Blora - Ratusan siswa SMAN 2 Blora Blora itu berjibaku dengan kuas dan cat minyak. Mereka menggoreskan kuas, dan 'memberi ruh' pada tembok pagar sekolah mereka. Dan, sejak dimulai sekitar pukul 08.00 hingga adzan dhuhur terdengar, hampir sempurna sudah pekerjaan mereka melukis tembok itu.
Keringat membasahi kulit. Namun ratusan siswa itu tak memedulikannya. Saling bantu, setiap kelompok seakan ingin menyuguhkan yang terbaik dalam 'mewarnai' tembok dengan aneka lukisan, yang mengusung tema 'Hutan Penyangga Kehidupan'.
Ya, itulah suasana lomba melukis di tembok pagar (mural) di SMAN 2 Blora. Sesekali, guru-guru menghampiri anak didiknya yang sibuk dengan kuas dan cat minyak itu. ''Lomba mural ini dalam rangka memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia,'' ujar Cicik Dian Pratywi, Ketua panitia.
Untuk peserta lomba, kata Cicik, adalah siswa kelas X dan XI. ''Setiap kelas paling tidak harus mengikutkan satu kelompok. Mengenai peralatan, ada sedikit subsidi dari sekolah, yaitu Rp 100.000 per kelompok.''
Lestarikan Lingkungan
Kegiatan yang digelar oleh SMAN 2 Blora itu, memiliki misi mengingatkan kepada masyarakat luas tentang lingkungan yang semakin kritis. ''Dengan ini kami mengajak kepada masyarakat untuk gemar menanam pohon dan tidak suka merusak hutan. Hutan adalag penyangga kehidupan,'' terang Cicik.
Rini Widiastuti, guru mata pelajaran pendidikan lingkungan mengutarakan, kegiatan dalam rangka memperingati hari lingkungan hidup yang digelar, adalah untuk mempraktekkan apa yang telah anak-anak terima di kelas.
''Selain lomba melukis mural, anak-anak bersama guru juga melakukan penanaman pohon di sekitar sekolah,'' ujarnya. ''Sebelumnya, setiap siswa juga diberi tugas melukis di atas dengan tema persis seperti lomba mural,'' lanjutnya.
Berbagai lukisan yang menggambarkan pohon dan lingkungan yang rusan dengan media cat di atas kertas itu jumlahnya mencapai 203 buah. Lukisan-lukisan itu dipamerkan di Joglo Padma Widya.
Berbagai pesan pelestarian lingkungan tertuang dalam lukisan-lukisan itu. Seperti, merdeka hidupku karena hutan, hutan sumber kehidupan, selamatkan bumi dari kerusakan, stop global warming, dan biarkan aku hidup untuk hidupmu.
Kegiatan yang diselenggarakan para siswa SMAN 2 itupun menarik Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Blora Ratnani Widowati untuk datang. Ia menghadiri acara tersebut didampingi oleh M Afandi, ketua panitia peringatan hari lingkungan hidup sedunia untuk tingkat kabupaten.
''Sebelum pamit, Ibu Ratnanti sempat menorehkan kesan terkait penyelenggaraan peringatan hari lingkungan oleh SMAN 2 Blora. Kepala BLH itu meminta agar kegiatan ini bisa diselenggarakan di tahun-tahun mendatang,'' jelas Rini. [R]
Pengunjung
Tampilkan postingan dengan label Jeda. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jeda. Tampilkan semua postingan
Kamis, 16 Juni 2011
Rabu, 11 Mei 2011
25 Tahun Bertapa dengan Berselimut Sarung
Sudah 20 tahun silam mbah Fanani bertapa di Desa Dieng Kulon. Itu ia lakukan setelah 5 tahun mendiamkan diri duduk di Desa Tieng Kecamatan Kejajar. Ditepi jalan setelah pertigaan arah tempat wisata Dieng itu ia duduk didalam bangunan kecil dengan panjang 1,5 meter dan lebar setengah meter. Tiap pagi, siang dan sore ada yang memberi jatah makan.
Rambut lelaki dengan wajah putih bersih itu gimbal. Bagian depan rambut menutupi wajahnya yang tampan. Sorot matanya bening memandang penuh tenang. Hidung lelaki berkumis tebal itu memang mancung. Ia hanya berselimut sarung dan duduk diantara dua drum. Itu sebagai penyangga kayu penahan layar rangkap dua dengan pintu dari plastik tempat ia bertapa.
Dibagian belakang gubug kecil itu dipasang triplek. Setiap kali layar atap itu mulai menua dan lusuh maka akan diganti oleh pak Sugiyono yang kebetulan rumahnya persis di depan tempat mbah Fanani bertapa. Ketika wartawan koran ini mencoba membuka pintu plastik tempanya bertapa dan menyapanya dengan salam ia diam seribu bahasa.
“Assalamualaikum, mbah,” kata wartawan koran ini kepadanya Minggu (9/5). Ia hanya diam saja. Mata memandang kebawah lalu ia hanya melumatkan bibirnya.
Dalam suasana penuh tanda tanya itu angin dingin yang berhembus bersahut kencang dengan raungan bunyi mesin-mesin dipinggir jalan tak ku hiraukan. Tampak dibawah pintu itu dua gelas bekas minuman air putih dan teh serta dua mangkok bekas bakso dan mie. Didalam ruangan tersebut terlihat pengab. Namun kondisi tersebut tak dihiraukan oleh mbah Fanani. Meski tampak lusuh ada aura positif yang terpancar dari badannya. Ia hanya melumatkan kedua bibirnya yang tampak merah.
Setelah beberapakali berhasil mengambil gambar beliau dengan ijin beberapakali dengan berbahasa Indonesia akhirnya saya putuskan untuk menutup kembali pintu tempatnya bertapa.
Menurut pak Ono bahwa mbah Fanani bertapa di tepi jalan kawasan RT 1 RW 1 depan musala Al-Amin itu sudah 20 tahun. Setiap pagi ia mengaku memberinya makan mie goreng dan malam harinya kadang ada juga diberi nasi goreng lengkap dengan minum teh hangat dan air putih.
“Barusan saya ganti layar atap tempatnya bertapa. Ia tidak mau diberi pakaian bagus dan sandal jepit. Tiap bulan sekali keluarganya dari Kuningan Jawa Barat selalu menengok perkembangan dia,” katanya.
Lain halnya dengan penturan Susliono. Lelaki berusia 35 tahun yang berjualan bakso dekat tempat mbah Fanani bertapa tersebut mengaku tiap siang selalu memberikan bakso. Ia menyadari tak tahu kapan mbah Fanani keluar dari tempat tersebut untuk sekedar buang air besar dan air kencing. Itu terjadi bagi semua warga Wonosobo yang dulu pernah memenangi saat dia bertapa di Desa Tieng Kecamatan Kejajar.
“Ia tapa bisu.Saya hanya ingin berbagi dengan sesama dan Alhamdulillah rejeki lancar,” kata warga Garung Wonosobo yang bolak-balik tiap hari untuk berjualan bakso tersebut.
Meski terjadi hujan deras dan panas, lanjut dia, mbah Fanani tak pernah beranjak dari duduknya. Ia tetap diam di dalam bangunan kecil di pinggir jalan tersebut. Keadaaan lelaki yang tak pernah diketahui pernah mandi di Desa tersebut tak pernah membuat masyarakat merasa terganggu. Sebaliknya masyarakat sepertinya sudah terbiasa dengan sikap aneh yang muncul dari dalam diri mbah Fanani.
“Jika sewaktu-waktu keluar diberi bakso tangannya juga mau menerima meski dia bergerak dari tempat satu dengan yang lain dengan merangkak. Alhamdulillah bakso saya selalu habis,” ujarnya.
Susliono mengaku pernah diajak berbicara dengan mbah Fanani dalam bahasa Indonesia. Suatu malam mbah Fanani mengaku pernah diusir oleh seorang putri agar pergi dari tempat tersebut.”Akibatnya ia merangkak cepat sekitar 500 meter sampai pos polisi di Desa Dieng Kulon ini,” paparnya.
Kejadian lain, lanjut dia, banyak orang dari Kudus, Banjarnegara yang berbondong-bondong ke tempat pertapaan mbah Fanani. Mereka membawa beberapa botol air mineral.”Botol air itu diletakkan ditempat mbah Fanani bertapa, setelah seperempat jam dengan doa penuh keyakinan mereka lalu meninggalkan tempat mbah Fanani,” paparnya.
Ketika keluarga warga Kuningan ini bertandang ke tempat ia bertapa menggunakan mobil mbah Fanani juga tak mau diajak berbicara. Kendati ditawari untuk berganti pakaian ia tetap menolak mengenekannya.”Mbah Fanani sepertinya lebih nyaman hidup tanpa mengenakan pakaian bagus. Ia bilang bahwa laku yang ia perbuat itu karena dulu kakekknya pernah bertapa selama tiga tahun di kawah Sikidang dan Sumur Jolotundo objek wisata Dieng wilayah Kabupaten Wonosobo,” tandasnya.
Dari informasi yang dihimpun dan berhembus luas di tengah masyarakat Wonosobo lelaki misterius yang diduga memiliki nilai mistis ini memiliki pandangan tersendiri dengan dataran tinggi Wonosobo. Sebagaimana tertera dalam ramalam Jayabaya wilayah Kedulangmas (Kedu, Magelang dan Banyumas) nantinya akan ditutupi dengan banjir bandang. Karena itu mbah Fanani memiliki pandangan bahwa dia tidak akan kembali ke tanah kelahirannya sebelum kejadian tersebut terjadi di wilayah Wonosobo.
“Mbah Fanani berkata dia akan kembali ke rumahnya di Kunginan Jawa Barat dengan naik perahu,” kata Budiyanto warga Wonosobo.
Atas dasar pemahaman itulah lelaki yang disebut-sebut sebagai manusia aneh dan langka di zaman modern saat ini terus duduk diam di dataran tinggi Dieng.
Meski sebagian besar masyarakat dilokasi tersebut mengenakan kaos kaki dan kaos tangan serta baju serta celana panjang namun mbah Fanani memilih telanjang dada. Hanya kain sarung saja yang menempel dibagian tubuhnya. Ia merasa damai dengan kondisi tersebut lantaran memiliki pandangan lain pada umumnya yang terjadi atas berbagai konstruksi agama, budaya dan keyakinan yang terjadi ditengah masyarakat umum. [R/Yudi]
Rambut lelaki dengan wajah putih bersih itu gimbal. Bagian depan rambut menutupi wajahnya yang tampan. Sorot matanya bening memandang penuh tenang. Hidung lelaki berkumis tebal itu memang mancung. Ia hanya berselimut sarung dan duduk diantara dua drum. Itu sebagai penyangga kayu penahan layar rangkap dua dengan pintu dari plastik tempat ia bertapa.
Dibagian belakang gubug kecil itu dipasang triplek. Setiap kali layar atap itu mulai menua dan lusuh maka akan diganti oleh pak Sugiyono yang kebetulan rumahnya persis di depan tempat mbah Fanani bertapa. Ketika wartawan koran ini mencoba membuka pintu plastik tempanya bertapa dan menyapanya dengan salam ia diam seribu bahasa.
“Assalamualaikum, mbah,” kata wartawan koran ini kepadanya Minggu (9/5). Ia hanya diam saja. Mata memandang kebawah lalu ia hanya melumatkan bibirnya.
Dalam suasana penuh tanda tanya itu angin dingin yang berhembus bersahut kencang dengan raungan bunyi mesin-mesin dipinggir jalan tak ku hiraukan. Tampak dibawah pintu itu dua gelas bekas minuman air putih dan teh serta dua mangkok bekas bakso dan mie. Didalam ruangan tersebut terlihat pengab. Namun kondisi tersebut tak dihiraukan oleh mbah Fanani. Meski tampak lusuh ada aura positif yang terpancar dari badannya. Ia hanya melumatkan kedua bibirnya yang tampak merah.
Setelah beberapakali berhasil mengambil gambar beliau dengan ijin beberapakali dengan berbahasa Indonesia akhirnya saya putuskan untuk menutup kembali pintu tempatnya bertapa.
Menurut pak Ono bahwa mbah Fanani bertapa di tepi jalan kawasan RT 1 RW 1 depan musala Al-Amin itu sudah 20 tahun. Setiap pagi ia mengaku memberinya makan mie goreng dan malam harinya kadang ada juga diberi nasi goreng lengkap dengan minum teh hangat dan air putih.
“Barusan saya ganti layar atap tempatnya bertapa. Ia tidak mau diberi pakaian bagus dan sandal jepit. Tiap bulan sekali keluarganya dari Kuningan Jawa Barat selalu menengok perkembangan dia,” katanya.
Lain halnya dengan penturan Susliono. Lelaki berusia 35 tahun yang berjualan bakso dekat tempat mbah Fanani bertapa tersebut mengaku tiap siang selalu memberikan bakso. Ia menyadari tak tahu kapan mbah Fanani keluar dari tempat tersebut untuk sekedar buang air besar dan air kencing. Itu terjadi bagi semua warga Wonosobo yang dulu pernah memenangi saat dia bertapa di Desa Tieng Kecamatan Kejajar.
“Ia tapa bisu.Saya hanya ingin berbagi dengan sesama dan Alhamdulillah rejeki lancar,” kata warga Garung Wonosobo yang bolak-balik tiap hari untuk berjualan bakso tersebut.
Meski terjadi hujan deras dan panas, lanjut dia, mbah Fanani tak pernah beranjak dari duduknya. Ia tetap diam di dalam bangunan kecil di pinggir jalan tersebut. Keadaaan lelaki yang tak pernah diketahui pernah mandi di Desa tersebut tak pernah membuat masyarakat merasa terganggu. Sebaliknya masyarakat sepertinya sudah terbiasa dengan sikap aneh yang muncul dari dalam diri mbah Fanani.
“Jika sewaktu-waktu keluar diberi bakso tangannya juga mau menerima meski dia bergerak dari tempat satu dengan yang lain dengan merangkak. Alhamdulillah bakso saya selalu habis,” ujarnya.
Susliono mengaku pernah diajak berbicara dengan mbah Fanani dalam bahasa Indonesia. Suatu malam mbah Fanani mengaku pernah diusir oleh seorang putri agar pergi dari tempat tersebut.”Akibatnya ia merangkak cepat sekitar 500 meter sampai pos polisi di Desa Dieng Kulon ini,” paparnya.
Kejadian lain, lanjut dia, banyak orang dari Kudus, Banjarnegara yang berbondong-bondong ke tempat pertapaan mbah Fanani. Mereka membawa beberapa botol air mineral.”Botol air itu diletakkan ditempat mbah Fanani bertapa, setelah seperempat jam dengan doa penuh keyakinan mereka lalu meninggalkan tempat mbah Fanani,” paparnya.
Ketika keluarga warga Kuningan ini bertandang ke tempat ia bertapa menggunakan mobil mbah Fanani juga tak mau diajak berbicara. Kendati ditawari untuk berganti pakaian ia tetap menolak mengenekannya.”Mbah Fanani sepertinya lebih nyaman hidup tanpa mengenakan pakaian bagus. Ia bilang bahwa laku yang ia perbuat itu karena dulu kakekknya pernah bertapa selama tiga tahun di kawah Sikidang dan Sumur Jolotundo objek wisata Dieng wilayah Kabupaten Wonosobo,” tandasnya.
Dari informasi yang dihimpun dan berhembus luas di tengah masyarakat Wonosobo lelaki misterius yang diduga memiliki nilai mistis ini memiliki pandangan tersendiri dengan dataran tinggi Wonosobo. Sebagaimana tertera dalam ramalam Jayabaya wilayah Kedulangmas (Kedu, Magelang dan Banyumas) nantinya akan ditutupi dengan banjir bandang. Karena itu mbah Fanani memiliki pandangan bahwa dia tidak akan kembali ke tanah kelahirannya sebelum kejadian tersebut terjadi di wilayah Wonosobo.
“Mbah Fanani berkata dia akan kembali ke rumahnya di Kunginan Jawa Barat dengan naik perahu,” kata Budiyanto warga Wonosobo.
Atas dasar pemahaman itulah lelaki yang disebut-sebut sebagai manusia aneh dan langka di zaman modern saat ini terus duduk diam di dataran tinggi Dieng.
Meski sebagian besar masyarakat dilokasi tersebut mengenakan kaos kaki dan kaos tangan serta baju serta celana panjang namun mbah Fanani memilih telanjang dada. Hanya kain sarung saja yang menempel dibagian tubuhnya. Ia merasa damai dengan kondisi tersebut lantaran memiliki pandangan lain pada umumnya yang terjadi atas berbagai konstruksi agama, budaya dan keyakinan yang terjadi ditengah masyarakat umum. [R/Yudi]
Kamis, 05 Mei 2011
Gamelan Kiai Mega Mendung Sejak Abad 18
Kyai Mega Mendung memang berbeda dengan gamelan-gamelan lain di wilayah Jateng. Bisa jadi gamelan ini usianya tertua, sebab dibuat sejak abad ke-18. Kondisi alat musik tradisional pengiring kesenian kethoprak, karawitan, dan wayang berbahan kuningan ini masih sangat bagus. Konon gamelan ini dibuat oleh perajin dari Kabupaten Pemalang.
Wonosobo - Komposisi musik dari bonang, sitar, selenthem, kendang, kenong, kethuk, rebab, saron, peking dan gemung itu mengalun dengan merdu. Tak ketingalan selenthem, gender, gambang, boning penerus, dan siter pun menyusul bersama gong genjur. Bunyi karawitan dengan lagu-lagu langgam jawa di hotel Kresna itu dimainkan perawit dari Kelurahan Jaraksari, Kecamatan Wonosobo.
Menurut Sigit Hendra Setiawan Fron Office Hotel Kresna musik itu dimainkan pada jam 19.00 WIB hingga Rp 21.00 WIB. Suaranya untuk menjamu para turis asing yang berasal dari Belanda, Perancis dan negara luar negeri lain yang menginap di hotel yang bangunannya masuk cagar budaya tersebut.
“Para turis sangat menikmati sekali alunan musik langgam Jawa yang muncul dari komposisi gamelan. Bahkan ada satu karyawan Hotel Kresna yang kesurupan jika alat musik itu dimainkan.Untuk menghindari hal tersebut jika ada perawit main musik dia tidak berangkat,” kata Sigit sambil menunjukkan alat musik gamelan yang usianya tertua di Wonosobo Rabu (4/5).
Dijelaskan Sigit, gamelan itu dinamakan Kyai Mego Mendung yakni dengan maksud memanggil hujan. Dulu ketika si empu membuatnya kemungkinan di daerah pesisir pantai laut utara Kabupaten Pemalang sedang dilanda kemarau panjang. Tak heran jika gamelan tersebut dinamakan Kyai Mego Mendung.
“Sertifikasinya ada di kantor hotel Kresna pusat di Jakarta,” jelas dia.
Kondisi alat tersebut, lanjut dia, masih asli. Hanya sejumlah kenong yang diganti satu abad yang lalu. Meski diganti namun kualitas suara kenongnya masih sangat bagus karena memesannya disalah satu perajin gamelan wilayah DI Jogjakarta.
”Alat masih seperti saat kali pertama dibuat si empunya. Hanya kayu penyangga alat mengalami pembaharuan agar tetap bisa dipajang dan digunakan,” paparnya.
Dari berita yang berhembus pak Suripto yang akrab disapa Tipto adalah seniman tradisional Jawa yang populer di Wonosobo. Ia bukan hanya merawat seperangkat gamelan bernama Kyai Mego Mendung saja melainkan gamelan yang berada di pendapa bupati.
“Kita sih ngikut saja apa yang dilakukan pak Ripto. Tiap malam Jumat kliwon pasti dia memberi sesajen dengan menyalakan menyan dan ubo rampe sajen lain di sekitar gamelan tersebut,” ujarnya kepada koran ini.
Terkait dengan riwayatnya hotel Kresna memang memiliki mata rantai sejarah dengan Kabupaten Wonosobo ini. Pada zaman dulu menjadi tempat penginapan para pelancong yang pergi di Wonosobo. Hingga kini bangunan tersebut masih utuh dikelilingi dengan pajangan barang-barang antik dan beberapa lukisan yang menceritakan identitas kekhasan budaya lokal asli Wonosobo.
“Saya tidak tahu namun kemungkinan gamelan ini tertua di pulau Jawa. Sebab dulu konon ada salah satu Musium di Jogjakarta yang sempat mendaftar alat musik ini sebagai peninggalan sejarah. Namun lantaran sudah terdaftar sertifikatnya oleh pemilik hotel Krisna akhrinya tidak jadi,” tandasnya.
Manajer hotel Krisna Marah menambahkan suara bunyi karawitan yang disajikan tiap ada tamu yang berkunjung mampu memantik turis asing. Para turis tersebut dengan senang hati memainkan alat musik yang dinilainya religius tersebut. Sebab tiap bunyi yang hadi di ruang yang megah dan istimewa itu gaungnya bisa membuat orang merinding.
“Saya nggak tahu unsur mistisnya. Namun ada mitos semacam itu saat orang asli Wonosobo menyaksikan gamelan itu. Bahkan karena dinilai memiliki mitos maka sampai sekarang kondisinya masih sangat bagus,” imbuh pria asal Jakarta yang bermukim di perumahan Mutiara Persada tersebut.
Kendati mengakar kuat tetapi bapak dua anak itu menilai masih sebatas wajar-wajar saja. Sebab keberadaan seperangkat gamelan bernama kyai mego mendung tersebut disajikan sebagai salah satu kekayaan budaya Jawa agar dikenal para turis asing saat berpariwisata di Wonosobo.
“Ini semacam menu andalan kami selain berbagai fasilitas lain yang kami sajikan. Tiap ada rombongan turis satu hingga lima bus pasti dimainkan oleh personel kelompok karawitan dari Kelurahan Jaraksari,” pungkasnya. [R/Yudi]
Wonosobo - Komposisi musik dari bonang, sitar, selenthem, kendang, kenong, kethuk, rebab, saron, peking dan gemung itu mengalun dengan merdu. Tak ketingalan selenthem, gender, gambang, boning penerus, dan siter pun menyusul bersama gong genjur. Bunyi karawitan dengan lagu-lagu langgam jawa di hotel Kresna itu dimainkan perawit dari Kelurahan Jaraksari, Kecamatan Wonosobo.
Menurut Sigit Hendra Setiawan Fron Office Hotel Kresna musik itu dimainkan pada jam 19.00 WIB hingga Rp 21.00 WIB. Suaranya untuk menjamu para turis asing yang berasal dari Belanda, Perancis dan negara luar negeri lain yang menginap di hotel yang bangunannya masuk cagar budaya tersebut.
“Para turis sangat menikmati sekali alunan musik langgam Jawa yang muncul dari komposisi gamelan. Bahkan ada satu karyawan Hotel Kresna yang kesurupan jika alat musik itu dimainkan.Untuk menghindari hal tersebut jika ada perawit main musik dia tidak berangkat,” kata Sigit sambil menunjukkan alat musik gamelan yang usianya tertua di Wonosobo Rabu (4/5).
Dijelaskan Sigit, gamelan itu dinamakan Kyai Mego Mendung yakni dengan maksud memanggil hujan. Dulu ketika si empu membuatnya kemungkinan di daerah pesisir pantai laut utara Kabupaten Pemalang sedang dilanda kemarau panjang. Tak heran jika gamelan tersebut dinamakan Kyai Mego Mendung.
“Sertifikasinya ada di kantor hotel Kresna pusat di Jakarta,” jelas dia.
Kondisi alat tersebut, lanjut dia, masih asli. Hanya sejumlah kenong yang diganti satu abad yang lalu. Meski diganti namun kualitas suara kenongnya masih sangat bagus karena memesannya disalah satu perajin gamelan wilayah DI Jogjakarta.
”Alat masih seperti saat kali pertama dibuat si empunya. Hanya kayu penyangga alat mengalami pembaharuan agar tetap bisa dipajang dan digunakan,” paparnya.
Dari berita yang berhembus pak Suripto yang akrab disapa Tipto adalah seniman tradisional Jawa yang populer di Wonosobo. Ia bukan hanya merawat seperangkat gamelan bernama Kyai Mego Mendung saja melainkan gamelan yang berada di pendapa bupati.
“Kita sih ngikut saja apa yang dilakukan pak Ripto. Tiap malam Jumat kliwon pasti dia memberi sesajen dengan menyalakan menyan dan ubo rampe sajen lain di sekitar gamelan tersebut,” ujarnya kepada koran ini.
Terkait dengan riwayatnya hotel Kresna memang memiliki mata rantai sejarah dengan Kabupaten Wonosobo ini. Pada zaman dulu menjadi tempat penginapan para pelancong yang pergi di Wonosobo. Hingga kini bangunan tersebut masih utuh dikelilingi dengan pajangan barang-barang antik dan beberapa lukisan yang menceritakan identitas kekhasan budaya lokal asli Wonosobo.
“Saya tidak tahu namun kemungkinan gamelan ini tertua di pulau Jawa. Sebab dulu konon ada salah satu Musium di Jogjakarta yang sempat mendaftar alat musik ini sebagai peninggalan sejarah. Namun lantaran sudah terdaftar sertifikatnya oleh pemilik hotel Krisna akhrinya tidak jadi,” tandasnya.
Manajer hotel Krisna Marah menambahkan suara bunyi karawitan yang disajikan tiap ada tamu yang berkunjung mampu memantik turis asing. Para turis tersebut dengan senang hati memainkan alat musik yang dinilainya religius tersebut. Sebab tiap bunyi yang hadi di ruang yang megah dan istimewa itu gaungnya bisa membuat orang merinding.
“Saya nggak tahu unsur mistisnya. Namun ada mitos semacam itu saat orang asli Wonosobo menyaksikan gamelan itu. Bahkan karena dinilai memiliki mitos maka sampai sekarang kondisinya masih sangat bagus,” imbuh pria asal Jakarta yang bermukim di perumahan Mutiara Persada tersebut.
Kendati mengakar kuat tetapi bapak dua anak itu menilai masih sebatas wajar-wajar saja. Sebab keberadaan seperangkat gamelan bernama kyai mego mendung tersebut disajikan sebagai salah satu kekayaan budaya Jawa agar dikenal para turis asing saat berpariwisata di Wonosobo.
“Ini semacam menu andalan kami selain berbagai fasilitas lain yang kami sajikan. Tiap ada rombongan turis satu hingga lima bus pasti dimainkan oleh personel kelompok karawitan dari Kelurahan Jaraksari,” pungkasnya. [R/Yudi]
Rabu, 27 April 2011
Wayang Tak Biasa dari 'Kampung Sebelah'
''Indonesia itu bagus. Tetapi kalau negaranya jelek, itu karena penyelenggara negaranya. Pancasila juga bagus. Cuma, penyelenggara negara saja yang saat ini tidak lagi setia pancasila, sehingga kelihatan tidak bagus.''
Jlitheng Suparman. Dalang 'Wayang Kampung Sebelah' dari Solo inilah yang melontarkan berbagai kritikan atas berbagai realitas yang mengidap para elit negeri ini, dalam sebuah pementasan berjudul ''Yang atas mengganas, yang bawah beringas'' di halaman pusat penjualan produksi kriya di Jepon, Blora, Senin (25/4) malam.
Wayang yang tak biasa. Keluar dari pakem. Namun karena tidak biasa itulah, sehingga membuat rasa penasaran masyarakat sekitar untuk tidak beranjak, sejak dimulainya pementasan pada pukul 21.00 hingga menjelang pukul 24.00.
Narasi yang menggelitik disertai joke-joke segar yang sesuai dengan konteks kekinian, juga membuat penonton seringkali tak kuasa menahan tawa. Atau paling tidak, menyunggingkan senyum karena kepiawaian dan kejenakaan sang dalang memainkan memainkan wayang-wayangnya.
Penonton, misalnya, tak harus menahan diri untuk tertawa saat menyaksikan 'adegan' show dengan lakon oma ora mari-mari, raja dangdut di alam wayang kampung sebelah. Wayang itu menampilkan juga sosok dengan membawa gitar, mirip dengan Rhoma Irama. Atau saat giliran selanjutnya, Jlintheng menampilkan sosok mirip 'si Ratu Ngebor' Inul Daratista.
Lagi-lagi, gelak tawa tak dapat ditahan dari ratusan penonton yang hadir. Apalagi pementasan wayang tersebut, disertai pengiring musik yang begitu memesona. Luluk (drum), Yayat (Jimbe), Kukuh (kendang), Diaz (bass), Max Baihaqi (gitar), Gendot (saxofon), Sartono (flute), serta Narwanto dan Babahe (tonnik). Pada vokal, ada Cahwati dan Dwi Jaya.
Pemberi Penerang
Bimo Listiono, pengamat budaya dari Komunitas Pasang Surut, mengatakan, wayang pada zaman dulu merupakan media dakwah untuk memberikan penerangan pada ummat. ''Ini wayang kreasi yang sangat bagus. Orang yang melihat langsung bisa mencermati pesan yang ingin disampaikan.''
Itu yang menurutnya menjadi pembeda dengan wayang purwa yang biasa dimainkan para dalang pada umumnya. ''Ini kreasi wayang zaman modern yang sangat bagus. Tidak banyak cing cong. Penonton juga langsung paham. Ini yang dinamakan roso jati atau j ati roso,'' ujarnya.
Didik Lukardono, penonton yang juga pecinta seni mengatakan, menyampaikan pesan moral kepada masyarakat umum melalui media seperti kreasi wayang kampung sebelah, ini sangat tepat. ''Kritik sosialnya tinggi, dan sesuai dengan kehidupan sosial sehari-hari,'' paparnya. ''Wayang kampung sebelah sangat bagus mengemas kritik-kritiknya,'' lanjutnya.
Sedang Jlitheng Suparman, sang dalang, ditemui Suara Merdeka usai pementasan menjelaskan, dalam setiap pagelarannya, memang selalu mengingatkan penonton akan empat pilar kebangsaan yang kini dilupakan. Yaitu Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tungga Ika.
''Indonesia berdiri berdasarkan komitmen ini. Kalau lupa dengan komitmen yang telah dibuat, berarti telah lupa kepada aturan main yang telah dibuat,'' katanya.
Sementara mengenai tema ''Yang atas mengganas, yang bawah beringas'' yang diangkat, ia mengutarakan terinspirasi dari sebuah peristiwa di sebuah kabupaten. Di mana suatu ketika masyarakat mau mengadukan masalah ke DPRD, namun gedung dalam keadaan kosong, sehingga berbuntut pada tindak anarkisme dan perusakan gedung.
''Ini yang menjadi inspirasi kami. Pesan yang ingin kami sampaikan adalah, boleh melakukan kritik, tetapi jangan sampai merusak, karena yang rugi nantinya juga masyarakat sendiri. Mengkritik boleh, tapi jangan merusak fasilitas umum,'' tegasnya. [Rosidi]
Jlitheng Suparman. Dalang 'Wayang Kampung Sebelah' dari Solo inilah yang melontarkan berbagai kritikan atas berbagai realitas yang mengidap para elit negeri ini, dalam sebuah pementasan berjudul ''Yang atas mengganas, yang bawah beringas'' di halaman pusat penjualan produksi kriya di Jepon, Blora, Senin (25/4) malam.
Wayang yang tak biasa. Keluar dari pakem. Namun karena tidak biasa itulah, sehingga membuat rasa penasaran masyarakat sekitar untuk tidak beranjak, sejak dimulainya pementasan pada pukul 21.00 hingga menjelang pukul 24.00.
Narasi yang menggelitik disertai joke-joke segar yang sesuai dengan konteks kekinian, juga membuat penonton seringkali tak kuasa menahan tawa. Atau paling tidak, menyunggingkan senyum karena kepiawaian dan kejenakaan sang dalang memainkan memainkan wayang-wayangnya.
Penonton, misalnya, tak harus menahan diri untuk tertawa saat menyaksikan 'adegan' show dengan lakon oma ora mari-mari, raja dangdut di alam wayang kampung sebelah. Wayang itu menampilkan juga sosok dengan membawa gitar, mirip dengan Rhoma Irama. Atau saat giliran selanjutnya, Jlintheng menampilkan sosok mirip 'si Ratu Ngebor' Inul Daratista.
Lagi-lagi, gelak tawa tak dapat ditahan dari ratusan penonton yang hadir. Apalagi pementasan wayang tersebut, disertai pengiring musik yang begitu memesona. Luluk (drum), Yayat (Jimbe), Kukuh (kendang), Diaz (bass), Max Baihaqi (gitar), Gendot (saxofon), Sartono (flute), serta Narwanto dan Babahe (tonnik). Pada vokal, ada Cahwati dan Dwi Jaya.
Pemberi Penerang
Bimo Listiono, pengamat budaya dari Komunitas Pasang Surut, mengatakan, wayang pada zaman dulu merupakan media dakwah untuk memberikan penerangan pada ummat. ''Ini wayang kreasi yang sangat bagus. Orang yang melihat langsung bisa mencermati pesan yang ingin disampaikan.''
Itu yang menurutnya menjadi pembeda dengan wayang purwa yang biasa dimainkan para dalang pada umumnya. ''Ini kreasi wayang zaman modern yang sangat bagus. Tidak banyak cing cong. Penonton juga langsung paham. Ini yang dinamakan roso jati atau j ati roso,'' ujarnya.
Didik Lukardono, penonton yang juga pecinta seni mengatakan, menyampaikan pesan moral kepada masyarakat umum melalui media seperti kreasi wayang kampung sebelah, ini sangat tepat. ''Kritik sosialnya tinggi, dan sesuai dengan kehidupan sosial sehari-hari,'' paparnya. ''Wayang kampung sebelah sangat bagus mengemas kritik-kritiknya,'' lanjutnya.
Sedang Jlitheng Suparman, sang dalang, ditemui Suara Merdeka usai pementasan menjelaskan, dalam setiap pagelarannya, memang selalu mengingatkan penonton akan empat pilar kebangsaan yang kini dilupakan. Yaitu Pancasila, Undang-undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tungga Ika.
''Indonesia berdiri berdasarkan komitmen ini. Kalau lupa dengan komitmen yang telah dibuat, berarti telah lupa kepada aturan main yang telah dibuat,'' katanya.
Sementara mengenai tema ''Yang atas mengganas, yang bawah beringas'' yang diangkat, ia mengutarakan terinspirasi dari sebuah peristiwa di sebuah kabupaten. Di mana suatu ketika masyarakat mau mengadukan masalah ke DPRD, namun gedung dalam keadaan kosong, sehingga berbuntut pada tindak anarkisme dan perusakan gedung.
''Ini yang menjadi inspirasi kami. Pesan yang ingin kami sampaikan adalah, boleh melakukan kritik, tetapi jangan sampai merusak, karena yang rugi nantinya juga masyarakat sendiri. Mengkritik boleh, tapi jangan merusak fasilitas umum,'' tegasnya. [Rosidi]
Kamis, 14 April 2011
Melihat dari Dekat Ritual "Jati Nganten"
Blora - Menebang pohon jati sama sulitnya saat merawatnya. Tidak bisa asal-asalan melakukan penebangan jati, apalagi masyarakat memiliki kepercayaan, bahwa dari sekian jati yang akan ditebang, pasti ada yang memiliki 'keramat'.
Berdasarkan kepercayaan ini, maka dipilihlah satu pohon jati yang kemudian dianggap sebagai 'jati nganten'. Di sanalah ritual akan digelar, sebelum dimulai penebangan. Doa-doa dipanjatkan, agar blandong (penebang) yang bekerja diberi keselamatan dalam melaksanakan tugasnya hingga akhir.
Ritual dengan memanjatkan doa-doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sebelum memulai penebangan jati, juga terlihat saat Kantor Pemangku Hutan (KPH) Blora akan memulai penebangan di Petak 121 A RPH Nglawungan, BKPH Nglawungan, akhir Maret lalu.
Sebagaimana dalam upacara selametan lainnya, dalam ritual tersebut juga ada tumpengan dan aneka jajan pasar. 'Ubo rampai' itu lalu diletakkan bawah 'jati nganten', kemudian dipimpin tokoh masyarakat, doa-doa dipanjatkan diikuti khusyuk para blandong. Sebelum doa dilakukan, tokoh masyarakat yang memimpin upacara selametan membakar kemeyan terlebih dahulu.
''Doa ini kita panjatkan kepada Allah Swt agar pekerja diberikan keselamatan dalam menjalankan tugasnya sampai akhir,'' terang Mulyono, Modin Desa Sumberejo, Kecamatan Tunjungan, pemimpin ritual.
Tebang Pertama
Waji, warga yang sudah empat tahun tinggal di hutan jati yang diapit oleh Gunung Gamping, Gunung Turoyo, Gunung Kepencil, dan Gunung Kertojoyo, mengatakan, dalam kepercayaan masyarakat sekitar hutan sampai saat ini, memang ada pohon-pohon yang dikeramatkan. Tak terkecuali pohon jati.
"Niki sampun dados kepercayaane masyarakat, bilih jati-jati niku dipun keramatake. Milo menawi bade dipun tebang, kedah mawi selametan rumiyin. (Ini sudah menjadi kepercayaan masyarakat, bahwa ada jati yang keramatkan. Maka saat akan menebang, harus menggelar selametan terlebih dahulu," ujar lelaki kelahiran 59 tahun lalu itu.
Mulyono, modin desa yang memimpin jalannya selametan mengemukakan, ritual yang digelar sebelum penebangan itu bukan hal syirik. ''Pada dasarnya, semua permohonan ini kami tujukan kepada Allah Swt, Tuhan Yang Maha Kuasa, agar dalam melakukan penebangan diberikan keselamatan," tegasnya.
Usai selametan, tumpeng dan ubo rampai ritual itu dimakan bersama oleh para blandong dan semua yang hadir di situ. Tak ketinggalan, Wakil Kepala Administratur (Waka ADM) KPH Blora Budi Santoso, Asper RPH NGlawungan Kastur, dan para pejabat di lingkungan KPH Blora yang hadir dalam ritual menjelang penebangan jati dilakukan, ikut menikmati hidangan yang ada.
Setelah beberapa saat beristirahat setelah makan 'nasi kajatan' dan jajanan pasar yang ada, baru kemudian penebangan dilakukan. Tidak sembarangan jati yang ditebang terlebih dahulu. ''Ingkang dipun tebang jati nganten rumiyin. Kersane mburine anut. (Yang ditebang jati nganten dulu, supaya belakangnya mengikuti,'' terang Mulyono.
Selain ritual yang digelar, hal lain yang menarik dalam prosesi penebangan jati di tengah hutan yang harus menyusuri jalanan berbatu yang cukup curam dan tajam itu, adalah adanya sapi-sapi besar yang digunakan 'nyarad' jati-jati yang telah ditebang. Nyarad adalah memindahkan jati-jati ke truk-truk yang telah tersedia, yang selanjutkan dikumpulkan di tempat penimbunan kayu. ''Pada zaman dulu jati di-sarad dan diangkut menggunakan Lori, tetapi saat ini sudah ada truk,'' ujar HUmas KPH Blora Teguh Agusman. [R]
Berdasarkan kepercayaan ini, maka dipilihlah satu pohon jati yang kemudian dianggap sebagai 'jati nganten'. Di sanalah ritual akan digelar, sebelum dimulai penebangan. Doa-doa dipanjatkan, agar blandong (penebang) yang bekerja diberi keselamatan dalam melaksanakan tugasnya hingga akhir.
Ritual dengan memanjatkan doa-doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sebelum memulai penebangan jati, juga terlihat saat Kantor Pemangku Hutan (KPH) Blora akan memulai penebangan di Petak 121 A RPH Nglawungan, BKPH Nglawungan, akhir Maret lalu.
Sebagaimana dalam upacara selametan lainnya, dalam ritual tersebut juga ada tumpengan dan aneka jajan pasar. 'Ubo rampai' itu lalu diletakkan bawah 'jati nganten', kemudian dipimpin tokoh masyarakat, doa-doa dipanjatkan diikuti khusyuk para blandong. Sebelum doa dilakukan, tokoh masyarakat yang memimpin upacara selametan membakar kemeyan terlebih dahulu.
''Doa ini kita panjatkan kepada Allah Swt agar pekerja diberikan keselamatan dalam menjalankan tugasnya sampai akhir,'' terang Mulyono, Modin Desa Sumberejo, Kecamatan Tunjungan, pemimpin ritual.
Tebang Pertama
Waji, warga yang sudah empat tahun tinggal di hutan jati yang diapit oleh Gunung Gamping, Gunung Turoyo, Gunung Kepencil, dan Gunung Kertojoyo, mengatakan, dalam kepercayaan masyarakat sekitar hutan sampai saat ini, memang ada pohon-pohon yang dikeramatkan. Tak terkecuali pohon jati.
"Niki sampun dados kepercayaane masyarakat, bilih jati-jati niku dipun keramatake. Milo menawi bade dipun tebang, kedah mawi selametan rumiyin. (Ini sudah menjadi kepercayaan masyarakat, bahwa ada jati yang keramatkan. Maka saat akan menebang, harus menggelar selametan terlebih dahulu," ujar lelaki kelahiran 59 tahun lalu itu.
Mulyono, modin desa yang memimpin jalannya selametan mengemukakan, ritual yang digelar sebelum penebangan itu bukan hal syirik. ''Pada dasarnya, semua permohonan ini kami tujukan kepada Allah Swt, Tuhan Yang Maha Kuasa, agar dalam melakukan penebangan diberikan keselamatan," tegasnya.
Usai selametan, tumpeng dan ubo rampai ritual itu dimakan bersama oleh para blandong dan semua yang hadir di situ. Tak ketinggalan, Wakil Kepala Administratur (Waka ADM) KPH Blora Budi Santoso, Asper RPH NGlawungan Kastur, dan para pejabat di lingkungan KPH Blora yang hadir dalam ritual menjelang penebangan jati dilakukan, ikut menikmati hidangan yang ada.
Setelah beberapa saat beristirahat setelah makan 'nasi kajatan' dan jajanan pasar yang ada, baru kemudian penebangan dilakukan. Tidak sembarangan jati yang ditebang terlebih dahulu. ''Ingkang dipun tebang jati nganten rumiyin. Kersane mburine anut. (Yang ditebang jati nganten dulu, supaya belakangnya mengikuti,'' terang Mulyono.
Selain ritual yang digelar, hal lain yang menarik dalam prosesi penebangan jati di tengah hutan yang harus menyusuri jalanan berbatu yang cukup curam dan tajam itu, adalah adanya sapi-sapi besar yang digunakan 'nyarad' jati-jati yang telah ditebang. Nyarad adalah memindahkan jati-jati ke truk-truk yang telah tersedia, yang selanjutkan dikumpulkan di tempat penimbunan kayu. ''Pada zaman dulu jati di-sarad dan diangkut menggunakan Lori, tetapi saat ini sudah ada truk,'' ujar HUmas KPH Blora Teguh Agusman. [R]
Senin, 11 April 2011
Spesialis Pelukis Wayang dari Randublatung
Menyelesaikan studi di Jurusan Tari Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Solo, namun kini aktivitas kesenimanannya lebih banyak tercurah untuk melukis wayang.
Blora - Belajar di Jurusan Tari Akademi Seni Karawitan Indoensia (Aski) Solo, Sudarto, seniman kelahiran Randublatung, 20 Januari 1957 ini justru saat ini lebih menenggelamkan diri di dunia seni lukis.
Di seni lukis pun, tak sembarangan ia mau melukis.''Saya cuma melukis wayang,'' katanya saat ditemui Suara Merdeka di Aula Kantor Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika (DPPKKI), baru-baru ini.
Sudarto bukanlah pegawai di DPPKKI. Namun belakangan, ia memang lebih mudah ditemui di kantor dinas yang bersebelahan dengan Akademi Keperawatan yang berada di bawah Poltekkes Kementerian Kesehatan itu. Di sana, warga RT 1 RW I Desa Wulung, Kecamatan Randublatung, ini sedang menyelesaikan beberapa lukisan wayang dari para relasinya, khususnya dari DPPKKI.
Pilihannya menjadi spesialis pelukis wayang pun tidak salah. Bahkan, dari situ seniman yang sempat menjadi ''penghuni'' Taman Budaya Jawa Tengah di Semarang, justru mendapatkan berkah yang luar biasa. Betapa tidak, sejumlah tokoh besar nasional, tak sedikit yang memesan untuk dibuatkan lukisan wayang olehnya.
Sebut saja di antaranya Almarhun KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Mardiyanto (mantan Gubernur Jateng), Matori Abdul Jalil, Saifullah Yusuf, dan Sri Edi Swasono. "Kebanyakan Bupati di Jateng dan Jatim juga sudah mengoleksi lukisan wayang saya. Namun anehnya belum ada satu pun bupati Blora yang memesan lukisan wayang pada saya," candanya sembari tersenyum.
Sejak Kecil
Sudarto pun tak pernah mau menghilangkan 'sejarah' melukis wayang yang digelutinya. Setiap orang yang meminta dilukiskan wayang, selalu dimemintainya tanda tangan berikut nama terang.
'Buku sejarah' yang memuat nama terang dan tanda tangan pemesan lukisan wayang kepadanya, itu disimpan rapi hingga sekarang. Melihat lembaran-lembaran 'prasasti' pemesan lukisan wayang Sudarto, ternyata pemesan tidak cuma dari Indonesoa, namun ada juga yang dari luar negeri. "Saya pernah mendapatkan pesanan lukisan dari S Paul Somohardjo asal Suriname," ujarnya.
Belajar melukis saat ia masih berada di bangku kelas II SMPN Randublatung, yaitu pada 1973. Lama keluar dari daerah kelahirannya, namun kini ia memilih kembali di tengah masyarakat yang telah membesarkannya. "Saya sudah lama ingin kembali ke Blora, namun baru kesampaian sekarang. Saya ingin mengabdikan diri pada kota kelahiran saya," ujar lelaki yang pernah menggelar pameran di berbagai kota besar seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya.
Kini, ditengah-tengah kesibukannya melukis wayang, ia juga ikut membina Sanggar Tari Gading Wulung di Randublatung. "Hanya sebagai sesepuh, untuk memotivasi anak-anak saja," katanya merendah. (Rosidi)
Blora - Belajar di Jurusan Tari Akademi Seni Karawitan Indoensia (Aski) Solo, Sudarto, seniman kelahiran Randublatung, 20 Januari 1957 ini justru saat ini lebih menenggelamkan diri di dunia seni lukis.
Di seni lukis pun, tak sembarangan ia mau melukis.''Saya cuma melukis wayang,'' katanya saat ditemui Suara Merdeka di Aula Kantor Dinas Perhubungan Pariwisata Kebudayaan Komunikasi dan Informatika (DPPKKI), baru-baru ini.
Sudarto bukanlah pegawai di DPPKKI. Namun belakangan, ia memang lebih mudah ditemui di kantor dinas yang bersebelahan dengan Akademi Keperawatan yang berada di bawah Poltekkes Kementerian Kesehatan itu. Di sana, warga RT 1 RW I Desa Wulung, Kecamatan Randublatung, ini sedang menyelesaikan beberapa lukisan wayang dari para relasinya, khususnya dari DPPKKI.
Pilihannya menjadi spesialis pelukis wayang pun tidak salah. Bahkan, dari situ seniman yang sempat menjadi ''penghuni'' Taman Budaya Jawa Tengah di Semarang, justru mendapatkan berkah yang luar biasa. Betapa tidak, sejumlah tokoh besar nasional, tak sedikit yang memesan untuk dibuatkan lukisan wayang olehnya.
Sebut saja di antaranya Almarhun KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Mardiyanto (mantan Gubernur Jateng), Matori Abdul Jalil, Saifullah Yusuf, dan Sri Edi Swasono. "Kebanyakan Bupati di Jateng dan Jatim juga sudah mengoleksi lukisan wayang saya. Namun anehnya belum ada satu pun bupati Blora yang memesan lukisan wayang pada saya," candanya sembari tersenyum.
Sejak Kecil
Sudarto pun tak pernah mau menghilangkan 'sejarah' melukis wayang yang digelutinya. Setiap orang yang meminta dilukiskan wayang, selalu dimemintainya tanda tangan berikut nama terang.
'Buku sejarah' yang memuat nama terang dan tanda tangan pemesan lukisan wayang kepadanya, itu disimpan rapi hingga sekarang. Melihat lembaran-lembaran 'prasasti' pemesan lukisan wayang Sudarto, ternyata pemesan tidak cuma dari Indonesoa, namun ada juga yang dari luar negeri. "Saya pernah mendapatkan pesanan lukisan dari S Paul Somohardjo asal Suriname," ujarnya.
Belajar melukis saat ia masih berada di bangku kelas II SMPN Randublatung, yaitu pada 1973. Lama keluar dari daerah kelahirannya, namun kini ia memilih kembali di tengah masyarakat yang telah membesarkannya. "Saya sudah lama ingin kembali ke Blora, namun baru kesampaian sekarang. Saya ingin mengabdikan diri pada kota kelahiran saya," ujar lelaki yang pernah menggelar pameran di berbagai kota besar seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya.
Kini, ditengah-tengah kesibukannya melukis wayang, ia juga ikut membina Sanggar Tari Gading Wulung di Randublatung. "Hanya sebagai sesepuh, untuk memotivasi anak-anak saja," katanya merendah. (Rosidi)
Kamis, 07 April 2011
Perkawinan Kaum Samin Terancam
Kudus - Samin sering mendapat anggapan negatif. Caranya mbalelo terhadap penjajah Belanda masih terbawa. Kini, prosesi perkawinan aliran kepercayaan Samin dipandang tidak sah. Bahkan terancam oleh RUU.
Begitu mendengar kata Samin, mayoritas masyarakat akan berpikir negatif. Asosiasi umumnya, orang akan disebut Samin apabila ditanya A, malah menjawab B. Berlagak bodoh (mbodoni) seperti inilah yang pernah menjadi cara khas Kaum Samin menentang penjajah Belanda. Sayang, kesan itu tak lepas hingga kini. Orang terjanjur menyebut “Samin” terhadap orang yang bodoh atau berlagak bodoh. Apalagi kaum penganut ajaran Samin Surasentiko, memegang teguh beberapa tradisinya.
Di Kudus terdapat ratusan penganut aliran kepercayaan Samin. Mereka tersebar antara lain di daerah; Dukuh Kaliyoso, Desa Karangrowo, Desa Larekrejo, Desa Kutuk (Kecamatan Undaan), Dukuh Mijen, Desa Bulungcangkring (Kecamatan Jekulo), Dukuh Goleng, Desa Pasuruhan Lor(Kecamatan Jati).
Di Kudus, prosesi adat perkawinan penganut Samin sering mendatangkan kontroversi dan dianggap tidak sah secara hukum. Perkawinan Kaum Samin tidak melibatkan pemerintah, baik Kantor Urusan Agama (KUA) maupun Dinas Catatan Sipil, sehingga tidak formal karena tidak tercatat dalam administrasi pemerintah.
Menurut Pengamat Kebijakan Publik di Kudus, Zamhuri, anggapan masyarakat tersebut tidak sepenuhnya benar. Perkawinan Kaum Samin dianggap tidak sah oleh masyarakat karena mereka tidak mencatatkan perkawinannya pada administrasi pemerintah. Padahal, pada penganut aliran kepercayaan (agama) mayoritas masyarakat, juga terjadi hal demikian. Dimana pernikahan cukup dilaksanakan secara adat keagamaannya.
Setelah era reformasi, tutur Zamhuri, masyarakat Samin mendapatkan kebebasan dalam menjalankan adat, budaya, dan keyakinannya. Termasuk dalam melaksanakan tata cara perkawinan menurut adat dan tradisi masyarakat Samin. “Apalagi adat perkawinan Samin telah mendapatkan pengakuan terhadap perkawinan penganut kepercayaan,” tukasnya.
Hal itu dijamin oleh Undang-undang RI No 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, Peraturan Presiden (Perpres) No 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil serta Peraturan Pemerintah RI No 37 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan UU No 23 Tahun 2006.
Jadi, tambah Zamhuri, secara hukum perkawinan mereka adalah sah karena dijamin undang-undang, namun tidak terdapat dalam administrasi. “Administrasi khan tugasnya tidak untuk mengesahkan, tapi UU yang mengesahkan,” tegas lelaki yang juga menjabat sebagai Humas Universitas Muria Kudus (UMK)ini.
Zamhuri menyarankan agar masyarakat tidak menyalahkan prosesi adat perkawinan Kaum Samin, dengan cara mengukur dari keyakinannya.
Terancam RUU
Peneliti masyarakat Samin dan Fenomena tersebut mengemuka dalam seminar bedah buku Nihilisasi Peran Negara, Potret perkawinan Samin, Moch Rosyid mengatakan, adat perkawinan yang dilakukan Kaum Samin juga terancam oleh RUU peradilan agama yang mengatur mengenai pernikahan siri, kawin kontrak dan poligami. “RUU tersebut mengancam adat perkawinan penganut aliran kepercayaan lokal, termasuk Kaum Samin,” katanya.
Latar belakang munculnya RUU tersebut, menurut Rosyid, dilatarbelakangi oleh praktik kawin kontrak (nikah Mut’ah) di Bogor. Di mana praktik seperti ini merugikan pihak perempuan. “Khan berbeda dengan Kuam Samin. Mereka sudah saling percaya secara lisan, bahkan tidak mengenal poligami,” katanya.
Perkawinan Kaum Samin bagi Rosyid, merupakan kekayaan adat lokal (Local Wisdom) yang perlu dilindungi oleh negara. Pengalaman penelitian yang dilakukan Rosydi sejak tahun 2004 menunjukkan perkawinan Kaum Samin memiliki keunikan tersendiri. Prosesi perkawinan hampir memiliki kesamaan dengan mayoritas masyarakat. Perkawinan dimulai dari Nyumuk, Ngendek, Nyuwito, Paseksen, dan Tingkep. Dalam adat perkawinan umumnya, Nyumuk sama dengan pinangan, sementara Ngendek adalah untuk menyebut tukar cincin. “Perkawinan Kaum Samin tidak jauh berbeda dengan prosesi perkawinan mayoritas masyarakat,” tegasnya.
Hasil penelitian secara live in yang dilakukann oleh Rosyid juga tidak membuktikan anggapan negatif bahwa Kaum Samin identik dengan sikap bergalagk bodoh. “Sikap mbodoni Kaum Samin hanya kepada penjajah Belanda. Bahkan sebagai minoritas, sebagian dari mereka malah dipercaya oleh mayoritas warga yang bukan Samin untuk menjadi ketua rukun warga setempat,”pungkasnya. [R/UMK]
Begitu mendengar kata Samin, mayoritas masyarakat akan berpikir negatif. Asosiasi umumnya, orang akan disebut Samin apabila ditanya A, malah menjawab B. Berlagak bodoh (mbodoni) seperti inilah yang pernah menjadi cara khas Kaum Samin menentang penjajah Belanda. Sayang, kesan itu tak lepas hingga kini. Orang terjanjur menyebut “Samin” terhadap orang yang bodoh atau berlagak bodoh. Apalagi kaum penganut ajaran Samin Surasentiko, memegang teguh beberapa tradisinya.
Di Kudus terdapat ratusan penganut aliran kepercayaan Samin. Mereka tersebar antara lain di daerah; Dukuh Kaliyoso, Desa Karangrowo, Desa Larekrejo, Desa Kutuk (Kecamatan Undaan), Dukuh Mijen, Desa Bulungcangkring (Kecamatan Jekulo), Dukuh Goleng, Desa Pasuruhan Lor(Kecamatan Jati).
Di Kudus, prosesi adat perkawinan penganut Samin sering mendatangkan kontroversi dan dianggap tidak sah secara hukum. Perkawinan Kaum Samin tidak melibatkan pemerintah, baik Kantor Urusan Agama (KUA) maupun Dinas Catatan Sipil, sehingga tidak formal karena tidak tercatat dalam administrasi pemerintah.
Menurut Pengamat Kebijakan Publik di Kudus, Zamhuri, anggapan masyarakat tersebut tidak sepenuhnya benar. Perkawinan Kaum Samin dianggap tidak sah oleh masyarakat karena mereka tidak mencatatkan perkawinannya pada administrasi pemerintah. Padahal, pada penganut aliran kepercayaan (agama) mayoritas masyarakat, juga terjadi hal demikian. Dimana pernikahan cukup dilaksanakan secara adat keagamaannya.
Setelah era reformasi, tutur Zamhuri, masyarakat Samin mendapatkan kebebasan dalam menjalankan adat, budaya, dan keyakinannya. Termasuk dalam melaksanakan tata cara perkawinan menurut adat dan tradisi masyarakat Samin. “Apalagi adat perkawinan Samin telah mendapatkan pengakuan terhadap perkawinan penganut kepercayaan,” tukasnya.
Hal itu dijamin oleh Undang-undang RI No 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan, Peraturan Presiden (Perpres) No 25 Tahun 2008 tentang Persyaratan dan Tata Cara Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil serta Peraturan Pemerintah RI No 37 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan UU No 23 Tahun 2006.
Jadi, tambah Zamhuri, secara hukum perkawinan mereka adalah sah karena dijamin undang-undang, namun tidak terdapat dalam administrasi. “Administrasi khan tugasnya tidak untuk mengesahkan, tapi UU yang mengesahkan,” tegas lelaki yang juga menjabat sebagai Humas Universitas Muria Kudus (UMK)ini.
Zamhuri menyarankan agar masyarakat tidak menyalahkan prosesi adat perkawinan Kaum Samin, dengan cara mengukur dari keyakinannya.
Terancam RUU
Peneliti masyarakat Samin dan Fenomena tersebut mengemuka dalam seminar bedah buku Nihilisasi Peran Negara, Potret perkawinan Samin, Moch Rosyid mengatakan, adat perkawinan yang dilakukan Kaum Samin juga terancam oleh RUU peradilan agama yang mengatur mengenai pernikahan siri, kawin kontrak dan poligami. “RUU tersebut mengancam adat perkawinan penganut aliran kepercayaan lokal, termasuk Kaum Samin,” katanya.
Latar belakang munculnya RUU tersebut, menurut Rosyid, dilatarbelakangi oleh praktik kawin kontrak (nikah Mut’ah) di Bogor. Di mana praktik seperti ini merugikan pihak perempuan. “Khan berbeda dengan Kuam Samin. Mereka sudah saling percaya secara lisan, bahkan tidak mengenal poligami,” katanya.
Perkawinan Kaum Samin bagi Rosyid, merupakan kekayaan adat lokal (Local Wisdom) yang perlu dilindungi oleh negara. Pengalaman penelitian yang dilakukan Rosydi sejak tahun 2004 menunjukkan perkawinan Kaum Samin memiliki keunikan tersendiri. Prosesi perkawinan hampir memiliki kesamaan dengan mayoritas masyarakat. Perkawinan dimulai dari Nyumuk, Ngendek, Nyuwito, Paseksen, dan Tingkep. Dalam adat perkawinan umumnya, Nyumuk sama dengan pinangan, sementara Ngendek adalah untuk menyebut tukar cincin. “Perkawinan Kaum Samin tidak jauh berbeda dengan prosesi perkawinan mayoritas masyarakat,” tegasnya.
Hasil penelitian secara live in yang dilakukann oleh Rosyid juga tidak membuktikan anggapan negatif bahwa Kaum Samin identik dengan sikap bergalagk bodoh. “Sikap mbodoni Kaum Samin hanya kepada penjajah Belanda. Bahkan sebagai minoritas, sebagian dari mereka malah dipercaya oleh mayoritas warga yang bukan Samin untuk menjadi ketua rukun warga setempat,”pungkasnya. [R/UMK]
Rabu, 06 April 2011
Petani Kentang Lestarikan Seni Islam Tradisional
- Diiringi Pencak Silat dan Rebana
Umum dipahami, Toriqoh Qodariyah Naqsyabandiyah berisi amalan keagamaan sarat puasa dan wiridan.Ajaran salah satu cabang tasawuf yang muncul pada tahun 717 Hijiryah ini memiliki ritual cukup unik. Ekspresi ke-Ilahi-an itu dilakukan jemaatnya di Desa Sigedang Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo. Mereka bernyanyi dan menari menabuh rebana serta bedug.
Wonosobo - Dentum rebana bertalu-talu mengiringi 20 penari berseragam hitam putih. Mengenakan kaca mata hitam para anggota kelompok seni tari tradisional Peksi Muda itu menari dan bernyanyi bersama. Tujuan mereka semata-mata hanya mensyiarkan nilai ajaran Islam. Tak heran jika ratusan pasang mata terpukau keunikan pentas mereka di halaman gedung Sasana Adipura kemarin.
Dalam pentas yang berlangsung selama hampir dua jam itu mereka menyanyikan bait-bait lagu berirama shlawat klasik. Tiap kali satu lagu dinyanyikan para penari memeragakan satu jurus pencak silat. Isi kandungan lagu tersebut mengajak para penontonnya untuk berbahagia merasakan kehadiran gerakan-gerakan dan musik dalam penyatuan keillahian.
“Kegiatan ini menjadi ekstrakulikuler para petani kentang di Desa Sigedang Kecamatan Kejajar,” kata Ketua kelompok Peksi Muda Sigedang yang akrab dipanggil pak Zen.
Menurut imam masjid Nahrowi Surur itu silsilahnya Peksi Muda awalnya dibawa seseorang bernama Hardrotul Majid Syeh Muhammad Nahruwi Quddisa Siruhulaziz mengembara ke wilayah Wonosobo. Mursyid dan sufi asal Plosokuning Minomartyani Ngaglik Sleman Jogjakarta ini mengemban misi memperkenalkan ajaran Thoreqoh Naqsyabandiyah. Ketika tiba di Desa Sigedang beliau bertemu KH Sholih.
Dari perjalanan dakwanya inilah diperkenalkan sebuah kesenian yang diberi nama Peksi Muda. Seiring keberadaannya antusias masyarakat tertarik ajarannya makin tinggi. Namun seusai beliau wafat Peksi Muda dilestarikan penerusnya. Dari KH Shoih hingga KH Nur Yazid.
Kesamaan yang bahkan mirip sampai sekarang yaitu pengurus Nagsyabandi yang diteruskan putera beliau bernama Mr HS M Irfai Nachrowi an Naghsyabandi Al Hajj QS.Yang sekarang mendirikan Zawiyah, Qoshul Arifin, kesepuhan atas angin di Sorak Landeuh, Darmacaang, Cikoning, Ciamis, Jawa Barat.
Dari perguruan Thoriqoh Huilah terdapat perwakilan daerah yang disebut pula Kemuasasan, yang mana masih membina kesenian Peksi Muda. Pada zaman Syeh Nahrowi hasil pelantikan diketuai oleh Mardi. Lalu sebagai penghormatan kepada Syeh kesenian tersebut masih diteruskan hingga era KH Shalih dan KH Nur Yazih. Selepas keduanya wafat diteruskan Mr HS M Irfai Nachrowi Nagsyabandi Al Hajj QS, dibawah bimbingan kumuasasan (Muasis).
Saat ini, pada perkembangannya Peksi Muda terus diteruskan oleh jemaat di Desa Sigedang Kecamatan Kejajar. Mereka tetap melestarikan meski ditengah masyarakat merasa asing dengan gerakan-gerakan tarian tradisional yang dulu menjadi warisan akulturasi budaya antara Jawa dan Islam tersebut. [R/Yudi]
Umum dipahami, Toriqoh Qodariyah Naqsyabandiyah berisi amalan keagamaan sarat puasa dan wiridan.Ajaran salah satu cabang tasawuf yang muncul pada tahun 717 Hijiryah ini memiliki ritual cukup unik. Ekspresi ke-Ilahi-an itu dilakukan jemaatnya di Desa Sigedang Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo. Mereka bernyanyi dan menari menabuh rebana serta bedug.
Wonosobo - Dentum rebana bertalu-talu mengiringi 20 penari berseragam hitam putih. Mengenakan kaca mata hitam para anggota kelompok seni tari tradisional Peksi Muda itu menari dan bernyanyi bersama. Tujuan mereka semata-mata hanya mensyiarkan nilai ajaran Islam. Tak heran jika ratusan pasang mata terpukau keunikan pentas mereka di halaman gedung Sasana Adipura kemarin.
Dalam pentas yang berlangsung selama hampir dua jam itu mereka menyanyikan bait-bait lagu berirama shlawat klasik. Tiap kali satu lagu dinyanyikan para penari memeragakan satu jurus pencak silat. Isi kandungan lagu tersebut mengajak para penontonnya untuk berbahagia merasakan kehadiran gerakan-gerakan dan musik dalam penyatuan keillahian.
“Kegiatan ini menjadi ekstrakulikuler para petani kentang di Desa Sigedang Kecamatan Kejajar,” kata Ketua kelompok Peksi Muda Sigedang yang akrab dipanggil pak Zen.
Menurut imam masjid Nahrowi Surur itu silsilahnya Peksi Muda awalnya dibawa seseorang bernama Hardrotul Majid Syeh Muhammad Nahruwi Quddisa Siruhulaziz mengembara ke wilayah Wonosobo. Mursyid dan sufi asal Plosokuning Minomartyani Ngaglik Sleman Jogjakarta ini mengemban misi memperkenalkan ajaran Thoreqoh Naqsyabandiyah. Ketika tiba di Desa Sigedang beliau bertemu KH Sholih.
Dari perjalanan dakwanya inilah diperkenalkan sebuah kesenian yang diberi nama Peksi Muda. Seiring keberadaannya antusias masyarakat tertarik ajarannya makin tinggi. Namun seusai beliau wafat Peksi Muda dilestarikan penerusnya. Dari KH Shoih hingga KH Nur Yazid.
Kesamaan yang bahkan mirip sampai sekarang yaitu pengurus Nagsyabandi yang diteruskan putera beliau bernama Mr HS M Irfai Nachrowi an Naghsyabandi Al Hajj QS.Yang sekarang mendirikan Zawiyah, Qoshul Arifin, kesepuhan atas angin di Sorak Landeuh, Darmacaang, Cikoning, Ciamis, Jawa Barat.
Dari perguruan Thoriqoh Huilah terdapat perwakilan daerah yang disebut pula Kemuasasan, yang mana masih membina kesenian Peksi Muda. Pada zaman Syeh Nahrowi hasil pelantikan diketuai oleh Mardi. Lalu sebagai penghormatan kepada Syeh kesenian tersebut masih diteruskan hingga era KH Shalih dan KH Nur Yazih. Selepas keduanya wafat diteruskan Mr HS M Irfai Nachrowi Nagsyabandi Al Hajj QS, dibawah bimbingan kumuasasan (Muasis).
Saat ini, pada perkembangannya Peksi Muda terus diteruskan oleh jemaat di Desa Sigedang Kecamatan Kejajar. Mereka tetap melestarikan meski ditengah masyarakat merasa asing dengan gerakan-gerakan tarian tradisional yang dulu menjadi warisan akulturasi budaya antara Jawa dan Islam tersebut. [R/Yudi]
Rabu, 30 Maret 2011
From Jogja With Love
Jakarta - Sampai kapan Jogja akan tetap menjadi Istimewa? Apa yang membuat Jogja tetap istimewa, sebagaimana, petilan lirik lagu yang ditembangkan Kill The DJ dan Jogja Hiphop Foundation di awal Pentas Musikal Plesetan Laskar Dagelan: From Jogja With Love di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, mulai Selasa (29/3/2011) hingga Rabu (30/3/2011)? "Karena negeri dan orangnya juga istimewa", demikian paling tidak yang tersurat dari lakon yang disutradarai Djaduk Ferianto, yang berangkat dari cerita jenaka Agus Noor, dan balutan penataan musik Kill The DJ, dengan supervisi tim kreatif Butet Kartaredjasa.
Menyimak pementasan gladi resik, yang oleh Butet disebut latihan biasa pada Senin (28/3) malam, sebagaimana lazimnya gelaran teater Gandrik yang notabene juga dimotori dua anak maestro tari Bagong Kusudihardjo itu, seperti menyaksikan parade kelucuan yang tak berkesudahan. Meski tawaran isyu yang mereka tawarkan kali ini, tentu saja, sebagaimana isyu yang Gandrik usung, atau Butet usung dalam beberapa lakon monolognya, bukan isyu yang kacangan.
Yaitu, sebagimana ditulis Agus Noor dalam pamlet pertunjukan, berikhtiar, "Memotret bagaimana Jogja adalah bagian penting dari proses menjadi Indonesia. Karena, ada sejarah yang tak terpisahkan dari masyarakat Jogja dan Indonesia. Sebuah proses yang mesti terus ditumbuhkan, hingga kita makin meyakini bahwa Indonesia hari ini adalah INDONESIA KITA. Indonesia milik bersama". Tapi, karena dari mula mengusung semangat pentas musikal plesetan, maka sepanjang pertunjukan, tak bisa dihindari yang terjadi adalah dagelan parikena layaknya pentas kelompok humor legendari Srimulat.
Ya, sepanjang pertunjukan pabrik tawa dari Jogja yang diperkuat para "natural born traditional artist" itu tak henti-hentinya mengocok perut, dengan menyindir siapapun yang ingin disindirnya. Bahkan ketika baru detik pertama tiba, ketika suara presiden SBY yang terdengar dari pidato sedang menegaskan bahwa keberadaan Jogja yang Istimewa dengan sistem monarki, sebenarnya bertabrakan dengan alam demokrasi. Pada detik itu juga, Marwoto, pelawak yang handal itu, langsung mampu memancing tawa bersama tiga kompatriotnya: Gareng Rakasiwi, Jonet, dan Wisben.
Mereka berempat, layaknya sesi goro-goro pada pertunjukan wayang kulit, menyindir siapa saja yang pada masa kini, sedang menjadi pusat perhatian pemberitaan. Dari kasus mantan narapidana yang ngotot memimpin organisasi sepakbola tertinggi di negeri ini meski sudah tidak dikehendaki publik, sampai kasus narapidana yang bebas melancong ke mana saja dia suka di bawah lindungan institusi negara, hingga anggota dewan yang terhormat yang berebut kursi tidak hanya di parlemen, "Bahkan hingga berebut kursi di pesawat terbang," kata Marwoto menyindir kasus anggota DRP Roy Suryo, yang ngotot enggan beranjak dari kursi pesawat, meski waktu penerbangannya keliru.
Forum Kreatif
Apalagi ketika adegan Hanung Bramantyo yang memerankan dirinya sendiri dan Susilo Nugroho tiba, kelucuan seperti menemui rumahnya kembali. Hanung yang sutradara, dan peraih dua piala Citra itu, seperti tidak ada apa-apannya ketika beradu improvisasi dengan Den Baguse Ngarso di atas panggung. Tidak juga ketika dia bermain tik tak dengan Yu Ningsih. Bahkan bisa dikatakan, dihadapan Den Baguse, Marwoto dan Yu Ningsih, Hanung yang mencoba tampil jenaka itu, tenggelam jauh dengan tiga seniman tradisi itu.
Tapi, dagelan tetaplah dagelan. Sebagaimana dikatakan Djaduk, pertunjukannnya kali ini merupakan bentuk musikal plesetan, dengan mengolah anasir musik hip-hop ke dalam kultur kehidupan masyarakat Jogja. Tidak berlebihan hampir di setiap babak, Kill The DJ atau Marzuki bersama Jogja HipHop Foundatiopn menjadi menu utama cerita lewat sejumlah single lagu mereka. Bahkan terkadang, kehadiran hiphop Jawa itu, tidak hanya menjadi latar cerita, tapi juga sekaligus jantungnya.
Kisah berlatar belakang hiruk-pikuk Jogja ketika isu monarki begitu ramai, dengan tambahan drama situasi, di mana sejumlah komedian merasa kehilangan pekerjaan: karena makin hari merasa makin kalah lucu dari para politikus, dihantarkan dengan kejenakaan yang terjaga. Tidak berlebihan pula, jika selama dua hari pementasan mereka, tiket seharga Rp 75 ribu hingga Rp 200 ribu sold out. Bahkan Butet mengatakan, tiket seharga Rp 100 ribu bertempat di tangga gedung pertunjukan, juga ludes terjual.
Selebihnya, lakon yang juga diperkuat Show Imah, Dibyo Primus, Rotra, Jahanan, Ki Jarot, dan Yu Beruk itu mengalir dengan suka-suka, dan menghantam siapa saja. Sebagai sebuah seri pertama dari serangkaian pementasan yang disiapkan dalam lakon Indonesia Kita. Yang menurut Butet, minimal digelar setiap dwi bulan itu, Pentas Musikal Plesetan Laskar Dagelan: From Jogja With Love, diharapkan benar-benar menjadi forum kreatif yang mempertemukan bermacam potensi kesenian yang ada dari berbagai daerah. Untuk kemudian saling berinteraksi dan berdialog secara kreatif, dan memunculkan ekspresi-ekspresi baru. Karena, sebagaimana dikatakan Butet, "Indonesia Kita berangkat dari kesadaran bahwa kesenian bisa menjadi rumah bersama, tempat bertumbuhnya kesadaran saling mengapresiasi dan menghargai keberagaman," katanya. [R/CN]
Menyimak pementasan gladi resik, yang oleh Butet disebut latihan biasa pada Senin (28/3) malam, sebagaimana lazimnya gelaran teater Gandrik yang notabene juga dimotori dua anak maestro tari Bagong Kusudihardjo itu, seperti menyaksikan parade kelucuan yang tak berkesudahan. Meski tawaran isyu yang mereka tawarkan kali ini, tentu saja, sebagaimana isyu yang Gandrik usung, atau Butet usung dalam beberapa lakon monolognya, bukan isyu yang kacangan.
Yaitu, sebagimana ditulis Agus Noor dalam pamlet pertunjukan, berikhtiar, "Memotret bagaimana Jogja adalah bagian penting dari proses menjadi Indonesia. Karena, ada sejarah yang tak terpisahkan dari masyarakat Jogja dan Indonesia. Sebuah proses yang mesti terus ditumbuhkan, hingga kita makin meyakini bahwa Indonesia hari ini adalah INDONESIA KITA. Indonesia milik bersama". Tapi, karena dari mula mengusung semangat pentas musikal plesetan, maka sepanjang pertunjukan, tak bisa dihindari yang terjadi adalah dagelan parikena layaknya pentas kelompok humor legendari Srimulat.
Ya, sepanjang pertunjukan pabrik tawa dari Jogja yang diperkuat para "natural born traditional artist" itu tak henti-hentinya mengocok perut, dengan menyindir siapapun yang ingin disindirnya. Bahkan ketika baru detik pertama tiba, ketika suara presiden SBY yang terdengar dari pidato sedang menegaskan bahwa keberadaan Jogja yang Istimewa dengan sistem monarki, sebenarnya bertabrakan dengan alam demokrasi. Pada detik itu juga, Marwoto, pelawak yang handal itu, langsung mampu memancing tawa bersama tiga kompatriotnya: Gareng Rakasiwi, Jonet, dan Wisben.
Mereka berempat, layaknya sesi goro-goro pada pertunjukan wayang kulit, menyindir siapa saja yang pada masa kini, sedang menjadi pusat perhatian pemberitaan. Dari kasus mantan narapidana yang ngotot memimpin organisasi sepakbola tertinggi di negeri ini meski sudah tidak dikehendaki publik, sampai kasus narapidana yang bebas melancong ke mana saja dia suka di bawah lindungan institusi negara, hingga anggota dewan yang terhormat yang berebut kursi tidak hanya di parlemen, "Bahkan hingga berebut kursi di pesawat terbang," kata Marwoto menyindir kasus anggota DRP Roy Suryo, yang ngotot enggan beranjak dari kursi pesawat, meski waktu penerbangannya keliru.
Forum Kreatif
Apalagi ketika adegan Hanung Bramantyo yang memerankan dirinya sendiri dan Susilo Nugroho tiba, kelucuan seperti menemui rumahnya kembali. Hanung yang sutradara, dan peraih dua piala Citra itu, seperti tidak ada apa-apannya ketika beradu improvisasi dengan Den Baguse Ngarso di atas panggung. Tidak juga ketika dia bermain tik tak dengan Yu Ningsih. Bahkan bisa dikatakan, dihadapan Den Baguse, Marwoto dan Yu Ningsih, Hanung yang mencoba tampil jenaka itu, tenggelam jauh dengan tiga seniman tradisi itu.
Tapi, dagelan tetaplah dagelan. Sebagaimana dikatakan Djaduk, pertunjukannnya kali ini merupakan bentuk musikal plesetan, dengan mengolah anasir musik hip-hop ke dalam kultur kehidupan masyarakat Jogja. Tidak berlebihan hampir di setiap babak, Kill The DJ atau Marzuki bersama Jogja HipHop Foundatiopn menjadi menu utama cerita lewat sejumlah single lagu mereka. Bahkan terkadang, kehadiran hiphop Jawa itu, tidak hanya menjadi latar cerita, tapi juga sekaligus jantungnya.
Kisah berlatar belakang hiruk-pikuk Jogja ketika isu monarki begitu ramai, dengan tambahan drama situasi, di mana sejumlah komedian merasa kehilangan pekerjaan: karena makin hari merasa makin kalah lucu dari para politikus, dihantarkan dengan kejenakaan yang terjaga. Tidak berlebihan pula, jika selama dua hari pementasan mereka, tiket seharga Rp 75 ribu hingga Rp 200 ribu sold out. Bahkan Butet mengatakan, tiket seharga Rp 100 ribu bertempat di tangga gedung pertunjukan, juga ludes terjual.
Selebihnya, lakon yang juga diperkuat Show Imah, Dibyo Primus, Rotra, Jahanan, Ki Jarot, dan Yu Beruk itu mengalir dengan suka-suka, dan menghantam siapa saja. Sebagai sebuah seri pertama dari serangkaian pementasan yang disiapkan dalam lakon Indonesia Kita. Yang menurut Butet, minimal digelar setiap dwi bulan itu, Pentas Musikal Plesetan Laskar Dagelan: From Jogja With Love, diharapkan benar-benar menjadi forum kreatif yang mempertemukan bermacam potensi kesenian yang ada dari berbagai daerah. Untuk kemudian saling berinteraksi dan berdialog secara kreatif, dan memunculkan ekspresi-ekspresi baru. Karena, sebagaimana dikatakan Butet, "Indonesia Kita berangkat dari kesadaran bahwa kesenian bisa menjadi rumah bersama, tempat bertumbuhnya kesadaran saling mengapresiasi dan menghargai keberagaman," katanya. [R/CN]
Kasus Teater dalam Pelayanan Kemanusiaan
Uganda - Pertemuan hari ini benar-benar merupakan potentsi besar teater untuk memobilisasi komunitas dan menjembatani perbedaan-perbedaan.
Apakah anda pernah membayangkan bahwa teater dapat menjadi alat yang ampuh untuk perdamaian dan rekonsiliasi? Ketika bangsa-bangsa menghabiskan banyak dana keuangan untuk misi menjaga perdamaian di wilayah-wilayah konflik pelanggaran dari dunia ini, sedikit perhatian diberikan terhadap teater sebagai alternatif yang sesuai untuk mentransformasi dan mengelola konflik. Bagaimana para warga bumi ini dapat meraih perdamaian universal ketika alat yang digunakan berasal dari luar dan nampak menjadi kekuatan yang represif.
Teatre secara halus menyerap jiwa manusia yang dicekam rasa takut dan curiga, dengan mengubah citra diri dan karenanya membuka ruang-ruang alternatif kepada individual dan komunitas. Teater bisa memberi makna terhadap realitas keseharian sambil mencegah masa depan yang tak pasti. Teater bisa menarik perhatian situasi politik bangsa-bangsa dengan cara yang mudah dan sederhana. Karena teater secara inklusif bisa menghadirkan suatu pengalaman yang mampu melampaui kesalahpahaman yang ada sebelumnya.
Selain itu, teater telah terbukti menjadi alat advokasi dan memajukan ide-ide bahwa kita secara kolektif menjaganya dan bersedia memperjuangkan ketika terjadi pelanggaran.
Untuk mengantisipasi masa depan yang damai, kita harus mulai menggunakan piranti perdamaian untuk mencari, mengerti, menghargai dan mengenali kontribusi tiap manusia dalam kualitas personal terhadap perdamaian yang terkontrol.
Dengan secara aktif berpartisipasi, teater dapat membawa banyak jiwa manusia untuk medekonstruksi persepsi yang dimiliki sebelumnya. Dan dengan cara ini teater bisa memberi kesempatan kepada individu bangkit agar bisa menentukan pilihan-plihan berdasarkan penemuan kembali akan pengetahuan dan realitas..
Dengan berusaha meraih transformasi dan reformasi sosial dari komunitas-komunitas, teater telah eksis dalam wilayah robekan peperangan dan diantara penduduk yang menderita dari kemiskinan atau penyakit yang kronis
Oleh karena itu, suatu kegagalan menghadirkan nilai dan kualitas menjadi diam, seperti pengetahuan dalam diri kita terhadap kekuatan teater Biarkan pemegang senjata api dan dan peluncur bom menjadi penjaga perdamaian dunia kita. Bagaimana mungkin piranti alienasi bersifat ganda sebagai instrumen perdamaian dan sekaligus rekonsiliasi.
Saya mendesak anda pada Hari Teater Dunia ini untuk merenungkan prospek dan meletakkan teater di depan sebagai alat universal untuk dialog, transformasi dan reformasi sosial. Sedangkan PBB menghabiskan banyak dana keuangan untuk misi perdamaian di dunia lewat penggunaan tentara, teater menjadi alternatif yang spontan, manusiawi, berbiaya sedikit dan lebih jauh menjadi alternatif yang ampuh.
Sementara, mungkin ini hanya jawaban untuk membawa perdamaian. Teater seharusnya pasti menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar sebagai alat yang efektif dalam misi menjaga perdamaian. [Jessica A. Kaahwa, dosen di Fakultas Drama dan Sastra di Universitas Makerere]
Apakah anda pernah membayangkan bahwa teater dapat menjadi alat yang ampuh untuk perdamaian dan rekonsiliasi? Ketika bangsa-bangsa menghabiskan banyak dana keuangan untuk misi menjaga perdamaian di wilayah-wilayah konflik pelanggaran dari dunia ini, sedikit perhatian diberikan terhadap teater sebagai alternatif yang sesuai untuk mentransformasi dan mengelola konflik. Bagaimana para warga bumi ini dapat meraih perdamaian universal ketika alat yang digunakan berasal dari luar dan nampak menjadi kekuatan yang represif.
Teatre secara halus menyerap jiwa manusia yang dicekam rasa takut dan curiga, dengan mengubah citra diri dan karenanya membuka ruang-ruang alternatif kepada individual dan komunitas. Teater bisa memberi makna terhadap realitas keseharian sambil mencegah masa depan yang tak pasti. Teater bisa menarik perhatian situasi politik bangsa-bangsa dengan cara yang mudah dan sederhana. Karena teater secara inklusif bisa menghadirkan suatu pengalaman yang mampu melampaui kesalahpahaman yang ada sebelumnya.
Selain itu, teater telah terbukti menjadi alat advokasi dan memajukan ide-ide bahwa kita secara kolektif menjaganya dan bersedia memperjuangkan ketika terjadi pelanggaran.
Untuk mengantisipasi masa depan yang damai, kita harus mulai menggunakan piranti perdamaian untuk mencari, mengerti, menghargai dan mengenali kontribusi tiap manusia dalam kualitas personal terhadap perdamaian yang terkontrol.
Dengan secara aktif berpartisipasi, teater dapat membawa banyak jiwa manusia untuk medekonstruksi persepsi yang dimiliki sebelumnya. Dan dengan cara ini teater bisa memberi kesempatan kepada individu bangkit agar bisa menentukan pilihan-plihan berdasarkan penemuan kembali akan pengetahuan dan realitas..
Dengan berusaha meraih transformasi dan reformasi sosial dari komunitas-komunitas, teater telah eksis dalam wilayah robekan peperangan dan diantara penduduk yang menderita dari kemiskinan atau penyakit yang kronis
Oleh karena itu, suatu kegagalan menghadirkan nilai dan kualitas menjadi diam, seperti pengetahuan dalam diri kita terhadap kekuatan teater Biarkan pemegang senjata api dan dan peluncur bom menjadi penjaga perdamaian dunia kita. Bagaimana mungkin piranti alienasi bersifat ganda sebagai instrumen perdamaian dan sekaligus rekonsiliasi.
Saya mendesak anda pada Hari Teater Dunia ini untuk merenungkan prospek dan meletakkan teater di depan sebagai alat universal untuk dialog, transformasi dan reformasi sosial. Sedangkan PBB menghabiskan banyak dana keuangan untuk misi perdamaian di dunia lewat penggunaan tentara, teater menjadi alternatif yang spontan, manusiawi, berbiaya sedikit dan lebih jauh menjadi alternatif yang ampuh.
Sementara, mungkin ini hanya jawaban untuk membawa perdamaian. Teater seharusnya pasti menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar sebagai alat yang efektif dalam misi menjaga perdamaian. [Jessica A. Kaahwa, dosen di Fakultas Drama dan Sastra di Universitas Makerere]
Rabu, 23 Maret 2011
Delapan Budayawan Dianugerahi Satyalancana
Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono melalui Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik memberikan anugerah Satyalancana Kebudayaan 2010 kepada delapan orang budayawan dan seniman yang berjasa dalam mengembangkan dan melestarikan budaya.
"Ini merupakan anugerah tertinggi di bidang kebudayaan yang diberikan oleh Presiden," kata Menbudpar Jero Wacik pada acara pemberian anugerah Satyalancana Kebudayaan 2010 di Jakarta, Rabu.
Acara tersebut diselenggarakan berbarengan dengan peringatan Hari Musik Indonesia 2011 di Gedung Kesenian Jakarta.
Menbudpar juga menyebutkan delapan orang yang mendapatkan anugerah Satyalancana Kebudayaan 2010 adalah budayawan dan penyair Darmanto Jatman, Komponis Almarhum Koestanto Koeswoyo, Koreografer dan Penari Topeng Losari Almarhum Dewi.
Selain itu penulis buku adat Siti Maryam R Salahuddin, Sejarawan Teater Jakob Sumardjo, komponis dan penyanyi Iwan Fals, budayawan dan penyair Emha Ainun Najib, budayawan dan komponis Abd Hadi.
Selain memberikan anugerah Satyalanca Kebudayaan 2010, Menbudpar juga memberikan penghargaan kepada tiga orang penerima anugerah kebudayaan 2011 untuk kategori hadiah seni.
Menbudpar menyebutkan penerima hadiah seni antara lain komponis dan pencipta lagu Almarhum Elfa Secioria Hasbullah, penyanyi keroncong Sundari Soekotjo dan pencipta lagu Wedhasmara.
Menbudpar mengatakan pemberian anugerah merupakan bentuk apresiasi dari pemerintah kepada budayawan dan seniman.
"Ini merupakan apresiasi dari pemerintah kepada para budayawan dan seniman," katanya.
Sementara itu hadir dalam acara penyematan anugerah, Menko Kesra Agung Laksono.[R/Ant]
"Ini merupakan anugerah tertinggi di bidang kebudayaan yang diberikan oleh Presiden," kata Menbudpar Jero Wacik pada acara pemberian anugerah Satyalancana Kebudayaan 2010 di Jakarta, Rabu.
Acara tersebut diselenggarakan berbarengan dengan peringatan Hari Musik Indonesia 2011 di Gedung Kesenian Jakarta.
Menbudpar juga menyebutkan delapan orang yang mendapatkan anugerah Satyalancana Kebudayaan 2010 adalah budayawan dan penyair Darmanto Jatman, Komponis Almarhum Koestanto Koeswoyo, Koreografer dan Penari Topeng Losari Almarhum Dewi.
Selain itu penulis buku adat Siti Maryam R Salahuddin, Sejarawan Teater Jakob Sumardjo, komponis dan penyanyi Iwan Fals, budayawan dan penyair Emha Ainun Najib, budayawan dan komponis Abd Hadi.
Selain memberikan anugerah Satyalanca Kebudayaan 2010, Menbudpar juga memberikan penghargaan kepada tiga orang penerima anugerah kebudayaan 2011 untuk kategori hadiah seni.
Menbudpar menyebutkan penerima hadiah seni antara lain komponis dan pencipta lagu Almarhum Elfa Secioria Hasbullah, penyanyi keroncong Sundari Soekotjo dan pencipta lagu Wedhasmara.
Menbudpar mengatakan pemberian anugerah merupakan bentuk apresiasi dari pemerintah kepada budayawan dan seniman.
"Ini merupakan apresiasi dari pemerintah kepada para budayawan dan seniman," katanya.
Sementara itu hadir dalam acara penyematan anugerah, Menko Kesra Agung Laksono.[R/Ant]
Korban Letusan Petasan yang Kebanjiran Job Main Organ Tunggal
Kendati matanya bagian sebelah tidak bisa melihat secara sempurna, Rizky Nugroho Hery Baskoro tak putus asa menjalani hidupnya. Murid kelas VIII SMP Negeri 2 Selomerti ini memiliki multitalenta.Dia menjalani aktivitas di dunia musik, olah raga, seni peran, sekolah, hingga seni lukis.
Sare itu, Rizky Nugroho Hery Bhaskoro (15) duduk di ruang tamu. Dia ditemani Haryati, ibunya serta Jati Munandar guru privat seni lukisnya. Saat koran ini datang menyapa ramah ia lemparkan senyum. Dari kedua bibirnya merekah senyuman yang penuh tulus dan ceria. Tak tersirat sedikit pun di wajah remaja ini kesan putus asa. Sebaliknya ia tampak semangat belajar apa saja.
Ya, putra ke tiga pasangan Haryati dan ir Bambang Heryanto yang kini menjadi PNS di kantor DPPKAD Wonosobo ini memang multitalen. Pasalnya ia tak melulu hanya sekolah berbagai aktifitas lain ia lakoni diluar jam pelajaran sekolahnya. Sebut saja di bidang olah raga Rizky terbilang jago bermain basket, sepak bola, catur serta badminton. Namun semenjak mata kirinya sakit akibat mengalami kecekalaan terkena letusan petasan kini dia tidak diperbolehkan bermain olah raga berat. Maklum saja pengaruh sakit mata di sebelah kiri membuat keseimbangan fisiknya sedikit kurang normal seperti remaja lain.
“Rizky kecelakaan sewaktu masih duduk di kelas 5 SD. Walaupun berbagai usaha dilakukan untuk memulihkan penglihatan tetapi sampai sekarang matanya tetap tidak bisa melihat,” ujar ayahnya kepada Wonosobo Ekspres kemarin.
Ketika ditanya bagaimana rasanya saat pertama kali setelah terkena letusan petasa Rizki mengaku semula sempat drop. Namun atas dorongan kedua orang tua dan teman-temannya alumnus SD Negeri 1 Jaraksari itu kembali mencoba bangkit.
Kini setelah tak menekuni lagi dunia olah raga sebab atas dasar anjuran dokter namun saat ini dia lagi konsentrasi mengembangkan dunia seni music, acting serta lukis.Untuk bidang musik Rizky memiliki band bernama wulan music dibawah bimbingan bapak Totok.Melalui group musik debutan itu Rizky acap manggung dari satu tempat ke tempat yang lain.
Sejumlah prestasi didunia music juga pernah dia sabet. Paling tidak, bocah yang sejak kelas 4 SD menguasai alat musik keyboard, piano dan guitar ini pernah meraih penghargaan penampilan terbaik dalam acara apresiasi seni dan budaya daerah bagi pelajar SMP/SMA di Wonosobo. "Waktu itu saya masih kelas 7 SMP dan dinobatkan sebagai pemain keyboard tunggal terbaik", aku Rizky.
Di luar itu, Rizky juga kerap manggung dalam acara tujuh belasan, ulang tahun dan resepsi pernikahan atau sunatan warga setempat. Karena masih pelajar, tentu jam pentas itu dilakukan saat hari Minggu atau sore hari selepas jam sekolah.
Selain itu, bocah yang punya cita-cita jadi guru seni musik ini, pernah ikut pentas seni tari budaya daerah yang menampilkan tarian emblek atau kuda kepang dalam rangka HUT Kemerdekaan RI di Alun-Alun Wonosobo. Rizky tercatat bergabung di group kesenian tradisional "Retno Asri Budoyo" Jaraksari.
Tak hanya mahir di dunia musik. Sebab, Rizky pernah menjajal di dunia akting. Peran yang dia ambil adalah menjadi Si Bolang dalam acara "Si Bolang" di Trans TV. Saat itu dia tampil dalam aksi perang-perangan di komplek taman wisata alam Dieng dan membuat tembak-tembakan di seputar Telaga Menjer Garung.
Di waktu yang lain siswa kelahiran Wonosobo 29 November 2006 ini tampil lagi dalam acara, "Catatan Harian Si Unyil" di TV yang sama. Kala itu, dia memerankan bocah yang tengah membuat minuman segar khas Wonosobo, yakni Carica. Rizky mengaku senang bisa bermain dalam acara "Si Bolang" dan "Catatan Harian Si Unyil".
Main peran dalam acara di televisi, menurutnya, asyik juga. Sebab, harus mengetahui detail-detail acara yang akan dibawakan. Perlu beberapa kali latihan agar peranya tidak terlalu kaku.
"Peran alami sangat dibutuhkan dalam acara "Si Bolang" maupun "Catatan Harian Si Unyil" di televisi" katanya.
Dia merasa tak mengalami banyak kesulitan ketika harus melakukan shooting karena selama ini sudah biasa tampil di muka umum saat menyanyi, menari dan main keyboard atau piano. "Bila ada kesempatan lagi saya ingin tampil kembali di televisi", katanya.
Di bidang seni lukis juga tak kalah prestasi. Sebab, Rizky pernah masuk nominasi dalam acara
"The Ary Suta Center Children Painting Competition Award 2010", tingkat nasional di Jakarta. Beberapa kali dia juga ikut dalam ajang lukis di kotanya.
Guna menunjang kemampuan lukisnya dia berguru pada pelukis profesional Jati Munandar yang juga Direktur Event Organizer (EO) Mata Elang Wonosobo. Sedang les musik bersama Bapak Totok. Di rumahnya Rizky punya koleksi alat musik keyboard, piano dan guitar. Orang tuanya sangat mendukung aktifitas yang dilakoninya.
Karena banyak bergiat di dunia luar, Rizky tak mau ketinggalan dalam pelajaran di sekolah. Karena itu, selain les musik dan lukis, dia masih mengalokasikan waktu untuk les privat matematika dan bahasa Inggris. "Saya tidak mau gara-gara banyak kegiatan di luar prestasi di sekolah jadi jeblok. Saya ingin sukses di dunia hiburan dan sekolah", harapnya. [R/Yudi]
Sare itu, Rizky Nugroho Hery Bhaskoro (15) duduk di ruang tamu. Dia ditemani Haryati, ibunya serta Jati Munandar guru privat seni lukisnya. Saat koran ini datang menyapa ramah ia lemparkan senyum. Dari kedua bibirnya merekah senyuman yang penuh tulus dan ceria. Tak tersirat sedikit pun di wajah remaja ini kesan putus asa. Sebaliknya ia tampak semangat belajar apa saja.
Ya, putra ke tiga pasangan Haryati dan ir Bambang Heryanto yang kini menjadi PNS di kantor DPPKAD Wonosobo ini memang multitalen. Pasalnya ia tak melulu hanya sekolah berbagai aktifitas lain ia lakoni diluar jam pelajaran sekolahnya. Sebut saja di bidang olah raga Rizky terbilang jago bermain basket, sepak bola, catur serta badminton. Namun semenjak mata kirinya sakit akibat mengalami kecekalaan terkena letusan petasan kini dia tidak diperbolehkan bermain olah raga berat. Maklum saja pengaruh sakit mata di sebelah kiri membuat keseimbangan fisiknya sedikit kurang normal seperti remaja lain.
“Rizky kecelakaan sewaktu masih duduk di kelas 5 SD. Walaupun berbagai usaha dilakukan untuk memulihkan penglihatan tetapi sampai sekarang matanya tetap tidak bisa melihat,” ujar ayahnya kepada Wonosobo Ekspres kemarin.
Ketika ditanya bagaimana rasanya saat pertama kali setelah terkena letusan petasa Rizki mengaku semula sempat drop. Namun atas dorongan kedua orang tua dan teman-temannya alumnus SD Negeri 1 Jaraksari itu kembali mencoba bangkit.
Kini setelah tak menekuni lagi dunia olah raga sebab atas dasar anjuran dokter namun saat ini dia lagi konsentrasi mengembangkan dunia seni music, acting serta lukis.Untuk bidang musik Rizky memiliki band bernama wulan music dibawah bimbingan bapak Totok.Melalui group musik debutan itu Rizky acap manggung dari satu tempat ke tempat yang lain.
Sejumlah prestasi didunia music juga pernah dia sabet. Paling tidak, bocah yang sejak kelas 4 SD menguasai alat musik keyboard, piano dan guitar ini pernah meraih penghargaan penampilan terbaik dalam acara apresiasi seni dan budaya daerah bagi pelajar SMP/SMA di Wonosobo. "Waktu itu saya masih kelas 7 SMP dan dinobatkan sebagai pemain keyboard tunggal terbaik", aku Rizky.
Di luar itu, Rizky juga kerap manggung dalam acara tujuh belasan, ulang tahun dan resepsi pernikahan atau sunatan warga setempat. Karena masih pelajar, tentu jam pentas itu dilakukan saat hari Minggu atau sore hari selepas jam sekolah.
Selain itu, bocah yang punya cita-cita jadi guru seni musik ini, pernah ikut pentas seni tari budaya daerah yang menampilkan tarian emblek atau kuda kepang dalam rangka HUT Kemerdekaan RI di Alun-Alun Wonosobo. Rizky tercatat bergabung di group kesenian tradisional "Retno Asri Budoyo" Jaraksari.
Tak hanya mahir di dunia musik. Sebab, Rizky pernah menjajal di dunia akting. Peran yang dia ambil adalah menjadi Si Bolang dalam acara "Si Bolang" di Trans TV. Saat itu dia tampil dalam aksi perang-perangan di komplek taman wisata alam Dieng dan membuat tembak-tembakan di seputar Telaga Menjer Garung.
Di waktu yang lain siswa kelahiran Wonosobo 29 November 2006 ini tampil lagi dalam acara, "Catatan Harian Si Unyil" di TV yang sama. Kala itu, dia memerankan bocah yang tengah membuat minuman segar khas Wonosobo, yakni Carica. Rizky mengaku senang bisa bermain dalam acara "Si Bolang" dan "Catatan Harian Si Unyil".
Main peran dalam acara di televisi, menurutnya, asyik juga. Sebab, harus mengetahui detail-detail acara yang akan dibawakan. Perlu beberapa kali latihan agar peranya tidak terlalu kaku.
"Peran alami sangat dibutuhkan dalam acara "Si Bolang" maupun "Catatan Harian Si Unyil" di televisi" katanya.
Dia merasa tak mengalami banyak kesulitan ketika harus melakukan shooting karena selama ini sudah biasa tampil di muka umum saat menyanyi, menari dan main keyboard atau piano. "Bila ada kesempatan lagi saya ingin tampil kembali di televisi", katanya.
Di bidang seni lukis juga tak kalah prestasi. Sebab, Rizky pernah masuk nominasi dalam acara
"The Ary Suta Center Children Painting Competition Award 2010", tingkat nasional di Jakarta. Beberapa kali dia juga ikut dalam ajang lukis di kotanya.
Guna menunjang kemampuan lukisnya dia berguru pada pelukis profesional Jati Munandar yang juga Direktur Event Organizer (EO) Mata Elang Wonosobo. Sedang les musik bersama Bapak Totok. Di rumahnya Rizky punya koleksi alat musik keyboard, piano dan guitar. Orang tuanya sangat mendukung aktifitas yang dilakoninya.
Karena banyak bergiat di dunia luar, Rizky tak mau ketinggalan dalam pelajaran di sekolah. Karena itu, selain les musik dan lukis, dia masih mengalokasikan waktu untuk les privat matematika dan bahasa Inggris. "Saya tidak mau gara-gara banyak kegiatan di luar prestasi di sekolah jadi jeblok. Saya ingin sukses di dunia hiburan dan sekolah", harapnya. [R/Yudi]
Sabtu, 19 Maret 2011
Gatot Pranoto dan Keinsafan Masa Lalu
Nama Gatot Pranoto tidak bisa dipisahkan dari yayasan pemerhati budaya Mahameru di Blora. Sebuah organisasi yang kini mengelola museum yang menyimpan berbagai peninggalan sejarah masa lalu.
Gatot Pranoto bukanlah nama asing di mata para kolektor barang antik. Pasalnya, sebelum menjadi orang yang getol menyelamatkan warisan sejarah budaya, khususnya di kota kelahirannya, ia adalah penjual barang-barang antic yang cukup dikenal. Tidak hanya di Blora, tetapi hamper seluruh wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Cukup lama laki-laki kelahiran 9 Oktober 1959 ini ‘bekerjasama’ dengan para pemburu barang-barang antik. “Nama saya sudah cukup familiar di telinga para pemburu barang antik saat itu,” kenangnya yang mengku berjualan barang antic sejak 1979.
Waktu itu, ia kuliah di Yogyakarta. Benda-benda pusaka bukan barang yang utama. “Justru yang saya jual waktu itu rata-rata kayu, kerami, kain, dan logam. Semuanya dari Blora. Sementara pembelinya tidak cuma dari dalam negeri, tetapi ada yang dari luar negeri,” ujarnya.
Ia berkecimpung di dunia jual-beli barang antik sekitar 10 tahun. Namun lambat laun, ia pun insaf, dan kegiatan jual-beli barang antic yang dilakoninya adalah aktifitas yang kurang baik. “Keadaan, degradasi perilaku, serta jati diri yang dalam situasi pragmatisme dan konsumerisme yang mengkhawatirkan, telah menyadarkan saya,” katanya.
Keadaan berubah 180 derajat. Dari penjual barang-barang antic, Gatot Pranoto menjadi sosok yang sangat getol untuk menyelamatkan warisan budaya masa lalu. Baginya, warisan budaya dan peninggalan-peninggalan sejarah masa lalu, harus lah dijaga dan dilindungi sebagai pembelajaran. “Warisan masa lalu itu bisa menjadi infiltrasi terhadap budaya asing,” paparnya.
Di mata Paryanto, keinsafan Gatot Pranoto berdampak besar bagi masyarakat Blora. “Berangkat dari pengalamannya, Pak gatot menjadi penganjur untuk nguri-uri budaya,” katanya.
Pak Gatot Pranoto pula, tambahnya, yang berjuang membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga sejarah, seni, dan budaya. “Sebelum ada Pak Gatot tidak ada yang peduli. Mahameru awalnya juga banyak yang mencibir. Tetapi kami memahami, proses penyadaran masyarakat akan pentingnya warisan sejarah masa lalu memang belum selesai, tetapi masih harus diperjuangkan,” tandasnya. (Rosidi)
Gatot Pranoto bukanlah nama asing di mata para kolektor barang antik. Pasalnya, sebelum menjadi orang yang getol menyelamatkan warisan sejarah budaya, khususnya di kota kelahirannya, ia adalah penjual barang-barang antic yang cukup dikenal. Tidak hanya di Blora, tetapi hamper seluruh wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Cukup lama laki-laki kelahiran 9 Oktober 1959 ini ‘bekerjasama’ dengan para pemburu barang-barang antik. “Nama saya sudah cukup familiar di telinga para pemburu barang antik saat itu,” kenangnya yang mengku berjualan barang antic sejak 1979.
Waktu itu, ia kuliah di Yogyakarta. Benda-benda pusaka bukan barang yang utama. “Justru yang saya jual waktu itu rata-rata kayu, kerami, kain, dan logam. Semuanya dari Blora. Sementara pembelinya tidak cuma dari dalam negeri, tetapi ada yang dari luar negeri,” ujarnya.
Ia berkecimpung di dunia jual-beli barang antik sekitar 10 tahun. Namun lambat laun, ia pun insaf, dan kegiatan jual-beli barang antic yang dilakoninya adalah aktifitas yang kurang baik. “Keadaan, degradasi perilaku, serta jati diri yang dalam situasi pragmatisme dan konsumerisme yang mengkhawatirkan, telah menyadarkan saya,” katanya.
Keadaan berubah 180 derajat. Dari penjual barang-barang antic, Gatot Pranoto menjadi sosok yang sangat getol untuk menyelamatkan warisan budaya masa lalu. Baginya, warisan budaya dan peninggalan-peninggalan sejarah masa lalu, harus lah dijaga dan dilindungi sebagai pembelajaran. “Warisan masa lalu itu bisa menjadi infiltrasi terhadap budaya asing,” paparnya.
Di mata Paryanto, keinsafan Gatot Pranoto berdampak besar bagi masyarakat Blora. “Berangkat dari pengalamannya, Pak gatot menjadi penganjur untuk nguri-uri budaya,” katanya.
Pak Gatot Pranoto pula, tambahnya, yang berjuang membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga sejarah, seni, dan budaya. “Sebelum ada Pak Gatot tidak ada yang peduli. Mahameru awalnya juga banyak yang mencibir. Tetapi kami memahami, proses penyadaran masyarakat akan pentingnya warisan sejarah masa lalu memang belum selesai, tetapi masih harus diperjuangkan,” tandasnya. (Rosidi)
Di Mahameru, Mata Rantai Sejarah itu Tersimpan
Blora - Ingin tahu seperti apa mata rantai (sejarah) masyarakat Blora tempo dulu? Tengoklah museum Mahameru yang berada satu kompleks dengan Taman Tirtonadi. Di sana, tersimpan bermacam koleksi yang menandai perjalanan panjang sejara leluhur masyarakat Kota Satai.
Gatot Pranoto, Ketua Yayasan Mahameru, menyebut museum yang dikelola oleh Yayasan pemerhati budaya yang dipimpinnya, memiliki koleksi yang cukup lengkap. Ia bahkan pernah menyebut, koleksi museum Mahameru itu lebih lengkap dibandingkan dengan museum arkeologi Sangiran. “Kita memiliki koleksi mulai dari masa pra sejarah, Hindu-Budha (klasik), Islam, hingga masa kolonial,” katanya.
Peralatan berburu manusia purba seperti kapak genggam dan batu, koleksi masa Hindu-Budha antara lain berupa gerabah, patung, bibir sumur kuno yang sezaman dengan Candi Plaosan Lor di sebelah timur-laut candi Prambanan, serta plat bau. Koleksi masa Islam, di antaranya kitab kalam berbentuk tulisan tangan yang kertasnya dari kulit binatang, Alquran tulisan tangan, serta tafsir alquran.
Rekam jejak perjalanan masyarakat Blora pada masa kolonial, ditandai dengan berbagai peninggalan, seperti landasan meriam, pistol VOC, kamera kuno, radio kuno, filter air, loster, serta papan iklan masa lampau. Selain itu, ada juga topeng perunggu, azimat zaman Pangeran Diponegoro, wayang kulit, wayang golek, timbangan dari kayu, alat pemintal benang, lumpang-alu, dan tatakan soko.
Tetapi tidak cuma itu. Masih banyak koleksi lain di museum yang embrionya sudah ada sejak 1999. Paryanto, ketua divisi kajian seni, budaya, dan sejarah di Yayasan Mahameru mengatakan, museum peninggalan warisan sejarah Blora ini memiliki nilai yang sangat penting.
“Koleksi museum Mahameru ini bisa menunjukkan kita mengenai sejarah, seni, dan budaya para leluhur kita di masa lalu, sehingga harus kita pahami. Sayang, kebanyakan masyarakat tidak tahu dan malas belajar untuk itu. Padahal, koleksi yang ada di museum Mahameru, itu bisa menunjukkan jati diri masyarakat Blora,” ujarnya.
Proses Penyadaran
Museum Mahameru adalah “proyek jangka pendek” yang digagas Yayasan Mahameru. Perkumpulan pemerhati budaya di Blora ini, secara resmi berdiri pada 16 Mei 2001 dengan Akta Notaris yang dikeluarkan oleh R Tidore Iwan Wijaya SH.
“Embrio berdirinya yayasan ini beberapa tahun sebelum kita notariskan. Namun sejak sebelum itu, kami dan teman-teman pemerhati budaya sudah sepakat akan memakai ‘Mahameru’ sebagai nama yayasan (organisasi),” terang Gatot Pranoto.
Gatot menyebut pendirian Museum Mahameru sebagai proyek jangka pendek, karena bagi dia dan para pegiat Mahameru lainnya, yang jauh lebih berat adalah membangun kesadaran masyarakat melalui berbagai koleksinya. “Untuk merealisasikan ini bukan hal yang sederhana, sehingga butuh keterlibatan banyak pihak yang sama-sama pemerhati budaya,” jelasnya.
Setelah terbentuk sebuah komunitas pemerhati budaya, ini juga tidak lantas persoalan proses penyadaran kepada masyarakat selesai. Pasalnya, sebelum terjun ke masyarakat, bangunan kesadaran di internal mesti selesai terlebih dahulu. “Kami harus membangun kesadaran komunal terlebih dahulu,” paparnya.
Selanjutnya, baru kepada tahap penyadaran secara lebih luas bisa dilakukan, melalui sumber primer yang ada, yaitu koleksi museum Mahameru. “Seterusnya, baru ini menjadi bahan refleksi untuk membangun Blora,” ungkapnya.
Refleksi dimaksud tidak sekadar tahu bagaimana Blora di masa lalu, melainkan sampai pada bangunan kesadaran terkait sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA) yang ada. “Kombinasi SDM dan SDA inilah asset yang sangat berharga untuk membangun Blora, baik jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang,” tegasnya.
Menurut sosok yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, sampai saat ini, rencana pembangunan jangka pendek dan jangka panjang, belum memanfaatkan SDM dan SDA yang sesuai karakter masyarakat Blora. “Bagaimana bisa merencanakan pembangunan secara baik, jika tidak memahami karakter orang Blora,” lanjutnya.
Bupati Blora Djoko Nugroho kepada Suara Merdeka mengatakan, museum Mahameru menyimpan sejarah masa lalu yang tak terperikan. “Museum ini menyimpan sejarah purbakala yang tak ternilai. Kami akan memperhatikannya. Tetapi untuk saat ini, konsentrasi belum ke arah sana. Nanti kita pikirkan,” ujarnya. (Rosidi)
Gatot Pranoto, Ketua Yayasan Mahameru, menyebut museum yang dikelola oleh Yayasan pemerhati budaya yang dipimpinnya, memiliki koleksi yang cukup lengkap. Ia bahkan pernah menyebut, koleksi museum Mahameru itu lebih lengkap dibandingkan dengan museum arkeologi Sangiran. “Kita memiliki koleksi mulai dari masa pra sejarah, Hindu-Budha (klasik), Islam, hingga masa kolonial,” katanya.
Peralatan berburu manusia purba seperti kapak genggam dan batu, koleksi masa Hindu-Budha antara lain berupa gerabah, patung, bibir sumur kuno yang sezaman dengan Candi Plaosan Lor di sebelah timur-laut candi Prambanan, serta plat bau. Koleksi masa Islam, di antaranya kitab kalam berbentuk tulisan tangan yang kertasnya dari kulit binatang, Alquran tulisan tangan, serta tafsir alquran.
Rekam jejak perjalanan masyarakat Blora pada masa kolonial, ditandai dengan berbagai peninggalan, seperti landasan meriam, pistol VOC, kamera kuno, radio kuno, filter air, loster, serta papan iklan masa lampau. Selain itu, ada juga topeng perunggu, azimat zaman Pangeran Diponegoro, wayang kulit, wayang golek, timbangan dari kayu, alat pemintal benang, lumpang-alu, dan tatakan soko.
Tetapi tidak cuma itu. Masih banyak koleksi lain di museum yang embrionya sudah ada sejak 1999. Paryanto, ketua divisi kajian seni, budaya, dan sejarah di Yayasan Mahameru mengatakan, museum peninggalan warisan sejarah Blora ini memiliki nilai yang sangat penting.
“Koleksi museum Mahameru ini bisa menunjukkan kita mengenai sejarah, seni, dan budaya para leluhur kita di masa lalu, sehingga harus kita pahami. Sayang, kebanyakan masyarakat tidak tahu dan malas belajar untuk itu. Padahal, koleksi yang ada di museum Mahameru, itu bisa menunjukkan jati diri masyarakat Blora,” ujarnya.
Proses Penyadaran
Museum Mahameru adalah “proyek jangka pendek” yang digagas Yayasan Mahameru. Perkumpulan pemerhati budaya di Blora ini, secara resmi berdiri pada 16 Mei 2001 dengan Akta Notaris yang dikeluarkan oleh R Tidore Iwan Wijaya SH.
“Embrio berdirinya yayasan ini beberapa tahun sebelum kita notariskan. Namun sejak sebelum itu, kami dan teman-teman pemerhati budaya sudah sepakat akan memakai ‘Mahameru’ sebagai nama yayasan (organisasi),” terang Gatot Pranoto.
Gatot menyebut pendirian Museum Mahameru sebagai proyek jangka pendek, karena bagi dia dan para pegiat Mahameru lainnya, yang jauh lebih berat adalah membangun kesadaran masyarakat melalui berbagai koleksinya. “Untuk merealisasikan ini bukan hal yang sederhana, sehingga butuh keterlibatan banyak pihak yang sama-sama pemerhati budaya,” jelasnya.
Setelah terbentuk sebuah komunitas pemerhati budaya, ini juga tidak lantas persoalan proses penyadaran kepada masyarakat selesai. Pasalnya, sebelum terjun ke masyarakat, bangunan kesadaran di internal mesti selesai terlebih dahulu. “Kami harus membangun kesadaran komunal terlebih dahulu,” paparnya.
Selanjutnya, baru kepada tahap penyadaran secara lebih luas bisa dilakukan, melalui sumber primer yang ada, yaitu koleksi museum Mahameru. “Seterusnya, baru ini menjadi bahan refleksi untuk membangun Blora,” ungkapnya.
Refleksi dimaksud tidak sekadar tahu bagaimana Blora di masa lalu, melainkan sampai pada bangunan kesadaran terkait sumber daya manusia (SDM) dan sumber daya alam (SDA) yang ada. “Kombinasi SDM dan SDA inilah asset yang sangat berharga untuk membangun Blora, baik jangka pendek, jangka menengah, maupun jangka panjang,” tegasnya.
Menurut sosok yang pernah mengenyam pendidikan di Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, sampai saat ini, rencana pembangunan jangka pendek dan jangka panjang, belum memanfaatkan SDM dan SDA yang sesuai karakter masyarakat Blora. “Bagaimana bisa merencanakan pembangunan secara baik, jika tidak memahami karakter orang Blora,” lanjutnya.
Bupati Blora Djoko Nugroho kepada Suara Merdeka mengatakan, museum Mahameru menyimpan sejarah masa lalu yang tak terperikan. “Museum ini menyimpan sejarah purbakala yang tak ternilai. Kami akan memperhatikannya. Tetapi untuk saat ini, konsentrasi belum ke arah sana. Nanti kita pikirkan,” ujarnya. (Rosidi)
Rabu, 16 Maret 2011
Wartawan Siap Wujudkan Wonosobo Hijau

Wonosobo - Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jateng 5 Sudharman menyatakan siap mengawal masyarakat untuk selalu menumbuhkan rasa kepedulian lingkungan bersama pemerintah demi terciptanya alam Wonosobo yang asri. Sebab sejak 2008 hal itu sudah diaplikasikan dengan menanam pohon di bukit wartawan tempat wisata Telaga Menjer.
“Yang jelas wartawan bukan petani, tapi siap untuk mengawal selalu penghijauan di Wonosobo. Jangan sampai bencana alam terjadi karena ulah manusia,” katanya saat memberikan sambutan peringatan hari Pers Nasional 2011 dan ulang tahun PWI ke 65 di Telaga Menjer.
Dalam acara seremoni yang sederhana tersebut dihadiri sebelas wartawan media cetak dan elektronik se Kabupaten Wonosobo. Hadir pula semua pejabat Humas Kabupaten Wonosobo, Wakil Bupati Wonosobo Hj Maya Rosida MM, Sekda Wonosobo Eko Stutrisno Wibowo MM, Kabag Humas Agus Purnomo, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Azis Wijaya serta perangkat desa Maron Garung.
Wabup mengharapkan kedepan pers di Wonosobo lebih berkualitas. Sebab peran wartawan sangat penting untuk mengawal amanat Undang-Undang dan turut serta mencerdaskan pendidikan dan kesejahteraan sosial masyarakat. Apalagi saat ini wartawan sudah memiliki bukit di daerah Menjer.
“Areal yang sangat luar biasa ini kami titipkan kepada seluruh perangkat desa Menjer untuk kerjasamanya,” katanya.
Lebih jauh Maya memaparkan dalam rangka untuk mewujudkan Wonosobo sebagai kota bunga ia minta masyarakat agar selalu sangat peduli terhadap lingkungan. Menurutnya alangkah indahnya Telaga Menjer dengan taman-taman bunga. Hal ini akan menjadi daya tarik turis domestik maupun mancanegara dan dapat menjadi daerah wisata yang dikelola masyarakat bersama pemerintah.
“Terima kasih kepada rekan-rekan pers Wonosobo atas semua hasil kerjasama ini. Dengan demikian kita tingkatkan berbagai hal positif agar tali silaturrahmi kita kian menjadi lebih baik,” ucap Maya.
Setelah acara seremoni sederhana selesai, secara bersama-sama Wabup, Kabag Humas, Ketua PWI Jateng 5 dan Kadisparbud menanam bunga di tempat wisata telaga Menjer. Para awak media turut pula melakukan pemupukan pohon yang ditanam pada tahun 2008 pada puncak acara hari pers nasional. Satu per satu para wartawan yang tidak biasa memegang pupuk itu menaburkan urea dibawah pohon yang tumbuh di bukit wartawan. “Selamat ulang tahun kepada semua wartawan,” pungkas Wabup. [R/Yudi]
Selasa, 15 Maret 2011
Dari Sekitar Kita, Mengurangi Efek Rumah Kaca
Blora - Tangan M Agus Setiawan, siswa kelas 6 SD 1 Kemiri, Kecamatan Jepon, ini membersihkan bunga-bunga di halaman sekolahnya. Sejurus kemudian, ia menyiapkan pot sederhana, untuk menanam bunga-bunga di halaman sekolahnya. Pupuk kandang juga sudah disiapkan, agar bunga nanti tumbuh dengan subur.
Tak hanya Agus. Teman-temannya yang lain juga melakukan hal yang sama. Karena pagi itu, ia dan teman-temannya memang sedang membuat taman sekolah meski masih dalam suasana liburan.
Mursyid Kusbiantoro, Kukuh Setiobudi, Aris Susanto, M Edi Sujud, serta Khoirul Umu Kalsum. Meski berbeda kelas, karena di antara mereka ada yang dari kelas empat, lima, dan kelas enam, namun saat itu mereka adalah satu kelompok. "Kami mau menanam bunga, bikin taman," ujar Agus.
Macam-macam bunga yang dipersiapkan untuk ditanam, di antaranya ekorbia, krisan, cocor bebek, sansifera, kaktus, dan tales. "Masing-masing membawa bunga dan pupuk kandang dari rumah," Khoirul Umu Kalsum menimpali.
Sementara mereka menyiapkan bunga dan pupuk kandangnya yang sebagian hendak ditanam di pot, sebagian lain membuat taman dengan pagar bambu kuning. Saat itu, mereka memang sedang berbagi tugas, agar pembuatan taman berjalan sukses. "Kita berbagi tugas. Persiapan untuk membuat taman ini juga sudah dari pagi tadi," ungkap Agus.
Pemanasan Global
Khoirul, siswa kelas enam yang masih lugu ini mengatakan, tujuan penanaman bungan atau pembuatan taman di sekolahnya itu, adalah untuk ikut membantu mengurangi efek rumah kaca atau pemanasan global.
"Ini untuk membantu mengurangi panas bumi atau efek rumah kaca," katanya tanpa ragu saat ditemui Suara Merdeka disela-sela kesibukannya ikut menyiapkan pembuatan taman. Khoirul juga mengaku, di rumah memiliki banyak tanaman bunga dan suka merawatnya.
Agus, kendati siswa ini tidak pernah merawat tanaman di rumah, namun dalam kegiatan penanaman bunga atau pembuatan taman di sekolahnya, ia sangat antusias. "Nanti saya akan membantu merawatnya. Biar sekolah ini tidak terasa panas dan lebih indah," ujarnya.
Penanaman bunga dan pembuatan taman di SD 1 Kemiri tersebut, sebenarnya didukung oleh perkumpulan pelajar dan mahasiswa yang tergabung dalam Bloranese Community for Education (BCE).
"Ini adalah kegiatan pertama kami. Sengaja kami adakan kegiatan ini di musim liburan, karena waktunya lebih longgar dan adik-adik pelajar juga tidak terganggu sekolahnya. Ke depan, kami akan coba menggagas agar kegiatan ini bisa terus berjalan," terang Winda Mayasari, salah satu pengurus BEC yang kini kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga.
Semangat para pelajar dan mahasiswa yang tergabung di BEC itu pun laik mendapatkan apresiasi. Mereka seakan ingin mengatakan, bahwa untuk ikut membantu mengurangi pemanasan global, tidak harus dengan program yang muluk-muluk, melainkan bisa dimulai dari diri sendiri, dari sekitar kita. [R]
Tak hanya Agus. Teman-temannya yang lain juga melakukan hal yang sama. Karena pagi itu, ia dan teman-temannya memang sedang membuat taman sekolah meski masih dalam suasana liburan.
Mursyid Kusbiantoro, Kukuh Setiobudi, Aris Susanto, M Edi Sujud, serta Khoirul Umu Kalsum. Meski berbeda kelas, karena di antara mereka ada yang dari kelas empat, lima, dan kelas enam, namun saat itu mereka adalah satu kelompok. "Kami mau menanam bunga, bikin taman," ujar Agus.
Macam-macam bunga yang dipersiapkan untuk ditanam, di antaranya ekorbia, krisan, cocor bebek, sansifera, kaktus, dan tales. "Masing-masing membawa bunga dan pupuk kandang dari rumah," Khoirul Umu Kalsum menimpali.
Sementara mereka menyiapkan bunga dan pupuk kandangnya yang sebagian hendak ditanam di pot, sebagian lain membuat taman dengan pagar bambu kuning. Saat itu, mereka memang sedang berbagi tugas, agar pembuatan taman berjalan sukses. "Kita berbagi tugas. Persiapan untuk membuat taman ini juga sudah dari pagi tadi," ungkap Agus.
Pemanasan Global
Khoirul, siswa kelas enam yang masih lugu ini mengatakan, tujuan penanaman bungan atau pembuatan taman di sekolahnya itu, adalah untuk ikut membantu mengurangi efek rumah kaca atau pemanasan global.
"Ini untuk membantu mengurangi panas bumi atau efek rumah kaca," katanya tanpa ragu saat ditemui Suara Merdeka disela-sela kesibukannya ikut menyiapkan pembuatan taman. Khoirul juga mengaku, di rumah memiliki banyak tanaman bunga dan suka merawatnya.
Agus, kendati siswa ini tidak pernah merawat tanaman di rumah, namun dalam kegiatan penanaman bunga atau pembuatan taman di sekolahnya, ia sangat antusias. "Nanti saya akan membantu merawatnya. Biar sekolah ini tidak terasa panas dan lebih indah," ujarnya.
Penanaman bunga dan pembuatan taman di SD 1 Kemiri tersebut, sebenarnya didukung oleh perkumpulan pelajar dan mahasiswa yang tergabung dalam Bloranese Community for Education (BCE).
"Ini adalah kegiatan pertama kami. Sengaja kami adakan kegiatan ini di musim liburan, karena waktunya lebih longgar dan adik-adik pelajar juga tidak terganggu sekolahnya. Ke depan, kami akan coba menggagas agar kegiatan ini bisa terus berjalan," terang Winda Mayasari, salah satu pengurus BEC yang kini kuliah di Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW), Salatiga.
Semangat para pelajar dan mahasiswa yang tergabung di BEC itu pun laik mendapatkan apresiasi. Mereka seakan ingin mengatakan, bahwa untuk ikut membantu mengurangi pemanasan global, tidak harus dengan program yang muluk-muluk, melainkan bisa dimulai dari diri sendiri, dari sekitar kita. [R]
Belajar dan Berkarya di Dunia Sinema
Blora - Dunia perfilman di Indonesia, saat ini mengalam kegairahan yang luar biasa. Apreasiasi terhadap film-film anak negeri, juga mendapatkan sambutan yang sangat positif. Trend film religi, juga tak kalah merebak, sampai menelurkan ‘genre’ kerudung sinema dengan Hanung Bramantyo sebagai salah satu ikonnya.
Hanung, sutradara kondang suami Zaskia Adya Mecca, ini popular dengan beberapa garapannya di kerudung sinema seperti Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan lain sebagainya.
Menariknya, jagat perfilman Indonesia, saat ini juga kian ramai dengan film-film independen dan film dokumenter. Tidak saja diproduksi oleh para sineas yang sudah berpengalaman, tetapi juga oleh para mahasiswa dan pelajar (siswa) di sekolah-sekolah.
Untuk pelajar, film independen dan juga film dokumenter, selain untuk memberikan pembelajaran, sekaligus untuk memberikan gambaran secara jelas kepada siswa dalam memahami sejarah. “Salah satu film sejarah yang baru dirilis di Blora, yaitu tentang perjuangan Ki Samin Surosentiko,” ujar Dwi Bagus S, staf pengajar di SMP 2 Blora.
Dunia sinema ini pun berhasil memikat hati para siswa SMP 2 Blora, sebagai salah satu ajang untuk berkreatifitas dan berkarya sembari belajar. Sejumlah guru, khususnya guru Bahasa Indonesia pun, mendapatkan 'tugas tambahan' mendampingi anak-anak bergelut di dunia ini.
Tingkatkan Kualitas
Dalam rangka memberikan pemahaman tentang dunia perfilman kepada para siswanya, SMP 2 Blora menggelar Workshop Perfilman, belum lama ini. “Workshop ini untuk mengembangkan minat dan bakat siswa serta meningkatkan prestasi di bidang perfilman,” terang Kepala SMP 2 Blora Purwadi melalui Wakil Kepala Sekolah Bidang Manajemen Mutu Budi Waluyo S Pd.
Harapannya, setelah kegiatan ini, akan lahir karya-karya film yang berkualitas oleh siswa-siswi SMP 2 Blora. “Film Shinu; Jeritan Sang Pemain Barong karya siswa SMP 2 Blora, berhasil masuk final dalam lomba film antarsekolah SMP/SMA yang digelar pemerintah provinsi Jateng. Beberapa film lain, juga berhasil masuk nominasi dalam berbagai kejuaraan,” tambahnya.
Film pendek lain yang pernah digarap oleh siswa-siswi SMP 2 Blora, yaitu Shinu Jeritan Sang Pemain Barong, Biji Setum, serta Shinu Pahlawan Lagu Dolanan.
Karenanya, setelah workshop, anak-anak diharapkan juga agar lebih terpacu untuk menghasilkan karya-karya terbaik dan bisa meraih prestasi baik di tingkat provinsi maupun nasional.
Workshop diikuti 114 peserta yang terdiri atas guru dan siswa. Hadir sebagai narasumber Bambang Hengky dari Pro TV, yang belum lama ini menyutradarai film Samin Surosentiko.
Hengky menjelaskan proses pembuatan film, terutama bagaimana membuat film dokumenter, bagimana mengolah gambar, memilih ide cerita, memilih pemain yang berkarakter, tata cahaya, serta tata suara.
“Dalam pembuatan film, ada tiga tahapan yang harus dilalui, yaitu memilih ide (gagasan), membuat ringkasan cerita dan penulisan naskah. Baru setelah itu di breakdown dengan penggalan-penggalan cerita,” jelas Hengky yang didampingi Ranin Agung Kurniawan dalam menyampaikan materi.
Hengky tak hanya mengetengahkan teori-teori semata. Namun ia juga menjelaskan lewat beberapa film documenter hasil garapannya. Disty Ayuniar Rizky, Ketua OSIS SMP 2 Blora mengatakan menemukan pencerahan dan hal-hal baru mengenai bagaiman proses pembuatan film documenter yang baik.
“Setelah mendengarkan paparan Pak Bambang Hengky, saya dan teman-teman jadi lebih tertarik dan ingin mendalami dunia perfilman. Ternyata membuat film itu tidak hanya asyik, tetapi juga menambah cakrawala dan wawasan,” katanya. (Rosidi)
Hanung, sutradara kondang suami Zaskia Adya Mecca, ini popular dengan beberapa garapannya di kerudung sinema seperti Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, dan lain sebagainya.
Menariknya, jagat perfilman Indonesia, saat ini juga kian ramai dengan film-film independen dan film dokumenter. Tidak saja diproduksi oleh para sineas yang sudah berpengalaman, tetapi juga oleh para mahasiswa dan pelajar (siswa) di sekolah-sekolah.
Untuk pelajar, film independen dan juga film dokumenter, selain untuk memberikan pembelajaran, sekaligus untuk memberikan gambaran secara jelas kepada siswa dalam memahami sejarah. “Salah satu film sejarah yang baru dirilis di Blora, yaitu tentang perjuangan Ki Samin Surosentiko,” ujar Dwi Bagus S, staf pengajar di SMP 2 Blora.
Dunia sinema ini pun berhasil memikat hati para siswa SMP 2 Blora, sebagai salah satu ajang untuk berkreatifitas dan berkarya sembari belajar. Sejumlah guru, khususnya guru Bahasa Indonesia pun, mendapatkan 'tugas tambahan' mendampingi anak-anak bergelut di dunia ini.
Tingkatkan Kualitas
Dalam rangka memberikan pemahaman tentang dunia perfilman kepada para siswanya, SMP 2 Blora menggelar Workshop Perfilman, belum lama ini. “Workshop ini untuk mengembangkan minat dan bakat siswa serta meningkatkan prestasi di bidang perfilman,” terang Kepala SMP 2 Blora Purwadi melalui Wakil Kepala Sekolah Bidang Manajemen Mutu Budi Waluyo S Pd.
Harapannya, setelah kegiatan ini, akan lahir karya-karya film yang berkualitas oleh siswa-siswi SMP 2 Blora. “Film Shinu; Jeritan Sang Pemain Barong karya siswa SMP 2 Blora, berhasil masuk final dalam lomba film antarsekolah SMP/SMA yang digelar pemerintah provinsi Jateng. Beberapa film lain, juga berhasil masuk nominasi dalam berbagai kejuaraan,” tambahnya.
Film pendek lain yang pernah digarap oleh siswa-siswi SMP 2 Blora, yaitu Shinu Jeritan Sang Pemain Barong, Biji Setum, serta Shinu Pahlawan Lagu Dolanan.
Karenanya, setelah workshop, anak-anak diharapkan juga agar lebih terpacu untuk menghasilkan karya-karya terbaik dan bisa meraih prestasi baik di tingkat provinsi maupun nasional.
Workshop diikuti 114 peserta yang terdiri atas guru dan siswa. Hadir sebagai narasumber Bambang Hengky dari Pro TV, yang belum lama ini menyutradarai film Samin Surosentiko.
Hengky menjelaskan proses pembuatan film, terutama bagaimana membuat film dokumenter, bagimana mengolah gambar, memilih ide cerita, memilih pemain yang berkarakter, tata cahaya, serta tata suara.
“Dalam pembuatan film, ada tiga tahapan yang harus dilalui, yaitu memilih ide (gagasan), membuat ringkasan cerita dan penulisan naskah. Baru setelah itu di breakdown dengan penggalan-penggalan cerita,” jelas Hengky yang didampingi Ranin Agung Kurniawan dalam menyampaikan materi.
Hengky tak hanya mengetengahkan teori-teori semata. Namun ia juga menjelaskan lewat beberapa film documenter hasil garapannya. Disty Ayuniar Rizky, Ketua OSIS SMP 2 Blora mengatakan menemukan pencerahan dan hal-hal baru mengenai bagaiman proses pembuatan film documenter yang baik.
“Setelah mendengarkan paparan Pak Bambang Hengky, saya dan teman-teman jadi lebih tertarik dan ingin mendalami dunia perfilman. Ternyata membuat film itu tidak hanya asyik, tetapi juga menambah cakrawala dan wawasan,” katanya. (Rosidi)
Senin, 14 Maret 2011
Tulang Punggung Keluarga yang Sering Dipandang Sebelah Mata
Umumnya juru parkir di kota-kota metropolis adalah laki-laki. Tetapi berbeda dengan juru parkir di depan kantor pegadaian Wonosobo. dia adalah Dian Rohiyati. Ia menjadi satu-satunya juru parkir perempuan di sini.
Tatapan mata perempuan separuh baya itu tajam jauh memandang. Ia tak menghiraukan raungan mesin-mesin mobil dan motor yang memadat di jalan protokol Wonosobo. Tiap pagi dari pukul 07.30 WIB rompi biru bertuliskan juru parkir ia kenakan. Tak ketinggalan peluit serta topi hitam yang selalu menyertainya. Dian Rohiyati, perempuan paruh baya itu adalah satu-satunya tukang parkir perempuan di Wonosobo. Aktivitas menjadi juru parkir telah dilakonyanya lebih dari 30 tahun.
Dalam rentang perjalanan sejarah perpakiran di kabupaten berslogan Asri ini warga RT 4 RW 1 Kelurahan Jaraksari, ini pun telah paham dengan seluk beluk perpakiran. Menurut ibu Dian, begitu sapaan akrabnya, 30 tahun lalu harga parkir roda dua Rp 50 perak.Namun karena kondisi zaman berubah harga menjadi Rp 1000 menyesuaikan Perda baru.
“Dulu harga masih murah dan setornya ke Pemda. Tapi sekarang masih ke petugas anggota SAF 6 meski berdasar hasil rapat dengan Dishubkominfo akan ditanangani Kodim 0707 Wonosobo,” keluh perempuan beranak dan cucu dua tersebut Senin (14/3/2011).
Meski banyak dipandang sebelah mata oleh sebagian besar orang Diah tak berkecil hati. Peristiwa tragis yang pernah menimpanya berupa pemberian uang sambil dilempar ke mukanya dibarengi bentakan oleh salah seorang pemilik mobil mewah ia hadapi dengan sabar. Bahkan umpatan miring bernada buruk yang kerap ia terima tak menyurutkan niat mulianya untuk selalu pasrah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sembari menjadi juru parkir.
“Pernah saya narik pemilik mobil tapi malah dibentak. Katanya harganya mahal. Padahal saya narik sesuai perda baru Rp 3000 menyesuaikan jumlah jam parkir,” ujarnya dengan tegas.
Sisi lain dari Dian ia pernah menerima pemberian uang dari seorang pemuda tampan dan cakap di masjid Jami’ Wonosobo. Pemuda yang kini menjadi seorang dokter itu memberinya uang senilai Rp 100 ribu. Menurutnya pemuda tersebut adalah warga asli Wonosobo.Semasa kecil di usia SD dia selalu dibantu ibu Dian menyeberang jalan raya saat berangkat dan pulang sekolah.
“Saya kaget dan sudah lupa dengan peristiwa itu. Tapi dokter yang kini bertugas di Kalimantan itu masih ingat. Akhirnya ya saya terima, saya ucapkan terima kasih,” tuturnya sembari terkekeh.
Dikatakan isteri Dian Haerudin, dari pekerjannya menjadi juru parkir tersebut setidaknya telah berhasil menyekolahkan anaknya hingga lulus SMA. Kini penghasilan rata-rata yang ia dapat hanya cukup untuk biaya hidup sehari-hari. keluarga.Sebab suaminya tidak bekerja.
“Sampai sekarang rumah masih ngontrak. Harga setahunnya Rp 1 juta 750 ribu. Yang saya keluhkan itu kenapa dalam hidup ini saya tidak bisa memberi harta pada kedua anak saya. Saya hanya bisa menyekolahkan mereka sampai lulus SMA,” keluhnya lirih dengan mata berkaca-kaca.
Dua pekan terakhir ini Dian mengaku kakinya tergelincir saat mengatur arus lalu lintas agar pemilik mobil yang parkir bisa kembali berjalan lancar. Akibanya selama dua minggu ia tidak masuk kerja lantaran operasi. Saat kedua kaki kirinya dioperasi dokter mengeluarkan ratusan beling, paku, dan kawat.Namun kondisi itu ia hadapi dengan sabar dan selalu berbaik sangka.
“Sekarang giliran kaki kanan saya yang masih sakit kalau buat jalan. Tapi bagaimana lagi anak cucu harus menyambung hidup akhirnya saya paksakan untuk kembali bekerja,” ujarnya.
Terkait setoran parkir serta pengelolaan parkir lagi-lagi perempuan ini mengeluhkan jumlah angkanya yang melejit. Yakni Rp 350 ribu per minggu. Jumlah tersebut, kata dia, sangat tidak manusiawi karena selain petugas parkir pagi juga ada untuk juru parkir untuk shif malam.
“Dulu pernah rapat bersama Dishubkominfo. Hasil rapat katanya Kodim yang mengkoordinir pengelolaan parkir. Setoran juga turun separo, tapi malah dinaikkan dengan alasan ketentuan dari Pemkab. Penariknya juga masih dari petugas SAF 6 Kalianget,” tuturnya.
Kendati petugas SAF 6 berinisial EN tiap hari Sabtu menarik setoran Rp 350 ribu namun diantara 45 juru parkir sepanjang jalan A Yani Dian satu-satunya perempuan yang berani menolak setoran sebanyak itu. Sebab menurutnya jika mau jujur dalam sebulan pengelola parkir dapat mengumpulkan uang senilai Rp 20 juta lebih. Itu dari jalan A Yani saja dengan 45 petugas parkir siang dan malam.
“Padahal pengelola parkir setor ke Pemkab untuk PAD itu paling cuma Rp 6 juta 750 ribu per bulan. Ini mestinya menjadi perhatian serius pihak terkait agar pemerintah tidak kalah dan dipermainkan oleh preman,” katanya tegas.
Dian menambahkan menurutnya hal tersebut sudah dibicarakan ke pak Agus petugas Dishubkominfo. Dari pak Agus katanya mau dikomunikasikan terlebih dulu dengan pak Gatot Hermawan. Namun sampai sekarang belum ada kepastian agar para juru parkir tidak merugi.
“Saya kalau ketemu pak bupati Kholiq sebenarnya akan omongkan soal ini. Biar pengelolaan parkir segera di tangani Kodim dan tim Pemkab. Tapi walaupun rumah pak bupati sedesa dengan saya belum bisa bertemu,” tuturnya.
Fakta-fakta tersebut diatas menurut Dian tak perlu ditutup-tutupi lagi agar para juru parkir sebagai pahlawan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Wonosobo tidak selalu jadi korban pengelola parkir.
“Namanya orang kecil ya seperti ini mau bagaimana lagi. Tapi ini harus ditertibkan, kenapa semua pihak seperti diam saja membiarkannya” katanya dengan nada tanya. [R/Yudi]Kamis, 10 Maret 2011
Tekad itu Tumbuh dari Kasih Sang Bunda
Tak terbayangkan, bagaimana memainkan guitar dengan kaki, sedang menggunakan tangan pun, banyak orang tak sanggup melakukannya. Tetapi, itulah yang dilakukan oleh Alberta Aceng Dhani Setiawan, pemuda asal Wonosobo yang terlahir tanpa kedua tangan (different ability).
Di depan pengunjung book fair yang digelar oleh Kantor Perpustakaan danArsip Daerah (KPAD), Rabu (15/12/2010) malam itu, Aceng membuktikan kepiawaiannya memetik guitar. Dan, lagu "Pelangi di Matamu", salah satu hits group band Jamrud, pun menyapa ratusan pasang mata yang hadir di Sasana Bhakti itu.
Decak kagum penonton pun tak bisa ditutupi. Kekaguman bercampur haru, sekaligus iba, akan kondisi yang diterima Aceng. Namun bagi lelaki kelahiran 12 Desember 1973 ini, kekurangan yang dialaminya, diubah menjadi sebuah kelebihan yang luar biasa.
"Menurut saya, Aceng adalah sosok manusia super di dunia," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Blora Bambang Sulistya saat dimintai komentar usai Aceng menyanyikan tembang milik Jamrud tersebut. Tak banyak yang dikatakan Bambang, hanya sebuah julukan yang barangkali tidak cukup berlebihan kiranya.
Kendati terlahir tanpa kedua tangan, namun putra pasangan Sunarman dan Tatik Supriyati ini, mampu membuat masyarakat Indonesia tertunduk hormat atas prestasinya. Ia pernah mengisi acara Gong Show, Empat Mata, Dahsyat, dan dalam waktu dekat, akan shooting untuk acara Opera Van Java (OVJ).
Tidak hanya itu, ia juga memecahkan rekor Muri sebagai pemain guitar satu-satunya menggunakan kaki. "Waktu pertama kali minta diajari guitar sama teman, saya diejek dan dikatakan tidak akan bisa main guitar dengan kaki, karena memang biasanya bermain guitar itu dengan tangah," kisahnya saat pertama kali ingin belajar guitar.
Menanggapi perkataan temannya itu, Aceng tidak patah semangat. Ia pun dengan tekun memperlajari guitar. "Saya belajar main guitar selama lima tahun. Butuh waktu lama, karena saya memang harus menyesuaikan dengan permainan dengan jari kaki," tambahnya.
Kasih Bunda
Apakah tidak sulit, melakoni hari-hari dengan keterbatasan seperti dialami Aceng? "Kalau bicara sulit memang sulit, tetapi saya yakin saya bisa. Seperti saat mau belajar main guitar, saya yakin saya bisa, meski banyak orang lain ragu," tegasnya.
Lalu, apa yang memotivasi dia sehingga begitu gigih untuk melakukan sesuatu, yang bahkan di luar nalar manusia pada umumnya? "Yang memotivasi saya adalah orang tua saya, yang telah melahirkan dan merawat dengan penuh kasih sayang," katanya menambahkan.
Lelaki yang meraih rekor Muri atas kemampuannya bermain guitar menggunakan kaki setelah memainkan 30 lagu itu mengutarakan, selain kasih sayang yang tulus dari orang tua, ejekan-ejekan yang sering diterimanya dari banyak orang terkait kondisi fisiknya, itu juga turut memberikan semangat yang luar biasa untuk melakukan banyak hal.
"Saya yakin, semua orang punya masalah, punya problem. Tinggal bagaimana masing-masing orang itu menghadapi problem yang ada. Semua hal juga ada yang sulit, dan itu juga tergantung bagaimana kita mengatasinya."
Aceng. Banyak hal yang menginspirasi dari apa yang telah dilakukannya. Dalam waktu dekat berniat memecahkan rekor MURI untuk bermain drum dengan kaki. Apakah cukup di situ?
"Saya juga ingin memecahkan rekor dunia menyetir mobil dengan menggunakan kaki. Saat ini, rekornya masih dipegang oleh orang California yang kondisinya seperti saya. Ia berhasil menyetir mobil dengan jarak tempuh 50 kilometer, saya berniat memecahkan rekor dengan menyetir mobil sejauh 600 kilometer," tekadnya. [R]
Di depan pengunjung book fair yang digelar oleh Kantor Perpustakaan danArsip Daerah (KPAD), Rabu (15/12/2010) malam itu, Aceng membuktikan kepiawaiannya memetik guitar. Dan, lagu "Pelangi di Matamu", salah satu hits group band Jamrud, pun menyapa ratusan pasang mata yang hadir di Sasana Bhakti itu.
Decak kagum penonton pun tak bisa ditutupi. Kekaguman bercampur haru, sekaligus iba, akan kondisi yang diterima Aceng. Namun bagi lelaki kelahiran 12 Desember 1973 ini, kekurangan yang dialaminya, diubah menjadi sebuah kelebihan yang luar biasa.
"Menurut saya, Aceng adalah sosok manusia super di dunia," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Blora Bambang Sulistya saat dimintai komentar usai Aceng menyanyikan tembang milik Jamrud tersebut. Tak banyak yang dikatakan Bambang, hanya sebuah julukan yang barangkali tidak cukup berlebihan kiranya.
Kendati terlahir tanpa kedua tangan, namun putra pasangan Sunarman dan Tatik Supriyati ini, mampu membuat masyarakat Indonesia tertunduk hormat atas prestasinya. Ia pernah mengisi acara Gong Show, Empat Mata, Dahsyat, dan dalam waktu dekat, akan shooting untuk acara Opera Van Java (OVJ).
Tidak hanya itu, ia juga memecahkan rekor Muri sebagai pemain guitar satu-satunya menggunakan kaki. "Waktu pertama kali minta diajari guitar sama teman, saya diejek dan dikatakan tidak akan bisa main guitar dengan kaki, karena memang biasanya bermain guitar itu dengan tangah," kisahnya saat pertama kali ingin belajar guitar.
Menanggapi perkataan temannya itu, Aceng tidak patah semangat. Ia pun dengan tekun memperlajari guitar. "Saya belajar main guitar selama lima tahun. Butuh waktu lama, karena saya memang harus menyesuaikan dengan permainan dengan jari kaki," tambahnya.
Kasih Bunda
Apakah tidak sulit, melakoni hari-hari dengan keterbatasan seperti dialami Aceng? "Kalau bicara sulit memang sulit, tetapi saya yakin saya bisa. Seperti saat mau belajar main guitar, saya yakin saya bisa, meski banyak orang lain ragu," tegasnya.
Lalu, apa yang memotivasi dia sehingga begitu gigih untuk melakukan sesuatu, yang bahkan di luar nalar manusia pada umumnya? "Yang memotivasi saya adalah orang tua saya, yang telah melahirkan dan merawat dengan penuh kasih sayang," katanya menambahkan.
Lelaki yang meraih rekor Muri atas kemampuannya bermain guitar menggunakan kaki setelah memainkan 30 lagu itu mengutarakan, selain kasih sayang yang tulus dari orang tua, ejekan-ejekan yang sering diterimanya dari banyak orang terkait kondisi fisiknya, itu juga turut memberikan semangat yang luar biasa untuk melakukan banyak hal.
"Saya yakin, semua orang punya masalah, punya problem. Tinggal bagaimana masing-masing orang itu menghadapi problem yang ada. Semua hal juga ada yang sulit, dan itu juga tergantung bagaimana kita mengatasinya."
Aceng. Banyak hal yang menginspirasi dari apa yang telah dilakukannya. Dalam waktu dekat berniat memecahkan rekor MURI untuk bermain drum dengan kaki. Apakah cukup di situ?
"Saya juga ingin memecahkan rekor dunia menyetir mobil dengan menggunakan kaki. Saat ini, rekornya masih dipegang oleh orang California yang kondisinya seperti saya. Ia berhasil menyetir mobil dengan jarak tempuh 50 kilometer, saya berniat memecahkan rekor dengan menyetir mobil sejauh 600 kilometer," tekadnya. [R]
Langganan:
Postingan (Atom)













