Pengunjung

Kamis, 05 Mei 2011

Gamelan Kiai Mega Mendung Sejak Abad 18

Kyai Mega Mendung memang berbeda dengan gamelan-gamelan lain di wilayah Jateng. Bisa jadi gamelan ini usianya tertua, sebab dibuat sejak abad ke-18. Kondisi alat musik tradisional pengiring kesenian kethoprak, karawitan, dan wayang berbahan kuningan ini masih sangat bagus. Konon gamelan ini dibuat oleh perajin dari Kabupaten Pemalang.

Wonosobo - Komposisi musik dari bonang, sitar, selenthem, kendang, kenong, kethuk, rebab, saron, peking dan gemung itu mengalun dengan merdu. Tak ketingalan selenthem, gender, gambang, boning penerus, dan siter pun menyusul bersama gong genjur. Bunyi karawitan dengan lagu-lagu langgam jawa di hotel Kresna itu dimainkan perawit dari Kelurahan Jaraksari, Kecamatan Wonosobo.
Menurut Sigit Hendra Setiawan Fron Office Hotel Kresna musik itu dimainkan pada jam 19.00 WIB hingga Rp 21.00 WIB. Suaranya untuk menjamu para turis asing yang berasal dari Belanda, Perancis dan negara luar negeri lain yang menginap di hotel yang bangunannya masuk cagar budaya tersebut.
“Para turis sangat menikmati sekali alunan musik langgam Jawa yang muncul dari komposisi gamelan. Bahkan ada satu karyawan Hotel Kresna yang kesurupan jika alat musik itu dimainkan.Untuk menghindari hal tersebut jika ada perawit main musik dia tidak berangkat,” kata Sigit sambil menunjukkan alat musik gamelan yang usianya tertua di Wonosobo Rabu (4/5).
Dijelaskan Sigit, gamelan itu dinamakan Kyai Mego Mendung yakni dengan maksud memanggil hujan. Dulu ketika si empu membuatnya kemungkinan di daerah pesisir pantai laut utara Kabupaten Pemalang sedang dilanda kemarau panjang. Tak heran jika gamelan tersebut dinamakan Kyai Mego Mendung.
“Sertifikasinya ada di kantor hotel Kresna pusat di Jakarta,” jelas dia.
Kondisi alat tersebut, lanjut dia, masih asli. Hanya sejumlah kenong yang diganti satu abad yang lalu. Meski diganti namun kualitas suara kenongnya masih sangat bagus karena memesannya disalah satu perajin gamelan wilayah DI Jogjakarta.
”Alat masih seperti saat kali pertama dibuat si empunya. Hanya kayu penyangga alat mengalami pembaharuan agar tetap bisa dipajang dan digunakan,” paparnya.
Dari berita yang berhembus pak Suripto yang akrab disapa Tipto adalah seniman tradisional Jawa yang populer di Wonosobo. Ia bukan hanya merawat seperangkat gamelan bernama Kyai Mego Mendung saja melainkan gamelan yang berada di pendapa bupati.
“Kita sih ngikut saja apa yang dilakukan pak Ripto. Tiap malam Jumat kliwon pasti dia memberi sesajen dengan menyalakan menyan dan ubo rampe sajen lain di sekitar gamelan tersebut,” ujarnya kepada koran ini.
Terkait dengan riwayatnya hotel Kresna memang memiliki mata rantai sejarah dengan Kabupaten Wonosobo ini. Pada zaman dulu menjadi tempat penginapan para pelancong yang pergi di Wonosobo. Hingga kini bangunan tersebut masih utuh dikelilingi dengan pajangan barang-barang antik dan beberapa lukisan yang menceritakan identitas kekhasan budaya lokal asli Wonosobo.
“Saya tidak tahu namun kemungkinan gamelan ini tertua di pulau Jawa. Sebab dulu konon ada salah satu Musium di Jogjakarta yang sempat mendaftar alat musik ini sebagai peninggalan sejarah. Namun lantaran sudah terdaftar sertifikatnya oleh pemilik hotel Krisna akhrinya tidak jadi,” tandasnya.
Manajer hotel Krisna Marah menambahkan suara bunyi karawitan yang disajikan tiap ada tamu yang berkunjung mampu memantik turis asing. Para turis tersebut dengan senang hati memainkan alat musik yang dinilainya religius tersebut. Sebab tiap bunyi yang hadi di ruang yang megah dan istimewa itu gaungnya bisa membuat orang merinding.
“Saya nggak tahu unsur mistisnya. Namun ada mitos semacam itu saat orang asli Wonosobo menyaksikan gamelan itu. Bahkan karena dinilai memiliki mitos maka sampai sekarang kondisinya masih sangat bagus,” imbuh pria asal Jakarta yang bermukim di perumahan Mutiara Persada tersebut.
Kendati mengakar kuat tetapi bapak dua anak itu menilai masih sebatas wajar-wajar saja. Sebab keberadaan seperangkat gamelan bernama kyai mego mendung tersebut disajikan sebagai salah satu kekayaan budaya Jawa agar dikenal para turis asing saat berpariwisata di Wonosobo.
“Ini semacam menu andalan kami selain berbagai fasilitas lain yang kami sajikan. Tiap ada rombongan turis satu hingga lima bus pasti dimainkan oleh personel kelompok karawitan dari Kelurahan Jaraksari,” pungkasnya. [R/Yudi]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar