Pengunjung

Rabu, 16 Maret 2011

Kurangi Angka Kematian Ibu Melahirkan dan Bayi

- Proses Persalinan dengan Empat Tangan

Blora - Persalinan yang ditangani oleh empat tangan tenaga kesehatan, baik oleh dokter atau bidan, cukup berdampak positif dalam mengurangi kasus kematian bayi maupun ibu melahirkan. Di Blora, pada 2009, angka kematian ibu melahirkan (AKI) tercatat sebanyak 22 kasus, pada 2010 menurun menjadi 12 kasus saja.
Hal tersebut dikemukakan oleh Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Blora Sof Khasanah kepada Suara Merdeka, kemarin. "Pertolongan persalinan dengan empat tangan tenaga medis ini lebih cepat dan aman," katanya.
Selain dengan bantuan empat tangan tenaga medis, terang Sof Khasanah, persalinan juga harus dilakukan di klinik kesehatan, minimal di poliklinik kesehatan desa (PKD). "Jalannya proses persalinan empat tangan ini cukup sukses karena didukung oleh SK Kepala Dinas Kesehatan 2009 yang mengharuskan proses persalinan dilakukan empat tangan tenaga medis dan di klinik kesehatan."
Saat ini, proses persalinan seperti diharapkan dalam SK Kepala Dinas Kesehatan itu berjalan dengan baik. Hanya dalam kondisi darurat, seperti sudah tidak cukup waktu dibawa ke klinik, sehingga bidan atau dokter bisa datang ke rumah.
Sof Khasanah pun berharap agar kesadaran masyarakat terkait proses persalinan dengan bantuan tenaga medis ini semakin ditingkatkan, karena itu demi keselamatan si ibu dan bayi semata-mata.
"Harapan ke depan, SK Kepala Dinas Kesehatan tentang persalinan dengan bantuan empat tangan tenaga medis dan dilakukan di klinik kesehatan, ini bisa dijadikan peraturan bupati (Perbup), sehingga kematian ibu melahirkan dan atau kematian bayi bisa ditekan." [R]

Telkom Siapkan Dana Triliunan untuk StarOne

Jakarta - Telkom menyiapkan dana sekitar Rp 1 triliun untuk akuisisi perusahaan telekomunikasi dalam negeri maupun internasional tahun 2011 ini. Namun jika diperlukan, alokasi masih bisa ditingkatkan hingga Rp 4 triliun.
"Kami menyiapkan anggaran Rp 1 triliun tahun ini, untuk mengakuisisi operator dalam negeri maupun masuk ke tingkat internasional," kata Dirut Telkom Rinaldi Firmansyah, di sela seminar Outlook Telekomunikasi 2011: Mengubah Kejenuhan Menjadi Peluang, di Gran Melia, Jakarta, Rabu (16/3/2011).
Menurut Rinaldi, pihaknya saat ini sedang intensif melakukan pembicaraan dengan operator seluler terbesar di Kamboja. Pun, ia mengakui Telkom harus bersaing dengan tiga operator telekomunikasi lainnya yaitu dari Eropa dan Asia untuk masuk ke perusahaan itu.
"Proses penawaran masih berlangsung, namun diharapkan pada tahun 2011 rencana akuisisi tersebut sudah ada keputusannya," ujarnya.
Telkom menghendaki bisa menguasai minimal 51% saham atau mayoritas. Dengan akuisisi tersebut, ia mengharapkan akan memberikan kontribusi langsung terhadap pendapatan.
Meski begitu, Rinaldi tidak merinci dana yang disiapkan untuk masuk ke Kamboja tersebut. Ia hanya menjelaskan, dana akuisisi di luar belanja modal (capex) 2011 yang dianggarkan sekitar Rp 16-17 triliun.
"Kita siapkan Rp 1 triliun, namun jika dinilai masih kurang akan kita tingkatkan hingga Rp 4 triliun," ujarnya.
Menurutnya sumber dana akuisisi ini akan dialokasikan dari internal perusahaan. "Kita secara konsolidasi memiliki kas perseroan hingga Rp8 triliun," tegasnya.
Sementara untuk mengakuisisi unit layanan StarOne milik Indosat, Rinaldi menuturkan pada prinsipnya Telkom siap melakukan pembicaraan.
"Kami siap saja, tapi keputusannya tetap  pada pihak yang memberi penawaran (Indosat). Jangan ditanya kepada saya, tapi kalau mereka menawarkan kita siap," ujar Rinaldi. [R/dtc]

PPNI Desak DPR Bahas RUU Keperawatan

Jakarta - Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) mendesak DPR RI segera membahas RUU Keperawatan agar profesi keperawatan memiliki payung hukum dalam melaksanakan pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara profesional dan berkualitas, kata Ketua Dewan Pembina PPNI Prof Achir Yani S Hamid. MN, DN.Sc.
Achir Yani mengemukakan hal itu di Jakarta, Rabu (16/3/2011), didampingi Sekjen PPNI Harif Fadhillah di sela acara menyambut Hari Keperawatan Indonesia (HKI) pada (17/3/2011) yang diisi acara bakti sosial berupa pemeriksaan kesehatan secara cuma-cuma kepada masyarakat di sekitar Kelurahan Menteng Dalam, Kecematan Tebet, Jakarta Selatan.
Achir Yani mengatakan, RUU Keperawatan sudah diajukan ke DPR sejak tahuan sebelum,  agar segera dibahas dengan pemerintah untuk disetujui menjadi UU.
Dia menyambut baik kepada Komisi IX DPR yang telah memasukan RUU Keperawatan sebagai program legeslasi nasional (Prolegnas) tahun 2011, sehingga diharapkan paling lambat akhir 2011 RUU Keperawatan telah disahkan menjadi UU.
Menurut dia, profesi perawat mendominasi dalam jumlah tenaga medik bidang pelayanan kesehatan, karena jumlahnya mencapai 60 persen, sedangkan profesi medik lainya kurang dari jumlah tersebut.
Oleh karena itu, katanya, perlu UU yang khusus mengatur tenaga keperawatan sebagaimana profesi lain yang telah diatur dalam UU tersendiri.
"Dengan adanya UU Keperawatan, maka profesi perawat dan sekolah penghasil  perawat akan memiliki standar kompetensi baik tingkat nasional maupun global, sehingga Indonesia dapat memenuhi kebutuhan tenaga perawat baik di dalam negeri maupun dunia internasional," katanya.
Achir Yani menegaskan, adanya UU Keperawatan, disamping untuk meningkatkan kualitas SDM profesi perawat, juga memberikan perlindungan hukum baik bagi tenaga keperawatan dan masyarakat penerima pelayanan kesehatan dari kemungkinan tindakan keselahan.
Sementara itu, Ketua Umum PPNI Dewi Irawaty, MA, PhD mengatakan, salah satu kriteria yang belum dimiliki perawat Indonesia adalah kewenangan untuk melakukan pengendalian secara otonom yang ditetapkan melalui UU Keperawatan. 
HKI 2011 bertemakan "Undang-undang Keperawatan Menjamin Pelayanan Keperawatan yang Profesional dan Berkualitas". Peringatan HKI dimaksudkan sebagai tanggung jawab dan kemitraan perawat dengan masyarakat dalam pemberian pelayanan yang berkualitas dan profesional. [R/Ant]

Acer Luncurkan Laptop untuk Pelajar

Palembang - Acer meluncurkan dua produk terbaru Laptop atau komputer jinjing khusus untuk kalangan pelajar yang diharapkan banyak peminat, karena harga murah dan berkualitas, serta menarik.
Brand Manejer PT Acer, Riko Gunawan di Palemabang, Selasa mengatakan, produk yang diluncuarkan itu menggunakan teknologi prosesor Accelerated Processing Unit yang didesain khusus untuk kalangan pelajar.
Produk terbaru itu masing-masing jenis Netbook Aspire 4253 dan Netbook D522 dengan harga kurang dari Rp4 juta per unit, katanya.
Menurut dia, yang jelas diluncurkannya produk terbaru itu karena peminat dari kalangan pelajar cukup banyak.
Bahkan, kata dia, Kota Palembang berdasarkan penelitian termasuk kota terbanyak yang menggunakan Laptop terutama kalangan pelajar.
Lebih dari 6,7 persen masyarakat daerah ini yang menggunakan peralatan tersebut, sehingga pihaknya memasarkan di Kota Palembang, katanya lagi.
Helmy Anam, Kepala Departemen Komunikasi dan Marketing dari perusahaan itu, juga mengatakan, diluncurkannya produk terbaru tersebut karena pertumbuhan pelajar di daerah ini setiap tahun terus meningkat.
Oleh karena itu, pihaknya mengambil celah memasarkaan produk terbaru yang disesuaikan dengan kemampuan dan keuangan pelajar, kata dia.
Ia menambahkan, sebenarnya produk terbaru itu diluncurkan Januari 2011 dan Palembang merupakan kota kelima setelah Surabaya, Semarang, Yogyakarta dan Makassar. [R/Ant]

Maklumat Terakhir “Mantra Penjinak Ular”


Judul Buku: Maklumat Sastra Profetik
Penulis : Kutowijoyo
Penerbit : Grafindo Litera Media Yogyakarta
Halaman : viii + 120
Cet : I, Juni 2006
——————————————————— 

Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan nama.
Pepatah di atas, agaknya sangat tepat untuk melukiskan cendekiawan dan budayawan besar “Resi” Kuntowijoyo. Sebuah nama yang memiliki sejumlah identitas (meminjam istilah Dr. Sangidu, M.Hum).
Kuntowijoyo, lahir di Yogyakarta 18 September 1943. Sejak muda, ia sangat perhatian (concern) dengan berbagai bidang kajian. Hingga akhirnya, Doktor lulusan Universitas Columbia ini dikenal luas sebagai: akademisi, sastrawan, aktivis pergerakan, budayawan, kolumnis, penulis buku, khatib.
Berbagai gelar sosial – kesenimanan di atas, cukup menjadi saksi seperti apa sosok Kuntowijoyo. Namun, agaknya gelar sastrawan – budayawan lah yang lebih cocok disandingkan dengan nama besarnya.

Sastra pembebasan?
Sastra, baik yang berupa sya’ir (puisi) maupun cerita pendek dan lain sebagainya, bukan sekadar ekspresi picisan sang sastrawan atas imajinasi yang didapatnya. Ia juga tidak sekadar permainan makna para penyair dan sastrawan.
Melainkan harus ada kandungan sebuah pesan atas karya – karya. Dan biasanya, para penyair – sastrawan itu lebih cenderung memilih sya’ir – sastra pembebasan (perjuangan) dan puitis. Dua hal ini menjadi sesuatu yang tak terbantahkan.
Lihat saja. Sastrawan besar semacam Chairil Anwar, selalu membuat puisi – puisi pembebasan (pejuangan) untuk merefleksikan kebenciannya terhadap penjajah. “Aku ini binatang jalang/ dari kumpulannya terbuang/ …. Meski seribu peluru menembus dadaku/ aku akan tetap meradang/ menerjang/ …”
Dengan lihainya Chairil mencipta puisi – puisi pembebasan itu. Namun ketika ia ketemu dengan seorang gadis yang kemudian dinikahinya untuk pertama kali, ia juga mencipta puisi – puisi puitis untuk sang kekasih pujaan hati.
Saya kira, dua tema di atas lah yang mendominasi dunia kepenyairan dan sastrawan kita. Sajak pembebasan WS. Rendra, antara lain ketika ia menggugat kesewenang – wenangan para anggota Dewan (DPR), yang tidak lagi sesuai fungsinya sebagai wakil rakyat, lewat puisinya:
 “Rakyat adalah sumber kedaulatan/ kekuasaan tanpa rakyat/ adalah benalu tanpa karisma/ rakyat adalah bumi/ politik dan kebudayaan adalah udara/ bumi tanpa udara/ adalah bumi tanpa kehidupan …”

Sastra profetik
Dua tema dalam dunia kepenyairan – sastra di atas, memang sebuah realitas. Dua hal itu sangat mudah dicipta, karena manakala seseorang tidak sepakat dengan sebuah kondisi (situasi) tertentu, ia bisa dengan mudahnya menggugat dan mengekspresikannya dalam sebuah puisi maupun karya sastra lainnya.
Selain itu, orang juga akan lebih mudah mencipta puisi – syair dan karya sastra puitis ketika ia sedang jatuh cinta dan atau putus cinta. Dengan lancer seseorang akan mencipta sebuah karya maha dahsyat berkaitan dengan tema cinta yang sangat puitis (ingat bagaimana Qois mencipta sya’ir – sya’ir nya untuk perempuan yang sangat dicintainya: Laila).
Meski dua hal di atas lah yang dominant, namun agaknya Kuntowijoyo berbeda. Ia mencipta karya – karyanya bukan sekadar untuk mencurahkan ekspresi ketidaksepakatan atas sebuah kondisi atau mencipta hal – hal puitis dalam setiap karyanya.
Itulah kehebatannya. Baginya, sastra bisa lebih dari itu. Bisa memberikan pencerahan dan kemanfaan untuk mendekatkan diri kepada Yang Esa. Ia menyebutnya sebagai sastra profetik.
Lewat sastra profetik yang bersumber Kitab – kitab suci, adalah senjata orang beragama untuk melawan musuh – musuhnya (fungsi pembebas), materialisme dan sekularisme (h.24).
Secara sederhana, skema pemikiran sastra profetik penulis buku “Mantra Penjinak Ular” ini, adalah bahwa tugas sastrawan lewat karya – karyanya, adalah memperluas ruang batin, serta menggugah kesadaran ketuhanan dan kesadaran kemanusiaan. Habl min Allah wa habl min an-nas (h.7).
Oleh karena itu, kehadiran buku Maklumat Sastra Profetik yang ditulis empat hari menjelang meninggalnya Kuntowijoyo ini, wajib dibaca oleh para penyair, sastrawan, budayawan dan umum, agar mengetahui bahwa tugas para sastrawan bukanlah menciptakan karya dengan bahasa yang mendayu – dayu dan puitis. Karena ada peranan yang lebih besar, yaitu sastra sebagai sarara membuka ruang menuju kesadaran ketuhanan dan kemanusiaan. [R]

Pelajaran PLTN Jepang Lebih dari Cukup

Jepara - Insiden meledaknya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) di Jepang pascagempa bumi, 11 Maret lalu, dinilai sudah lebih dari cukup untuk menjadi pelajaran buat Pemerintah Indonesia yang berencana membangun instalasi PLTN. Negara-negara Eropa langsung memberi respons serius terkait insiden itu, dengan menghentikan rencana penambahan PLTN.
Pemerintah Thailand juga disebut terpengaruh dengan rencana membangun instalasi serupa karena ledakan di Fukushima dan kerusakan pada instalasi lain yang menyebabkan radiasi dan menimbulkan kewaspadaan tinggi. "Kurang apa Jepang, teknologi, sumber daya manusia dan kedisiplinannya luar biasa, tetapi bencana tetap bencana, yang sulit diprediksi kadarnya," kata ahli Ilmu Fisika Nuklir, Dr Iwan Kurniawan, Rabu (16/3/2011).
Ledakan dengan kadar yang terjadi di Jepang, level radiasinya sudah mencapai angka 6, di atas PLTN Tree Miles yang 5, dan sedikit di bawah Chernobyl di level maksimal, 7. "Harusnya sudah cukup pelajaran dari Jepang itu untuk Indonesia," kata lulusan Universita Tsukuba Jepang itu.
Iwan yang menjadi peneliti di Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) pada 1980-1992 itu berharap Batan menghentikan promosinya untuk membangun PLTN Muria. Informasi yang ia dapat, PLTN di Indonesia akan menggunakan generasi ke-4 yang faktanya saat ini belum ada barangnya. Sedangkan PLTN Fukushima itu berteknologi generasi ke-2. "Barangnya saja belum ada, jadi Batan tak perlu berandai-andai," lanjut pria yang tinggal di Jakarta dan beberapa kali berkunjung di Jepara terkait rencana pembangunan PLTN Muria. [R/CN]

Indonesia Bantu Jepang US$2 Juta

Jakarta - Pemerintah Indonesia memberikan bantuan sebesar US$2 juta kepada pemerintah Jepang untuk upaya pemulihan pasca bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi pada pekan lalu. Pemerintah juga akan mengirimkan tim bantuan ke berbagai kota di Jepang.
Hal ini disampaikan Menteri Luar Negeri Indonesia, Marty Natalegawa, usai bertemu Wakil Menlu Jepang, Makiko Kikuta, di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Rabu, 16 Maret 2011. Marty mengatakan, bantuan sebesar US$2 juta atau sekitar Rp17,5 miliar itu adalah bentuk hubungan persahabatan antara kedua negara.
"Indonesia selama ini telah merasakan, kepedulian, bantuan dari rakyat Jepang," ujar Natalegawa. "Oleh karena itulah sangat wajar dan tepat, seandainya pada saat yang sama jepang menghadapi musibah, pemerintah dan rakyat indonesia harus dengan cepat dan tanggap memberikan bantuan bagi rakyat Jepang."
Selain itu, ujar Natalegawa, pemerintah Indonesia akan mengirimkan juga pada Kamis, sebanyak 11 orang yang terdiri dari petugas SAR, TNI dan medis untuk ikut membantu penanganan bencana di beberapa kota di Jepang.
Awalnya, pemerintah Indonesia akan mengirimkan sebanyak 60 orang. Namun dikurangi hingga menjadi 11 setelah mendapatkan masukan dari Jepang. "Pemerintah Jepang menyampaikan harapan agar tim yang dikirim bisa bekerja secara mandiri, sehingga tidak menciptakan beban baru," jelas Natalegawa sambil menambahkan bahwa ini merupakan gelombang pertama tim bantuan.
Jenis bantuan ini ditentukan setelah disetujui pemerintah Jepang. "Bantuan ini sesuai dengan permintaan dari pemerintah Jepang," ujar Wakil Menlu Jepang, Makikko Kikuta.
Pada kesempatan itu, Kikuta juga menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan dan respons cepat dari pemerintah Indonesia. “Perhatian dan bantuan konkrit yang diberikan oleh Indonesia sejak awal terjadinya bencana tsunami kepada kami begitu besar. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya,” ujar Kikuta.[R/Vivanews]