Pengunjung

Tampilkan postingan dengan label Musik dan Hiburan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Musik dan Hiburan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 04 Mei 2011

Trans 7 Janji Hapus 'Crayon Sinchan'

Jakarta- KAMIS (28/4/2011) lalu, pendingin ruangan di auditorium Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB-UI) berfungsi seperti biasa. Namun dinginnya seakan tidak mengusir kegerahan sebagian orang yang duduk mendengar pemaparan Titin Rosmasari.
Titin adalah pemimpin redaksi Trans 7. Sore itu ia bicara sebagai salah satu pembicara pada sesi kedua seminar ‘Anak dan Televisi’ yang diadakan di kampus UI, Depok. Selesai bicara, belasan peserta kontan mengangkat tangan mengajukan berbagai pernyataan dan pertanyaan.
“Mengapa Crayon Sinchan masih disiarkan Trans 7?” keluh seorang penanya. “Apakah Opera Van Java pantas ditayangkan pada jam di mana anak ikut menonton?” susul lainnya, lalu seterusnya, hingga seorang ibu yang berkata bahwa anaknya tidak mau mencuci tangan sebelum makan karena dalam tayangan Bolang produksi Trans 7, Si Bolang tidak mencuci tangannya sebelum makan.
Dalam seminar yang diselenggarakan Departemen Susastra dan Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya (PPKB) FIB-UI itu, Titin hanya sedikit sekali menjelaskan ketentuan-ketentuan dasar serta kategori-kategori dalam program anak di televisi. Namun untuk program-program anak yang disiarkan Trans 7, porsinya justru lebih besar. Misalnya: variasi tayangannya lebih beragam dibanding stasiun tv lain, performanya paling tinggi di antara stasiun swasta lainnya, banyaknya aspek edukasi yang terkandung di dalam tayangan-tayangannya, hingga berkeluh bahwa tayangan Bocah Petualang-nya kalah dari sinetron remaja Indosiar Kepompong dalam KPI Awards 2008 (KPI Awards adalah ajang pemberian penghargaan olek Komisi Penyiaran Indonesia kepada stasiun televisi atas tayangan-tayangannya yang berkualitas).
Lewat data AGB Nielsen Media Research (lembaga survey untuk radio dan televisi), paparan Titin juga memuat ragam tayangan anak yang ada, untuk kemudian dibandingkan dengan tayangan yang disiarkan Trans 7, seakan ingin menunjukkan bahwa program Trans 7 paling berkualitas. Seperti, misalnya, ia menyayangkan bahwa tayangan Cinta Juga Kuya di SCTV dimasukkan dalam kategori program anak. Tak lupa, Titin turut memperlihatkan judul-judul episode tayangan Si Bolang dan Laptop Si Unyil - yang sepertinya menjadi tayangan kebanggan Trans 7.
Sore itu Titin menjadi pembicara tunggal karena pembicara kedua, Arist Merdeka Sirait dari Komnas Perlindungan Anak, batal hadir. Padahal kehadiran Arist dinilai penting untuk melihat bagaimana pandangan-pandangannya terhadap tayangan anak yang ada: apakah pihak stasiun tivi sudah berpihak kepada anak?
Pada sesi tanya jawab seorang peserta bertanya mengapa tayangan ‘Crayon Sinchan’ masih saja ditayangkan Trans 7, padahal ketika masih disiarkan RCTI, penolakan dari masyarakat sudah sangat tinggi. Titin pun menjelaskan berbagai macam hal terkait dengan hal itu. Namun, di ujung penjelasan, ia akhirnya mengatakan, “Segera akan kita ganti (tayangan crayon sinchan tersebut).” [R/Remotivi]

Rabu, 27 April 2011

Bikin Album dan Memasarkannya Sendiri

Band bergenre reggae di Wonosobo terus menjamur. Mereka tidak hanya memiliki satu ikatan sosial yang lekat dengan penampilan saat tampil dipangung-panggung hiburan. Namun juga telah berhasil menelorkan album karya sendiri. Musik itu dipasarkan dan dikonsumsi oleh penganut musik reggae di luar Wonosobo.

Mentari Pagi beri salam lagi
Suara burung kusambut hari berganti
Bob Marley masih bernyanyi
Don’t worry… uuu..yeeeeaaaccchhhh

Syair itu dilantunkan merdu saat Elly Gimbal bernyanyi diatas panggung pada suata even musik di alun-alun Wonosobo. Ketua Kelompok Penyanyi Jalanan (KPJ) Wonosobo organisasi jaringan pengamen yang lahir sejak era 1980-an ini muncul. Kendati awalnya membawakan lagu-lagu karya orang lain namun lambat laun mereka berkarya sendiri.
Elly mengaku reggae telah menjadi komoditas musik baru yang lahir di daerah. Meski belum banyak yang mendalami arti penting aliran musik tersebut namun dengan semangat telah menelorkan beberapa album. Lagu-lagu itu di sebarkan via internet.
"Sentuhan lokalitasnya sangat kentara. Kami membuatnya dalam syair berbahasa Jawa balutan komposisi musiknya reggae,” paparnya.
Walaupun tidak bermaksud hendak menyami nama kelompok anak-anak underground yang kini ada di Wonosobo, menurut Elly, aliran underground dan reggae menjadi dua genre musik berbeda namun memiliki benang merah setara.
"Kami mengemasnya dalam Primitive Democration. Berdiri dua yang lalu," ujarnya.
Diakuinya kelompok reggae di Wonosobo saat ini masih sangat solid. Bertindak sebagai mereka adalah Elly Gimbal, Wisnu (gitar1), Yoga (gitar2), Fany (Keyboard), Majid (Bass), Budi (Drum) dan perkusi dijalankan oleh Hengky, Kenceng, Tadho.
Setiap pementasan mereka disambut dengan teriakan Woiyoo sebagai simbol kebersamaan dan persaudaraan dari komunitas Reggae. Kemudian sang vocalis, yang disambut teriakan yang sama dari para penonton sambil mengangkat tangan sebagai tanda kekuatan dalam kebesamaan dan kekuatan perdamaian.
"Reggae ini donasinya pribadi. Kami kerja keras berkarya dan mendanai sendiri," paparnya.
Ada sebanyak 12 lagu yang di geber Reggae Primitive Democration. Komunitas melakukan acara rutin sebulan sekali untuk mengakomodir para pecinta musik reggae di Wonosobo.
"Kami pasti melakukan kegiatan yang bersifat sosial kemanusiaan dan penyadaran terhadap pentingnya menjaga lingkungan hidup," kata Elly.
Menurutnya reggae kini telah menjadi sebuah signal bagi para anak punk untuk lebih mengapresiasikan musiknya. Mereka rata-rata berangkat dari stigma bahwa music pop yang selama ini mapan dan memiliki pangsa pasar sendiri sangat membosankan.
“Kita semua (khususnya reggae lovers) tentu ingin menyaksikan musisi-musisi reggae tanah air dan di Wonosobo bisa eksis," imbuhnya.
Untuk memuluskan jalan kaderisasi hingga merasuk ke generasi-generasi muda Wonosobo, lanjut Elly, pihaknya mengadakan konser di kota-kota kecamatan seminggu sekali. Musisi senior Wonosobo ini juga tak canggung turut serta memberi semangat kepada anak-anak muda yang lagi gila-gilanya mendalami musik reggae.”Dalam even tersebut sekalian jualan kaset rekaman album Primitive Demokrasi,” tuturnya.
Ya, Primitive Demokrasi memang sudah menjadi ikon band reggae di Kabupaten Purwokerto, Banjarnegara, Temanggung dan Magelang. Tiap kali band itu tampil karya-karyanya seakan telah menjadi mars bagi pecinta musik reggae. “Alhamdulillah melalui indie album kami banyak yang berminat,” pungkas Elly tersebut. [R/Yudi]

Rabu, 13 April 2011

Cremona Band Raih Juara Pertama

Wonosobo - Cremona band meraih juara pertama Festival band dalam even Pesta Buku Murah di halaman Gedung Sasana Adipura Wonosobo. Band beraliran pop rock itu memperoleh nilai 1025 disusul Hinata Band dengan total nilai 1015 serta The Jack yang memperoleh nilai 985. Tiap pemenang mendapat hadiah uang pembinaan, piagam, dan tropi setelah mengalahkan 54 peserta yang tampil selama dua hari.
Diajang Festival Rebana dalam even sama tampil selaku juara satu Araudloh, juara dua Mukhtarul Mukhtai dan juara tiga Nurus Sa’adah. Vestifal yang dihelat kerjasama dengan pengurus Ansor Wonosobo itu menyuguhkan pementasan paduan antara musik tradisional dan modern.
Untuk perhelatan fashion show juara pertama diraih Febi Damayanti Prabandari, disusul Naiya Nailufar Yuma juara kedua dan Sukma Aldora Belinda juara ketiga. Ashiddiqin menjadi juara pertama dalam lomba Nasyid. Sedangkan Assyifa’ dan Imam Turmudzi meraih predikat juara kedua dan ketiganya.
Menurut Projec Officer pameran buku murah Elbana pesta buku murah yang juga digelar kerjasama dengan Magelang Ekspres dan Radar Jogja tersebut sangat sukses. Tiap stand omzetnya lebih dari Rp 19 juta. “Ini menjawab keraguan kami dalam menyelenggarakan even pameran buku pada tahun-tahun sebelumnya yang selalu sepi peminat. Indikasinya segmentasi pasar buku-buku pelajaran untuk momen saat ini sangat pas.
“Terima kasih kepada Wonosobo Ekspres yang selalu memback up pemberitaan selama kegiatan berlangsung,” tuturnya setelah wartawan koran ini dipercaya mengambil tiket undian peserta yang mendapatkan hadiah utama.
Bupati Wonosobo HA Kholiq Arif yang menutup acara tersebut, Sabtu (9/4/2011) malam,
mengapresiasi positif kegiatan pameran buku murah. Mantan wartawan Jawa Pos itu mengatakan dengan adanya pameran buku murah akan menjadikan masyarakat lebih sadar ilmu serta membudayakan membaca.
“Mungkin even serupa akan kembali dihelat bulan Juli mendatang saat memperingati hari jadi Kabupaten Wonosobo,” tuturnya.
Pemimpin Insan Wonosobo Haqqi Elanshary mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada semua pihak yang turut mensukseskan acara tersebut.”Saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua sponsor, tukang sound sistem para PKL di alun-alun Wonosobo,” sebutnya sesaat sebelum menutup acara tersebut. [R/Yudi]

Senin, 11 April 2011

Harmoni Tahlil Sang Raper Sejati

Wonosobo - Kehadiran Bondan Prakoso dan Fad 2 Black dalam mengakhiri tour lima kota di halaman terminal Mendolo Wonosobo, Jumat (8/4/2011) malam, disambut ribuan funs Bondan (Rezpector). Mantan pembetot bas Fungky Kopral ini aksinya cukup memukau penghayat musik pop rock dengan karakter lagu raper. Maklum penggemarnya di Wonosobo memang banyak.
Acara yang di selenggarakan oleh EO Madpro dari Jogjakarta itu diawali pentas Eifel Band dari Jogja sebagai pembuka. Membawakan lagu-lagu karya Slank, Ahmad Dhani, band itu disambut antusias pengunjung.Maklum penyelenggara menyediakan 9400 tiket masuk.
Pada pukul 20.00 WIB Bondan dan Fad 2 Black naik panggung diawali ilustrasi solo gitar instrumen karya Jhon Satriyani. Tak ayal lengkingan suara melodi gitar itu menghipnotis semua yang hadir.Apalagi hanya satu lampu ligh tink dari stage panggung yang nyala menyinari tubuh gitaris berbusana serba hitam itu.
Membawakan sekitar 10 lagu-lagu terbaik dari album Bersama Please Dong Ahh yang dirilis bersama Rio Saharja, hingga For All pada akhir 2010 lalu Bondan benar-benar menunjukkan talenta bermusiknya.Maklum penyanyi kelahiran 8 Mei 1984 ini tergolong masih muda.
“Salam OI, Slankker, kalian siap berjingkrak,” teriak musisi lulusan D3 Sastra Belanda UI Jakarta itu disela pentasnya.
Selama pertunjukan berlangsung, Bondan yang mengenakan celana warna abu-abu dan kaos hitam itu membawakan lagu-lagu yang sudah popular dikalangan kawula muda. Seperti Ya Sudahlah, Tetap Semangat, Kita Selamanya, Hidup Berawal dan Dari Mimpi. Ditengah pertunjukan beberapa kali petugas Damkar Wonosobo terpaksa menyemprotkan air ditengah ribuan penonton yang merapat.
Ketika Bondan akan membawakan Keroncong Perotol matanya terpejam, jemarinya yang membekap senar bass itu mendengung bak suara string keyabord. Namun selang dua menit tiga puluh detik paduan suara lagu yang sudah sangat popular itu menggema diantara dinginnya kota dingin yang sejuk dan asri ini.
“Tadi sebelum pentas baca tahlil dan yasin.Ini kan malam Juma’at, siapa yang suka nasi kotak, guwa sangat suka nasi kotak lho, tadi di rumah warga Wonosobo,” seloroh Bondan disambut gelak tawa ribuan pengunjung.
Tak hanya nasi kotak dan baca tahlil, harmoni musik peraih penghargaan AMI Sharp Awards ditahun 2001 untuk kategori group alternatif terbaik ini berjanji akan makan makanan khas Wonosobo.
“Terima kasih para rezpector Wonosobo kalian bernyanyi dan bergerak melebihi kami yang ada dipanggung,” pungkas Bondan sambil mengajak ribuan penonton mengepalkan tangan kanannya ke atas bersama-sama. [R/Yudi]

Rabu, 06 April 2011

Penghargaan Untuk Yang Berkualitas

Jakarta - KPI Awards digelar kembali pada Kamis, 24 Maret 2011 bertempat di Audito rium TVRI dan disiarkan secara langsung oleh TVRI.
Ini merupakan ajang penghargaan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) atas tayangan berkualitas yang bersiar di sepuluh stasiun televisi swasta nasional (RCTI, MNC TV, Global TV, Trans 7, Trans TV, Metro TV, SCTV, Indosiar, ANTV, TV ONE) dan lembaga penyiaran publik (TVRI).
Enam kategori pada KPI Awards kali ini terdiri dari kategori Anak, Sinetron Lepas, Dokumenter, Talk Show, Berita Investigasi, dan Budaya, yang merupakan kategori baru untuk tahun ini.
Tayangan yang dinilai terdiri dari program-program yang dikirimkan oleh stasiun televisi. Setiap stasiun berhak mengirimkan tiga tayangannya untuk setiap kategori. Untuk itu, KPI memilih tim juri independen dari kalangan praktisi dan akademisi berdasarkan kapabilitas, integritas, serta pemahaman mereka terhadap kategori tayangan.
Dadang Rahmat Hidayat selaku Ketua KPI 2010-2013 mengatakan bahwa KPI Awards adalah anugerah kepada insan pertelevisan yang berasal dari publik kepada program-program televisi terbaik. “Kami berharap KPI Awards ini bisa memberikan gambaran kepada stasiun televisi untuk membuat program-program yang edukatif, mencerahkan, informatif, serta hiburan yang sehat,” jelas Dadang. Lewat ajang ini, KPI ingin memberikan apresiasi, dan bukan melulu memberikan sanksi atau teguran saja.
Salah seorang anggota komisioner KPI, Ezki Suyanto, kepada Remotivi juga mengatakan, bahwa penilaian didasarkan pada kualitas, bukan hanya melihat rating atau popularitasnya.
Berbeda dengan KPI Awards sebelumnya yang memiliki kategori “Pembawa Acara Talkshow terbaik”, kali ini “Televisi Peduli Budaya” menjadi kategori baru. Sebagai kategori yang penting, TVRI yang menjadi stasiun TV pemenang langsung menerima penghargaan dari wakil presiden Boediono. [R/Remotivi/Gabriel Jefri]

Selasa, 29 Maret 2011

Tetap Terlaris secara Global

Diary of a Wimpy Kid 2: Rodrick Rules boleh menjadi jawara box office Minggu untuk wilayah edar di AS. Tapi secara global, pemuncak Minggu ini adalah film Battle: Los Angeles, yang bahkan telah memasuki Minggu kedua. Bahkan di negeri China, film ini masih menjadi pengumpul pemasukan terbesar.
Film yang berkisah tentang sekumpulan pasukan Marinir AS yang berperang melawan invansi alien itu, secata total, pemasukannya hanya untuk Minggu ini, telah mendapatkan 16.2 juta AS, setelah diputar di 55 wilayah, dan dari China saja mendapatkan 7.4 juta dolar AS.
Selain di negara China, di negara Venezuela, Selandia Baru, dan Vietnam Battle: Los Angeles juga menjadi jawara. Dengan demikian, secara komulatif per tanggal 9 Maret sejak dirilis di berbagai belahan dunia, Battle berhasil mengumpulkan 79.5 juta dolar AS, dan untuk di China saja berhasil mengumpulkan 24 juta dolar AS.
Sedangkan pada posisi kedua adalah film yang dibintangi -lebih tepatnya sulih suaranya diisi suara- Johnny Depp berjudul Rango, dengan mendapatkan pemasukan sebesar 15.5 juta dolar AS, setelah diputar di 55 wilayah.
Meski di Prancis, film ini menjadi pemuncak, dengan mendapatkan 3.3 juta dolar AS, dengan komulatif pemasukan sebesar 94 juta dolar AS. Diikuti kemudian film Just Go With It, yang dibintangi Adam Sandler dan Jennifer Aniston, yang mendapatkan pemasukan 9.1 juta dolar, setelah diputar di 37 wilayah. Namun, dengan keunikan film ini justru menjadi jawara di Russia, dengan mendapatkan 4.7 juta dolar AS, dan secara komulatif, secara internasional mendapatkan 62.8 juta dolar AS.
Setelah itu, baru ikuti film Sucker Punch, dan The Adjustment Bureau yang berada pada posisi lima.

Peredaran Film Pascatsunami
Bagaimana dengan kabar peredaran film di Jepang, pascatragedi tsunami yang menimpa beberapa wilayah pesisir Utara negeri itu? Beberapa film ternyata masih mengalami masalah penundaan untuk tayang, karena menyesuaikan dengan kondisi yang masih diperbaiki di beberapa tempat di negeri itu. Sejumlah film internasional seperti karya James Cameron berjudul Sanctum, film dari China berjudul Aftershock, film besutan Clint Eastwood berjudul Hereafter, kemudian film yang dibintangi aktor senior Anthony Hopkins berjudul The Rite, serta Battle: Los Angeles masih menunggu waktu tayang yang belum ditentukan.
Sebagaimana laporan resmi dari pemerintah Jepang, sekitar 40 sampai 50 gedung bioskop di Utara Jepang, dan beberapa tempat di kota metropolitan Tokyo masih ditutup. Karena masih mengalami perbaikan berkenaan gempa yang mengguncang di sana beberapa waktu lalu. Padahal Jepang adalah market terbesar di luar AS, dan Kanada. Tiga besar film impor yang menjadi pemuncak di Jepang adalah film Tangled (2.8 juta dolar AS), The Chronicles of Narnia: The Voyage of the Dawn Treader (1.4 juta dolar AS), dan The Tourist (1.3 juta dolar AS). [R/CN]

Senin, 21 Maret 2011

Museum Rusia Pamerkan 230 Karya Seni Indonesia

London - Sekitar 230 jenis barang seni dan budaya khas Indonesia dipamerkan di Kovrov Historical and Memorial Museum kota Kovrov, yang berjarak 260 km arah timur laut Moskow, Rusia.
Pameran yang digelar lebih dari sebulan itu ingin menyampaikan kehangatan Tanah Air Indonesia kepada masyarakat kota tersebut yang saat ini sedang diselimuti musim dingin hingga suhu minus 15-18 derajat Celsius, kata Sekretaris III Fungsi Pensosbud Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Moskow, Enjay Diana, kepada ANTARA News London, Minggu.
"Antusiasme masyarakat dari kota yang berdiri sejak tahun 1778 ini untuk mengetahui seni dan budaya Indonesia terlihat dengan banyaknya yang hadir pada pembukaan antara lain Wali Kota Kovrov, Ketua Komite Kebudayaan, Kebijakan Kepemudaan, Keluarga dan Anak, budayawan, wartawan dan akademisi setempat," katanya.
Selain itu, dari KBRI Moskow diwakili Kuasa Usaha Ad Interim, Dian Wirengjurit.
Wali Kota Kovrov, Victor Kaurov, menyambut baik penyelenggaraan pameran ini sebagai bagian dari upaya untuk saling mengenal dan mendekatkan hubungan antara masyarakat Indonesia dan Rusia.
"Kami merasa kagum terhadap keanekaragaman budaya Indonesia. Melalui pameran ini diharapkan Indonesia semakin dikenal sehingga terjalin hubungan kedua bangsa yang lebih erat lagi," katanya.
Dalam pameran yang berlangsung hingga 29 Maret mendatang pengunjung dapat melihat dan menikmati berbagai barang seni dan budaya Indonesia antara lain daerah Sumatera, Jawa, Bali, Kalimantan, Nusa Tenggara dan Papua.
Kerajinan yang ditampilkan mulai dari ukiran kayu, topeng, patung garuda, patung komodo, keris, pakaian daerah, batik, alat-alat musik tradisional, keramik, peta hingga foto-foto tentang Indonesia.
"Saya sangat tertarik untuk mengetahui budaya Indonesia," kata Marina, salah seorang warga Kovrov.
Ia berharap dalam pameran berikutnya tidak hanya ditampilkan barang seni dan budaya, tetapi juga tarian-tarian dan unsur budaya lainnya.
Sebelumnya, pameran serupa telah digelar di dua kota lainnya, yaitu Vladimir pada bulan Oktober-November dan Murom Desember hingga Januari lalu.
Dian Wirengjurit mengatakan, Rusia merupakan salah satu bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai seni dan budaya.
"Hal ini terlihat dari antusiasme masyarakat Rusia untuk mengetahui seni dan budaya bangsa asing begitu besar," ujarnya.
Menurut Dian Wirengjurit, banyaknya museum dan pameran seni budaya di Rusia menunjukkan tingginya masyarakat terhadap nilai-nilai seni dan budaya, termasuk seni dan budaya Indonesia.
Ia mengharapkan, pameran dapat lebih memperkenalkan seni dan budaya Indonesia kepada masyarakat Rusia.
"Menurut rencana, setelah Kovrov, pameran yang merupakan kerja sama antara KBRI Moskow, Russian Intereco company, dan museum-museum di Rusia akan berlangsung hingga akhir tahun 2011 di berbagai kota lainnya, seperti Gus-Khrustalny, Sergiev Posad dan Elektrostal," katanya. [R/Ant]

Opera Kontemporer Garin Nugroho Hipnotis Paris

Paris - Penampilan opera kontemporer yang diinspirasikan dari Sandratari Ramayana berhasil menghipnotis sekitar 600 penonton yang memenuhi gedung Theatre Claude Levi-Strauss, Museum Musee du quai Branly, Paris, Jumat malam.
Opera kontemporer adaptasi dari film Opera Jawa, yang diproduksi Tropentheater itu disutradarai Garin Nugroho dengan iringan gamelan pimpinan Rahayu Supangga berlangsung selama dua jam tanpa jedah.
"Its Wonderfull," ujar musisi Perancis Pascale Thuillier yang mengakui bahwa sandratari Opera Jawa jauh lebih hidup ketimbang film nya, "Saya sudah tiga kali menyaksikan film tapi sandratari ini jauh lebih baik," ujarnya.
Menurut Pascale Thuillier, tokoh utama dalam sandratari opera kontemporer Opera Jawa, karakter Sita yang diperankan Dwi Nurul sangat kuat dan berani.
Sandratari Opera Jawa yang diperankan penari kawakan Eko Supriyanto yang menjadi Rahwana dan Dwi Nurul Hidayah sebagai Sita dan Heru Purwanto sebagai Rama selama dua jam berhasil mengipnotis masyarakat Perancis.
Sementara itu Co director untuk Festival Paris Summer Arts Festival (Quartier d'Ete), Carole Fierz, mengatakan bahwa penampilan Opera Jawa merupakan suatu pekerjaan yang sangat indah.
"Its wonderfull worked," ujar Carole menambahkan bahwa dalam opera kontemporer itu banyak ide yang brilian seperti adanya selingan dengan penampilan Rahwana dengan gaya Michel Jackson dengan topi dan celana ketat hitam.
Menurut Carole, ia sangat menikmati penampilan Opera Jawa yang diakuinya sangat fantastic, dan memperkenalkan cuplikan Ramayana gaya baru.
 Saya pernah menyaksikan pertunjukkan Ramayana di Bali 20 tahun lalu dengan gaya klasik dan hanya saja penampilan kali ini penuh dengan kejutan dan juga lucu dan juga suara penyanyi dan sinden.
Carole yang akrab berbincang bincang dengan para pemain itu berharap suatu saat juga bisa menampilkan seniman Indonesia dalam festival musim panas Festival Paris Summer Arts Festival (Quartier d'Ete), yang akan berlangsung di panggung terbuka selama musim panas.
"Sayangnya tahun ini saya tidak bisa mengajak seniman Indonesia dan saya harap tahun depan, karena wantunya juga sudah mepet," ujar Carole lagi.

Delapan Kali Pertunjukkan
Sandratari Opera Jawa yang tampil dalam delapan kali pertunjukkan di gedung theatre yang tidak jauh dari Eiffel,Paris , selama tiga malam berturut turut selalu penuh oleh penonton yang sebagian besar masyarakat Perancis.
Menurut Sekretaris Tiga KBRI Paris Gita Loka Murti kepada koresponden Antara London, biasanya dalam pertunjukan kesenian selalu ada masa jedah, namun dalam opera Jawa sepertinya masyarakat Paris terhipnotis oleh penampilan para penari.
Sementara itu Opera Jawa Garin Nugroho mengatakan bahwa penampilan sandratari opera Jawa merupakan yang ketiga kalinya sebelumnya di Amsterdam dan di kota Zurich.
Menurut Garin, penampilan kebudayaan seperti Opera Jawa sebagai suatu kesenian tidak memiliki batas dan merupakan suatu ekspresi yang dapat diterima oleh Negara manapun.
Kesenian Indonesia yang sangat dihargai oleh bangsa asing khususnya di Paris dapat menjadi juru bicara suatu negara, ujar Garin Nugroho yang film Opera Jawa berhasil meraih berbagai penghargaan.
Mengenai kisah dalam Ramayana, Garin Nugroho, membuat kedua tokoh pria yaitu Rahwana dan Rama meninggal dunia itu diakuinya interpretasi bisa berbeda beda, semua bisa posesif dan ekstrim.
"Saat ini dunia kan seperti itu dalam memperebutkan sesuatu kan seperti itu," ujar Garin yang ditemui koresponden Antara usai penampilan di hari ketiga. Mempertahankan dan memperebutkan merupakan ciri dunia saat ini.
Sementara itu Eko Supriyanto mengakui bahwa ia merasa bangga bisa Ikut dalam penampilan opera kontemporer karya Garin Nugroho dan juga sebagai seniman tampil di tempat bergengsi di gedung theatre di Paris merupakan suatu kebanggaan tersendiri.
Eko yang pernah tampil dalam tour "Drowned World Tour" nya penyanyi pop Madona itu mengatakan sambutan penonton yang sangat besar membuat ia sebagai bangsa Indonesia merasa bangga apalagi bekerja dengan seniman Rahayu Supanggah yang terkenal di Paris.
"Para penari sudah bekerja keras dan sangat luar biasa serta dedikasi yang tinggi," ujar Eko yang terus terang sangat menghargai dan apresiasi dengan sambutan penonton yang sangat besar.
Menurut Eko, sayangnya karya seperti ini belum mendapat penghargaan dari bangsa sendiri. Diakuinya seorang seniman juga harus bisa berbuat dan konsisten dengan pekerjaannya.
Dalam rangkaian acara yang diadakan Museum Musee du Quai Branly , selain penampilan opera kontemporer "Opera Jawa" juga digelar berbagai kegiatan seperti gamelan kontemporer, wayang kulit dan tembang Sunda dan puisi Jawa yang berlangsung hingga 27 Maret mendatang. [R/Ant]

Kamis, 10 Maret 2011

Terpacu Gali Kekayaan Budaya Indonesia

Artis Atiqah Hasiholan merasa terpacu untuk menggali lebih dalam kekayaan budaya Indonesia. Niat Atiqah itu timbul saat dirinya terlibat dalam rangkaian panjang acara Djarum Indonesian Exploride.
Indonesian Exploride merupakan kegiatan mendukung program pemerintah untuk meningkatkan kecintaan masyarakat Indonesia terhadap budaya dan sejarah Indonesia. Atiqah mendapat kesempatan untuk memperkenalkan salah satu kekayaan kebudayan Ibukota Kepulauan Riau, Pekanbaru itu melalui masakan khasnya, kepada peserta Indonesian Exploride, Ungki dan Ditto.
"Ini (Indonesian Explore)sangat bermanfaat, membuat saya lebih terpacu menggali budaya indonesia" ujarnya sebagaimana dilansir detikhot di Pekanbaru, Kamis (10/8/2011) malam.
Kedatangan Atiqah ke Pekanbaru, merupakan kali pertama dirinya, dan tanpa ragu ia pun langsung menyicipi beberapa makanan khas Pekanbaru seperti, ikan selai
semalam dan gulai rampai.
Walaupun ini merupakan kali pertama kunjungan artis kelahiran 3 Januari 1983 itu di Pekanbaru, ia langsung jatuh cinta karena banyaknya keindahan2 budaya di kota yang dijuluki Kota Bertuaah itu.
"Jujur ini pertama aku kepekan baru, dan ternyata banyak banget tempat-tempat keren di sini," seru Atiqah. [R/dtc]

Justin Bieber Konser di Jakarta

Kontroversi tentang kedatangan Justin Bieber ke Jakarta, akhirnya terjawab sudah. Raam Punjabi, promotor utama di bawah bendera Multi Vision Plus (MVP) bersama empat promotor lainnya, yaitu Marygops, ASD (Asia Sport Development), Berlian Entertainment dan Mahkota, menyatakan kesepakatan dengan manajemen Bieber sudah selesai.
Dengan demikian, katanya di Jakarta, menjelang keberangkatannya ke Tokyo, Jepang, jadwal resmi konsernya di Sentul International Convention Center (SICC) pada 23 April 2011 secara resmi, telah dinaikkan di situs resmi Bieber.
"Per Senin malam kemarin jadwal di Jakarta telah resmi naik," kata Raam.
Kebingungan publik yang sempat merebak karena belum ada jadwal resmi konser Bieber di Jakarta, pun terjawab. Sebagaimana diketahui, imbuh Aris Muda humas MPV, di situs bieberfever.com, justinbiebermusic.com, dan myspace.com/justinbieber beberapa waktu lalu memang belum ada jadwal resmi konser Bieber di Jakarta. "Tapi setelah kesepakatan antara manajemen mereka dengan kami terpenuhi, jadwal di Indonesia langsung mereka angkat," katanya.
Maka, usai tampil di PWTC/Merdeka, Kuala Lumpur, Malaysia pada tanggal 21 April, pada tanggal 23-nya, Bieber akan tampil di Sentul, Bogor. Setelah itu, pada tangal 26 giliran tampail di  Entertainment Center, Brisbane, Australia. Bahkan kini, dari 7000 tiket yang tersisa, ujar Raam, beberapa ribu diantaranya akan didistribusikan untuk penonton dari Malaysia, Singapura, Hong Kong hingga Korea. "Meski di Malaysia telah digelar konser Bieber, bukan berarti penonton Malaysia tidak ingin menonton untuk kali kedua konser Bieber di Jakarta," kata Raam.
Berdasarkan pertimbangan itulah, 6000 tiket yang tersisa akan dijual lagi untuk penonton Indonesia. 10.000 tempat duduk telah disediakan pada konser Bieber di Jakarta. 3000 tiket sebelumnya telah dijual pada penjualan pertama di Balai Kartini, beberapa waktu lalu, dan tinggal ditukarkan kepada manajemen Berlian Entertainment. Yang membuat sedikit alot proses negosiasi dengan manajemen Bieber sebagaimana dikatakan Raam karena, manajemen mereka banyak menuntut. Seperti pasal "Safety First", yang mengharuskan semua penontonnya, berjumlah 10.000 harus mendapatkan tempat duduk semua.
Dengan demikian, kata Raam, semua penonton tidak diperkenankan berdiri agar keselamatan antar penonton dapat lebih terjamin selama konser berlangsung. Dengan keamanan menjadi perhatian utama manajemen penyanyi asal Canada itu, diharapkan penonton dapat benar-benar menikmati konser yang menjual tiket seharga Rp 1 juta (festival), Rp 750 ribu (tribun 1), dan Rp 500 ribu (tribun 2) itu. [R/CN]