan bantuan hukum, serta pemulangan dan reintegrasi sosial.
"Bentuk - bentuk kekerasan dalam SPM adalah kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual, penelantaran, serta eksploitasi (traficking)," tambahnya.
Tri Putranti Novitasari mengutarakan, ada beberapa prinsip umum dalam model penanganan kasus kekerasan dan traficking. Prinsip umum itu antara lain demi kepentingan terbaik anak, tidak ada diskriminasi, penghargaan terhadap pendapat anak, adanya keadilan dan kesetaraan gender, serta terjaganya kerahasiaan korban.
"Selain prinsip umum ini, ada mekanisme kerjasama antarpihak yang terkait dalam seluruh tindakan pemberantasan perdagangan anak, yang meliputi upaya pencegahan, pemulihan dan reintegrasi sosial, perlindungan hukum, hingga peningkatan partisipasi masyarakat," tegasnya. [R/CN]

Jumlah Wisatawan ke Dieng Meningkat

Wonosobo- Sejak Januari hingga Mei 2011 lalu wisatawan di objek wisata candi Dieng Plateau Teater, Telaga Warna, dan kawah Sikidang terus meningkat.Pada Januari wisatawan asing ada sebanyak 562, Februari 464, Maret, 595 dan Mei 780 orang. Kenaikan angka pengunjung juga terjadi pada wisatawan domestik baik melalui terusan (tiket 3 ojek tersebut diatas) maupun khusus di Telaga Warna.
Kepala Resort Sumber Daya Alam (SDA) wisata alam Telaga Warna Pardiyono mengatakan wisatawan terusan bulan Januari sebanyak 2200, Feburari 2600, Maret dan April sedikitnya 3000 orang. Sedang wisatawan domestik antara lain Januari 562, Feburari 464, Maret 595 dan April 780.
“Untuk bulan ini belum bisa diformulasikan jumlahnya. Namun diprediksi meningkat karena saat ini lagi musim liburan,” katanya Minggu (8/5).
Menurutnya, wisatawan domestik rata-rata dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan kaum professional dari kota Jakarta, Bandung dan Surabaya. Sedangkan wisatawan asing dari negara-negara di kawasan Asia dan Eropa. Mereka biasanya mengikuti studi tour ke pulau Jawa dengan rute Jakarta, Bandung, Wonosobo, Magelang, Jogjakarta hingga Bali.
“Faktor pemicu meningkatnya wisatawan yang berkunjung ke Dieng juga karena tempat wisata ini sering tayang di acara televisi yang secara otomatis jadi ajang promosi,” jelasnya.
Lebih lanjut Pardiyo menjabarkan, bahwa dalam hal pembelian tiket wisatawan memang berbeda. “Pembeli ada yang terusan membeli Rp 12 ribu untuk empat objek yaitu Dieng Plateau Teater, Telaga Warna dan Kawah Sikidang,” paparnya.
Kendati demikian, lanjut dia, ada pula wisatawan yang hanya ingin berkunjung ke Telaga Warna saja. Untuk yang wisatawan semacam tersebut pihaknya melayani dengan tiket khusus masuk Talaga Warna.”Rata-rata pengunjung yang khusus masuk wisatawan domestik,” ujarnya.
Dijelaskannya semua dana yang terkumpul dari pengumpulan tiket disetorkan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Wonosobo sebagai PAD. Namun ada juga ke Perhutani karena sebagian lahan Telaga warna adalah milik perhutani.
“Sayangnya ada sejumlah fasilitas bagi wisatawan asing yang belum tersedia,” pungkasnya. [R/Yudi]

Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila Perlu Revitalisasi

Kudus - Kesadaran atas prinsip dasar terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI); Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, kian tidak dihayati oleh bangsa Indonesia. Pasalnya, selama 32 tahun Pancasila dibajak sebagai alat kepentingan politik dan kebijakan untuk asimilasi SARA oleh rezim Orde Baru. Akhirnya, masyarakat menjadi alergi dan trauma untuk mengedapankan ke dua prinsip ini, hingga seolah asing.
Hal itu diungkapkan oleh Guru Besar Psikologi Politik Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. Hamdi Muluk dalam Seminar Nasional Psikologi Multikulturalisme yang diselenggarakan oleh Fakultas Psikologi Universitas Muria Kudus (UMK) pada Senin (9/5) di Hotel Kenari Kudus.
Melalui makalahnya yang berjudul “Issu Multikultural di Indonesia; Kondisi Terkini dan Tantangan ke Depan”, Muluk membedah mengenai ke arah manakah multikulturalisme Indonesia harus dibawa. Orde Baru misalnya, memaksakan multikultural untuk diasimilasikan. Sehingga orang etnis Cina harus berganti nama Indonesia. Sebaliknya, oleh reformasi yang mengalami disorientasi, semangat kebebasan yang diusung justru memperlemah ikatan-ikatan di atara kelompok suku, agama, ras dan kebudayaan. Kondisi ini muncul beriringan ketika pemerintah gagal mengelola hampir semua sektor publik.
“Hilangnya kesadaran publik inilah yang semakin mempertebal rasa sektarianisme dan mengentalkan perasaan ingroup masing-masing kelompok,” jelasnya.
Senada dengan Muluk, Pembantu Rektor I UMK, Drs. Masluri, MM. dalam sambutannya mengatakan, saat ini nilai-nilai ke-Indonesiaan telah luntur. Sesuatu yang sepele dapat berbuntut pada pertikaian. Hal ini menurutnya, salah satunya disebabkan elit yang tidak layak menjadi teladan.
“Jangan-jangan Indonesia sudah hilang? Akan tetapi tidak secara geografis, namun nilai dan karakter manusianya,” katanya.
Masluri juga khawatir oleh keberhasilan dunia pendidikan di Indonesia dalam membentuk manusia yang cerdas akan tetapi gagal membentuk pribadi yang baik. Pasalnya, pelaku penyalahgunaan wewenang, baik itu dalam bentuk korupsi atau tindakan amoral lain, adalah produk dari pendidikan tinggi.
“Apalagi Mata Kuliah Pancasila sudah dihilangkan? Bagaimana pemahaman Pancasila akan tertanam?” katanya menegaskan.
Atas dasar fenomena seperti inilah, Fakultas Psikologi UMK mengadakan seminar bertema “Upaya Membumikan Semboyan Bhineka Tunggal Ika Sebagai Salah Satu Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara” ini.
“Kekerasan dan konflik selalu mewarnai Ke-Indonesiaan terkini. Kami prihatin atas realitas seperti ini,” kata Dekan Fakultas Psikologi, Drs. M. Suharsono, M.Si. sembari membandingkan dengan keharmonisan yang pernah terjalin pada masa awal berdirinya Negara Indonesia.
Melalui seminar seperti ini, Suharsono berharap dapat memberi kontribusi dalam rangka merekonstruksi kesadaran Bhineka Tunggal Ika. “Agar Indonesia ke depan lebih baik,” pungkasnya.
Revitalisasi Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika
Akhir-akhir ini, kata hamdi Muluk, gagasan multikulturalisme dan Bhineka Tunggal Ika semakin hilang dalam ruang diskusi dan interpretasi masyarakat Indonesia. Padahal, beberapa daerah telah mengindikasikan memunculkan gagasann dan upaya untuk disintegrasi. Sehingga menjadi kebutuhan untuk kembali menelaah dan membuka perdebatan nasional mengenai gagasan Bhineka Tunggal Ika dan gagasan multikultural versi indenesia.
Indonesia, kata Muluk, telah memiliki modal sosial besar berupa “Kesepakatan Bersama” dalam Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila. “Keduanya perlu direvitalisasi agar menjadi basis kebijakan multikultural di Indonesia. Ini adalah tantangan bagi masa depan,” ujarnya.
Sebuah kenyataan historis, kata Muluk, bahwa Indonesia terbentuk oleh multi-nation. Di mana keragaman etnik, suku dan kebudayaan selanjutnya bersepakat untuk membentuk nation-state (negara bangsa). Kesadaran untuk mengikat keragaman inilah yang oleh founding father membentuk prinsip Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila.
“Ketika hubungan SARA mengalami kecenderungan membawa konflik, menjadi sebuah keharusan untuk kembali mengingatkan akan platform bersama NKRI,” pungkas Muluk. [R/Farih]

Kamis, 05 Mei 2011

TKI Kirim Uang Hingga Rp 14 Triliun Selama Triwulan I-2011

Jakarta - Pengiriman uang (remitansi) dari Tenaga Kerja Indonesia (TKI) selama kuartal I-2011 mencapai US$ 1,6 miliar atau sekitar Rp 14 triliun. Rata-rata TKI mengirimkan uang sebesar US$ 500 miliar atau sekitar Rp 4,5 triliun per bulan ke Indonesia.
Menurut data Bank Indonesia yang dikutip detikFinance, Jumat (6/5/2011), TKI dari kawasan Asia menjadi penyumbang terbesar jasa remitansi dimana sampai dengan Maret 2011 telah mencapai US$ 956,3 juta.
Dikawasan Asia, TKI di negara Malaysia menjadi penyumbang jasa remintasi terbesar dimana mencapai US$ 575 juta selama kuartal I-2011. Sedangkan untuk negara kawasan Timur Tengah dan Afrika totalnya mencapai US$ 683 juta. Diikuti oleh TKI di kawasan Amerika, Eropa sekaligus Australia yang masing-masing mencapai US$ 23 juta dan US$
4,5 juta.
Selama tahun 2010 BI mencatat jasa remintasi mencapai US$ 6,73 miliar atau sekitar Rp 60 triliun. Angka tersebut hanya meningkat 1,8 % dari tahun 2009 yang sebesar US$ 6,61 miliar. Remitansi terbesar dikirimkan oleh TKI wilayah Asia yang sebanyak US$ 3,77 miliar pada periode tersebut.
Bank sentral juga mencatat jumlah TKI yang mencari nafkah di luar negeri selama kuartal I-2011 mencapai 48.000. TKI terbanyak terdapat di Arab Saudi dimana mencapai 17.890 orang. Disusul negara Malaysia yang mencapai 9.008 orang.
Dari negara penempatannya, TKI masih dominan di kawasan Timur Tengah dan Afrika mencapai 24.347. Sedangkan di Asia mencapai 23.016 orang. [R/dtc]

Jangan Mau Diperas Oknum PLN dan Calo Listrik!

Jakarta - Banyak masyarakat yang masih diperas jutaan rupiah oleh oknum PLN serta calo listrik untuk penyampungan daya listrik baru. Untuk menangani ini kuncinya hanya satu: Jangan Mau!
Imbauan itu ini disampaikan oleh Direktur Utama PLN Dahlan Iskan kepada detikFinance, Jumat (6/5/2011) menanggapi keluhan masyarakat di daerah yang 'dikerjai' oleh oknum PLN dan calo.
"Jangan mau! langsung saja ke kantor atau loket PLN. Pasti disambung. Apalagi bulan depan PLN akan melakukan program sehari menyambung satu juta sambungan," tutur Dahlan.
Dahlan mengimbau masyarakat untuk tidak memasang sambungan listrik baru lewat calo. "Jangan lewat calo apakah dia karyawan kontrakan PLN maupun mitra kerja PLN," tegas Dahlan.
Dikatakan Dahlan, tahun ini PLN bertekad untuk menyelesaikan seluruh daftar tunggu sambungan listrik baru se-Indonesia. "Jadi daftar tunggu yang mencapai 3 juta orang itu harus sudah habis tahun ini," imbuh Dahlan.
Namun Dahlan mengakui, keluhan soal mahalnya biaya sambungan listrik masih terjadi di beberapa daerah. "Tapi keluhan seperti itu sudah turun drastis," tukas Dahlan.
Sebelumnya, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Riau, Sukardi program sejuta sambungan yang diagendakan PLN secara nasional, agaknya menjadi perburuan oknum PLN dan Biro Jasa di lingkungan perusahaan plat merah tersebut.
Dia menerima pengaduan, bahwa untuk penyambungan baru daya 900 watt dimintai uang minimal Rp 5 juta. Ini dilakukan para oknum biro jasa dilingkup PLN. [R/dtc]

Mahasiswa ITS Luncurkan Game Edukasi "Mbatik Yuk"

Surabaya - Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya meluncurkan lima "game" edukasi yakni "Mbatik Yuk", "Perjalanan Kartini", "Simulasi Hacker ID", "Simulasi Jinak Bom", dan "IP Sims" (Simulasi Jaringan Komputer).
"Game itu bisa positif dan negatif, karena itu kami menyambut Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dengan mempersembahkan game edukasi guna memerangi pengunaan teknologi untuk kemungkaran," kata dosen pembimbing, Imam Kuswardayan SKom MT, di Surabaya, Rabu.
Ia mengemukakan hal itu saat peluncuran lima game edukasi untuk memeriahkan Festival Seni dan Teknologi pada 29-30 April yang dirangkai dengan Pekan Ilmiah Mahasiswa ITS (PIMITS) 2011 pada 1-5 Mei di Grha ITS Surabaya.
"Ada 17 game edukasi yang dirancang para mahasiswa, tapi sudah sembilan game edukasi yang dipublikasikan yakni pertempuran 10 November (P10Ner), Palagan Ambarawa, Merapi Boy, Merapi Joy, dan lima game edukasi yang diluncurkan saat ini," katanya.
Game edukasi "Mbatik Yuk" dirancang lima mahasiswi Fakultas Teknologi Informasi (FTIf) ITS yakni Himmatul Azizah, Ratri, Intan Dzikria, dan Sangkurnia Sekar Arom.
"Banyak orang memakai batik, tapi banyak orang yang tidak tahu cara membatik, termasuk tahapan-tahapannya, karena itu kami merancang game dengan skets pen agar seperti membatik dengan canting, sebab kalau pakai `mouse` akan berbeda dengan canting," kata Ratri.
Game itu menceritakan Sinta yang merupakan gadis kota yang sedang berlibur ke rumah neneknya di desa yang kebetulan pemilik industri batik dan akhirnya meminta cucunya untuk belajar membatik melalui bimbingannya.
"Ada empat tahap membatik yakni isen-isen atau menebalkan pola, mbliriki atau mewarnai pola, mbironi atau mencelupkan kain ke zat pewarna, dan nglorod atau merebus di air panas agar malam meleleh. Semuanya tahapan itu ditempuh dengan tiga level yakni mudah, sedang, dan rumit. Semuanya ada skor," katanya.
Untuk game edukasi "Perjalanan Kartini" dirancang tujuh mahasiswa Magister Informatika yakni Galih Candra Setiawan (manajer proyek), Arief Prasetyo (tukang koding), Fariz Andri Bakhtiar (pengisi suara dan bunyi), Fariz Andri Bakhtiar (perancang peta dan bangunan dalam game), Rizky Noviasri (pembuat gambar dan animasi), dan I Gusti Lanang Putra Eka (dokumentasi).
"Kami merancang game dengan sistem RGP (role playing game) dengan penggalan cerita mulai masa kecil Kartini yang membeli gula aren, masa sekolah, masa pingit, dan sebagainya," kata Galih Candra Setiawan.
Untuk game edukasi lainnya bersifat simulasi yakni Simulasi Hacker ID, Simulasi Jinak Bom, dan IP Sims atau Simulasi Jaringan Komputer. [R/Ant]

Tawaran Kerjasama dari Negeri Sakura

- Kirim Jamur Krispi

Blora - UD Sarana Berkah Mulia yang berada di RT 03 RW II Desa Wantilgung, Kecamatan Ngawen, yang dirintis oleh Heni Pudjiwati, mendapatkan tawaran order untuk mengirim jamur kripsi ke Negeri Sakura; Jepang.
Order tersebut dari salah satu temannya di Pemalang yang bertemu dengannya di sebuah pelatihan di Semarang. ''Belum deal. Saat ini masih konfirmasi masalah kemasan dan standar pengolahan dari sana,'' katanya kepada Suara Merdeka, Kamis (5/5).
Dia mengutarakan, temannya yang menawarkan order saat ini juga masih mengikuti kursus pembuatan jamur krispi standar yang diminta di Jepang itu. ''Sabtu besok saya akan membicarakan lebih lanjut mengenai order ini. Kalau deal, saya juga akan diberikan pelatihan secara gratis untuk pengolahan jamur krispi,'' tambahnya.
Heni Pudjiwati adalah salah satu pengusaha penyedia jamur tiram yang paling besar di Blora. Usahanya dimulai sejak 2009, tak lama setelah mengikuti pelatihan budi daya jamur tiram di Yogyakarta.
Saat ini, usaha yang digelutinya sejak tiga tahun lalu itu, telah membuahkan hasil. Dengan tujuh karyawan yang membantunya, per hari minimal ia bisa memanen 7,5 kilogram jamur. ''Paling banyak 47 kilogram,'' jelasnya.
Selain memasarkan secara mandiri hasil panenan jamur yang dibudidayakannya, Heni juga menyediakan bibit jamur tiram yang saat ini banyak mendapatkan permintaan dari berbagai daerah. ''Selain Blora sendiri, untuk pemasaran bibit ini sudah sampai Rembang, Demak, Pati, dan Bojonegoro. Belum lama ini ada orang dari Jatirogo yang sudah survey untuk mengambil bibit dari sini,'' katanya. [R]

Mayoritas Pekerja di Jakarta Lulusan SD

Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan mayoritas pekerja di Indonesia adalah lulusan Sekolah Dasar (SD). Sedangkan pekerja lulusan perguruan tinggi justru paling rendah.
Kepala BPS Rusman Heriawan menyatakan penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja lulusan SD mencapai 55,12 juta orang pada Februari 2011, naik dari Agustus 2010 yang sebesa 54,51 juta orang. "SD ke bawah masih dominan 49,53%. Angkatan kerja ini juga akan tetap menguat karena umur harapan hidup orang," kata Rusman.
Menurutnya, ada kecenderungan setiap orang yang berumur 60 tahun tidak pensiun tetapi masih menjadi angkatan kerja. Hal ini, kata dia, bisa menjadi masalah karena akan ada perebutan lahan kerja antara orang tua dan orang muda. "Jaman dulu, lulusan SD bisa jadi direktur. Tapi sekarang sarjana yang punya ijazah saja susah cari kerja," kata Rusman.
Rusman memaparkan, angkatan kerja yang lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) mencapai 21,22 juta orang pada Februari 2011. Sedangkan Sekolah Menengah Atas (SMA) capai 16,35 juta orang, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 9,73 juta orang, Diploma I/II/III 3,32 juta orang, dan Universitas 5,54 juta orang.
Menurutnya, tingginya angka lulusan SD menciptakan perlombaan dalam bursa kerja. "Angkatan kerja sudah diprediksi, itu sudah pasti kalau ekonomi ngga bisa diimbangi ini jadi mimpi buruk buat kita, pengangguran," cetusnya.
Namun, Rusman menilai, tingkat pengangguran Indonesia masih bisa dikendalikan. Pasalnya, ekonomi Indonesia tumbuh cukup tinggi pada kuartal I/2011 yang mencapai 6,5%. "Itu suatu yang baik untuk bisa mengimbangi angkatan kerja," kata dia.
Pada Februari 2011, Rusman memaparkan, jumlah angkatan kerja mencapai 119,4 juta orang, atau bertambah sekitar 2,9 juta orang dibanding Agustus 2010. Adapun jumlah penduduk yang bekerja mencapai 111,3 juta orang atau bertambah 3,1 juta orang dibanding Agustus 2010.
"Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia pada Februari 2011 mencapai 6,8%, turun dibanding TPT agustus 2010 yang sebesar 7,14% dan TPT Februari 2010 sebesar 7,41%," jelasnya. [R/CN]

Gamelan Kiai Mega Mendung Sejak Abad 18

Kyai Mega Mendung memang berbeda dengan gamelan-gamelan lain di wilayah Jateng. Bisa jadi gamelan ini usianya tertua, sebab dibuat sejak abad ke-18. Kondisi alat musik tradisional pengiring kesenian kethoprak, karawitan, dan wayang berbahan kuningan ini masih sangat bagus. Konon gamelan ini dibuat oleh perajin dari Kabupaten Pemalang.

Wonosobo - Komposisi musik dari bonang, sitar, selenthem, kendang, kenong, kethuk, rebab, saron, peking dan gemung itu mengalun dengan merdu. Tak ketingalan selenthem, gender, gambang, boning penerus, dan siter pun menyusul bersama gong genjur. Bunyi karawitan dengan lagu-lagu langgam jawa di hotel Kresna itu dimainkan perawit dari Kelurahan Jaraksari, Kecamatan Wonosobo.
Menurut Sigit Hendra Setiawan Fron Office Hotel Kresna musik itu dimainkan pada jam 19.00 WIB hingga Rp 21.00 WIB. Suaranya untuk menjamu para turis asing yang berasal dari Belanda, Perancis dan negara luar negeri lain yang menginap di hotel yang bangunannya masuk cagar budaya tersebut.
“Para turis sangat menikmati sekali alunan musik langgam Jawa yang muncul dari komposisi gamelan. Bahkan ada satu karyawan Hotel Kresna yang kesurupan jika alat musik itu dimainkan.Untuk menghindari hal tersebut jika ada perawit main musik dia tidak berangkat,” kata Sigit sambil menunjukkan alat musik gamelan yang usianya tertua di Wonosobo Rabu (4/5).
Dijelaskan Sigit, gamelan itu dinamakan Kyai Mego Mendung yakni dengan maksud memanggil hujan. Dulu ketika si empu membuatnya kemungkinan di daerah pesisir pantai laut utara Kabupaten Pemalang sedang dilanda kemarau panjang. Tak heran jika gamelan tersebut dinamakan Kyai Mego Mendung.
“Sertifikasinya ada di kantor hotel Kresna pusat di Jakarta,” jelas dia.
Kondisi alat tersebut, lanjut dia, masih asli. Hanya sejumlah kenong yang diganti satu abad yang lalu. Meski diganti namun kualitas suara kenongnya masih sangat bagus karena memesannya disalah satu perajin gamelan wilayah DI Jogjakarta.
”Alat masih seperti saat kali pertama dibuat si empunya. Hanya kayu penyangga alat mengalami pembaharuan agar tetap bisa dipajang dan digunakan,” paparnya.
Dari berita yang berhembus pak Suripto yang akrab disapa Tipto adalah seniman tradisional Jawa yang populer di Wonosobo. Ia bukan hanya merawat seperangkat gamelan bernama Kyai Mego Mendung saja melainkan gamelan yang berada di pendapa bupati.
“Kita sih ngikut saja apa yang dilakukan pak Ripto. Tiap malam Jumat kliwon pasti dia memberi sesajen dengan menyalakan menyan dan ubo rampe sajen lain di sekitar gamelan tersebut,” ujarnya kepada koran ini.
Terkait dengan riwayatnya hotel Kresna memang memiliki mata rantai sejarah dengan Kabupaten Wonosobo ini. Pada zaman dulu menjadi tempat penginapan para pelancong yang pergi di Wonosobo. Hingga kini bangunan tersebut masih utuh dikelilingi dengan pajangan barang-barang antik dan beberapa lukisan yang menceritakan identitas kekhasan budaya lokal asli Wonosobo.
“Saya tidak tahu namun kemungkinan gamelan ini tertua di pulau Jawa. Sebab dulu konon ada salah satu Musium di Jogjakarta yang sempat mendaftar alat musik ini sebagai peninggalan sejarah. Namun lantaran sudah terdaftar sertifikatnya oleh pemilik hotel Krisna akhrinya tidak jadi,” tandasnya.
Manajer hotel Krisna Marah menambahkan suara bunyi karawitan yang disajikan tiap ada tamu yang berkunjung mampu memantik turis asing. Para turis tersebut dengan senang hati memainkan alat musik yang dinilainya religius tersebut. Sebab tiap bunyi yang hadi di ruang yang megah dan istimewa itu gaungnya bisa membuat orang merinding.
“Saya nggak tahu unsur mistisnya. Namun ada mitos semacam itu saat orang asli Wonosobo menyaksikan gamelan itu. Bahkan karena dinilai memiliki mitos maka sampai sekarang kondisinya masih sangat bagus,” imbuh pria asal Jakarta yang bermukim di perumahan Mutiara Persada tersebut.
Kendati mengakar kuat tetapi bapak dua anak itu menilai masih sebatas wajar-wajar saja. Sebab keberadaan seperangkat gamelan bernama kyai mego mendung tersebut disajikan sebagai salah satu kekayaan budaya Jawa agar dikenal para turis asing saat berpariwisata di Wonosobo.
“Ini semacam menu andalan kami selain berbagai fasilitas lain yang kami sajikan. Tiap ada rombongan turis satu hingga lima bus pasti dimainkan oleh personel kelompok karawitan dari Kelurahan Jaraksari,” pungkasnya. [R/Yudi]

Rabu, 04 Mei 2011

Cegah NII, Pemprov Jatim Akan Buat Pergup

Surabaya - Pemerintah Provinsi Jawa Timur tengah berancang-ancang membuat aturan terkait pelarangan aktivitas Negara Islam Indonesia. Dasar pembuatan peraturan ini terkait maraknya kasus penculikan, pencucian otak, dan penipuan yang mengatasnamakan NII
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur Abdusshomad Buchor menuturkan, seperti halnya terhadap aktivitas Ahmadiyah, larangan ini tampaknya akan menggunakan instrumen peraturan gubernur (Pergub). "Kami, para Muspida sudah pernah sekali membahas soal NII ini. Tampaknya akan mengerucut pada pembahasan pelarangan," ungkapnya, Kamis (5/5).
Ditambahkan, dalam pertemuan tersebut, untuk saat ini pergub memang belum memungkinkan untuk langsung dibuat. Namun berkaca dari kasus Ahamdiyah, setidaknya membutuhkan beberapa kali pertemuan antara kalangan muspida untuk dapat menghasilkan Pergub.
Abdusshomad menuturkan, sebenarnya pelarangan NII bukan hal baru. Pasalnya pada 5 Oktober 2002, MUI sudah membuat rekomendasi soal hasil temuan NII dengan Pondok Pesantren Ma'had Al Zaytun (MAZ). Dalam rekomendasi tersebut, komisi fatwa MUI itu dengan jelas menegaskan bahwa NII sesat karena dianggap sudah melenceng dari Islam.
Misalnya saja, NII tidak mewajibkan anggotanya untuk salat lima waktu dan membayar zakat. Namun cukup mencari anggota baru dan melakukan penggalangan dana. [R/CN]

3500 Banser Siaga Tanggulangi Bencana

Wonosobo - Sebanyak 3500 personel Banser siaga untuk menanggulangi berbagai bentuk bencana yang terjadi di Kabupaten Wonosobo. Kesiapan itu diwujudkan dengan dibentuknya Tim SAR yang bakal dilaunching Sabtu (2/5) lalu. Berbagai atraksi bakal memeriahkan ratusan pengunjung yang mengunjungi alun-alun Wonosobo.
Ketua Banser Wonosobo Amirudin mengatakan pihaknya bekerjasama dengan SAR Wonosobo dan Provinsi Jawa Tengah dalam melatih sedikitnya 150 personel dari 15 kecamatan. Pelatihan berbagai materi terkait dengan perangkat teoritis dan praktek bagi petugas SAR tersebut dilangsungkan di BLK Wonosobo selama empat hari dari (30/4-4/5) tahun ini.
“Nama SAR kami bernama SAR Kolodete. Itu tokoh legendaris Wonosobo yang diyakni mbahu rekso pegunungan Dieng,” kata Amir Kamis (29/4).
Selain di BLK, lanjut Amir, untuk praktik pelatihannya akan diadakan di tempat wisata Telaga Menjer, Kalianget dan sekitar sungai Serayu.Personel SAR Kolodete akan siaga 24 jam ketika terjadi bencana baik angin putting beliung, tanah longsor maupun kebakaran.
“Ini untuk mengoptimalkan sumberdaya manusia agar lebih professional melalui SAR. Karena itu kami menjalin kerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Pemkab Wonosobo,” tandas dia.
Terkait berbagai atraksi pasukan banser saat launching menurutnya antara lain atraksi kekebalan, peragaan tarung menggunakan senjata dan senapan. Juga berguling-guling diatas duri pohon salak.”Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid yang juga anggota DPRRI bakal menyambut acara tersebut,” papar dia.
Kepala SAT Korcab Banser Kabupaten Wonosobo Kurnianto menambahkan terkait isu radikalisme yang terus menghangat pihaknya menolak. Kurnianto memandang bahwa radikalisme yang mengatasnamakan agama dengan melakukan pembunuhan, pengeboman terhadap penegak hukum, pengrusakan tempat ibadah dan fasilitas umum tidak sesuai dasar negara Indonesia.“Kami menolak segala bentuk radikalisme ,” tegas Kurnianto. [R/Yudi]

Trans 7 Janji Hapus 'Crayon Sinchan'

Jakarta- KAMIS (28/4/2011) lalu, pendingin ruangan di auditorium Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI) berfungsi seperti biasa. Namun dinginnya seakan tidak mengusir kegerahan sebagian orang yang duduk mendengar pemaparan Titin Rosmasari.
Titin adalah pemimpin redaksi Trans 7. Sore itu ia bicara sebagai salah satu pembicara pada sesi kedua seminar ‘Anak dan Televisi’ yang diadakan di kampus UI, Depok. Selesai bicara, belasan peserta kontan mengangkat tangan mengajukan berbagai pernyataan dan pertanyaan.
“Mengapa Crayon Sinchan masih disiarkan Trans 7?” keluh seorang penanya. “Apakah Opera Van Java pantas ditayangkan pada jam di mana anak ikut menonton?” susul lainnya, lalu seterusnya, hingga seorang ibu yang berkata bahwa anaknya tidak mau mencuci tangan sebelum makan karena dalam tayangan Bolang produksi Trans 7, Si Bolang tidak mencuci tangannya sebelum makan.
Dalam seminar yang diselenggarakan Departemen Susastra dan Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya (PPKB) FIB-UI itu, Titin hanya sedikit sekali menjelaskan ketentuan-ketentuan dasar serta kategori-kategori dalam program anak di televisi. Namun untuk program-program anak yang disiarkan Trans 7, porsinya justru lebih besar. Misalnya: variasi tayangannya lebih beragam dibanding stasiun tv lain, performanya paling tinggi di antara stasiun swasta lainnya, banyaknya aspek edukasi yang terkandung di dalam tayangan-tayangannya, hingga berkeluh bahwa tayangan Bocah Petualang-nya kalah dari sinetron remaja Indosiar Kepompong dalam KPI Awards 2008 (KPI Awards adalah ajang pemberian penghargaan olek Komisi Penyiaran Indonesia kepada stasiun televisi atas tayangan-tayangannya yang berkualitas).
Lewat data AGB Nielsen Media Research (lembaga survey untuk radio dan televisi), paparan Titin juga memuat ragam tayangan anak yang ada, untuk kemudian dibandingkan dengan tayangan yang disiarkan Trans 7, seakan ingin menunjukkan bahwa program Trans 7 paling berkualitas. Seperti, misalnya, ia menyayangkan bahwa tayangan Cinta Juga Kuya di SCTV dimasukkan dalam kategori program anak. Tak lupa, Titin turut memperlihatkan judul-judul episode tayangan Si Bolang dan Laptop Si Unyil - yang sepertinya menjadi tayangan kebanggan Trans 7.
Sore itu Titin menjadi pembicara tunggal karena pembicara kedua, Arist Merdeka Sirait dari Komnas Perlindungan Anak, batal hadir. Padahal kehadiran Arist dinilai penting untuk melihat bagaimana pandangan-pandangannya terhadap tayangan anak yang ada: apakah pihak stasiun tivi sudah berpihak kepada anak?
Pada sesi tanya jawab seorang peserta bertanya mengapa tayangan ‘Crayon Sinchan’ masih saja ditayangkan Trans 7, padahal ketika masih disiarkan RCTI, penolakan dari masyarakat sudah sangat tinggi. Titin pun menjelaskan berbagai macam hal terkait dengan hal itu. Namun, di ujung penjelasan, ia akhirnya mengatakan, “Segera akan kita ganti (tayangan crayon sinchan tersebut).” [R/Remotivi]

