Medan-Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono mengatakan ketersediaan stok pangan yang ada saat ini mencukupi untuk memenuhi kebutuhan selama Ramadhan dan Lebaran 2011.
"Saya kira soal kenaikan harga itu rutin terjadi setiap menjelang bulan Ramadhan dan Lebaran karena kebutuhan yang meningkat.Tetapi masyarakat tidak perlu gusar karena itu bisanya tidak akan terjadi lama dan stok kita juga cukup untuk beberapa bulan ke depan," katanya di Medan, Senin.
Mengenai ketersediaan stok pangan selama Ramadhan ini, ia mengatakan, masyarakat tidak perlu khawatir karena stok yang ada saat ini sudah sangat mencukupi untuk memenuhi kebutuhan secara nasional.
Terjaminnya stok pangan tersebut, lanjutnya, mengingat saat ini cadangan beras yang ada di bulog jumlahnya mencapai 1,4 juta ton, ditambah lagi akan masuknya beras impor dalam waktu dekat untuk menutupi jika terjadi kekurangan.
"Beras di gudang bulog saat ini sudah cukup yakni mencapai 1,4 juta ton, ditambah lagi dari impor yang akan segera masuk. Saya kira ini cukup untuk memenuhi standar nasional yakni 1,5 juta ton untuk stok kebutuhan nasional," katanya.
Ia mengatakan, bukan hanya pada beras, tetapi kebutuhan sembilan bahan pokok lainnya seperti minyak goreng dan gula pasir, pemerintah juga telah melakukan antisipasi agar tidak terjadi kelangkaan di pasaran khususnya selama Ramadhan.
Pada kesempatan itu ia juga berharap kepada pihak-pihak tertentu untuk tidak memanfaatkan momentum Ramadhan dan Lebaran tersebut untuk mencari keuntungan yang sebesarnya dengan menaikkan harga berbagai kebutuhan pokok.
"Kita harapkan tidak ada upaya-upaya spekulasi dari berbagai pihak yang ingin memanfaatkan momentum Ramadhan dan Lebaran untuk untuk menaikkan harga. Mudahan-mudahan kenaikan harga saat ini tidak terlalu lama dan bisa turun lagi secepatnya karena persediaan cukup hingga berapa pun permintaan bisa diantisipasi," katanya.
Untuk mengantisipasi kelangkaan bahan pokok di pasaran, lanjutnya, pihaknya juga telah memikirkan soal pendistribusian bahan pokok tersebut.Meski pun persediaan cukup, tetapi jika pendistribusian terhambat juga akan memacu kelangkaan di pasaran.
"Yang perlu dipikirkan bukan hanya stok saja, tetapi bagaimana dengan distribusinya. Karena itu Kementerian Perhubungan juga telah berupaya mengamankan jalur-jalur distribusi tersebut baik jalur darat maupun laut," katanya. [R/Ant]
Pengunjung
Tampilkan postingan dengan label Kronik Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kronik Indonesia. Tampilkan semua postingan
Senin, 08 Agustus 2011
Nazaruddin Tertangkap Dengan Identitas Palsu
Jakarta -Menko Polhukam Djoko Suyanto menyatakan seseorang yang identik dengan mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin tertangkap dengan identitas palsu dan memegang paspor atas nama M Sjahruddin di Cartagena, Kolombia.
Djoko mengumumkan hal tersebut di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Senin, usai menerima informasi dari Kementerian Luar Negeri mengenai penangkapan tersebut pada Minggu malam.
"Minggu malam melalui Kementerian Luar Negeri telah diterima berita dari Duta Besar RI di Kolombia Michael Manufandu bahwa telah ditangkap seseorang dicurigai sebagai M Nazaruddin oleh interpol di Kolombia," tuturnya.
Duta Besar RI di Kolombia, lanjut Djoko, telah berangkat dari ibukota Kolombia, Bogotta, ke Cartagena untuk menemui seseorang dicurigai Nazaruddin tersebut dan menyatakan ciri-ciri fisik orang itu memang serupa dengan buronan internasional tersebut.
Hasil penyelidikan interpol di Cartagena pun, menurut Djoko, menyatakan orang yang tertangkap ketika akan keluar dari Kolombia itu juga identik dengan Nazaruddin yang telah ditetapkan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus penyuapan wisma atlet Sea Games di Sumatera Selatan.
"Dubes RI sudah berangkat dari Bogotta ke Cartagena dan sudah bertemu langsung. Secara fisik identik dengan apa yang selama ini disebut Nazaruddin dan yang bersangkutan minta didampingi terus oleh Dubes," jelas Djoko.
Menurut Djoko, Nazaruddin saat ini sudah diberangkatkan ke Bogotta dan tim terpadu terdiri atas keimigrasian, polisi, dan kementerian luar negeri segera berangkat ke Kolombia secepat mungkin.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, lanjut dia, sudah dilaporkan tentang penangkapan Nazaruddin tersebut dan berpesan agar Nazaruddin dijaga keselamatannya seketat-ketatnya.
"Kami sudah lapor tadi pagi kepada Presiden dan beliau sampaikan agar keselamatan yang bersangkutan dijaga seketat-ketatnya. Kedua, yang bersangkutan bisa dibawa ke tanah air untuk dilakukan proses hukum ke Indonesia," tuturnya.
Meski demikian, kata Djoko, penangkapan Nazaruddin masih harus diteruskan dengan identifikasi lanjutan karena informasi yang disampaikan oleh interpol baru sebatas tahap identifikasi awal. [R/Ant]
Djoko mengumumkan hal tersebut di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Senin, usai menerima informasi dari Kementerian Luar Negeri mengenai penangkapan tersebut pada Minggu malam.
"Minggu malam melalui Kementerian Luar Negeri telah diterima berita dari Duta Besar RI di Kolombia Michael Manufandu bahwa telah ditangkap seseorang dicurigai sebagai M Nazaruddin oleh interpol di Kolombia," tuturnya.
Duta Besar RI di Kolombia, lanjut Djoko, telah berangkat dari ibukota Kolombia, Bogotta, ke Cartagena untuk menemui seseorang dicurigai Nazaruddin tersebut dan menyatakan ciri-ciri fisik orang itu memang serupa dengan buronan internasional tersebut.
Hasil penyelidikan interpol di Cartagena pun, menurut Djoko, menyatakan orang yang tertangkap ketika akan keluar dari Kolombia itu juga identik dengan Nazaruddin yang telah ditetapkan tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam kasus penyuapan wisma atlet Sea Games di Sumatera Selatan.
"Dubes RI sudah berangkat dari Bogotta ke Cartagena dan sudah bertemu langsung. Secara fisik identik dengan apa yang selama ini disebut Nazaruddin dan yang bersangkutan minta didampingi terus oleh Dubes," jelas Djoko.
Menurut Djoko, Nazaruddin saat ini sudah diberangkatkan ke Bogotta dan tim terpadu terdiri atas keimigrasian, polisi, dan kementerian luar negeri segera berangkat ke Kolombia secepat mungkin.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, lanjut dia, sudah dilaporkan tentang penangkapan Nazaruddin tersebut dan berpesan agar Nazaruddin dijaga keselamatannya seketat-ketatnya.
"Kami sudah lapor tadi pagi kepada Presiden dan beliau sampaikan agar keselamatan yang bersangkutan dijaga seketat-ketatnya. Kedua, yang bersangkutan bisa dibawa ke tanah air untuk dilakukan proses hukum ke Indonesia," tuturnya.
Meski demikian, kata Djoko, penangkapan Nazaruddin masih harus diteruskan dengan identifikasi lanjutan karena informasi yang disampaikan oleh interpol baru sebatas tahap identifikasi awal. [R/Ant]
Benda Cagar Budaya Perlu Diinventarisasi
Blora- Maraknya penjualan rumah-rumah tua di Kabupaten Blora memunculkan keprihatinan berbagai pihak, salah satunya dari pegiat Lembaga Kajian Budaya dan Lingkungan Pasang Surut, Eko Arifianto.
Dalam pandangannya, aktivitas penjualan rumah-rumah tua itu sangat mengkhawatirkan, apalagi jika rumah yang dijual itu masuk dalam Benda Cagar Budaya (BCB). ''Masyarakat Blora bisa kehilangan nilai sejarahnya jika rumah-rumah tua yang masuk kategori BCB dijual,'' katanya.
Dia mengemukakan, nilai sejarah dalam rumah-rumah tua yang masuk dalam BCB itu sangat berharga. ''Rumah-rumah tua itu bisa jadi aset wisata yang sangat berharga yang bernilai lebih jika dibandingkan dengan dijual seperti selama ini terjadi. Rumah-rumah tua itu bisa menjadi magnet bagi turis-turis asing maupun peneliti, baik dari dalam maupun luar negeri.''
Karena itu ia berharap agar pemerintah bisa tanggap terhadap praktek penjualan rumah tua yang sering terjadi di Blora. ''Pemerintah perlu segera melakukan inventarisasi rumah-rumah tua, khususnya yang bersejarah dan masuk BCB. Harus ada upaya perlindungan dan penyelamatan untuk itu,'' tegasnya.
Selain itu Kokok (sapaan akrab Eko Arifianto- juga mengutarakan pentingnya aturan yang tegas terkait rumah-rumah tua dan BCB yang ada. ''Apabila hal ini tidak segera dilakukan, maka masyarakat Blora lambat laun akan kehilangan akar sejarah dan generasi muda tidak akan tahu lagi sejarah leluhurnya. Maka pada tahap awal, pemerintah harus segera melakukan inventarisasi rumah-rumah tua yang bersejarah dan masuk BCB,'' pintanya. [R]
Dalam pandangannya, aktivitas penjualan rumah-rumah tua itu sangat mengkhawatirkan, apalagi jika rumah yang dijual itu masuk dalam Benda Cagar Budaya (BCB). ''Masyarakat Blora bisa kehilangan nilai sejarahnya jika rumah-rumah tua yang masuk kategori BCB dijual,'' katanya.
Dia mengemukakan, nilai sejarah dalam rumah-rumah tua yang masuk dalam BCB itu sangat berharga. ''Rumah-rumah tua itu bisa jadi aset wisata yang sangat berharga yang bernilai lebih jika dibandingkan dengan dijual seperti selama ini terjadi. Rumah-rumah tua itu bisa menjadi magnet bagi turis-turis asing maupun peneliti, baik dari dalam maupun luar negeri.''
Karena itu ia berharap agar pemerintah bisa tanggap terhadap praktek penjualan rumah tua yang sering terjadi di Blora. ''Pemerintah perlu segera melakukan inventarisasi rumah-rumah tua, khususnya yang bersejarah dan masuk BCB. Harus ada upaya perlindungan dan penyelamatan untuk itu,'' tegasnya.
Selain itu Kokok (sapaan akrab Eko Arifianto- juga mengutarakan pentingnya aturan yang tegas terkait rumah-rumah tua dan BCB yang ada. ''Apabila hal ini tidak segera dilakukan, maka masyarakat Blora lambat laun akan kehilangan akar sejarah dan generasi muda tidak akan tahu lagi sejarah leluhurnya. Maka pada tahap awal, pemerintah harus segera melakukan inventarisasi rumah-rumah tua yang bersejarah dan masuk BCB,'' pintanya. [R]
Kamis, 16 Juni 2011
Diputus Pacar, Siswa SMA Paninggaran Minum Racun Serangga
Karanganyar - Akibat cintanya diputus oleh pujaan hatinya, Wahyu Prasetyo (16) siswa kelas XI SMAN Paninggaran, Kamis siang (16/6), nekat meminum racun serangga untuk mencoba mengakhiri hidupnya sendiri.
Beruntung, peristiwa itu cepat diketahui oleh ibunya, sehingga nyawa siswa kelas XI itu tertolong. Oleh keluarga, korban langsung di bawa ke Puskemas terdekat, namun selang beberapa saat kemudian dirujuk ke RSUD Kajen, di Karanganyar. Korban pun langsung dirawat di ruang IGD guna mendapatkan perawatan medis.
Keterangan yang dihimpun, Wahyu ditemukan sudah tergeletak di dalam kamar rumahnya, oleh ibunya setelah beberapa menit pulang dari sekolah. Ibunya kaget karena dikamarnya berbau cairan racun serangga. Saat ditemukan mulut korban sudah memunculkan busa.
Kasat Reskrim Bambang Purnomo ketika dikonfirmasi menyatakan, membenarkan adanya percobaan bunuh diri dengan cara meminum racun serangga yang dilakukan oleh salah satu siswa SMAN Paninggaran. Hal itu, jelas dia disebabkan karena diputus cinta oleh kekasihnya, sehingga korban nekat melakukan perbuatan tersebut.
"Korban saat ini sedang dirawat di RSUD Kajen," terang dia.
Kerabat korban Suhendro mengutarakan, perbuatan nekat saudaranya itu diduga lantaran khawatir dan taku tidak naik kelas. Sebab, lanjut dia nilai dari mata pelajarannya tidak baik."Mungkin karena takut tidak naik kelas, saudara saya itu nekat minum racun, namun hal itu belum diketahui secara pasti dan masih dugaan saja," terang dia.
Hal senada disampaikan Ayah korban, Setiyo yang menemani anaknya dirawat di RSUD Kajen. Tapi, ketika ditanya mengenai penyebab perbuatan nekat dari anaknya itu, ia tidak berkomentar banyak. "Semula tidak ada masalah," kata dia singkat sambil menampakkan raut muka sedih. [R/CN]
Beruntung, peristiwa itu cepat diketahui oleh ibunya, sehingga nyawa siswa kelas XI itu tertolong. Oleh keluarga, korban langsung di bawa ke Puskemas terdekat, namun selang beberapa saat kemudian dirujuk ke RSUD Kajen, di Karanganyar. Korban pun langsung dirawat di ruang IGD guna mendapatkan perawatan medis.
Keterangan yang dihimpun, Wahyu ditemukan sudah tergeletak di dalam kamar rumahnya, oleh ibunya setelah beberapa menit pulang dari sekolah. Ibunya kaget karena dikamarnya berbau cairan racun serangga. Saat ditemukan mulut korban sudah memunculkan busa.
Kasat Reskrim Bambang Purnomo ketika dikonfirmasi menyatakan, membenarkan adanya percobaan bunuh diri dengan cara meminum racun serangga yang dilakukan oleh salah satu siswa SMAN Paninggaran. Hal itu, jelas dia disebabkan karena diputus cinta oleh kekasihnya, sehingga korban nekat melakukan perbuatan tersebut.
"Korban saat ini sedang dirawat di RSUD Kajen," terang dia.
Kerabat korban Suhendro mengutarakan, perbuatan nekat saudaranya itu diduga lantaran khawatir dan taku tidak naik kelas. Sebab, lanjut dia nilai dari mata pelajarannya tidak baik."Mungkin karena takut tidak naik kelas, saudara saya itu nekat minum racun, namun hal itu belum diketahui secara pasti dan masih dugaan saja," terang dia.
Hal senada disampaikan Ayah korban, Setiyo yang menemani anaknya dirawat di RSUD Kajen. Tapi, ketika ditanya mengenai penyebab perbuatan nekat dari anaknya itu, ia tidak berkomentar banyak. "Semula tidak ada masalah," kata dia singkat sambil menampakkan raut muka sedih. [R/CN]
Antasari Korban Praktik Peradilan Sesat
Jakarta - Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Jimly Asshidiqie menilai bahwa mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi, Antasari Azhar merupakan korban dari praktik peradilan sesat di Indonesia.
"Antasari merupakan salah satu korban praktik peradilan sesat di tanah air. Bahkan bukan hanya dia, tapi banyak kasus seperti kasus Mbok Minah," kata Jimly udai rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR di Gedung DPR, Jakarta, Kamis.
Menurut dia, kasus Antasari Azhar ini membuktikan bahwa sistem peradilan di Indonesia cenderung menegakkan peraturan, bukan menegakkan keadilan.
"Jadi, semua aparat penegak hukum cenderung menegakkan peraturan, bukan keadilan," tambah Jimly.
Mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden ini menegaskan, telah terjadi kerusakan di semua lini peradilan. Untuk memperbaiki hal tersebut, lanjut Jimly, diperlukan penataan sistem peradilan yang radikal agar sistem hukum dan penegakan hukum bisa berjalan.
Pernyataan Jimly tersebut diperkuat dengan adanya pertemuan antara komisioner Komisi Yudisial Taufiqurrahman Syahuri dengan Antasari Azhar di Lapas Tangerang hari ini untuk mengkonfirmasi dugaan pelanggaran-pelanggaran kode etik hakim yang menangani kasus Antasari Azhar. [R/Ant]
"Antasari merupakan salah satu korban praktik peradilan sesat di tanah air. Bahkan bukan hanya dia, tapi banyak kasus seperti kasus Mbok Minah," kata Jimly udai rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPR di Gedung DPR, Jakarta, Kamis.
Menurut dia, kasus Antasari Azhar ini membuktikan bahwa sistem peradilan di Indonesia cenderung menegakkan peraturan, bukan menegakkan keadilan.
"Jadi, semua aparat penegak hukum cenderung menegakkan peraturan, bukan keadilan," tambah Jimly.
Mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden ini menegaskan, telah terjadi kerusakan di semua lini peradilan. Untuk memperbaiki hal tersebut, lanjut Jimly, diperlukan penataan sistem peradilan yang radikal agar sistem hukum dan penegakan hukum bisa berjalan.
Pernyataan Jimly tersebut diperkuat dengan adanya pertemuan antara komisioner Komisi Yudisial Taufiqurrahman Syahuri dengan Antasari Azhar di Lapas Tangerang hari ini untuk mengkonfirmasi dugaan pelanggaran-pelanggaran kode etik hakim yang menangani kasus Antasari Azhar. [R/Ant]
Tidak Puas Vonis 15 Tahun Ba'asyir, Jaksa Nyatakan Banding
Jakarta - Pimpinan Jamaah Anshorut Tauhid (JAT) Abubakar Ba'asyir divonis 15 tahun penjara oleh hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Senada dengan pihak Ba'asyir, Jaksa Penuntut Umum (JPU) juga menyatakan banding terhadap putusan ini.
"Hakim kan memutus pasal subsider (yang terbukti), kita lebih subsider, jadi kita pikir-pikir tujuh hari untuk mengajukan banding," ujar salah satu Jaksa Penuntut Umum (JPU) perkara Ba'asyir, Bambang S saat ditemui wartawan di Kejagung, Jl Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan, Kamis (16/6/2011).
Terhadap putusan hakim tersebut, Bambang mengakui pihaknya sedikit merasa tidak puas. Pasalnya, dakwaan yang dinyatakan terbukti oleh Majelis Hakim berbeda dengan dakwaan yang terbukti menurut JPU.
Seperti diketahui dalam tuntutannya, JPU menyatakan Ba'asyir terbukti bersalah melakukan dakwaan lebih subsider, yakni pasal 14 jo pasal 11 UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Terorisme. Namun dalam putusannya, Majelis Hakim yang diketuai Herry Swantoro menyatakan Ba'asyir terbukti secara bersalah dan meyakinkan melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dakwaan subsider, yakni pasal 14 jo pasal 7 UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Terorisme.
"Ada yang puas, ada bagian yang tidak puas, makanya kita mengajukan banding. Tidak puasnya masalah pasal berbeda dan hukumannya juga," tuturnya.
Lebih lanjut, Bambang menyatakan bahwa jaksa tidak mempermasalahkan lamanya hukuman yang dijatuhkan Majelis Hakim PN Jaksel. Yang jelas, dalam waktu 7 hari ke depan jaksa akan mempersiapkan permohonan bandingnya.
"Ini bukan masalah dua pertiga, di pasal itu tidak ada yang paling lama, ancamannya hanya seumur hidup dan hukuman mati itu di pasal 14 jo pasal 11. Tenggang waktu tujuh hari kita gunakan format banding," tandasnya.
Hari ini, Ba'asyir divonis 15 tahun penjara oleh hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Sebelumnya, Ba'asyir dituntut hukuman seumur hidup oleh jaksa penuntut umum (JPU).
"Menyatakan terdakwa telah terbukti bersalah melakukan tindak pindana terorisme dalam dakwaan subsider. Menjatuhkan pidana dengan pidana penjara selama 15 tahun," ucap Ketua Majelis Hakim Herry Swantoro dalam sidang pembacaan vonis di PN Jaksel.
Sementara dalam dakwaan primer, hakim menyatakan tidak terbukti. "Tidak terbukti sah dan menyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan. Membebaskan Abubakar Ba'asyir dari dakwaan primer tersebut," kata Herry.
Pada 9 Mei lalu, jaksa menuntut Ba'asyir dengan hukuman pidana seumur hidup. Menurut JPU, Ba'asyir terbukti telah merencanakan dan mengumpulkan dana untuk tindak pidana terorisme, dalam hal ini untuk pelatihan militer di Aceh. Dana yang digelontorkan ke Aceh oleh Ba'asyir disebut jaksa mencapai Rp 1,39 miliar.
Pria berumur 72 tahun itu dijerat dengan 7 pasal berlapis. Ba'asyir dijerat dengan dakwaan primer pasal 14 juncto pasal 9 UU tentang pemberantasan tindak pidana terorisme. Subsider 14 juncto pasal 7, lebih subsider 14 jo pasal 11, lebih lebih subsider pasal 15 jo pasal 9, ke bawahnya lagi pasal 15 jo pasal 7, ke bawahnya lagi pasal 15 jo pasal 11, terakhir pasal 13 huruf a. [R/dtc]
"Hakim kan memutus pasal subsider (yang terbukti), kita lebih subsider, jadi kita pikir-pikir tujuh hari untuk mengajukan banding," ujar salah satu Jaksa Penuntut Umum (JPU) perkara Ba'asyir, Bambang S saat ditemui wartawan di Kejagung, Jl Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan, Kamis (16/6/2011).
Terhadap putusan hakim tersebut, Bambang mengakui pihaknya sedikit merasa tidak puas. Pasalnya, dakwaan yang dinyatakan terbukti oleh Majelis Hakim berbeda dengan dakwaan yang terbukti menurut JPU.
Seperti diketahui dalam tuntutannya, JPU menyatakan Ba'asyir terbukti bersalah melakukan dakwaan lebih subsider, yakni pasal 14 jo pasal 11 UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Terorisme. Namun dalam putusannya, Majelis Hakim yang diketuai Herry Swantoro menyatakan Ba'asyir terbukti secara bersalah dan meyakinkan melakukan tindak pidana terorisme sebagaimana dakwaan subsider, yakni pasal 14 jo pasal 7 UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang Terorisme.
"Ada yang puas, ada bagian yang tidak puas, makanya kita mengajukan banding. Tidak puasnya masalah pasal berbeda dan hukumannya juga," tuturnya.
Lebih lanjut, Bambang menyatakan bahwa jaksa tidak mempermasalahkan lamanya hukuman yang dijatuhkan Majelis Hakim PN Jaksel. Yang jelas, dalam waktu 7 hari ke depan jaksa akan mempersiapkan permohonan bandingnya.
"Ini bukan masalah dua pertiga, di pasal itu tidak ada yang paling lama, ancamannya hanya seumur hidup dan hukuman mati itu di pasal 14 jo pasal 11. Tenggang waktu tujuh hari kita gunakan format banding," tandasnya.
Hari ini, Ba'asyir divonis 15 tahun penjara oleh hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Sebelumnya, Ba'asyir dituntut hukuman seumur hidup oleh jaksa penuntut umum (JPU).
"Menyatakan terdakwa telah terbukti bersalah melakukan tindak pindana terorisme dalam dakwaan subsider. Menjatuhkan pidana dengan pidana penjara selama 15 tahun," ucap Ketua Majelis Hakim Herry Swantoro dalam sidang pembacaan vonis di PN Jaksel.
Sementara dalam dakwaan primer, hakim menyatakan tidak terbukti. "Tidak terbukti sah dan menyakinkan melakukan tindak pidana sebagaimana yang didakwakan. Membebaskan Abubakar Ba'asyir dari dakwaan primer tersebut," kata Herry.
Pada 9 Mei lalu, jaksa menuntut Ba'asyir dengan hukuman pidana seumur hidup. Menurut JPU, Ba'asyir terbukti telah merencanakan dan mengumpulkan dana untuk tindak pidana terorisme, dalam hal ini untuk pelatihan militer di Aceh. Dana yang digelontorkan ke Aceh oleh Ba'asyir disebut jaksa mencapai Rp 1,39 miliar.
Pria berumur 72 tahun itu dijerat dengan 7 pasal berlapis. Ba'asyir dijerat dengan dakwaan primer pasal 14 juncto pasal 9 UU tentang pemberantasan tindak pidana terorisme. Subsider 14 juncto pasal 7, lebih subsider 14 jo pasal 11, lebih lebih subsider pasal 15 jo pasal 9, ke bawahnya lagi pasal 15 jo pasal 7, ke bawahnya lagi pasal 15 jo pasal 11, terakhir pasal 13 huruf a. [R/dtc]
VIDEO MESUM KEPALA SEKOLAH BEREDAR DI CIANJUR
Cianjur - Masyarakat Cianjur, Jabar, Rabu, dihebohkan video mesum berdurasi 1 menit 7 detik, yang pemeran prianya diduga seorang kepala sekolah di salah satu SDN di Cianjur bagian selatan.
Dalam video yang saat ini, beredar luas di masyarakat dan sejumlah jurnalis media itu, terlihat seorang kepala sekolah berinisial Az (45), melakukan adegan layaknya suami istri dengan seorang perempuan paruh baya yang diduga bukan istri sahnya.
Kepala Pusbindik Kecamatan Sidangbarang, Pipin, membenarkan keberadaan video mesum yang melibatkan kepala sekolah yang menjadi binaanya itu. Dimana video tersebut, dibuat untuk koleksi pribadi pelaku pada tahun 2007.
"Memang benar, pelakunya seorang kepala sekolah, tapi kejadiannya sudah lama. Bahkan yang bersangkutan sudah membuat surat pernyataan," katanya.
Namun dia tidak menjelaskan, isi surat pernyataan yang ditandatangani Az tersebut. Bahkan dia, tidak menyebutkan sanksi yang diberikan terhadap pelaku atas perbuatan asusila yang telah dilakukan dan direkam secara sengaja.
Sedangkan Az, yang diduga pemeran pria dalam film yang saat ini diburu berbagai kalangan itu, membantah keras kalau yang ada di dalam video tersebut adalah dirinya. Dia bahkan mengaku tidak pernah mengetahui persoalan video mesum kepala sekolah tersebut.
"Saya tidak pernah membuat pernyataan apalagi melakukan tindakan yang dapat memalukan diri saya pribadi dan keluarga," kilahnya.
Sementara itu, beberapa orang masyarakat yang memiliki video mesum tersebut, mengaku sangat mengenal wajah pemeran pria yang diketahui sebagai kepala sekolah di salah satu SDN di Kecamatan Sindangbarang.
"Saya kebetulan dapat dari teman sesama guru. Setelah saya perhatian wajahnya sangat mirip dengan kepala sekolah di salah satu SD di wilayah selatan karena kami pernah bertemu. Tapi benar atau tidak saya juga tidak tahu," katanya. [R/Ant]
Dalam video yang saat ini, beredar luas di masyarakat dan sejumlah jurnalis media itu, terlihat seorang kepala sekolah berinisial Az (45), melakukan adegan layaknya suami istri dengan seorang perempuan paruh baya yang diduga bukan istri sahnya.
Kepala Pusbindik Kecamatan Sidangbarang, Pipin, membenarkan keberadaan video mesum yang melibatkan kepala sekolah yang menjadi binaanya itu. Dimana video tersebut, dibuat untuk koleksi pribadi pelaku pada tahun 2007.
"Memang benar, pelakunya seorang kepala sekolah, tapi kejadiannya sudah lama. Bahkan yang bersangkutan sudah membuat surat pernyataan," katanya.
Namun dia tidak menjelaskan, isi surat pernyataan yang ditandatangani Az tersebut. Bahkan dia, tidak menyebutkan sanksi yang diberikan terhadap pelaku atas perbuatan asusila yang telah dilakukan dan direkam secara sengaja.
Sedangkan Az, yang diduga pemeran pria dalam film yang saat ini diburu berbagai kalangan itu, membantah keras kalau yang ada di dalam video tersebut adalah dirinya. Dia bahkan mengaku tidak pernah mengetahui persoalan video mesum kepala sekolah tersebut.
"Saya tidak pernah membuat pernyataan apalagi melakukan tindakan yang dapat memalukan diri saya pribadi dan keluarga," kilahnya.
Sementara itu, beberapa orang masyarakat yang memiliki video mesum tersebut, mengaku sangat mengenal wajah pemeran pria yang diketahui sebagai kepala sekolah di salah satu SDN di Kecamatan Sindangbarang.
"Saya kebetulan dapat dari teman sesama guru. Setelah saya perhatian wajahnya sangat mirip dengan kepala sekolah di salah satu SD di wilayah selatan karena kami pernah bertemu. Tapi benar atau tidak saya juga tidak tahu," katanya. [R/Ant]
Perbup Penyelamatan Rawa Pening Perlu Dibentuk
Semarang - Peraturan bupati (Perbup) mengenai penyelamatan Danau Rawa Pening perlu segera disusun. Pasalnya, faktor penyebab kerusakan danau seluas lebih kurang 2.670 hektare itu dinilai tak lagi sederhana.
Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Semarang Achsin Ma'ruf menegaskan, kondisi Danau Rawa Pening ditentukan pula oleh lingkungan sekitarnya. Dicontohkan, salah satu penyebab adalah tak terkendalinya penebangan pohon di daerah konservasi di dataran atas danau tersebut.
Selain itu, 16 aliran sungai yang bermuara di rawa tersebut, selama ini berpotensi tercemar sampah, baik endapan lumpur maupun sisa aktivitas sosial dan rumah tangga.
"Harus ada ketegasan, penebangan tanaman keras dibatasi, dan tidak diperbolehkan membuang sampah di kali," katanya, dalam pertemuan dengan bupati di ruang rapat pimpingan DPRD Kamis (16/6).
Tidak hanya itu, menurutnya, banyaknya penambangan galian C di lingkungan sekitar rawa juga mempercepat terjadinya sedimentasi. Terkait aktivitas sosial nelayan di rawa tersebut, menurutnya juga perlu diatur dengan perbup.
Pasalnya, berdasarkan data BPS 2010, jumlah nelayan ini mencapai 2.600 orang. Keberadaan mereka, bahkan dapat mendukung upaya normalisasi Rawa Pening. Pemkab dan para nelayan dapat bekerjasama mengawali penanganan rawa dengan program kebersihan maupun pemberdayaan.
"Setidaknya, ini yang bisa kita perbuat, soal sedimentasi, pusat yang mampu menangani secara langsung dengan pengerukan," ujarnya.
Wakil Komisi B The Hok Hiong mengatakan, jika perlu ke depan harus ada perda terkait penyelamatan Danau Rawa pening. Namun, jika kondisi saat ini dirasa mepet waktu, sementara diatur dengan perbup.
"Larangan membuang sampah di sungai, terutama yang merupakan hulu rawa ini perlu ditegaskan dengan aturan. Kalau tidak demikian, kondisi rawa selamanya akan rusak, bahkan lebih parah," katanya.
Bupati Mundjirin, dikonfirmasi usai pertemuan itu, menjelaskan, usulan adanya perda atau perbup dinilai baik. Pihaknya sepakat untuk segera menyusunnya, terutama perbup. Namun, ditegaskan, gerakan penyelamatan danau itu tidak perlu menunggu aturan.
"Kita akan mulai dengan gerakan kebersihan di sekitar Rawa Pening. Kepala BLH akan mengagendakannya. Selain itu, kita akan diskusi dengan masyarakat," ungkapnya. [R/CN]
Ketua Komisi B DPRD Kabupaten Semarang Achsin Ma'ruf menegaskan, kondisi Danau Rawa Pening ditentukan pula oleh lingkungan sekitarnya. Dicontohkan, salah satu penyebab adalah tak terkendalinya penebangan pohon di daerah konservasi di dataran atas danau tersebut.
Selain itu, 16 aliran sungai yang bermuara di rawa tersebut, selama ini berpotensi tercemar sampah, baik endapan lumpur maupun sisa aktivitas sosial dan rumah tangga.
"Harus ada ketegasan, penebangan tanaman keras dibatasi, dan tidak diperbolehkan membuang sampah di kali," katanya, dalam pertemuan dengan bupati di ruang rapat pimpingan DPRD Kamis (16/6).
Tidak hanya itu, menurutnya, banyaknya penambangan galian C di lingkungan sekitar rawa juga mempercepat terjadinya sedimentasi. Terkait aktivitas sosial nelayan di rawa tersebut, menurutnya juga perlu diatur dengan perbup.
Pasalnya, berdasarkan data BPS 2010, jumlah nelayan ini mencapai 2.600 orang. Keberadaan mereka, bahkan dapat mendukung upaya normalisasi Rawa Pening. Pemkab dan para nelayan dapat bekerjasama mengawali penanganan rawa dengan program kebersihan maupun pemberdayaan.
"Setidaknya, ini yang bisa kita perbuat, soal sedimentasi, pusat yang mampu menangani secara langsung dengan pengerukan," ujarnya.
Wakil Komisi B The Hok Hiong mengatakan, jika perlu ke depan harus ada perda terkait penyelamatan Danau Rawa pening. Namun, jika kondisi saat ini dirasa mepet waktu, sementara diatur dengan perbup.
"Larangan membuang sampah di sungai, terutama yang merupakan hulu rawa ini perlu ditegaskan dengan aturan. Kalau tidak demikian, kondisi rawa selamanya akan rusak, bahkan lebih parah," katanya.
Bupati Mundjirin, dikonfirmasi usai pertemuan itu, menjelaskan, usulan adanya perda atau perbup dinilai baik. Pihaknya sepakat untuk segera menyusunnya, terutama perbup. Namun, ditegaskan, gerakan penyelamatan danau itu tidak perlu menunggu aturan.
"Kita akan mulai dengan gerakan kebersihan di sekitar Rawa Pening. Kepala BLH akan mengagendakannya. Selain itu, kita akan diskusi dengan masyarakat," ungkapnya. [R/CN]
Rabu, 15 Juni 2011
Jasroni, Anggota Banser yang Beristri Sembilan
Ketua Banser Kaliwiro Jasromi menjadi anggota Banser sejak organisasi ini didirikan sesuai khitah Nahdlatul Ulama tahun 1926. Pada era 1958 itulah ia mulai bertugas. Usianya kini sudah 101 tahun. Namun badannya masih tegap.Dalam perjalanan hidupnya istrinya sebanyak 9 orang. Ia memiliki anak 16 orang. Enam isterinya telah berpulang. Kini ia hidup bersama tiga istri.
Wonosobo - Keriput tulang pipi Jasromi seakan menjadi saksi kiprahnya sebagai abdi masyarakat. Memang kadang orang semacam ini jarang sekali terendus media. Namun di kabupaten Wonosobo perannya cukup signifikan. Tidak hanya sebagai anggota Banser namun juga menjadi mandor hutan sejak zaman dulu hingga sekarang. Ia tak ubahnya pahlawan penjaga kelestari alam Wonosobo.
Menurut warga yang beralamat di Desa Winongsari Kecamatan Kaliwiro ini memiliki catatan unik sepanjang hidupnya. Ia turut mendukung gerakan banser pada tahun 1964. Dalam perjalanan waktu yang terus bergulir lelaki tua bertubuh kurus ini pernah memenangi zaman Anshor era Perjuangan Islam Indonesia (PII) melawan penjajah.
“Setelah Islam Hizbullah ia turut ngaji di pondok pesantrennya KH Kahar Muzakar daerah Sapuran. Saya pernah jadi menjadi buruh di pabrik teh Tambi,” paparnya ketika ditanya anggota Banser saat harlah ke 77 di alun-alun Wonosobo Sabtu (30/4).
Mbah Jasromi, demikian akrab disapa, mengaku memiliki Sembilan isteri. Nama-nama isterinya antara lain Parsiyah, Murni, Maryasri, Rahayu, Sulasih, Romdiyah, Murni, Maryam, dan Jumiyati. Namun seusai diantara 9 isterinya melahirkan 16 anaknya enam isterinya meninggal dunia.
“Enam isteri saya meninggal terserang penyakit stroke. Kini tinggal tiga,” katanya.
Dalam memimpin keluarga besarnya yang tak mudah dilakukan banyak orang, kakek puluhan cucu ini memiliki kiat dan cara unik tersendiri untuk menghadapinya. Menurut dia, adil adalah kuncinya. Implementasi tersebut, lanjut dia, berkunjung ke rumah isteri selama tujuh hari atau seminggu. Kemudian dilanjutkan dari isteri satu ke rumah isteri yang lain.Selama di rumah masing-masing isteri ia memberi nafkah lahir dan batin.
“Kunci utamanya menanamkan hidup apa adanya terhadap isteri dan rasa syukur sebesar-besarnya kepada Allah SWT atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan kepada kita,” katanya dengan nada optimis tanpa beban.
Kendati sejumlah giginya kini telah tak lagi tumbuh, namun mbah Jasromi tetap nampak gagah. Tak terlihat rasa beban hidup didalam raut mukanya karena ia mengaku hanya menjalankan perintah agama Islam dengan benar-benar tanpa ada rasa canggung dan beban yang terlalu tinggi.
“Kini sebagian besar anak saya sudah menikah. Dulu ketika waktu masih muda masih terus berkunjung ke rumah tiga isteri saya. Namun sekarang saya tinggal bersama isteri yang terakhir,” ucapnya.
Untuk menyambung hidup sehari-hari bersama isterinya terakhir tersebut, mbah Jasromi menjadi petugas Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Ia mengaku cukup gajinya dengan bekerja menjadi mandor di bawah naungan perhutani Kedu Selatan yang berkantor di Kabupaten Purworejo. Tiap hari ia selalu menyisir lorong-lorong terjal berkabut penuh dengan ranting pohon diiringi nyanyian rimba yang masih perawan.
“Sekarang di hari tua saya, saya sudah tenang. Karena saya berprinsip hidup ini tinggal menjalani saja,” ucapnya.
Ditanya bagaimana kiat agar panjang umur lelaki tua yang masih mengenakan seragam Ansor itu terkekeh.Apalagi tertawanya disambut puluhan personel Banser lain yang turut mengelilinginya. Namun meski tak menyebut pasti, mbah Jasromi seakan menjelaskan rahasia hidup hingga berusia 101 tahun.
“ Saya hanya bersyukur saja menjalani hidup ini. Itu buah manis dari iman kepada Allah SWT,” katanya penuh semangat.
Menurutnya kondisi hutan Wonosobo antara zaman dahulu dengan sekarang jauh berbeda. Jika dulu alam Wonosobo masih hijau dan lebat dengan aneka tumbuh-tumbuhan. Namun saat ini sebagaian sudah rusak akibat kerakusan manusia. Padahal pohon keberadaannya sangat vital.
“Alam hutan di Wonosobo harus di selamatkan. Paling tidak butuh puasa menebang pohon hingga 50 tahun baru bisa benar-benar kembali sediakala. Kalau tidak ancaman bencana tanah longsor ini akan terus terjadi hampir di semua wilayah Wonosobo,”pungkasnya. [R/Yudi]
Wonosobo - Keriput tulang pipi Jasromi seakan menjadi saksi kiprahnya sebagai abdi masyarakat. Memang kadang orang semacam ini jarang sekali terendus media. Namun di kabupaten Wonosobo perannya cukup signifikan. Tidak hanya sebagai anggota Banser namun juga menjadi mandor hutan sejak zaman dulu hingga sekarang. Ia tak ubahnya pahlawan penjaga kelestari alam Wonosobo.
Menurut warga yang beralamat di Desa Winongsari Kecamatan Kaliwiro ini memiliki catatan unik sepanjang hidupnya. Ia turut mendukung gerakan banser pada tahun 1964. Dalam perjalanan waktu yang terus bergulir lelaki tua bertubuh kurus ini pernah memenangi zaman Anshor era Perjuangan Islam Indonesia (PII) melawan penjajah.
“Setelah Islam Hizbullah ia turut ngaji di pondok pesantrennya KH Kahar Muzakar daerah Sapuran. Saya pernah jadi menjadi buruh di pabrik teh Tambi,” paparnya ketika ditanya anggota Banser saat harlah ke 77 di alun-alun Wonosobo Sabtu (30/4).
Mbah Jasromi, demikian akrab disapa, mengaku memiliki Sembilan isteri. Nama-nama isterinya antara lain Parsiyah, Murni, Maryasri, Rahayu, Sulasih, Romdiyah, Murni, Maryam, dan Jumiyati. Namun seusai diantara 9 isterinya melahirkan 16 anaknya enam isterinya meninggal dunia.
“Enam isteri saya meninggal terserang penyakit stroke. Kini tinggal tiga,” katanya.
Dalam memimpin keluarga besarnya yang tak mudah dilakukan banyak orang, kakek puluhan cucu ini memiliki kiat dan cara unik tersendiri untuk menghadapinya. Menurut dia, adil adalah kuncinya. Implementasi tersebut, lanjut dia, berkunjung ke rumah isteri selama tujuh hari atau seminggu. Kemudian dilanjutkan dari isteri satu ke rumah isteri yang lain.Selama di rumah masing-masing isteri ia memberi nafkah lahir dan batin.
“Kunci utamanya menanamkan hidup apa adanya terhadap isteri dan rasa syukur sebesar-besarnya kepada Allah SWT atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan kepada kita,” katanya dengan nada optimis tanpa beban.
Kendati sejumlah giginya kini telah tak lagi tumbuh, namun mbah Jasromi tetap nampak gagah. Tak terlihat rasa beban hidup didalam raut mukanya karena ia mengaku hanya menjalankan perintah agama Islam dengan benar-benar tanpa ada rasa canggung dan beban yang terlalu tinggi.
“Kini sebagian besar anak saya sudah menikah. Dulu ketika waktu masih muda masih terus berkunjung ke rumah tiga isteri saya. Namun sekarang saya tinggal bersama isteri yang terakhir,” ucapnya.
Untuk menyambung hidup sehari-hari bersama isterinya terakhir tersebut, mbah Jasromi menjadi petugas Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH). Ia mengaku cukup gajinya dengan bekerja menjadi mandor di bawah naungan perhutani Kedu Selatan yang berkantor di Kabupaten Purworejo. Tiap hari ia selalu menyisir lorong-lorong terjal berkabut penuh dengan ranting pohon diiringi nyanyian rimba yang masih perawan.
“Sekarang di hari tua saya, saya sudah tenang. Karena saya berprinsip hidup ini tinggal menjalani saja,” ucapnya.
Ditanya bagaimana kiat agar panjang umur lelaki tua yang masih mengenakan seragam Ansor itu terkekeh.Apalagi tertawanya disambut puluhan personel Banser lain yang turut mengelilinginya. Namun meski tak menyebut pasti, mbah Jasromi seakan menjelaskan rahasia hidup hingga berusia 101 tahun.
“ Saya hanya bersyukur saja menjalani hidup ini. Itu buah manis dari iman kepada Allah SWT,” katanya penuh semangat.
Menurutnya kondisi hutan Wonosobo antara zaman dahulu dengan sekarang jauh berbeda. Jika dulu alam Wonosobo masih hijau dan lebat dengan aneka tumbuh-tumbuhan. Namun saat ini sebagaian sudah rusak akibat kerakusan manusia. Padahal pohon keberadaannya sangat vital.
“Alam hutan di Wonosobo harus di selamatkan. Paling tidak butuh puasa menebang pohon hingga 50 tahun baru bisa benar-benar kembali sediakala. Kalau tidak ancaman bencana tanah longsor ini akan terus terjadi hampir di semua wilayah Wonosobo,”pungkasnya. [R/Yudi]
Komisi E DPRD Jateng Berkunjung ke Kampung Samin
- Dialog Soal Ajaran Sikep
-Blora Sebanyak sembilan anggota Komisi E DPRD Jateng berkunjung ke masyarakat Sikep atau penganut ajaran Samin di di Dukuh Blimbing, Desa Sambongrejo, Kecamatan Sambong, Blora, Rabu (15/6) siang.
Mereka adalah Masruhan Syamsuri (PPP), Moh Zen Adv (PKB), Bambang Sutoyo (Golkar), Bambang Wahyono (Gerindra), Masluri (PDI P), Slamet Effendi (PDI P), Kukuh Birowo (PD), Wahid Ahmadi (PKS), dan Sri Mary
uni (PAN). Para anggota dewan provinsi itu diterima oleh masyarakat Samin di dukuh itu di rumah Pramugi Prawiro Wijoyo, tokoh samin setempat.
Moh Zen Adv mengatakan, agenda utama dari kunjungan tersebut adalah melihat lebih dekat kultur Samin di Blora. ''Samin merupakan bagian dari keanekaragaman masyarakat Jateng yang unik dan bertahan sampai sekarang.''
Ia mengutarakan, ada banyak pelajaran yang sangat luhur yang bisa dijadikan oleh masyarakat dan bangsa ini dari ajaran yang diwariskan Ki Samin Surosentiko. Banyak ajaran soal kejujuran, kebersamaan, dan gotong royong yang masih dipegang oleh masyarakat Samin ditengah-tengah kondisi masyarakat yang egois dan individualistik,'' paparnya.
Sesi Dialog
Setelah ramah tamah dan makan ala kadarnya yang telah disediakan oleh pihak sedulur-sedulur Sikep, acara dialog pun digelar. Pada kesempatan pertama, Pramugi didaulat untuk memaparkan tentang beberapa ajaran Sikep di depan anggota dewan.
''Ajaran yang dikembangkan oleh Ki Samin Surosentiko adalah Sikep. Ada larangan-larangan di Samin, di antaranya tidak boleh drengki, panasten, mbegal, termasuk korupsi,'' katanya dalam bahasa Jawa.
Dia menambahkan, manusia hidup itu memiliki lima tujuan, yakni demen, becik, rukun, seger, dan waras. ''Ada tiga patokan hidup, yaitu ucap, partikel, dan kelakuan,'' jelasnya.
Menanggapi paparan Pramugi, Bambang Sutoyo pun menimpali, jika semua orang bisa memegang (ngugemi) seperti apa yang diajarkan Ki Samin, maka Indonesia tidak akan ada korupsi. ''Apakan tidak ada sanksi ada dalam Samin jika ada yang melanggar?''
Pramugi pun menjawab, sanksi yang ada lebih pada sanksi sosial. ''Sebenarnya ada sanksi, tetapi yang ada lebih ke sanksi sosial. Orang Samin itu orang yang malu jika melanggar aturan,'' katanya.
Sementara itu, Moh Zen menegaskan, jika kedatangannya beserta rombongan itu memang lebih pada belajar nilai-nilai luhur yang ada dalam ajaran sikep. ''Ini bagin integral di Komisi E yang saat ini menggodok Perda Pendidikan, yang di antaranya memuat pendidikan karakter. Targetnya Agustus nanti Perda sudah rampung,'' pungkasnya. [R]
-Blora Sebanyak sembilan anggota Komisi E DPRD Jateng berkunjung ke masyarakat Sikep atau penganut ajaran Samin di di Dukuh Blimbing, Desa Sambongrejo, Kecamatan Sambong, Blora, Rabu (15/6) siang.
Mereka adalah Masruhan Syamsuri (PPP), Moh Zen Adv (PKB), Bambang Sutoyo (Golkar), Bambang Wahyono (Gerindra), Masluri (PDI P), Slamet Effendi (PDI P), Kukuh Birowo (PD), Wahid Ahmadi (PKS), dan Sri Mary
uni (PAN). Para anggota dewan provinsi itu diterima oleh masyarakat Samin di dukuh itu di rumah Pramugi Prawiro Wijoyo, tokoh samin setempat.
Moh Zen Adv mengatakan, agenda utama dari kunjungan tersebut adalah melihat lebih dekat kultur Samin di Blora. ''Samin merupakan bagian dari keanekaragaman masyarakat Jateng yang unik dan bertahan sampai sekarang.''
Ia mengutarakan, ada banyak pelajaran yang sangat luhur yang bisa dijadikan oleh masyarakat dan bangsa ini dari ajaran yang diwariskan Ki Samin Surosentiko. Banyak ajaran soal kejujuran, kebersamaan, dan gotong royong yang masih dipegang oleh masyarakat Samin ditengah-tengah kondisi masyarakat yang egois dan individualistik,'' paparnya.
Sesi Dialog
Setelah ramah tamah dan makan ala kadarnya yang telah disediakan oleh pihak sedulur-sedulur Sikep, acara dialog pun digelar. Pada kesempatan pertama, Pramugi didaulat untuk memaparkan tentang beberapa ajaran Sikep di depan anggota dewan.
''Ajaran yang dikembangkan oleh Ki Samin Surosentiko adalah Sikep. Ada larangan-larangan di Samin, di antaranya tidak boleh drengki, panasten, mbegal, termasuk korupsi,'' katanya dalam bahasa Jawa.
Dia menambahkan, manusia hidup itu memiliki lima tujuan, yakni demen, becik, rukun, seger, dan waras. ''Ada tiga patokan hidup, yaitu ucap, partikel, dan kelakuan,'' jelasnya.
Menanggapi paparan Pramugi, Bambang Sutoyo pun menimpali, jika semua orang bisa memegang (ngugemi) seperti apa yang diajarkan Ki Samin, maka Indonesia tidak akan ada korupsi. ''Apakan tidak ada sanksi ada dalam Samin jika ada yang melanggar?''
Pramugi pun menjawab, sanksi yang ada lebih pada sanksi sosial. ''Sebenarnya ada sanksi, tetapi yang ada lebih ke sanksi sosial. Orang Samin itu orang yang malu jika melanggar aturan,'' katanya.
Sementara itu, Moh Zen menegaskan, jika kedatangannya beserta rombongan itu memang lebih pada belajar nilai-nilai luhur yang ada dalam ajaran sikep. ''Ini bagin integral di Komisi E yang saat ini menggodok Perda Pendidikan, yang di antaranya memuat pendidikan karakter. Targetnya Agustus nanti Perda sudah rampung,'' pungkasnya. [R]
Rabu, 11 Mei 2011
Berharap Tangan Pemerintah di Desa Miskin
Bekasi - Seorang bocah laki-laki berkaos kumal bermain layang-layang bersama teman-temannya di satu tanah kosong di Desa Babelan Kota, Kecamatan Babelan, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.
Mereka tak menghiraukan debu kotor dan sengatan matahari. Seharusnya anak-anak itu, Muhammad Adrian (8) salah satunya, duduk di bangku sekolah. Sayang, orang tuanya tak bisa membuatnya bersekolah.
Kata Murniyati (23), ibunya, tahun ini seharusnya Adrian sudah kelas dua SD.
"Nanti saja sekolahnya," kata Murni.
Tapi ternyata Adrian ingin memakai baju putih dan celana pendek merah seperti dikenakan umumnya anak-anak seusianya.
"Saya ingin sekolah om, biar jadi ABRI, enak bisa naik pesawat tempur," katanya kepada ANTARA News.
Adrian belum tahu betapa beratnya beban hidup yang mesti ditanggung orangtuanya yang hanya petani kecil.
"Paling besar penghasilan kami sebulan sekitar 300 ribu," kata Murni.
Dia menyambung, "Maklum mas, petani tak bisa ditebak untungnya. kadang laris dan tidak. Jika musim kemarau bisa kering banget dan jika musim hujan, airnya bisa beleber ke dalam rumah."
Rumah Murni berupa bilik bambu dan papan triplek, ubinnya ya tanah. Ukurannya hanya 4 kali 5 meter. Di situ tinggal lima orang.
Yang juga menyayat hati, mereka tak memiliki sumber air, hanya sumur kecil berdiameter 65 cm. Warna airnya sungguh menurunkan selera, karena keruh kecoklatan.
"Satu sumur ini untuk tiga rumah," kata Ramin, Kepada RT 18, RW 03, Desa Babelan Kota.
Untuk buang hajat, penghuni rumah hanya memiliki jamban bertutupkan sarung dan kain. "Kalau mau buang air harus bawa ember dari sumur ini ke jamban," kata Ramin.
Ya, air bersih adalah juga persoalan krusial mereka. "PAM ada tapi untuk bayarnya ini yang bikin pusing," kata Mamad, tetangga Ramin.
Modal Usaha
Jangan anggap mereka miskin karena tak berupaya. Menurut Muhammad Mamad, Kepada RW 03 Desa Babelan Kota, keluarga-keluarga ini tidak malas, mereka bahkan kerap menyampaikan ide-ide cemerlang untu menyiasati kesulitan hidup.
"Masalah kami nggak punya dana," kata Mamad.
Samah (35), tetangga Murni, membenarkan ni. Samah akan segera menjadi nenek karena anak perempuannya yang tamatan SD akan segera melahirkan.
"Saya butuh sekali tambahan modal sekitar Rp500 ribu untuk jualan kue keliling," kata Samah yang terpaksa bekerja karena penghasilan suaminya sebagai penebang pohon per hari hanya Rp40 ribu.
Impian serupa disampaikan Ahmadi (30), tetangga Samah, peternak ayam bekerja untuk orang lain dan diupahi Rp32 ribu per hari.
"Kalau punya peternakan ayam sendiri menjadi lebih mandiri," katanya.
Lain lagi dengan Rojana (26). Dia ingin sekali usaha jual bensin botolan di pasar.
