Pengunjung

Rabu, 06 April 2011

Petani Kentang Lestarikan Seni Islam Tradisional

- Diiringi Pencak Silat dan Rebana

Umum dipahami, Toriqoh Qodariyah Naqsyabandiyah berisi amalan keagamaan sarat puasa dan wiridan.Ajaran salah satu cabang tasawuf yang muncul pada tahun 717 Hijiryah ini memiliki ritual cukup unik. Ekspresi ke-Ilahi-an itu dilakukan jemaatnya di Desa Sigedang Kecamatan Kejajar Kabupaten Wonosobo. Mereka bernyanyi dan menari menabuh rebana serta bedug.

Wonosobo - Dentum rebana bertalu-talu mengiringi 20 penari berseragam hitam putih. Mengenakan kaca mata hitam para anggota kelompok seni tari tradisional Peksi Muda itu menari dan bernyanyi bersama. Tujuan mereka semata-mata hanya mensyiarkan nilai ajaran Islam. Tak heran jika ratusan pasang mata terpukau keunikan pentas mereka di halaman gedung Sasana Adipura kemarin.
Dalam pentas yang berlangsung selama hampir dua jam itu mereka menyanyikan bait-bait lagu berirama shlawat klasik. Tiap kali satu lagu dinyanyikan para penari memeragakan satu jurus pencak silat. Isi kandungan lagu tersebut mengajak para penontonnya untuk berbahagia merasakan kehadiran gerakan-gerakan dan musik dalam penyatuan keillahian.
“Kegiatan ini menjadi ekstrakulikuler para petani kentang di Desa Sigedang Kecamatan Kejajar,” kata Ketua kelompok Peksi Muda Sigedang yang akrab dipanggil pak Zen.
Menurut imam masjid Nahrowi Surur itu silsilahnya Peksi Muda awalnya dibawa seseorang bernama Hardrotul Majid Syeh Muhammad Nahruwi Quddisa Siruhulaziz mengembara ke wilayah Wonosobo. Mursyid dan sufi asal Plosokuning Minomartyani Ngaglik Sleman Jogjakarta ini mengemban misi memperkenalkan ajaran Thoreqoh Naqsyabandiyah. Ketika tiba di Desa Sigedang beliau bertemu KH Sholih.
Dari perjalanan dakwanya inilah diperkenalkan sebuah kesenian yang diberi nama Peksi Muda. Seiring keberadaannya antusias masyarakat tertarik ajarannya makin tinggi. Namun seusai beliau wafat Peksi Muda dilestarikan penerusnya. Dari KH Shoih hingga KH Nur Yazid.
Kesamaan yang bahkan mirip sampai sekarang yaitu pengurus Nagsyabandi yang diteruskan putera beliau bernama Mr HS M Irfai Nachrowi an Naghsyabandi Al Hajj QS.Yang sekarang mendirikan Zawiyah, Qoshul Arifin, kesepuhan atas angin di Sorak Landeuh, Darmacaang, Cikoning, Ciamis, Jawa Barat.
Dari perguruan Thoriqoh Huilah terdapat perwakilan daerah yang disebut pula Kemuasasan, yang mana masih membina kesenian Peksi Muda. Pada zaman Syeh Nahrowi hasil pelantikan diketuai oleh Mardi. Lalu sebagai penghormatan kepada Syeh kesenian tersebut masih diteruskan hingga era KH Shalih dan KH Nur Yazih. Selepas keduanya wafat diteruskan Mr HS M Irfai Nachrowi Nagsyabandi Al Hajj QS, dibawah bimbingan kumuasasan (Muasis).
Saat ini, pada perkembangannya Peksi Muda terus diteruskan oleh jemaat di Desa Sigedang Kecamatan Kejajar. Mereka tetap melestarikan meski ditengah masyarakat merasa asing dengan gerakan-gerakan tarian tradisional yang dulu menjadi warisan akulturasi budaya antara Jawa dan Islam tersebut. [R/Yudi]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar