London - KBRI Athena bekerja sama dengan Sekolah Seni terkemuka di Yunani "Athens School of Fine Art" menggelar pelatihan membatik yang diikuti 75 mahasiswa di perguruan tinggi terkemuka itu.
Para mahasiswa Athena itu dengan asyiknya belajar melukis motif batik dengan mengunakan canting di atas selembar kain, demikian keterangan pers dari Sekretaris Pertama KBRI Athena Jani Mediawati Sasanti kepada ANTARA London, Rabu.
Pelatihan yang dilakukan merupakan acara pembuka dari rangkaian kegiatan "Batik Diplomacy", terselenggara dengan dukungan dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.
Batik Diplomacy selain pelatihan membatik untuk mahasiswa juga workshop membatik untuk kalangan Women International Club di Athena yang akan diakhiri dengan peragaan busana batik dan angklung interaktif di hotel Divani Caravel, Athena, Kamis (7/4).
Duta Besar RI untuk Yunani Ahmad Rusdi menyampaikan bahwa KBRI Athena memandang penting pelaksanaan pelatihan batik mengingat Batik Indonesia, yang ditetapkan masuk dalam Daftar Representatif Budaya Tak Benda Warisan Manusia Oktober 2009 oleh UNESCO, yang mendapatkan tempat di hati masyarakat Yunani.
Dubes Rusdi menyampaikan Athens School of Fine Art dipilih sebagai pelaksanaan pelatihan karena di universitas ini terdapat banyak jurusan, termasuk menerapkan teknik membatik dalam kurikulumnya seperti jurusan melukis, mosaic, melukis fresco dan icon, disain grafis, dan jurusan lainnya.
Diharapkan teknik membatik akan banyak diterapkan dalam karya-karya para pelaku seni muda dari negara lain terutama Yunani.
Dubes yang juga berasal dari keluarga pembatik ini, menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada jajaran Universitas yang telah berkolaborasi dengan KBRI Athena dalam penyelenggaraan pelatihan yang sangat langka ini.
Sementara itu, dalam sambutannya, Rektor dari Athens School of Fine Art, Profesor Panagiotis Xaralambos, menyampaikan penghargaan kepada KBRI Athena yang telah memilih sekolah Fine Art Athens sebagai tempat pelaksnaan Workshop.
Menurutnya universitas ini merupakan tempat yang tepat bagi pelatihan batik untuk para siswanya.
Kehadiran peserta melebihi kapasitas, bahkan sebagian harus rela membatik sambil berdiri, menyiratkan antusiasme yang tinggi dari kalangan mahasiswa universitas seni untuk mempelajari batik, seni tradisional dari Indonesia.
Acara pelatihan berlangsung dalam suasana santai dipandu Afif Syakur, perancang busana Indonesia terkemuka dengan enam anggota tim batik yang khusus datang dari tanah air .
Berlokasi di studio lukis universitas, Afif Syakur menerangkan secara singkat filosofi membatik.
Menurutnya, membatik seperti memberikan nyawa pada selembar kain. "Dengan detail teknik membatik yang terdiri dari beberapa tahap, yaitu membatik, pewarnaan dan pencelupan untuk mendapatkan hasil akhir yang diinginkan".
Memasuki tahap praktek, peserta sangat antusias menggunakan canthing dan malam sebagai media melukis. Berbagai ide dan ekspresi dituangkan di atas sehelai kain putih.
Dengan berbekal bakat seni mahasiswa beragam motif batik kontemporer berhasil dihasilkan dalam waktu yang sangat singkat.
Ketika praktek memasuki tahap pewarnaan dan pencelupan, banyak pertanyaan yang muncul dari para peserta karena sangat tertarik dengan proses tersebut, terutama karena ternyata kedua proses harus diulang-ulang untuk mendapatkan warna yang diinginkan.
Para peserta yang sebagian besar berasal dari jurusan melukis dan grafis menyatakan kepuasannya dapat mempelajari seni membatik secara langsung dari pakar batik Indonesia.
Seorang mahasiswa, Andreas Kokaliaris menyatakan, pelatihan ini sangat menarik dan bermanfaat bagi dirinya sebagai mahasiswa seni rupa. Menurutnya di Yunani terdapat seni yang mempunyai nilai filososfi yang sama dengan batik yaitu seni mosaic.
Di samping pelatihan, KBRI juga menyelenggarakan pameran kain batik yang berasal dari berbagai daerah dengan beragam motif dan warna.
Pameran ini sangat dihargai oleh para peserta, karena dengan demikian mereka dapat melihat dan membandingkan secara langsung hasil karyanya dengan produksi batik tradisional Indonesia.
Pada penutupan acara pelatihan, peserta dengan berfoto bersama hasil karyanya dan menyampaikan secara langsung kepada Dubes, diplomat karir anak juragan batik asal Pekalongan, yang ikut mendampingi jalannya pelatihan ini, apresiasi dan keinginan mereka untuk menerapkan teknik membatik ini dalam perjalanan seni mereka selanjutnya.
Worksop yang baru pertama kasil diselenggarakan di Athena ini, diharapkan dapat diselenggarakan secara berkesinambungan atas kerja sama Universitas dengan KBRI dan pemerintah Indonesia sebagai ajang promosi negara melalui membatik yang telah mendapat pengakuan dari UNESCO. [R/Ant]
Pengunjung
Rabu, 06 April 2011
Petani Kentang Lestarikan Seni Islam Tradisional
- Diiringi Pencak Silat dan Rebana
Umum dipahami, Toriqoh Qodariyah Naqsyabandiyah berisi amalan keagamaan sarat puasa dan wiridan.Ajaran salah satu cabang tasawuf yang muncul pada tahun 717 Hijiryah ini memiliki ritual cukup unik. Ekspresi ke-Ilahi-an itu dilakukan jemaatnya di Desa Sigedang Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo. Mereka bernyanyi dan menari menabuh rebana serta bedug.
Wonosobo - Dentum rebana bertalu-talu mengiringi 20 penari berseragam hitam putih. Mengenakan kaca mata hitam para anggota kelompok seni tari tradisional Peksi Muda itu menari dan bernyanyi bersama. Tujuan mereka semata-mata hanya mensyiarkan nilai ajaran Islam. Tak heran jika ratusan pasang mata terpukau keunikan pentas mereka di halaman gedung Sasana Adipura kemarin.
Dalam pentas yang berlangsung selama hampir dua jam itu mereka menyanyikan bait-bait lagu berirama shlawat klasik. Tiap kali satu lagu dinyanyikan para penari memeragakan satu jurus pencak silat. Isi kandungan lagu tersebut mengajak para penontonnya untuk berbahagia merasakan kehadiran gerakan-gerakan dan musik dalam penyatuan keillahian.
“Kegiatan ini menjadi ekstrakulikuler para petani kentang di Desa Sigedang Kecamatan Kejajar,” kata Ketua kelompok Peksi Muda Sigedang yang akrab dipanggil pak Zen.
Menurut imam masjid Nahrowi Surur itu silsilahnya Peksi Muda awalnya dibawa seseorang bernama Hardrotul Majid Syeh Muhammad Nahruwi Quddisa Siruhulaziz mengembara ke wilayah Wonosobo. Mursyid dan sufi asal Plosokuning Minomartyani Ngaglik Sleman Jogjakarta ini mengemban misi memperkenalkan ajaran Thoreqoh Naqsyabandiyah. Ketika tiba di Desa Sigedang beliau bertemu KH Sholih.
Dari perjalanan dakwanya inilah diperkenalkan sebuah kesenian yang diberi nama Peksi Muda. Seiring keberadaannya antusias masyarakat tertarik ajarannya makin tinggi. Namun seusai beliau wafat Peksi Muda dilestarikan penerusnya. Dari KH Shoih hingga KH Nur Yazid.
Kesamaan yang bahkan mirip sampai sekarang yaitu pengurus Nagsyabandi yang diteruskan putera beliau bernama Mr HS M Irfai Nachrowi an Naghsyabandi Al Hajj QS.Yang sekarang mendirikan Zawiyah, Qoshul Arifin, kesepuhan atas angin di Sorak Landeuh, Darmacaang, Cikoning, Ciamis, Jawa Barat.
Dari perguruan Thoriqoh Huilah terdapat perwakilan daerah yang disebut pula Kemuasasan, yang mana masih membina kesenian Peksi Muda. Pada zaman Syeh Nahrowi hasil pelantikan diketuai oleh Mardi. Lalu sebagai penghormatan kepada Syeh kesenian tersebut masih diteruskan hingga era KH Shalih dan KH Nur Yazih. Selepas keduanya wafat diteruskan Mr HS M Irfai Nachrowi Nagsyabandi Al Hajj QS, dibawah bimbingan kumuasasan (Muasis).
Saat ini, pada perkembangannya Peksi Muda terus diteruskan oleh jemaat di Desa Sigedang Kecamatan Kejajar. Mereka tetap melestarikan meski ditengah masyarakat merasa asing dengan gerakan-gerakan tarian tradisional yang dulu menjadi warisan akulturasi budaya antara Jawa dan Islam tersebut. [R/Yudi]
Umum dipahami, Toriqoh Qodariyah Naqsyabandiyah berisi amalan keagamaan sarat puasa dan wiridan.Ajaran salah satu cabang tasawuf yang muncul pada tahun 717 Hijiryah ini memiliki ritual cukup unik. Ekspresi ke-Ilahi-an itu dilakukan jemaatnya di Desa Sigedang Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo. Mereka bernyanyi dan menari menabuh rebana serta bedug.
Wonosobo - Dentum rebana bertalu-talu mengiringi 20 penari berseragam hitam putih. Mengenakan kaca mata hitam para anggota kelompok seni tari tradisional Peksi Muda itu menari dan bernyanyi bersama. Tujuan mereka semata-mata hanya mensyiarkan nilai ajaran Islam. Tak heran jika ratusan pasang mata terpukau keunikan pentas mereka di halaman gedung Sasana Adipura kemarin.
Dalam pentas yang berlangsung selama hampir dua jam itu mereka menyanyikan bait-bait lagu berirama shlawat klasik. Tiap kali satu lagu dinyanyikan para penari memeragakan satu jurus pencak silat. Isi kandungan lagu tersebut mengajak para penontonnya untuk berbahagia merasakan kehadiran gerakan-gerakan dan musik dalam penyatuan keillahian.
“Kegiatan ini menjadi ekstrakulikuler para petani kentang di Desa Sigedang Kecamatan Kejajar,” kata Ketua kelompok Peksi Muda Sigedang yang akrab dipanggil pak Zen.
Menurut imam masjid Nahrowi Surur itu silsilahnya Peksi Muda awalnya dibawa seseorang bernama Hardrotul Majid Syeh Muhammad Nahruwi Quddisa Siruhulaziz mengembara ke wilayah Wonosobo. Mursyid dan sufi asal Plosokuning Minomartyani Ngaglik Sleman Jogjakarta ini mengemban misi memperkenalkan ajaran Thoreqoh Naqsyabandiyah. Ketika tiba di Desa Sigedang beliau bertemu KH Sholih.
Dari perjalanan dakwanya inilah diperkenalkan sebuah kesenian yang diberi nama Peksi Muda. Seiring keberadaannya antusias masyarakat tertarik ajarannya makin tinggi. Namun seusai beliau wafat Peksi Muda dilestarikan penerusnya. Dari KH Shoih hingga KH Nur Yazid.
Kesamaan yang bahkan mirip sampai sekarang yaitu pengurus Nagsyabandi yang diteruskan putera beliau bernama Mr HS M Irfai Nachrowi an Naghsyabandi Al Hajj QS.Yang sekarang mendirikan Zawiyah, Qoshul Arifin, kesepuhan atas angin di Sorak Landeuh, Darmacaang, Cikoning, Ciamis, Jawa Barat.
Dari perguruan Thoriqoh Huilah terdapat perwakilan daerah yang disebut pula Kemuasasan, yang mana masih membina kesenian Peksi Muda. Pada zaman Syeh Nahrowi hasil pelantikan diketuai oleh Mardi. Lalu sebagai penghormatan kepada Syeh kesenian tersebut masih diteruskan hingga era KH Shalih dan KH Nur Yazih. Selepas keduanya wafat diteruskan Mr HS M Irfai Nachrowi Nagsyabandi Al Hajj QS, dibawah bimbingan kumuasasan (Muasis).
Saat ini, pada perkembangannya Peksi Muda terus diteruskan oleh jemaat di Desa Sigedang Kecamatan Kejajar. Mereka tetap melestarikan meski ditengah masyarakat merasa asing dengan gerakan-gerakan tarian tradisional yang dulu menjadi warisan akulturasi budaya antara Jawa dan Islam tersebut. [R/Yudi]
Plt Kepala Sekolah Bisa Tandatangi Ijazah
Blora - Orang tua siswa yang putra-putrinya akan menghadapi ujian sementara sekolah mereka saat ini dipimpin pelaksana tugas (Plt), tidak perlu mengkhawatirkan soal ijazah-nya nanti akan ditandatangani siapa. Pasalnya, tidak ada aturan yang menegaskan bahwa Plt Kepala Sekolah tidak bisa menandatangani ijazah.
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Slamet Pamuji menanggapi kerisauan orang tua dalam sms pembaca di Suara Muria, Rabu (6/4). Isi pesan (sms) dalam rubrik "Piye Cah" itu mempertanyakan kepada Kepala Disdikpora, apakah sah seorang Plt Kepala Sekolah menandatangani ijazah.
"Kami tidak menemukan aturan yang menyatakan Plt Kepala Sekolah tidak boleh menandatangani ijazah," katanya kepada Suara Merdeka, kemarin.
Kendati tidak ada larangan tersebut, Kepala Disdikpora menambahkan, Bupati akan mengeluarkan keputusan khusus yang memberi kewenangan kepada Plt kepala sekolah menandatangani ijazah.
"Ini untuk menepis kekhawatiran orang tua terhadap anaknya yang saat ini sekolahnya dipimpin Plt kepala sekolah," ujarnya.
Terkait kekhawatiran orang tua terhadap hal ini pula, Disdikpora pun melakukan antisipasi-antisipasi agar tidak merugikan anak didik peserta Ujian Nasional (UN). "Semua sudah kami koordinasikan dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jateng. Jadi orang tua tidak perlu resah," tandas Mumuk -sapaan akrab Slamet Pamuji. [R]
Hal tersebut disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Slamet Pamuji menanggapi kerisauan orang tua dalam sms pembaca di Suara Muria, Rabu (6/4). Isi pesan (sms) dalam rubrik "Piye Cah" itu mempertanyakan kepada Kepala Disdikpora, apakah sah seorang Plt Kepala Sekolah menandatangani ijazah.
"Kami tidak menemukan aturan yang menyatakan Plt Kepala Sekolah tidak boleh menandatangani ijazah," katanya kepada Suara Merdeka, kemarin.
Kendati tidak ada larangan tersebut, Kepala Disdikpora menambahkan, Bupati akan mengeluarkan keputusan khusus yang memberi kewenangan kepada Plt kepala sekolah menandatangani ijazah.
"Ini untuk menepis kekhawatiran orang tua terhadap anaknya yang saat ini sekolahnya dipimpin Plt kepala sekolah," ujarnya.
Terkait kekhawatiran orang tua terhadap hal ini pula, Disdikpora pun melakukan antisipasi-antisipasi agar tidak merugikan anak didik peserta Ujian Nasional (UN). "Semua sudah kami koordinasikan dengan Dinas Pendidikan Provinsi Jateng. Jadi orang tua tidak perlu resah," tandas Mumuk -sapaan akrab Slamet Pamuji. [R]
Televisi Kita Kurang Etika
Jakarta - “Kita memiliki hak atas informasi yang benar,” tegas Agus Haryadi, selaku pemateri dalam diskusi santai yang diadakan Remotivi pada Selasa 29 Maret 2011 bertempat di kantor Lembaga Studi Pers dan Pembangunan (LSPP), Pejompongan, Jakarta.
Ia mengatakan, berbagai macam manipulasi dilakukan media demi menimba laba. Mereka tidak lagi menyuguhkan informasi yang benar apalagi mengambil peran sebagai sarana pendidikan. Penonton dianggap sebagai pasar, sebuah objek, yang tidak mempunyai pilihan-pilihan yang cukup. Inilah kiranya yang menyebabkan perlu adanya peranan etika komunikasi, etika media, dalam keberlangsungan media – khususnya televisi – di Indonesia.
Agus Haryadi adalah pekerja media di TVRI dan Dewan Penasehat Remotivi. Ia menjabarkan, ada tiga pertimbangan mengapa etika komunikasi – yang pembahasannya mengacu pada buku Etika Komunikasi karya Haryatmoko – menjadi penting untuk diterapkan.
Pertama, media memiliki kekuasaan dan efek terhadap publik. Maka, etika komunikasi diperlukan untuk melindungi publik yang lemah di tengah berbagai kemungkinan terjadinya manipulasi oleh media.
Kedua, etika tersebut akan membentuk keseimbangan antara kebebasan berekspresi di satu pihak dan tanggung jawab di pihak lain. Hal ini berangkat dari sikap media yang memonopoli kritik. Mereka tidak siap untuk menerima kritik dari luar.
Ketiga, demi menghindari dampak negatif logika instrumental – yang bertendensi mengabaikan nilai dan makna, logika pasar dianggap bertanggungjawab terhadap penggerusan atas nilai dan makna. Dengan mengutamakan aktualitas, atas nama kredibilitas, media bisa menghalalkan segala cara untuk memanipulasi banyak peristiwa. Semua dilakukan demi mengeruk keuntungan.
Selain itu, etika komunikasi juga dianggap sebagai perlawanan, yang membongkar konstruksi yang sudah-sudah.
Menanggapi Agus sebagai pemateri, banyak pertanyaan-pertanyaan maupun tanggapan-tanggapan yang muncul dari peserta diskusi, yang semakin memperhangat lingkaran diskusi di ruangan kecil yang dingin AC itu. Salah satunya datang dari seorang pekerja media yang mengiyakan pernyataan Agus bahwa media seringkali melakukan manipulasi dan rekayasa demi meraup laba. Mereka tidak lagi menghiraukan kaidah. Satu berita itu merupakan rupiah. Kira-kira begitu ujarnya.
Soewono Effendi, seorang peserta diskusi, bahkan mengatakan ia terinspirasi ingin menjadi pengedar narkoba setelah menonton berita di televisi. Sebab, pemberitaan mengenai kasus narkoba cenderung menonjolkan besaran uang dalam bisnis narkoba ketimbang hukumannya “Saya mikir, saya kerja 24 jam sehari, enggak menghasilkan apa-apa,” begitu komentarnya sambil tertawa. Menurutnya, televisi seringkali menginspirasi penonton untuk melakukan suatu tindakan, bahkan tindakan buruk sekalipun.
Suara belasan peserta lain yang datang dari berbagai latar belakang juga turut memperkaya diskusi yang merupakan bagian dari program Divisi Edukasi Remotivi. Diharapkan diskusi macam ini akan terus dilakukan demi mengkomunikasikan berbagai gagasan soal pertelevisian.
”Engga nyesel saya dateng.. nambah khasanah pengetahuan saya tentang media,” seru Lienda, seorang peserta. [R/Indah Wulandari]
Ia mengatakan, berbagai macam manipulasi dilakukan media demi menimba laba. Mereka tidak lagi menyuguhkan informasi yang benar apalagi mengambil peran sebagai sarana pendidikan. Penonton dianggap sebagai pasar, sebuah objek, yang tidak mempunyai pilihan-pilihan yang cukup. Inilah kiranya yang menyebabkan perlu adanya peranan etika komunikasi, etika media, dalam keberlangsungan media – khususnya televisi – di Indonesia.
Agus Haryadi adalah pekerja media di TVRI dan Dewan Penasehat Remotivi. Ia menjabarkan, ada tiga pertimbangan mengapa etika komunikasi – yang pembahasannya mengacu pada buku Etika Komunikasi karya Haryatmoko – menjadi penting untuk diterapkan.
Pertama, media memiliki kekuasaan dan efek terhadap publik. Maka, etika komunikasi diperlukan untuk melindungi publik yang lemah di tengah berbagai kemungkinan terjadinya manipulasi oleh media.
Kedua, etika tersebut akan membentuk keseimbangan antara kebebasan berekspresi di satu pihak dan tanggung jawab di pihak lain. Hal ini berangkat dari sikap media yang memonopoli kritik. Mereka tidak siap untuk menerima kritik dari luar.
Ketiga, demi menghindari dampak negatif logika instrumental – yang bertendensi mengabaikan nilai dan makna, logika pasar dianggap bertanggungjawab terhadap penggerusan atas nilai dan makna. Dengan mengutamakan aktualitas, atas nama kredibilitas, media bisa menghalalkan segala cara untuk memanipulasi banyak peristiwa. Semua dilakukan demi mengeruk keuntungan.
Selain itu, etika komunikasi juga dianggap sebagai perlawanan, yang membongkar konstruksi yang sudah-sudah.
Menanggapi Agus sebagai pemateri, banyak pertanyaan-pertanyaan maupun tanggapan-tanggapan yang muncul dari peserta diskusi, yang semakin memperhangat lingkaran diskusi di ruangan kecil yang dingin AC itu. Salah satunya datang dari seorang pekerja media yang mengiyakan pernyataan Agus bahwa media seringkali melakukan manipulasi dan rekayasa demi meraup laba. Mereka tidak lagi menghiraukan kaidah. Satu berita itu merupakan rupiah. Kira-kira begitu ujarnya.
Soewono Effendi, seorang peserta diskusi, bahkan mengatakan ia terinspirasi ingin menjadi pengedar narkoba setelah menonton berita di televisi. Sebab, pemberitaan mengenai kasus narkoba cenderung menonjolkan besaran uang dalam bisnis narkoba ketimbang hukumannya “Saya mikir, saya kerja 24 jam sehari, enggak menghasilkan apa-apa,” begitu komentarnya sambil tertawa. Menurutnya, televisi seringkali menginspirasi penonton untuk melakukan suatu tindakan, bahkan tindakan buruk sekalipun.
Suara belasan peserta lain yang datang dari berbagai latar belakang juga turut memperkaya diskusi yang merupakan bagian dari program Divisi Edukasi Remotivi. Diharapkan diskusi macam ini akan terus dilakukan demi mengkomunikasikan berbagai gagasan soal pertelevisian.
”Engga nyesel saya dateng.. nambah khasanah pengetahuan saya tentang media,” seru Lienda, seorang peserta. [R/Indah Wulandari]
Penghargaan Untuk Yang Berkualitas
Jakarta - KPI Awards digelar kembali pada Kamis, 24 Maret 2011 bertempat di Audito rium TVRI dan disiarkan secara langsung oleh TVRI.
Ini merupakan ajang penghargaan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) atas tayangan berkualitas yang bersiar di sepuluh stasiun televisi swasta nasional (RCTI, MNC TV, Global TV, Trans 7, Trans TV, Metro TV, SCTV, Indosiar, ANTV, TV ONE) dan lembaga penyiaran publik (TVRI).
Enam kategori pada KPI Awards kali ini terdiri dari kategori Anak, Sinetron Lepas, Dokumenter, Talk Show, Berita Investigasi, dan Budaya, yang merupakan kategori baru untuk tahun ini.
Tayangan yang dinilai terdiri dari program-program yang dikirimkan oleh stasiun televisi. Setiap stasiun berhak mengirimkan tiga tayangannya untuk setiap kategori. Untuk itu, KPI memilih tim juri independen dari kalangan praktisi dan akademisi berdasarkan kapabilitas, integritas, serta pemahaman mereka terhadap kategori tayangan.
Dadang Rahmat Hidayat selaku Ketua KPI 2010-2013 mengatakan bahwa KPI Awards adalah anugerah kepada insan pertelevisan yang berasal dari publik kepada program-program televisi terbaik. “Kami berharap KPI Awards ini bisa memberikan gambaran kepada stasiun televisi untuk membuat program-program yang edukatif, mencerahkan, informatif, serta hiburan yang sehat,” jelas Dadang. Lewat ajang ini, KPI ingin memberikan apresiasi, dan bukan melulu memberikan sanksi atau teguran saja.
Salah seorang anggota komisioner KPI, Ezki Suyanto, kepada Remotivi juga mengatakan, bahwa penilaian didasarkan pada kualitas, bukan hanya melihat rating atau popularitasnya.
Berbeda dengan KPI Awards sebelumnya yang memiliki kategori “Pembawa Acara Talkshow terbaik”, kali ini “Televisi Peduli Budaya” menjadi kategori baru. Sebagai kategori yang penting, TVRI yang menjadi stasiun TV pemenang langsung menerima penghargaan dari wakil presiden Boediono. [R/Remotivi/Gabriel Jefri]
Ini merupakan ajang penghargaan oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) atas tayangan berkualitas yang bersiar di sepuluh stasiun televisi swasta nasional (RCTI, MNC TV, Global TV, Trans 7, Trans TV, Metro TV, SCTV, Indosiar, ANTV, TV ONE) dan lembaga penyiaran publik (TVRI).
Enam kategori pada KPI Awards kali ini terdiri dari kategori Anak, Sinetron Lepas, Dokumenter, Talk Show, Berita Investigasi, dan Budaya, yang merupakan kategori baru untuk tahun ini.
Tayangan yang dinilai terdiri dari program-program yang dikirimkan oleh stasiun televisi. Setiap stasiun berhak mengirimkan tiga tayangannya untuk setiap kategori. Untuk itu, KPI memilih tim juri independen dari kalangan praktisi dan akademisi berdasarkan kapabilitas, integritas, serta pemahaman mereka terhadap kategori tayangan.
Dadang Rahmat Hidayat selaku Ketua KPI 2010-2013 mengatakan bahwa KPI Awards adalah anugerah kepada insan pertelevisan yang berasal dari publik kepada program-program televisi terbaik. “Kami berharap KPI Awards ini bisa memberikan gambaran kepada stasiun televisi untuk membuat program-program yang edukatif, mencerahkan, informatif, serta hiburan yang sehat,” jelas Dadang. Lewat ajang ini, KPI ingin memberikan apresiasi, dan bukan melulu memberikan sanksi atau teguran saja.
Salah seorang anggota komisioner KPI, Ezki Suyanto, kepada Remotivi juga mengatakan, bahwa penilaian didasarkan pada kualitas, bukan hanya melihat rating atau popularitasnya.
Berbeda dengan KPI Awards sebelumnya yang memiliki kategori “Pembawa Acara Talkshow terbaik”, kali ini “Televisi Peduli Budaya” menjadi kategori baru. Sebagai kategori yang penting, TVRI yang menjadi stasiun TV pemenang langsung menerima penghargaan dari wakil presiden Boediono. [R/Remotivi/Gabriel Jefri]
Senin, 04 April 2011
Menggagas Kampung Dombos di Igirmranak Kejajar
Bermodal Kecintaan Pada Domba Telah Ada Lebih Dari 80 Peternak
Kades Igirmranak Joko Disadono tergolong sabar. Meski memimpin Desa terpencil di bawah kaki gunung perahu dengan luas kawasan desa hanya 1,10 kilometer ia tetap tak mau ketinggalan dengan para Kades desa lain yang cukup maju. Demi menciptakan kampung Domba Wonosobo (Dombos) kini bersama warga ia lagi giat-giatnya membudidayakan binatang tersebut. Bagaimana kondisinya?
Wonosobo - Hidup berada di kawasan dingin yang jarang sekali tersinari cahaya matahari tak menyurutkan Kades Igirmranak Kecamatan Kejajar menggagas kampung Dombos. Yakni sebuah kampung yang mayoritas penduduknya memelihara ternak kambing asli Wonosobo ini. Gagasan itu telah teraplikasi dari adanya 80 peternak yang memelihara lebih dari 200 ekor. Padahal jumlah kepala keluarga (KK) di desa yang letaknya cukup terpencil itu 213 KK. Bahkan penduduknya cuma 685 jiwa.
Ketika koran ini mendatangi desa tersebut binatang itu menyembur-nyemburkan ujung bibirnya. Dengan dibuatkan kandang khusus di mana letak makanan dan badan mereka dipisahkan membuat hewan berbulu putih layaknya sutra itu sangat nyaman. Apalagi di sampingnya terdapat puluhan karung rumput hijau. Tentu saja membuat binatang itu tak bosan melahap tiap kali diberi makanan.
“Ini sesuai keinginan pak bupati dan ibu wakil bupati Wonosobo yaitu menciptakan satu desa satu produk. Ya jujur saja di Desa kami memang tak memiliki kekayaan alam yang bisa dihandalakan untuk wisata namun dengan membuat kampung dombos ini orang akan tertarik untuk berbondong-bondong datang ke desa kami,” katanya sambil menunjukkan puluhan Dombos yang sedang mengembek dengan keras Kamis (31/3).
Untuk harga Dombos menurut Joko memang harganya saat ini lagi jatuh. Yakni Rp 3 juta setengah per ekor. Padahal pada tahun-tahun sebelumnya hargan satu ekor dombos mencapai Rp 10 juta. Namun karena penduduk setempat telah menguatkan komitmennya memelihara Dombos hanya semata-mata berdasarkan hobi dan kecintaan pada binatang tersebut akhirnya soal harga tak menjadi kendala. Warga tetap bersemangat memelihara dombos.
“Tiap pagi warga merumput. Satu kandang pekerjaan itu bisa disokong oleh lima warga karena pemeliharaan Dombos dipelihara berdasarkan kelompok di masing-masing RT,” kata Kades yang di desanya tiap kali jam 12.00 WIB ke atas pasti turun hujan tersebut.
Meskipun kedinginan air dan udara di desa yang cukup tinggi tersebut namun dombos-dombos tampak sehat. Bulu mereka yang tebal seakan menjadi pelindung badan dari serangan hawa dingin yang tiap saat menyerang. Bahkan dari badan dombos tersebut tak menimbulkan aroma tak sedap justru malah dari binatang itu tak menimbulkan bau sama-sekali. Yang hanya bau rumput yang masih segar yang diambil pemiliknya dari kebun.
Salah seorang peternak dombos Munadhom mengaku harga anak dombos yang baru lahir sebesar Rp 500 ribu. Di kandang ternaknya terdapat 10 ekor dombos yang usianya sudah tua.”Ya tiap pagi dan sore pasti selalu dibersihkan kotorannya, diberi minum juga.Binatang ini sudah dipelihara warga Igirmranak sedari dulu,” tuturnya.
Kendati masih sebatas gagasan namun Kades Joko mengaku sudah menyiapkan lahan, kandang yang menjadi pusat penakaran ternak Dombos tersebut. Tiap kali binatang itu beranak warga disarankan tidak menjualnya supaya jumlahnya lebih banyak dan tiap rumah warga dapat memiliki dombos dengan jumlah minimal 8 ekor di kandang tiap rumah mereka. [R/Yudi]
Kades Igirmranak Joko Disadono tergolong sabar. Meski memimpin Desa terpencil di bawah kaki gunung perahu dengan luas kawasan desa hanya 1,10 kilometer ia tetap tak mau ketinggalan dengan para Kades desa lain yang cukup maju. Demi menciptakan kampung Domba Wonosobo (Dombos) kini bersama warga ia lagi giat-giatnya membudidayakan binatang tersebut. Bagaimana kondisinya?
Wonosobo - Hidup berada di kawasan dingin yang jarang sekali tersinari cahaya matahari tak menyurutkan Kades Igirmranak Kecamatan Kejajar menggagas kampung Dombos. Yakni sebuah kampung yang mayoritas penduduknya memelihara ternak kambing asli Wonosobo ini. Gagasan itu telah teraplikasi dari adanya 80 peternak yang memelihara lebih dari 200 ekor. Padahal jumlah kepala keluarga (KK) di desa yang letaknya cukup terpencil itu 213 KK. Bahkan penduduknya cuma 685 jiwa.
Ketika koran ini mendatangi desa tersebut binatang itu menyembur-nyemburkan ujung bibirnya. Dengan dibuatkan kandang khusus di mana letak makanan dan badan mereka dipisahkan membuat hewan berbulu putih layaknya sutra itu sangat nyaman. Apalagi di sampingnya terdapat puluhan karung rumput hijau. Tentu saja membuat binatang itu tak bosan melahap tiap kali diberi makanan.
“Ini sesuai keinginan pak bupati dan ibu wakil bupati Wonosobo yaitu menciptakan satu desa satu produk. Ya jujur saja di Desa kami memang tak memiliki kekayaan alam yang bisa dihandalakan untuk wisata namun dengan membuat kampung dombos ini orang akan tertarik untuk berbondong-bondong datang ke desa kami,” katanya sambil menunjukkan puluhan Dombos yang sedang mengembek dengan keras Kamis (31/3).
Untuk harga Dombos menurut Joko memang harganya saat ini lagi jatuh. Yakni Rp 3 juta setengah per ekor. Padahal pada tahun-tahun sebelumnya hargan satu ekor dombos mencapai Rp 10 juta. Namun karena penduduk setempat telah menguatkan komitmennya memelihara Dombos hanya semata-mata berdasarkan hobi dan kecintaan pada binatang tersebut akhirnya soal harga tak menjadi kendala. Warga tetap bersemangat memelihara dombos.
“Tiap pagi warga merumput. Satu kandang pekerjaan itu bisa disokong oleh lima warga karena pemeliharaan Dombos dipelihara berdasarkan kelompok di masing-masing RT,” kata Kades yang di desanya tiap kali jam 12.00 WIB ke atas pasti turun hujan tersebut.
Meskipun kedinginan air dan udara di desa yang cukup tinggi tersebut namun dombos-dombos tampak sehat. Bulu mereka yang tebal seakan menjadi pelindung badan dari serangan hawa dingin yang tiap saat menyerang. Bahkan dari badan dombos tersebut tak menimbulkan aroma tak sedap justru malah dari binatang itu tak menimbulkan bau sama-sekali. Yang hanya bau rumput yang masih segar yang diambil pemiliknya dari kebun.
Salah seorang peternak dombos Munadhom mengaku harga anak dombos yang baru lahir sebesar Rp 500 ribu. Di kandang ternaknya terdapat 10 ekor dombos yang usianya sudah tua.”Ya tiap pagi dan sore pasti selalu dibersihkan kotorannya, diberi minum juga.Binatang ini sudah dipelihara warga Igirmranak sedari dulu,” tuturnya.
Kendati masih sebatas gagasan namun Kades Joko mengaku sudah menyiapkan lahan, kandang yang menjadi pusat penakaran ternak Dombos tersebut. Tiap kali binatang itu beranak warga disarankan tidak menjualnya supaya jumlahnya lebih banyak dan tiap rumah warga dapat memiliki dombos dengan jumlah minimal 8 ekor di kandang tiap rumah mereka. [R/Yudi]
ASEAN Harus Tampil sebagai Pemimpin di Pertemuan Iklim PBB
– Koalisi A-FAB, Greenpeace, Oxfam & WWF
Bangkok – Para aktivis iklim Asia Tenggara mengenakan jaket musim dingin, jas hujan dan busana pantai untuk menggambarkan kekacauan iklim yang kini terjadi, bertemu Christiana Figueres, Sekretaris Eksekutif United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) di pintu masuk United Nations Convention Center di Bangkok hari ini, menyampaikan desakan kesepakatan iklim global ambisius kepada para pemimpin dunia.
Aktifitas ini digalang oleh A-FAB (ASEAN for a Fair, Ambitious and Binding Climate Deal), koalisi regional yang terdiri dari Greenpeace, Oxfam dan WWF, mendesak pemimpin negara-negara Asia Tenggara untuk maju ke depan dalam putaran terakhir negosiasi iklim PBB yang akan hari ini dimulai di Bangkok.
“Kami mengirim pesan kepada semua delegasi, terutama delegasi ASEAN, bahwa kesepakatan iklim global yang mengikat dan adil adalah masalah masa depan rakyat Asia Tenggara. Pekan ini, pemerintah-pemerintah bertemu untuk menyepakati tujuan-tujuan yang telah ditetapkan di Pertemuan Iklim PBB di Cancun Desember tahun lalu. Mereka akan merundingkan adaptasi, aspek keuangan iklim, penanggulangan dan mekanisme transfer teknologi. Demi kepentingan kawasan, sangat penting adanya suara kuat dari ASEAN, dalam merespons tantangan nyata perubahan iklim,” ujar Zelda Soriano, Penasehat Politik Greenpeace Asia Tenggara.
Dalam beberapa pekan terakhir, ibukota Thailand dibingungkan oleh fenomena suhu di bawah 20 derajat celcius di tengah musim panas, sementara di kawasan selatan Thailand terjadi banjir dan tanah longsor yang berdampak pada dua juta orang. Pekan ini, bencana serupa terjadi di Filipina bagian tengah dan utara, demikian juga di Indonesia.
“Betul, di Asia Tenggara khususnya, perubahan iklim bukan lagi sesuatu yang diperdebatkan tetapi sudah menjadi kenyataan yang memprihatinkan. Kawasan kita terus didera bencana banjir, tanah longsor dan kekeringan. Bahkan, pertemuan iklim PBB di Bangkok ini berlangsung di tengah fenomena iklim ekstrim. Delegasi ASEAN harus memastikan bahwa sumberdaya akan diberikan untuk proses adaptasi yang sangat dibutuhkan, serta mendesak negara maju untuk memperbesar target pengurangan emisi mereka,” tegas Shaiimar Vitan, Koordinator Kampanye dan Kebijakan Asia Tenggara, Oxfam.
“A-FAB adalah rekomendasi kebijakan untuk ASEAN sejak Bangkok intersessional. Diantara kesepakatan ini adalah jaminan adanya komite adaptasi yang terdiri dari mayoritas negara berkembang, yang harus mentaati pendekatan sensitif gender dan berbasis negara dalam kebijakan dan program adaptasi nasional, dikaitkan dengan mekanisme keuangan. ASEAN harus memastikan proses adaptasi ini mendapat sumberdaya yang cukup dari Green Climate Fund yang dibentuk di Cancun, karena sangat dibutuhkan oleh mayoritas populasi miskin,” ujar Sandeep Chamling Rai dari WWF.
Karena itu A-FAB mendesak ASEAN mewujudkan terjadinya puncak emisi global pada 2015 dan mendesak negara maju untuk mengurangi emisi gas rumah kaca paling sedikit 40 persen pada 2020, dan paling tidk penurunan 95 persen dari tingkat emisi 1990 pada 2050 mendatang. Tugas berikutnya adalah memutuskan pengukuran paling akurat dan adil serta terpercaya (MRV) dalam memantau pengurangan emisi gas rumah kaca.
Dibentuk oleh koalisi Greenpeace, Oxfam dan WWF, ASEAN for a Fair, Ambitious and Binding Global Climate Deal (A-FAB) bertujuan untuk menajamkan dan memperkuat posisi ASEAN sebagai blok regional di UNFCCC, mengingat masyarakat di kawasan ini sedang berjuang melawan dampak buruk perubahan iklim. Lebih jauh lagi, koalisi ini bertujuan untuk mendukung upaya ASEAN dalam memastikan partisipasinya pada komunitas global, mengikuti proses yang terus berlangsung. [R]
Bangkok – Para aktivis iklim Asia Tenggara mengenakan jaket musim dingin, jas hujan dan busana pantai untuk menggambarkan kekacauan iklim yang kini terjadi, bertemu Christiana Figueres, Sekretaris Eksekutif United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) di pintu masuk United Nations Convention Center di Bangkok hari ini, menyampaikan desakan kesepakatan iklim global ambisius kepada para pemimpin dunia.
Aktifitas ini digalang oleh A-FAB (ASEAN for a Fair, Ambitious and Binding Climate Deal), koalisi regional yang terdiri dari Greenpeace, Oxfam dan WWF, mendesak pemimpin negara-negara Asia Tenggara untuk maju ke depan dalam putaran terakhir negosiasi iklim PBB yang akan hari ini dimulai di Bangkok.
“Kami mengirim pesan kepada semua delegasi, terutama delegasi ASEAN, bahwa kesepakatan iklim global yang mengikat dan adil adalah masalah masa depan rakyat Asia Tenggara. Pekan ini, pemerintah-pemerintah bertemu untuk menyepakati tujuan-tujuan yang telah ditetapkan di Pertemuan Iklim PBB di Cancun Desember tahun lalu. Mereka akan merundingkan adaptasi, aspek keuangan iklim, penanggulangan dan mekanisme transfer teknologi. Demi kepentingan kawasan, sangat penting adanya suara kuat dari ASEAN, dalam merespons tantangan nyata perubahan iklim,” ujar Zelda Soriano, Penasehat Politik Greenpeace Asia Tenggara.
Dalam beberapa pekan terakhir, ibukota Thailand dibingungkan oleh fenomena suhu di bawah 20 derajat celcius di tengah musim panas, sementara di kawasan selatan Thailand terjadi banjir dan tanah longsor yang berdampak pada dua juta orang. Pekan ini, bencana serupa terjadi di Filipina bagian tengah dan utara, demikian juga di Indonesia.
“Betul, di Asia Tenggara khususnya, perubahan iklim bukan lagi sesuatu yang diperdebatkan tetapi sudah menjadi kenyataan yang memprihatinkan. Kawasan kita terus didera bencana banjir, tanah longsor dan kekeringan. Bahkan, pertemuan iklim PBB di Bangkok ini berlangsung di tengah fenomena iklim ekstrim. Delegasi ASEAN harus memastikan bahwa sumberdaya akan diberikan untuk proses adaptasi yang sangat dibutuhkan, serta mendesak negara maju untuk memperbesar target pengurangan emisi mereka,” tegas Shaiimar Vitan, Koordinator Kampanye dan Kebijakan Asia Tenggara, Oxfam.
“A-FAB adalah rekomendasi kebijakan untuk ASEAN sejak Bangkok intersessional. Diantara kesepakatan ini adalah jaminan adanya komite adaptasi yang terdiri dari mayoritas negara berkembang, yang harus mentaati pendekatan sensitif gender dan berbasis negara dalam kebijakan dan program adaptasi nasional, dikaitkan dengan mekanisme keuangan. ASEAN harus memastikan proses adaptasi ini mendapat sumberdaya yang cukup dari Green Climate Fund yang dibentuk di Cancun, karena sangat dibutuhkan oleh mayoritas populasi miskin,” ujar Sandeep Chamling Rai dari WWF.
Karena itu A-FAB mendesak ASEAN mewujudkan terjadinya puncak emisi global pada 2015 dan mendesak negara maju untuk mengurangi emisi gas rumah kaca paling sedikit 40 persen pada 2020, dan paling tidk penurunan 95 persen dari tingkat emisi 1990 pada 2050 mendatang. Tugas berikutnya adalah memutuskan pengukuran paling akurat dan adil serta terpercaya (MRV) dalam memantau pengurangan emisi gas rumah kaca.
Dibentuk oleh koalisi Greenpeace, Oxfam dan WWF, ASEAN for a Fair, Ambitious and Binding Global Climate Deal (A-FAB) bertujuan untuk menajamkan dan memperkuat posisi ASEAN sebagai blok regional di UNFCCC, mengingat masyarakat di kawasan ini sedang berjuang melawan dampak buruk perubahan iklim. Lebih jauh lagi, koalisi ini bertujuan untuk mendukung upaya ASEAN dalam memastikan partisipasinya pada komunitas global, mengikuti proses yang terus berlangsung. [R]
Langganan:
Postingan (Atom)