"Sebenarnya saya sudah punya lapak di pasar, tapi berhubung nggak punya dana, nggak kesampaian," kata perempuan bersuamikan buruh di sebuah perusahaan itu.
Herni Hardiani (40) lebih beruntung. Rumahnya pun terbilang bagus. Dia bekerja sebagai penjaga toko kelontong sembako, sedangkan suaminya berprofesi penjahit.
Mereka bahu membahu mencari modal agar bisa tetap menyekolahkan anak-anak.
Yang juga butuh modal usaha adalah Mamad, "Saya sedang mencari modal untuk toko gas sekitar Rp5 juta," katanya.
Mamad berharap pemerintah turun tangan meringankan beban mereka, setidaknya membantu memperlancar mendapatkan modal usaha.
Ironi
Mamad dan kawan-kawan itu seharusnya tidak semenderita seperti itu, apalagi Babelan menyimpan kandungan minyak bumi tinggi.
Neneng Djuari, pegawai Kecamatan Babelan bagian Ekonomi Pembangunan, menyebutkan tak semua desa di Babelan hidup di bawah garis kemiskinan.
Ada dua desa di pinggir laut yang terbilang sangat miskin, yaitu Desa Hurip Jaya dan Pantai Hurip, kata Nenang.
Ironisnya, sambung Neneng, kedua desa itu tak jauh dari letak kilang-kilang minyak PT. Pertamina. "Sampai saat ini kami belum menerima bentuk materi nyata (bantuan) dari PT. Pertamina," katanya.
Neneng mengakui sebagian warga Babelan hidup terlalu miskin sehingga untuk menyekolahkan anaknya pun sulit.
"Banyak anggapan sekolah itu tidak penting dan lebih baik bertani," katanya.
Abdul Choir, Kepala Urusan Kesejahteraan Desa Babelan Kota, menyebutkan total warga miskin di Babelan Kota 2.165 jiwa.
Muhammad Malik, Sekretaris Desa Babelan Kota, menambahkan, "Umumnya petani di sini menyewa lahan dan keuntungannya dibagi kepada pemilik."
Kecamatan Babelan dibagi ke dalam 7 desa dan 2 kelurahan, termasuk Babelan Kota.
PR Pemerintah
Pemerintah bukannya diam menghadapi kesulitan yang dihadapi warga miskin. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahkan menyebut kemiskinan adalah persoalan regional dan global sehingga harus ditangani ekstra.
"Saya percaya upaya kita bersama harus berkontribusi pada kemampuan kita untuk mengatasi kemiskinan," ujarnya di Nusa Dua, Bali, beberapa waktu lalu.
Semua lini bekerja, termasuk Kementeria Sosial.
Menurut Direktur Direktorat Penanggulangan Kemiskinan Perdesaan Kementerian Sosial Teguh Haryono kementeriannya sedang menggalakan beberapa program unggulan untuk mengentaskan masyarakat miskin di desa.
Salah satunya lewat Program Pemberdayaan Fakir Miskin (P2FM) dengan pendekatan Kelompok Usaha Bersama (KUBE). Di bawah skema ini warga miskin bisa mendapatkan modal usaha dari bank.
Menurut Teguh, pada 2010, program ini terbilang mendulang sukses di seluruh 33 provinsi.
"Saat ini sudah ada 390 ribu jiwa yang mendapatkan KUBE dan keberhasilan KUBE itu sendiri mencapai 60 persen," katanya.
Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri jauh-jauh hari mengungkapkan keyakinannya bahwa jika program KUBE terus dikelola secara profesional maka akan banyak keluarga miskin yuang keluar dari jerat kemiskinan.
"KUBE dapat meningkatkan pendapatan keluarga" kata Salim, dua tahun lalu.
Masih ada program lain. Dan ini juga bisa menjawab rintihan warga Babelan Kota dan warga miskin lain di Indonesia.
Nama program itu Program Keluarga Harapan (PKH) yang berupa bantuan sosial tunai bersyarat bagi rumah tangga sangat miskin dengan kategori-kategori khusus.
"Program PKH ini langsung kami bayar tunai seperti kepada ibu hamil," kata Teguh.
Sejak 2007, PKH telah diberikan kepada 70 kabupaten/kota dan 779 kecamatan di 13 provinsi.
Secara umum, sampai bulan ini, sudah Rp430 miliar dana telah dikucurkan Kementerian Sosial untuk mengentaskan kemiskinan dan sebagian besar dialokasikan untuk penduduk miskin di Jawa yang pusat penduduk miskin Indonesia.
Desa Babelan Kota dan desa-desa lainnya pasti mengharapkan juga suntikan dana pemerintah itu mencapai mereka.
Dengan bantuan itu, Ahmadi bakal memiliki peternakan ayam sendiri, Herni bisa membuka toko gasnya, sementara Samah akan anteng berjualan kue keliling. Bahkan Adrian kelak dapat mewujudkan cita-citanya, menerbangkan pesawat tempur Sukhoi SU-30. [R/Ant]
Mereka tak menghiraukan debu kotor dan sengatan matahari. Seharusnya anak-anak itu, Muhammad Adrian (8) salah satunya, duduk di bangku sekolah. Sayang, orang tuanya tak bisa membuatnya bersekolah.
Kata Murniyati (23), ibunya, tahun ini seharusnya Adrian sudah kelas dua SD.
"Nanti saja sekolahnya," kata Murni.
Tapi ternyata Adrian ingin memakai baju putih dan celana pendek merah seperti dikenakan umumnya anak-anak seusianya.
"Saya ingin sekolah om, biar jadi ABRI, enak bisa naik pesawat tempur," katanya kepada ANTARA News.
Adrian belum tahu betapa beratnya beban hidup yang mesti ditanggung orangtuanya yang hanya petani kecil.
"Paling besar penghasilan kami sebulan sekitar 300 ribu," kata Murni.
Dia menyambung, "Maklum mas, petani tak bisa ditebak untungnya. kadang laris dan tidak. Jika musim kemarau bisa kering banget dan jika musim hujan, airnya bisa beleber ke dalam rumah."
Rumah Murni berupa bilik bambu dan papan triplek, ubinnya ya tanah. Ukurannya hanya 4 kali 5 meter. Di situ tinggal lima orang.
Yang juga menyayat hati, mereka tak memiliki sumber air, hanya sumur kecil berdiameter 65 cm. Warna airnya sungguh menurunkan selera, karena keruh kecoklatan.
"Satu sumur ini untuk tiga rumah," kata Ramin, Kepada RT 18, RW 03, Desa Babelan Kota.
Untuk buang hajat, penghuni rumah hanya memiliki jamban bertutupkan sarung dan kain. "Kalau mau buang air harus bawa ember dari sumur ini ke jamban," kata Ramin.
Ya, air bersih adalah juga persoalan krusial mereka. "PAM ada tapi untuk bayarnya ini yang bikin pusing," kata Mamad, tetangga Ramin.
Modal Usaha
Jangan anggap mereka miskin karena tak berupaya. Menurut Muhammad Mamad, Kepada RW 03 Desa Babelan Kota, keluarga-keluarga ini tidak malas, mereka bahkan kerap menyampaikan ide-ide cemerlang untu menyiasati kesulitan hidup.
"Masalah kami nggak punya dana," kata Mamad.
Samah (35), tetangga Murni, membenarkan ni. Samah akan segera menjadi nenek karena anak perempuannya yang tamatan SD akan segera melahirkan.
"Saya butuh sekali tambahan modal sekitar Rp500 ribu untuk jualan kue keliling," kata Samah yang terpaksa bekerja karena penghasilan suaminya sebagai penebang pohon per hari hanya Rp40 ribu.
Impian serupa disampaikan Ahmadi (30), tetangga Samah, peternak ayam bekerja untuk orang lain dan diupahi Rp32 ribu per hari.
"Kalau punya peternakan ayam sendiri menjadi lebih mandiri," katanya.
Lain lagi dengan Rojana (26). Dia ingin sekali usaha jual bensin botolan di pasar.
"Sebenarnya saya sudah punya lapak di pasar, tapi berhubung nggak punya dana, nggak kesampaian," kata perempuan bersuamikan buruh di sebuah perusahaan itu.
Herni Hardiani (40) lebih beruntung. Rumahnya pun terbilang bagus. Dia bekerja sebagai penjaga toko kelontong sembako, sedangkan suaminya berprofesi penjahit.
Mereka bahu membahu mencari modal agar bisa tetap menyekolahkan anak-anak.
Yang juga butuh modal usaha adalah Mamad, "Saya sedang mencari modal untuk toko gas sekitar Rp5 juta," katanya.
Mamad berharap pemerintah turun tangan meringankan beban mereka, setidaknya membantu memperlancar mendapatkan modal usaha.
Ironi
Mamad dan kawan-kawan itu seharusnya tidak semenderita seperti itu, apalagi Babelan menyimpan kandungan minyak bumi tinggi.
Neneng Djuari, pegawai Kecamatan Babelan bagian Ekonomi Pembangunan, menyebutkan tak semua desa di Babelan hidup di bawah garis kemiskinan.
Ada dua desa di pinggir laut yang terbilang sangat miskin, yaitu Desa Hurip Jaya dan Pantai Hurip, kata Nenang.
Ironisnya, sambung Neneng, kedua desa itu tak jauh dari letak kilang-kilang minyak PT. Pertamina. "Sampai saat ini kami belum menerima bentuk materi nyata (bantuan) dari PT. Pertamina," katanya.
Neneng mengakui sebagian warga Babelan hidup terlalu miskin sehingga untuk menyekolahkan anaknya pun sulit.
"Banyak anggapan sekolah itu tidak penting dan lebih baik bertani," katanya.
Abdul Choir, Kepala Urusan Kesejahteraan Desa Babelan Kota, menyebutkan total warga miskin di Babelan Kota 2.165 jiwa.
Muhammad Malik, Sekretaris Desa Babelan Kota, menambahkan, "Umumnya petani di sini menyewa lahan dan keuntungannya dibagi kepada pemilik."
Kecamatan Babelan dibagi ke dalam 7 desa dan 2 kelurahan, termasuk Babelan Kota.
PR Pemerintah
Pemerintah bukannya diam menghadapi kesulitan yang dihadapi warga miskin. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahkan menyebut kemiskinan adalah persoalan regional dan global sehingga harus ditangani ekstra.
"Saya percaya upaya kita bersama harus berkontribusi pada kemampuan kita untuk mengatasi kemiskinan," ujarnya di Nusa Dua, Bali, beberapa waktu lalu.
Semua lini bekerja, termasuk Kementeria Sosial.
Menurut Direktur Direktorat Penanggulangan Kemiskinan Perdesaan Kementerian Sosial Teguh Haryono kementeriannya sedang menggalakan beberapa program unggulan untuk mengentaskan masyarakat miskin di desa.
Salah satunya lewat Program Pemberdayaan Fakir Miskin (P2FM) dengan pendekatan Kelompok Usaha Bersama (KUBE). Di bawah skema ini warga miskin bisa mendapatkan modal usaha dari bank.
Menurut Teguh, pada 2010, program ini terbilang mendulang sukses di seluruh 33 provinsi.
"Saat ini sudah ada 390 ribu jiwa yang mendapatkan KUBE dan keberhasilan KUBE itu sendiri mencapai 60 persen," katanya.
Menteri Sosial Salim Segaf Al Jufri jauh-jauh hari mengungkapkan keyakinannya bahwa jika program KUBE terus dikelola secara profesional maka akan banyak keluarga miskin yuang keluar dari jerat kemiskinan.
"KUBE dapat meningkatkan pendapatan keluarga" kata Salim, dua tahun lalu.
Masih ada program lain. Dan ini juga bisa menjawab rintihan warga Babelan Kota dan warga miskin lain di Indonesia.
Nama program itu Program Keluarga Harapan (PKH) yang berupa bantuan sosial tunai bersyarat bagi rumah tangga sangat miskin dengan kategori-kategori khusus.
"Program PKH ini langsung kami bayar tunai seperti kepada ibu hamil," kata Teguh.
Sejak 2007, PKH telah diberikan kepada 70 kabupaten/kota dan 779 kecamatan di 13 provinsi.
Secara umum, sampai bulan ini, sudah Rp430 miliar dana telah dikucurkan Kementerian Sosial untuk mengentaskan kemiskinan dan sebagian besar dialokasikan untuk penduduk miskin di Jawa yang pusat penduduk miskin Indonesia.
Desa Babelan Kota dan desa-desa lainnya pasti mengharapkan juga suntikan dana pemerintah itu mencapai mereka.
Dengan bantuan itu, Ahmadi bakal memiliki peternakan ayam sendiri, Herni bisa membuka toko gasnya, sementara Samah akan anteng berjualan kue keliling. Bahkan Adrian kelak dapat mewujudkan cita-citanya, menerbangkan pesawat tempur Sukhoi SU-30. [R/Ant]
Hasyim: Terorisme Belum Akan Hilang
Jakarta - Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Scholars (ICIS) KH Hasyim Muzadi mengatakan, terorisme di dunia belum akan hilang, meskipun Osama bin Laden dikabarkan telah ditembak mati tentara Amerika Serikat di Pakistan, beberapa waktu lalu.
"Setelah Osama yang katanya tertembak oleh pasukan Amerika, terorisme belum akan mati, meskipun bisa memberikan `shock theraphy` bagi pengikut setianya," kata Hasyim dalam dialog tokoh-tokoh Islam bersama puluhan jurnalis dari Amerika Serikat bertema Islam Indonesia, di kantor ICIS, Jakarta, Rabu.
Hadir dalam dialog ini antara lain Habib Rizieq Shihab dari Front Pembela Islam, Ismail Yusanto dari Hizbut Tahrir Indonesia, dan Abdul Mu`ti dari Muhammadiyah.
Sedangkan jurnalis Amerika antara lain berasal dari ABC News, The New York Times, Virginia Public Radio, PBS Newshour, CNN, National Geographic Weekend, dan National Public Radio. Mereka tergabung dalam International Reporting Project (IRP).
Menurut Hasyim, setidaknya ada tiga jenis terorisme jika dilihat berdasarkan tujuan aksi itu dilakukan.
Pertama, terorisme atau aksi teror yang digunakan sebagai strategi perang untuk mencapai kemerdekaan, misalnya yang terjadi di Palestina.
Kedua, aksi teror yang ditujukan untuk meneror pihak yang dianggap sebagai musuh. Misalnya aksi teror yang dilakukan kelompok tertentu sebagai bentuk perlawanan terhadap Ameriksa Serikat.
Berikutnya adalah terorisme lokal yakni aksi teror yang ditujukan sebagai bentuk protes terhadap persoalan lokal, baik di tingkat negara maupun daerah.
Sementara itu, Habib Rizieq dalam paparannya menegaskan bahwa Islam bukan terorisme dan terorisme bukan Islam.
Oleh karenanya, FPI menolak tegas segala bentuk teror dari agama apapun.
Terkait kunjungan jurnalis AS ke ICIS, Hasyim berharap setelah pertemuan dan dialog tersebut media Amerika menulis dengan benar kondisi Islam di Indonesia yang sebenarnya.
"Selama ini mereka menerima informasi sepotong-sepotong soal kondisi Islam di Indonesia. Dengan bertemu dan berdialog begini, mereka menjadi tahu, bagaimana yang sebenarnya," kata mantan Ketua Umum PBNU itu.
Dalam pertemuan tersebut, para jurnalis Amerika bertanya langsung mengenai sikap para tokoh yang hadir tentang Islam dan terorisme yang terjadi di dunia, termasuk soal kematian Osama.
Sebelum dialog dimulai, para jurnalis dipertontonkan video profil Islam Indonesia dan gerakan ICIS dalam mengembangkan Islam yang "rahmatan lil alamin". [R/Ant]
"Setelah Osama yang katanya tertembak oleh pasukan Amerika, terorisme belum akan mati, meskipun bisa memberikan `shock theraphy` bagi pengikut setianya," kata Hasyim dalam dialog tokoh-tokoh Islam bersama puluhan jurnalis dari Amerika Serikat bertema Islam Indonesia, di kantor ICIS, Jakarta, Rabu.
Hadir dalam dialog ini antara lain Habib Rizieq Shihab dari Front Pembela Islam, Ismail Yusanto dari Hizbut Tahrir Indonesia, dan Abdul Mu`ti dari Muhammadiyah.
Sedangkan jurnalis Amerika antara lain berasal dari ABC News, The New York Times, Virginia Public Radio, PBS Newshour, CNN, National Geographic Weekend, dan National Public Radio. Mereka tergabung dalam International Reporting Project (IRP).
Menurut Hasyim, setidaknya ada tiga jenis terorisme jika dilihat berdasarkan tujuan aksi itu dilakukan.
Pertama, terorisme atau aksi teror yang digunakan sebagai strategi perang untuk mencapai kemerdekaan, misalnya yang terjadi di Palestina.
Kedua, aksi teror yang ditujukan untuk meneror pihak yang dianggap sebagai musuh. Misalnya aksi teror yang dilakukan kelompok tertentu sebagai bentuk perlawanan terhadap Ameriksa Serikat.
Berikutnya adalah terorisme lokal yakni aksi teror yang ditujukan sebagai bentuk protes terhadap persoalan lokal, baik di tingkat negara maupun daerah.
Sementara itu, Habib Rizieq dalam paparannya menegaskan bahwa Islam bukan terorisme dan terorisme bukan Islam.
Oleh karenanya, FPI menolak tegas segala bentuk teror dari agama apapun.
Terkait kunjungan jurnalis AS ke ICIS, Hasyim berharap setelah pertemuan dan dialog tersebut media Amerika menulis dengan benar kondisi Islam di Indonesia yang sebenarnya.
"Selama ini mereka menerima informasi sepotong-sepotong soal kondisi Islam di Indonesia. Dengan bertemu dan berdialog begini, mereka menjadi tahu, bagaimana yang sebenarnya," kata mantan Ketua Umum PBNU itu.
Dalam pertemuan tersebut, para jurnalis Amerika bertanya langsung mengenai sikap para tokoh yang hadir tentang Islam dan terorisme yang terjadi di dunia, termasuk soal kematian Osama.
Sebelum dialog dimulai, para jurnalis dipertontonkan video profil Islam Indonesia dan gerakan ICIS dalam mengembangkan Islam yang "rahmatan lil alamin". [R/Ant]
Selasa, 10 Mei 2011
SPM dan PPT, Upaya Maksimal Tangani Kekerasan
Blora - Keberadaan Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Pusat Pelayanan Terpadu (PPT) bagi korban kekerasan perempuan - anak, sangatlah penting. Ini untuk memberikan kemudahan pelayanan secepat mungkin.
Hal tersebut mengemuka dalam diskusi jaringan penanganan kekerasan dan traficking di Kabupaten Blora yang digelar Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Keluarga Berencana (BPMD dan KB) di Gedung Korpri Jalan Gor Mustika, Selasa (10/5).
Diskusi tersebut difasilitasi Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Provinsi Jawa Tengah dan dihadiri berbagai unsur kelembagaan, yakni Polri, Kejaksaan, aktivis gender, serta organisasi sosial keagamaan lain.
Narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Sulistyarno (BP3AKB Jateng), Herlina (Dinas Sosial Jateng), Rofiqhoh (Dinas Kesehatan Jateng), Tri Putranti Novitasari.
(Yayasan Setara Semarang), dan Ninik Joemita (LBH APIK Semarang). Sulistyarno mengemukakan, SPM bertujuan agar perempuan dan anak korban kekerasan bisa mendapatkan layanan minimal yang dibutuhkan.
"Maksud adanya SPM adalah sebagai panduan bagi pemerintah dan pemerintah daerah dalam menyelenggarakan layanan terpadu bagi perempuan dan anak korban kekerasan," jelasnya.
Mengenai jenis-jenis pengaduan yang dilayani, yaitu penanganan pengaduan, pelayanan kesehatan, rehabilitasi sosial, penegakan dan bantuan hukum, serta pemulangan dan reintegrasi sosial.
"Bentuk - bentuk kekerasan dalam SPM adalah kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual, penelantaran, serta eksploitasi (traficking)," tambahnya.
Tri Putranti Novitasari mengutarakan, ada beberapa prinsip umum dalam model penanganan kasus kekerasan dan traficking. Prinsip umum itu antara lain demi kepentingan terbaik anak, tidak ada diskriminasi, penghargaan terhadap pendapat anak, adanya keadilan dan kesetaraan gender, serta terjaganya kerahasiaan korban.
"Selain prinsip umum ini, ada mekanisme kerjasama antarpihak yang terkait dalam seluruh tindakan pemberantasan perdagangan anak, yang meliputi upaya pencegahan, pemulihan dan reintegrasi sosial, perlindungan hukum, hingga peningkatan partisipasi masyarakat," tegasnya. [R/CN]
Hal tersebut mengemuka dalam diskusi jaringan penanganan kekerasan dan traficking di Kabupaten Blora yang digelar Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Keluarga Berencana (BPMD dan KB) di Gedung Korpri Jalan Gor Mustika, Selasa (10/5).
Diskusi tersebut difasilitasi Badan Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (BP3AKB) Provinsi Jawa Tengah dan dihadiri berbagai unsur kelembagaan, yakni Polri, Kejaksaan, aktivis gender, serta organisasi sosial keagamaan lain.
Narasumber dalam kegiatan tersebut adalah Sulistyarno (BP3AKB Jateng), Herlina (Dinas Sosial Jateng), Rofiqhoh (Dinas Kesehatan Jateng), Tri Putranti Novitasari.
(Yayasan Setara Semarang), dan Ninik Joemita (LBH APIK Semarang). Sulistyarno mengemukakan, SPM bertujuan agar perempuan dan anak korban kekerasan bisa mendapatkan layanan minimal yang dibutuhkan.
"Maksud adanya SPM adalah sebagai panduan bagi pemerintah dan pemerintah daerah dalam menyelenggarakan layanan terpadu bagi perempuan dan anak korban kekerasan," jelasnya.
Mengenai jenis-jenis pengaduan yang dilayani, yaitu penanganan pengaduan, pelayanan kesehatan, rehabilitasi sosial, penegakan dan bantuan hukum, serta pemulangan dan reintegrasi sosial.
"Bentuk - bentuk kekerasan dalam SPM adalah kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual, penelantaran, serta eksploitasi (traficking)," tambahnya.
Tri Putranti Novitasari mengutarakan, ada beberapa prinsip umum dalam model penanganan kasus kekerasan dan traficking. Prinsip umum itu antara lain demi kepentingan terbaik anak, tidak ada diskriminasi, penghargaan terhadap pendapat anak, adanya keadilan dan kesetaraan gender, serta terjaganya kerahasiaan korban.
"Selain prinsip umum ini, ada mekanisme kerjasama antarpihak yang terkait dalam seluruh tindakan pemberantasan perdagangan anak, yang meliputi upaya pencegahan, pemulihan dan reintegrasi sosial, perlindungan hukum, hingga peningkatan partisipasi masyarakat," tegasnya. [R/CN]
Kamis, 05 Mei 2011
Mayoritas Pekerja di Jakarta Lulusan SD
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan mayoritas pekerja di Indonesia adalah lulusan Sekolah Dasar (SD). Sedangkan pekerja lulusan perguruan tinggi justru paling rendah.
Kepala BPS Rusman Heriawan menyatakan penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja lulusan SD mencapai 55,12 juta orang pada Februari 2011, naik dari Agustus 2010 yang sebesa 54,51 juta orang. "SD ke bawah masih dominan 49,53%. Angkatan kerja ini juga akan tetap menguat karena umur harapan hidup orang," kata Rusman.
Menurutnya, ada kecenderungan setiap orang yang berumur 60 tahun tidak pensiun tetapi masih menjadi angkatan kerja. Hal ini, kata dia, bisa menjadi masalah karena akan ada perebutan lahan kerja antara orang tua dan orang muda. "Jaman dulu, lulusan SD bisa jadi direktur. Tapi sekarang sarjana yang punya ijazah saja susah cari kerja," kata Rusman.
Rusman memaparkan, angkatan kerja yang lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) mencapai 21,22 juta orang pada Februari 2011. Sedangkan Sekolah Menengah Atas (SMA) capai 16,35 juta orang, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 9,73 juta orang, Diploma I/II/III 3,32 juta orang, dan Universitas 5,54 juta orang.
Menurutnya, tingginya angka lulusan SD menciptakan perlombaan dalam bursa kerja. "Angkatan kerja sudah diprediksi, itu sudah pasti kalau ekonomi ngga bisa diimbangi ini jadi mimpi buruk buat kita, pengangguran," cetusnya.
Namun, Rusman menilai, tingkat pengangguran Indonesia masih bisa dikendalikan. Pasalnya, ekonomi Indonesia tumbuh cukup tinggi pada kuartal I/2011 yang mencapai 6,5%. "Itu suatu yang baik untuk bisa mengimbangi angkatan kerja," kata dia.
Pada Februari 2011, Rusman memaparkan, jumlah angkatan kerja mencapai 119,4 juta orang, atau bertambah sekitar 2,9 juta orang dibanding Agustus 2010. Adapun jumlah penduduk yang bekerja mencapai 111,3 juta orang atau bertambah 3,1 juta orang dibanding Agustus 2010.
"Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia pada Februari 2011 mencapai 6,8%, turun dibanding TPT agustus 2010 yang sebesar 7,14% dan TPT Februari 2010 sebesar 7,41%," jelasnya. [R/CN]
Kepala BPS Rusman Heriawan menyatakan penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja lulusan SD mencapai 55,12 juta orang pada Februari 2011, naik dari Agustus 2010 yang sebesa 54,51 juta orang. "SD ke bawah masih dominan 49,53%. Angkatan kerja ini juga akan tetap menguat karena umur harapan hidup orang," kata Rusman.
Menurutnya, ada kecenderungan setiap orang yang berumur 60 tahun tidak pensiun tetapi masih menjadi angkatan kerja. Hal ini, kata dia, bisa menjadi masalah karena akan ada perebutan lahan kerja antara orang tua dan orang muda. "Jaman dulu, lulusan SD bisa jadi direktur. Tapi sekarang sarjana yang punya ijazah saja susah cari kerja," kata Rusman.
Rusman memaparkan, angkatan kerja yang lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) mencapai 21,22 juta orang pada Februari 2011. Sedangkan Sekolah Menengah Atas (SMA) capai 16,35 juta orang, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 9,73 juta orang, Diploma I/II/III 3,32 juta orang, dan Universitas 5,54 juta orang.
Menurutnya, tingginya angka lulusan SD menciptakan perlombaan dalam bursa kerja. "Angkatan kerja sudah diprediksi, itu sudah pasti kalau ekonomi ngga bisa diimbangi ini jadi mimpi buruk buat kita, pengangguran," cetusnya.
Namun, Rusman menilai, tingkat pengangguran Indonesia masih bisa dikendalikan. Pasalnya, ekonomi Indonesia tumbuh cukup tinggi pada kuartal I/2011 yang mencapai 6,5%. "Itu suatu yang baik untuk bisa mengimbangi angkatan kerja," kata dia.
Pada Februari 2011, Rusman memaparkan, jumlah angkatan kerja mencapai 119,4 juta orang, atau bertambah sekitar 2,9 juta orang dibanding Agustus 2010. Adapun jumlah penduduk yang bekerja mencapai 111,3 juta orang atau bertambah 3,1 juta orang dibanding Agustus 2010.
"Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Indonesia pada Februari 2011 mencapai 6,8%, turun dibanding TPT agustus 2010 yang sebesar 7,14% dan TPT Februari 2010 sebesar 7,41%," jelasnya. [R/CN]
Rabu, 04 Mei 2011
Cegah NII, Pemprov Jatim Akan Buat Pergup
Surabaya - Pemerintah Provinsi Jawa Timur tengah berancang-ancang membuat aturan terkait pelarangan aktivitas Negara Islam Indonesia. Dasar pembuatan peraturan ini terkait maraknya kasus penculikan, pencucian otak, dan penipuan yang mengatasnamakan NII
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur Abdusshomad Buchor menuturkan, seperti halnya terhadap aktivitas Ahmadiyah, larangan ini tampaknya akan menggunakan instrumen peraturan gubernur (Pergub). "Kami, para Muspida sudah pernah sekali membahas soal NII ini. Tampaknya akan mengerucut pada pembahasan pelarangan," ungkapnya, Kamis (5/5).
Ditambahkan, dalam pertemuan tersebut, untuk saat ini pergub memang belum memungkinkan untuk langsung dibuat. Namun berkaca dari kasus Ahamdiyah, setidaknya membutuhkan beberapa kali pertemuan antara kalangan muspida untuk dapat menghasilkan Pergub.
Abdusshomad menuturkan, sebenarnya pelarangan NII bukan hal baru. Pasalnya pada 5 Oktober 2002, MUI sudah membuat rekomendasi soal hasil temuan NII dengan Pondok Pesantren Ma'had Al Zaytun (MAZ). Dalam rekomendasi tersebut, komisi fatwa MUI itu dengan jelas menegaskan bahwa NII sesat karena dianggap sudah melenceng dari Islam.
Misalnya saja, NII tidak mewajibkan anggotanya untuk salat lima waktu dan membayar zakat. Namun cukup mencari anggota baru dan melakukan penggalangan dana. [R/CN]
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur Abdusshomad Buchor menuturkan, seperti halnya terhadap aktivitas Ahmadiyah, larangan ini tampaknya akan menggunakan instrumen peraturan gubernur (Pergub). "Kami, para Muspida sudah pernah sekali membahas soal NII ini. Tampaknya akan mengerucut pada pembahasan pelarangan," ungkapnya, Kamis (5/5).
Ditambahkan, dalam pertemuan tersebut, untuk saat ini pergub memang belum memungkinkan untuk langsung dibuat. Namun berkaca dari kasus Ahamdiyah, setidaknya membutuhkan beberapa kali pertemuan antara kalangan muspida untuk dapat menghasilkan Pergub.
Abdusshomad menuturkan, sebenarnya pelarangan NII bukan hal baru. Pasalnya pada 5 Oktober 2002, MUI sudah membuat rekomendasi soal hasil temuan NII dengan Pondok Pesantren Ma'had Al Zaytun (MAZ). Dalam rekomendasi tersebut, komisi fatwa MUI itu dengan jelas menegaskan bahwa NII sesat karena dianggap sudah melenceng dari Islam.
Misalnya saja, NII tidak mewajibkan anggotanya untuk salat lima waktu dan membayar zakat. Namun cukup mencari anggota baru dan melakukan penggalangan dana. [R/CN]
3500 Banser Siaga Tanggulangi Bencana
Wonosobo - Sebanyak 3500 personel Banser siaga untuk menanggulangi berbagai bentuk bencana yang terjadi di Kabupaten Wonosobo. Kesiapan itu diwujudkan dengan dibentuknya Tim SAR yang bakal dilaunching Sabtu (2/5) lalu. Berbagai atraksi bakal memeriahkan ratusan pengunjung yang mengunjungi alun-alun Wonosobo.
Ketua Banser Wonosobo Amirudin mengatakan pihaknya bekerjasama dengan SAR Wonosobo dan Provinsi Jawa Tengah dalam melatih sedikitnya 150 personel dari 15 kecamatan. Pelatihan berbagai materi terkait dengan perangkat teoritis dan praktek bagi petugas SAR tersebut dilangsungkan di BLK Wonosobo selama empat hari dari (30/4-4/5) tahun ini.
“Nama SAR kami bernama SAR Kolodete. Itu tokoh legendaris Wonosobo yang diyakni mbahu rekso pegunungan Dieng,” kata Amir Kamis (29/4).
Selain di BLK, lanjut Amir, untuk praktik pelatihannya akan diadakan di tempat wisata Telaga Menjer, Kalianget dan sekitar sungai Serayu.Personel SAR Kolodete akan siaga 24 jam ketika terjadi bencana baik angin putting beliung, tanah longsor maupun kebakaran.
“Ini untuk mengoptimalkan sumberdaya manusia agar lebih professional melalui SAR. Karena itu kami menjalin kerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Pemkab Wonosobo,” tandas dia.
Terkait berbagai atraksi pasukan banser saat launching menurutnya antara lain atraksi kekebalan, peragaan tarung menggunakan senjata dan senapan. Juga berguling-guling diatas duri pohon salak.”Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid yang juga anggota DPRRI bakal menyambut acara tersebut,” papar dia.
Kepala SAT Korcab Banser Kabupaten Wonosobo Kurnianto menambahkan terkait isu radikalisme yang terus menghangat pihaknya menolak. Kurnianto memandang bahwa radikalisme yang mengatasnamakan agama dengan melakukan pembunuhan, pengeboman terhadap penegak hukum, pengrusakan tempat ibadah dan fasilitas umum tidak sesuai dasar negara Indonesia.“Kami menolak segala bentuk radikalisme ,” tegas Kurnianto. [R/Yudi]
Ketua Banser Wonosobo Amirudin mengatakan pihaknya bekerjasama dengan SAR Wonosobo dan Provinsi Jawa Tengah dalam melatih sedikitnya 150 personel dari 15 kecamatan. Pelatihan berbagai materi terkait dengan perangkat teoritis dan praktek bagi petugas SAR tersebut dilangsungkan di BLK Wonosobo selama empat hari dari (30/4-4/5) tahun ini.
“Nama SAR kami bernama SAR Kolodete. Itu tokoh legendaris Wonosobo yang diyakni mbahu rekso pegunungan Dieng,” kata Amir Kamis (29/4).
Selain di BLK, lanjut Amir, untuk praktik pelatihannya akan diadakan di tempat wisata Telaga Menjer, Kalianget dan sekitar sungai Serayu.Personel SAR Kolodete akan siaga 24 jam ketika terjadi bencana baik angin putting beliung, tanah longsor maupun kebakaran.
“Ini untuk mengoptimalkan sumberdaya manusia agar lebih professional melalui SAR. Karena itu kami menjalin kerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Pemkab Wonosobo,” tandas dia.
Terkait berbagai atraksi pasukan banser saat launching menurutnya antara lain atraksi kekebalan, peragaan tarung menggunakan senjata dan senapan. Juga berguling-guling diatas duri pohon salak.”Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid yang juga anggota DPRRI bakal menyambut acara tersebut,” papar dia.
Kepala SAT Korcab Banser Kabupaten Wonosobo Kurnianto menambahkan terkait isu radikalisme yang terus menghangat pihaknya menolak. Kurnianto memandang bahwa radikalisme yang mengatasnamakan agama dengan melakukan pembunuhan, pengeboman terhadap penegak hukum, pengrusakan tempat ibadah dan fasilitas umum tidak sesuai dasar negara Indonesia.“Kami menolak segala bentuk radikalisme ,” tegas Kurnianto. [R/Yudi]
Jangan Sampai Anak Pilih TV Sebagai Sahabat
Jakarta - KAMIS 28 April 2011, Departemen Susastra dan Pusat Penelitian Kajian Budaya (PPKB) Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia (FIB-UI), mengadakan seminar bertajuk ‘Anak dan Televisi’ di auditorium Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Depok.
Dimoderatori Sunu Wasono, staff pengajar FIB-UI, sesi pertama yang sangat singkat ini menghadirkan Riris K. Toha Sarumpaet (Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya & Pengajar Pengkajian Cerita Anak), Paulus Wirutomo (Sosiolog), dan Eko Handayani (Psikolog) sebagai pembicara.
Dalam materi seminarnya, Riris mengupas tayangan Opera van Java (OVJ) milik Trans 7 dan sinetron SCTV Islam KTP, yang setelah diteliti, ternyata berdampak negatif terhadap anak. OVJ dinilai banyak mengandung kekerasan, kata-kata kasar, serta menampilkan peristiwa tidak pantas seperti ngompol. Begitupun Islam KTP, yang memang ingin memberikan pendidikan agama dan moral, namun justru sang tokoh teladan di dalamnya sering mengeluarkan ejekan yang tidak pantas dicontoh anak-anak.
Menurutnya, kedua tayangan ini jelas bukan tontonan anak. Namun kenyataannya, kedua stasiun TV tetap menayangkan program tersebut saat anak-anak masih bisa menonton TV, yaitu pada pukul 20.00-22.00 untuk OVJ, dan pukul 18.00-21.30 untuk Islam KTP. “Jika kita bicara tentang tontonan anak, maka tontonan itu seharusnya mengasyikkan”, tutur Riris. Jika tayangan tersebut mengandung kekerasan, atau malah berisi terlalu banyak konflik manusia dewasa, tontonan itu tidak akan mengasyikkan bagi anak. Artinya, tayangan tersebut bukanlah tontonan untuk anak.
Lain lagi dengan Paulus Wirutomo yang bahasannya mengenai ‘Media dan Masyarakat Indonesia’. Paulus mengatakan bahwa terhadap teknologi yang terus berevolusi, masyarakat belum mampu berevolusi dari aspek sistem nilai, sikap, perilaku, pranata sosial, dan yang lainnya, sehingga masyarakat Indonesia, selain menjadi pemanfaat teknologi, juga turut menjadi korban teknologi tersebut.
“Bukan media yang sebenarnya menjajah kita, tetapi orang-orang di baliknya.,” ujar Paulus penuh semangat.
Sebagai pengakhir sesi, Eko Handayani hadir dengan paparannya, ‘Dampak Tayangan TV Terhadap Anak’. Ia mengatakan bahwa televisi merupakan salah satu jendela awal bagi anak untuk mengenal dunia. Sayangnya, tidak semua tayangan berdampak positif. Meski televisi membantu meningkatkan daya imajinasi anak sehingga anak bebas berkreasi, namun televisi juga dapat mengakibatkan berbagai gangguan, baik dari gangguan fisik dan kesehatan, hingga gangguan mental dan kognisi anak.
Tak lupa Eko juga memberikan beberapa tips kepada orangtua, seperti, (1) jangan menaruh TV di kamar anak, (2) melakukan pendampingan ketika menonton, (3) memilah dan memilih apa yang layak ditonton anak, serta (4) menambah lebih banyak alternatif kegiatan bagi anak selain menonton TV.
Satu tips yang menarik dan perlu diingat oleh orangtua adalah, jangan egois, karena anak meniru orangtuanya. Jika orangtua melarang anak menonton, namun ternyata orangtuanya menonton, itu sama saja memberi contoh buruk bagi anak. Di akhir materi, ia mengingatkan peserta seminar, terutama para orangtua, jangan sampai anak lebih memilih TV sebagai sahabat, ketimbang orangtuanya sendiri.
Sesi kedua yang dijadwalkan akan dibawakan oleh Arist Merdeka Sirait (ketua Komnas Perlindungan Anak) dan Titin Rosmasari (Pemimpin Redaksi Trans 7) mendadak berubah. Arist tidak dapat hadir, sehingga waktu diserahkan sepenuhnya kepada Titin sebagai pembicara tunggal.
Dalam hampir seluruh isi pembicaraannya, sayangnya Titin hanya berbicara mengenai program-program anak Trans 7 dan membandingkannya dengan program-program anak di stasiun TV lain.
“Masih ada yang tertarik untuk bekerja di stasiun televisi?” tanya Titin di akhir pembicaraannya. Menurutnya akan sangat baik jika banyak orang yang terjun langsung di industri pertelevisian, sebab hanya dengan cara itulah kita dapat membuat suatu perubahan. [R/Remotivi]
Dimoderatori Sunu Wasono, staff pengajar FIB-UI, sesi pertama yang sangat singkat ini menghadirkan Riris K. Toha Sarumpaet (Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya & Pengajar Pengkajian Cerita Anak), Paulus Wirutomo (Sosiolog), dan Eko Handayani (Psikolog) sebagai pembicara.
Dalam materi seminarnya, Riris mengupas tayangan Opera van Java (OVJ) milik Trans 7 dan sinetron SCTV Islam KTP, yang setelah diteliti, ternyata berdampak negatif terhadap anak. OVJ dinilai banyak mengandung kekerasan, kata-kata kasar, serta menampilkan peristiwa tidak pantas seperti ngompol. Begitupun Islam KTP, yang memang ingin memberikan pendidikan agama dan moral, namun justru sang tokoh teladan di dalamnya sering mengeluarkan ejekan yang tidak pantas dicontoh anak-anak.
Menurutnya, kedua tayangan ini jelas bukan tontonan anak. Namun kenyataannya, kedua stasiun TV tetap menayangkan program tersebut saat anak-anak masih bisa menonton TV, yaitu pada pukul 20.00-22.00 untuk OVJ, dan pukul 18.00-21.30 untuk Islam KTP. “Jika kita bicara tentang tontonan anak, maka tontonan itu seharusnya mengasyikkan”, tutur Riris. Jika tayangan tersebut mengandung kekerasan, atau malah berisi terlalu banyak konflik manusia dewasa, tontonan itu tidak akan mengasyikkan bagi anak. Artinya, tayangan tersebut bukanlah tontonan untuk anak.
Lain lagi dengan Paulus Wirutomo yang bahasannya mengenai ‘Media dan Masyarakat Indonesia’. Paulus mengatakan bahwa terhadap teknologi yang terus berevolusi, masyarakat belum mampu berevolusi dari aspek sistem nilai, sikap, perilaku, pranata sosial, dan yang lainnya, sehingga masyarakat Indonesia, selain menjadi pemanfaat teknologi, juga turut menjadi korban teknologi tersebut.
“Bukan media yang sebenarnya menjajah kita, tetapi orang-orang di baliknya.,” ujar Paulus penuh semangat.
Sebagai pengakhir sesi, Eko Handayani hadir dengan paparannya, ‘Dampak Tayangan TV Terhadap Anak’. Ia mengatakan bahwa televisi merupakan salah satu jendela awal bagi anak untuk mengenal dunia. Sayangnya, tidak semua tayangan berdampak positif. Meski televisi membantu meningkatkan daya imajinasi anak sehingga anak bebas berkreasi, namun televisi juga dapat mengakibatkan berbagai gangguan, baik dari gangguan fisik dan kesehatan, hingga gangguan mental dan kognisi anak.
Tak lupa Eko juga memberikan beberapa tips kepada orangtua, seperti, (1) jangan menaruh TV di kamar anak, (2) melakukan pendampingan ketika menonton, (3) memilah dan memilih apa yang layak ditonton anak, serta (4) menambah lebih banyak alternatif kegiatan bagi anak selain menonton TV.
Satu tips yang menarik dan perlu diingat oleh orangtua adalah, jangan egois, karena anak meniru orangtuanya. Jika orangtua melarang anak menonton, namun ternyata orangtuanya menonton, itu sama saja memberi contoh buruk bagi anak. Di akhir materi, ia mengingatkan peserta seminar, terutama para orangtua, jangan sampai anak lebih memilih TV sebagai sahabat, ketimbang orangtuanya sendiri.
Sesi kedua yang dijadwalkan akan dibawakan oleh Arist Merdeka Sirait (ketua Komnas Perlindungan Anak) dan Titin Rosmasari (Pemimpin Redaksi Trans 7) mendadak berubah. Arist tidak dapat hadir, sehingga waktu diserahkan sepenuhnya kepada Titin sebagai pembicara tunggal.
Dalam hampir seluruh isi pembicaraannya, sayangnya Titin hanya berbicara mengenai program-program anak Trans 7 dan membandingkannya dengan program-program anak di stasiun TV lain.
“Masih ada yang tertarik untuk bekerja di stasiun televisi?” tanya Titin di akhir pembicaraannya. Menurutnya akan sangat baik jika banyak orang yang terjun langsung di industri pertelevisian, sebab hanya dengan cara itulah kita dapat membuat suatu perubahan. [R/Remotivi]
Kudus Akan Pecahkan Rekor MURI
Kudus - Dalam rangka Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), Hari Tekhnologi dan Pencanangan Kudus Cyber City, Universitas Muria Kudus bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus akan memecahan rekor Museum Rekok Indonesia (MURI) melalui acara “Ngenet Sehat Bareng Kang Mus”.
Rekor berinternet secara serentak dalam satu waktu dan satu tempat ini akan dilaksanakan di Alun-alun Kota Kudus pada Minggu (8/5) mulai pukul 07.00 WIB. Pemecahan rekor akan melibatkan 2500 peserta. Acara akan dimeriahkan Music Live dan Freestyle. Khusus bagi peserta pengguna Motor Peserta Yamaha, mereka berkesempatan mendapat layanan service, ganti busi dan cuci motor gratis.
Selain itu, panitia penyelenggara juga menggelar IT Competition yang dikemas dalam rakaingan kegiatan di antaranya; Lomba Blog (SMP, SMA dan Guru) pada 4-5 Mei, Lomba Web Design (SMA) pada 4 Mei, Lomba SMS Gateway (Mahasiswa) pada 5 Mei, dan Workshop Blog dan Internet Sehat tanpa dipungut biaya pada 3 Mei.
Pada kegiatan lomba, pemenang akan mendapatkan penghargaan berupa uang, tropi dan handphone dari panitia. Pengumuman pemenang akan dilaksanakan pada 6 Mei. Hadiah akan diberikan pada saat pemecahan rekok MURI di Alun-alun Kota Kudus. Bagi masyarakat yang berminat dapat menghubungi panitia melalui Helmi (085 727 276 439), Rini (085 226 407 072) atau melalui website http://ngenetbareng.Kuduskab.go.id.
Selain Pemkab Kudus, acara terselenggara berkat kerja sama PT. Djarum, Yamaha dan PT Telkom Indonesia.[R/UMK]
Rekor berinternet secara serentak dalam satu waktu dan satu tempat ini akan dilaksanakan di Alun-alun Kota Kudus pada Minggu (8/5) mulai pukul 07.00 WIB. Pemecahan rekor akan melibatkan 2500 peserta. Acara akan dimeriahkan Music Live dan Freestyle. Khusus bagi peserta pengguna Motor Peserta Yamaha, mereka berkesempatan mendapat layanan service, ganti busi dan cuci motor gratis.
Selain itu, panitia penyelenggara juga menggelar IT Competition yang dikemas dalam rakaingan kegiatan di antaranya; Lomba Blog (SMP, SMA dan Guru) pada 4-5 Mei, Lomba Web Design (SMA) pada 4 Mei, Lomba SMS Gateway (Mahasiswa) pada 5 Mei, dan Workshop Blog dan Internet Sehat tanpa dipungut biaya pada 3 Mei.
Pada kegiatan lomba, pemenang akan mendapatkan penghargaan berupa uang, tropi dan handphone dari panitia. Pengumuman pemenang akan dilaksanakan pada 6 Mei. Hadiah akan diberikan pada saat pemecahan rekok MURI di Alun-alun Kota Kudus. Bagi masyarakat yang berminat dapat menghubungi panitia melalui Helmi (085 727 276 439), Rini (085 226 407 072) atau melalui website http://ngenetbareng.Kuduskab.go.id.
Selain Pemkab Kudus, acara terselenggara berkat kerja sama PT. Djarum, Yamaha dan PT Telkom Indonesia.[R/UMK]
Senin, 25 April 2011
Bupati Tandatangani MoU Peningkatan Pendidikan
Wonosobo - Bupati Wonosobo HA Kholiq Arif Msi menandatangani nota kesepakatan dalam Master Of Understanding (MoU) dengan Yayasan Surya Institut. Penandatangan kerjasama guna mengingkatkan mutu pendidikan Wonosobo itu dilaksanakan di pendapa bupati. Polisi PKB itu mengharapkan fokus kerja tersebut lebih dapat diorientasikan pada kepentingan umum.
“Pembangunan pendidikan secara individual ini harus bersinergi untuk kebersamaan dan menampung berbagai kepentingan,” kata Kholiq tegas Senin (25/4).
Menurut bupati dengan kerjasama itu mutu pendidikan di Wonosobo dapat benar-benar berdampak secara nyata. Dengan mengaplikasikan time schedule, sasaran yang jelas, cerdas dan cermat, lanjut dia, maka akan tetap sasaran.
Pembina Yayasan Surya Institut Prof Yohanes Surya Phd menjelaskan penandatangan nota kesepakatan itu yaitu terkati dengan penyelenggaraan pendidikan, pelatihan guru, siswa serta para pejabat di dewan pengawas pendidikan.
“Dengan strategi yang jitu kita yakin akan mampu meningkatkan pendidikan di Wonosobo,” tutur yayasan yang sudah malang melintang menjalin kerjasama dengan sejumlah pemerintah daerah di Indonesia dalam bidang pendidikan.
Dijelaskan Yohanes lebih jauh, lembaganya telah teruji dan mumpuni dalam peningkatan pendidikan baik dari jenjang pendidikan formal maupun non formal. “Kami yakin dengan menggunakan strategi dan metode yang jitu pendidikan di Wonosobo bakal meningkat signifikan,” pungkas Yohanes yang mengenakan kacamata itu. [R/Yudi]
“Pembangunan pendidikan secara individual ini harus bersinergi untuk kebersamaan dan menampung berbagai kepentingan,” kata Kholiq tegas Senin (25/4).
Menurut bupati dengan kerjasama itu mutu pendidikan di Wonosobo dapat benar-benar berdampak secara nyata. Dengan mengaplikasikan time schedule, sasaran yang jelas, cerdas dan cermat, lanjut dia, maka akan tetap sasaran.
Pembina Yayasan Surya Institut Prof Yohanes Surya Phd menjelaskan penandatangan nota kesepakatan itu yaitu terkati dengan penyelenggaraan pendidikan, pelatihan guru, siswa serta para pejabat di dewan pengawas pendidikan.
“Dengan strategi yang jitu kita yakin akan mampu meningkatkan pendidikan di Wonosobo,” tutur yayasan yang sudah malang melintang menjalin kerjasama dengan sejumlah pemerintah daerah di Indonesia dalam bidang pendidikan.
Dijelaskan Yohanes lebih jauh, lembaganya telah teruji dan mumpuni dalam peningkatan pendidikan baik dari jenjang pendidikan formal maupun non formal. “Kami yakin dengan menggunakan strategi dan metode yang jitu pendidikan di Wonosobo bakal meningkat signifikan,” pungkas Yohanes yang mengenakan kacamata itu. [R/Yudi]
Poppy: Budaya Menjaga Jati Diri Bangsa
Blora - Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Jawa Tengah (Jateng) Poppy S Dharsono mengingatkan agar masyarakat menjaga kearifan lokal dan warisan budaya bangsa. Karena dengan begitulah, jati diri bangsa akan terjaga dan tidak akan tercerabut dari akarnya.
Hal itu dikemukakannya dalam kesempatan kunjungannya di Desa Purwosari, Kecamatan Blora, Senin (25/4). ''Budaya lokal harus dipertahankan. Kalau tidak, perekat bangsa akan luntur dan masyarakat akan mudah terpecah belah,'' katanya di depan ratusan warga dan pelaku seni-budaya Blora.
Dia pun mengapresiasi niat luhur masyarakat Blora dalam rangka nguri-uri budayanya, seperti barongan dan tayub. ''Ini sangat penting dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),'' tegasnya.
Poppy S Dharsono hadir di Desa Purwosari sekitar pukul 11.00. Sebelumnya, ia berziarah ke makam RA Kartini di Bulu (Rembang). Sesampainya di Purwosari, alumnus Akademi Sinematografi di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) yang disertai beberapa staf, ini disambut oleh pentas barongan dari paguyuban seni barong Sardulo Suro Dilogo. ''Sekali lagi saya tegaskan, budaya bangsa harus kita jaga, agar jati diri kita berbangsa tidak tercerabut dari akarnya,'' tegasnya.
Pada reses di Blora, jadwal Poppy terhitung sangat padat. Minggu (24/4) malam, ia berdialog dengan tokoh agama dan masyarakat di Cepu, dilanjutkan ziarah ke makam RA Kartini Senin pagi, lalu ke Purwosari berdialog tentang budaya bersama pelaku seniman di sana, tepatnya di Sanggar Seni Krido Budoyo pimpinan Sogol Surawan. (Rosidi)
Hal itu dikemukakannya dalam kesempatan kunjungannya di Desa Purwosari, Kecamatan Blora, Senin (25/4). ''Budaya lokal harus dipertahankan. Kalau tidak, perekat bangsa akan luntur dan masyarakat akan mudah terpecah belah,'' katanya di depan ratusan warga dan pelaku seni-budaya Blora.
Dia pun mengapresiasi niat luhur masyarakat Blora dalam rangka nguri-uri budayanya, seperti barongan dan tayub. ''Ini sangat penting dalam rangka menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),'' tegasnya.
Poppy S Dharsono hadir di Desa Purwosari sekitar pukul 11.00. Sebelumnya, ia berziarah ke makam RA Kartini di Bulu (Rembang). Sesampainya di Purwosari, alumnus Akademi Sinematografi di Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (LPKJ) yang disertai beberapa staf, ini disambut oleh pentas barongan dari paguyuban seni barong Sardulo Suro Dilogo. ''Sekali lagi saya tegaskan, budaya bangsa harus kita jaga, agar jati diri kita berbangsa tidak tercerabut dari akarnya,'' tegasnya.
Pada reses di Blora, jadwal Poppy terhitung sangat padat. Minggu (24/4) malam, ia berdialog dengan tokoh agama dan masyarakat di Cepu, dilanjutkan ziarah ke makam RA Kartini Senin pagi, lalu ke Purwosari berdialog tentang budaya bersama pelaku seniman di sana, tepatnya di Sanggar Seni Krido Budoyo pimpinan Sogol Surawan. (Rosidi)
Langganan:
Postingan (Atom)