Audisi Pembuatan Film Dokumenter

Kami Legal Resources Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC-KJHAM) Semarang, sebuah lembaga swadaya masyarakat yang peduli pada persoalan pemenuhan hak asasi perempuan khususnya perempuan miskin, marjinal dan rentan di Jawa Tengah, bermaksud mengadakan audisi pembuatan film dokumenter yang mengambil tema “Pengalaman Advokasi Hak atas Kesehatan Perempuan bersama Kelompok Perempuan Miskin, Marjinal dan Rentan di Jawa Tengah”, yang bekerjasama dengan Yayasan Tifa Jakarta.
Pembuatan Film tersebut bertujuan untuk mendokumentasikan masalah-masalah dan isu hak asasi khususnya hak atas kesehatan kelompok perempuan korban kekerasan, buruh migran, perdagangan orang, eksploitasi seksual di Kabupaten Grobogan, Kabupaten Semarang, Kabupaten Kendal dan Kota Semarang. Selain itu pembuatan film juga bertujuan untuk mendokumentasikan suara dan pengalaman perempuan atas pelaksanaan kebijakan hak atas kesehatan, mendokumentasikan dan menginformasikan strategi-strategi hak asasi dalam kerja-kerja advokasi hak perempuan atau pemberdayaan perempuan (melalui FPAR dan WRIA), mendokumentasikan dan menginformasikan hasil-hasil pembelajaran bekerja bersama perempuan melalui FPAR dan WRIA dalam mengadvokasi hak-hak perempuan rentan dan marjinal, serta untuk mempromosikan FPAR dan WRIA sebagai instrumen hak asasi untuk memfasilitasi perluasan partisipasi sejati perempuan, perbaikan kebijakan lokal serta untuk mendorong keadilan anggaran lokal
Untuk itu kami mengundang Bapak/ Ibu atau Lembaga Bapak/ Ibu/ Saudara untuk berpartisipasi dalam audisi pembuatan film ini. Adapun kerangka acuan dan form aplikasi sebagaimana terlampir. Informasi selengkapnya dapat menghubungi kami di telpon (024) 6723083 atau website kami www.lrc-kjham.org atau email kami di lrc_kjham2004@yahoo.com. [R]

Jangan Sampai Anak Pilih TV Sebagai Sahabat

Jakarta - KAMIS 28 April 2011, Departemen Susastra dan Pusat Penelitian Kajian Budaya (PPKB) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (FIB-UI), mengadakan seminar bertajuk ‘Anak dan Televisi’ di auditorium Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Depok.
Dimoderatori Sunu Wasono, staff pengajar FIB-UI, sesi pertama yang sangat singkat ini menghadirkan Riris K. Toha Sarumpaet (Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya & Pengajar Pengkajian Cerita Anak), Paulus Wirutomo (Sosiolog), dan Eko Handayani (Psikolog) sebagai pembicara.
Dalam materi seminarnya, Riris mengupas tayangan Opera van Java (OVJ) milik Trans 7 dan sinetron SCTV Islam KTP, yang setelah diteliti, ternyata berdampak negatif terhadap anak. OVJ dinilai banyak mengandung kekerasan, kata-kata kasar, serta menampilkan peristiwa tidak pantas seperti ngompol. Begitupun Islam KTP, yang memang ingin memberikan pendidikan agama dan moral, namun justru sang tokoh teladan di dalamnya sering mengeluarkan ejekan yang tidak pantas dicontoh anak-anak.
Menurutnya, kedua tayangan ini jelas bukan tontonan anak. Namun kenyataannya, kedua stasiun TV tetap menayangkan program tersebut saat anak-anak masih bisa menonton TV, yaitu pada pukul 20.00-22.00 untuk OVJ, dan pukul 18.00-21.30 untuk Islam KTP. “Jika kita bicara tentang tontonan anak, maka tontonan itu seharusnya mengasyikkan”, tutur Riris. Jika tayangan tersebut mengandung kekerasan, atau malah berisi terlalu banyak konflik manusia dewasa, tontonan itu tidak akan mengasyikkan bagi anak. Artinya, tayangan tersebut bukanlah tontonan untuk anak.
Lain lagi dengan Paulus Wirutomo yang bahasannya mengenai ‘Media dan Masyarakat Indonesia’. Paulus mengatakan bahwa terhadap teknologi yang terus berevolusi, masyarakat belum mampu berevolusi dari aspek sistem nilai, sikap, perilaku, pranata sosial, dan yang lainnya, sehingga masyarakat Indonesia, selain menjadi pemanfaat teknologi, juga turut menjadi korban teknologi tersebut.
“Bukan media yang sebenarnya menjajah kita, tetapi orang-orang di baliknya.,” ujar Paulus penuh semangat.
Sebagai pengakhir sesi, Eko Handayani hadir dengan paparannya, ‘Dampak Tayangan TV Terhadap Anak’. Ia mengatakan bahwa televisi merupakan salah satu jendela awal bagi anak untuk mengenal dunia. Sayangnya, tidak semua tayangan berdampak positif. Meski televisi membantu meningkatkan daya imajinasi anak sehingga anak bebas berkreasi, namun televisi juga dapat mengakibatkan berbagai gangguan, baik dari gangguan fisik dan kesehatan, hingga gangguan mental dan kognisi anak.
Tak lupa Eko juga memberikan beberapa tips kepada orangtua, seperti, (1) jangan menaruh TV di kamar anak, (2) melakukan pendampingan ketika menonton, (3) memilah dan memilih apa yang layak ditonton anak, serta (4) menambah lebih banyak alternatif kegiatan bagi anak selain menonton TV.
Satu tips yang menarik dan perlu diingat oleh orangtua adalah, jangan egois, karena anak meniru orangtuanya. Jika orangtua melarang anak menonton, namun ternyata orangtuanya menonton, itu sama saja memberi contoh buruk bagi anak. Di akhir materi, ia mengingatkan peserta seminar, terutama para orangtua, jangan sampai anak lebih memilih TV sebagai sahabat, ketimbang orangtuanya sendiri.
Sesi kedua yang dijadwalkan akan dibawakan oleh Arist Merdeka Sirait (ketua Komnas Perlindungan Anak) dan Titin Rosmasari (Pemimpin Redaksi Trans 7) mendadak berubah. Arist tidak dapat hadir, sehingga waktu diserahkan sepenuhnya kepada Titin sebagai pembicara tunggal.
Dalam hampir seluruh isi pembicaraannya, sayangnya Titin hanya berbicara mengenai program-program anak Trans 7 dan membandingkannya dengan program-program anak di stasiun TV lain.
“Masih ada yang tertarik untuk bekerja di stasiun televisi?” tanya Titin di akhir pembicaraannya. Menurutnya akan sangat baik jika banyak orang yang terjun langsung di industri pertelevisian, sebab hanya dengan cara itulah kita dapat membuat suatu perubahan. [R/Remotivi]

Kudus Akan Pecahkan Rekor MURI

Kudus - Dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Hari Tekhnologi dan Pencanangan Kudus Cyber City, Universitas Muria Kudus bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus akan memecahan rekor Museum Rekok Indonesia (MURI) melalui acara “Ngenet Sehat Bareng Kang Mus”.
Rekor berinternet secara serentak dalam satu waktu dan satu tempat ini akan dilaksanakan di Alun-alun Kota Kudus pada Minggu (8/5) mulai pukul 07.00 WIB. Pemecahan rekor akan melibatkan 2500 peserta. Acara akan dimeriahkan Music Live dan Freestyle. Khusus bagi peserta pengguna Motor Peserta Yamaha, mereka berkesempatan mendapat layanan service, ganti busi dan cuci motor gratis.
Selain itu, panitia penyelenggara juga menggelar IT Competition yang dikemas dalam rakaingan kegiatan di antaranya; Lomba Blog (SMP, SMA dan Guru) pada 4-5 Mei, Lomba Web Design (SMA) pada 4 Mei, Lomba SMS Gateway (Mahasiswa) pada 5 Mei, dan Workshop Blog dan Internet Sehat tanpa dipungut biaya pada 3 Mei.
Pada kegiatan lomba, pemenang akan mendapatkan penghargaan berupa uang, tropi dan handphone dari panitia. Pengumuman pemenang akan dilaksanakan pada 6 Mei. Hadiah akan diberikan pada saat pemecahan rekok MURI di Alun-alun Kota Kudus. Bagi masyarakat yang berminat dapat menghubungi panitia melalui Helmi (085 727 276 439), Rini (085 226 407 072) atau melalui website http://ngenetbareng.Kuduskab.go.id.
Selain Pemkab Kudus, acara terselenggara berkat kerja sama PT. Djarum, Yamaha dan PT Telkom Indonesia.[R/UMK]